
Pagi ini Pevita sudah rapi begitupun Eleanor. Dua hari kemarin Milan diijinkan pulang oleh dokter saat tubuhnya benar-benar membaik. Sebuah keajaiban, bila di pikirkan seharusnya semua tulang rusuk pria itu patah mengingat ia jatuh dari lantai tiga. Tuhan benar-benar memberi kesempatan untuk Pevita bisa selalu bersama Milan dalam merawat putri mereka
" Mom, kenapa Daddy tidak pernah tidur bersama kita?" Tanya Eleanor, balita yang baru berusia dua tahun itu memang sangat pintar dalam bicara. Pevita berlutut didepan Eleanor memegang kedua bahunya
" Sebentar lagi, setelah Mommy mengadakan pesta, kita akan selalu tidur bersama Daddy."
" Pesta?" Tanyanya lucu
" Ya, pesta. Are you like party?"
" Yes, of course." Pevita tersenyum lalu mengecup pipi Eleanor yang telah ia bedaki. Kemudian ia bangkit dan menuntun putrinya keluar dari kamar
Daddy Dean hanya diam, tak berani melarang Pevita untuk menemui Milan. Pria itu hanya memperhatikan Pevita beserta cucunya turun dari tangga
" Sayang, kamu mau kemana?" Tanya Dean pada Eleanor, padahal ia sudah tahu tujuan keduanya
" Granpa, Elea akan bertemu Daddy." Daddy Dean tersenyum
" Kemari sebentar, biar grandpa memelukmu dulu." Cepat-cepat balita itu berlari dan berhambur memeluk Daddy Dean. Dari wajahnya dapat terlihat begitu jelas, Eleanor tampak sangat senang. Daddy Dean mengecup puncak kepala itu dengan lembut
" Kenapa grandma tidak dipeluk?" protes Mammi Bulan, baru saja datang dari dapur membawa segelas susu dan dua lembar roti yang telah diolesi alpukat dan coklat, sarapan favorite sang suami
" Oke!" Sautnya membuat semua orang tertawa, Eleanor berlari lagi, Mammi Bulan langsung menyambut dengan berlutut dilantai. Tak terasa bayi yang mereka rawat sejak bayi itu kini sudah besar dan sangat pintar
" Hati-hati hmm." Eleanor mengangguk cepat membuat Mammi Bulan tersenyum dan mengecup pipi gembulnya
" Mommy ayo!" Teriaknya pada Pevita yang hanya diam memperhatikannya
" Mom, Dad aku pergi." Pamit Pevita menyalami keduanya
" Biar supir mengantarmu!" Pevita menurut lalu menuntun Eleanor keluar dari rumah
Mereka diantar supir ke sebuah hotel yang ditempati Milan dan ibunya sejak pulang dari rumah sakit. Pria itu enggan meninggalkan Paris dan memutuskan menetap, setelah benar-benar sembuh. Milan akan membuka usaha sendiri dengan membuka sebuah restaurant steak ala jepang. Tidak sulit untuk Milan, yang sulit adalah berjauhan dengan putrinya
Pevita menekan bell pintu kamar itu. Dalam hitungan menit pintu terbuka
__ADS_1
" Hai sayang." Sapa Mammi Diana pada sang cucu, wanita itu langsung memangku tubuh Eleanor dan membawanya kedalam rumah
" Mam, dimana kak Milan?"Tanya Pevita mengedarkan pandangannya
" Dia masih tidur Pev." Keduanya tampak tak merasa canggung seolah telah saling mengenal lama
" Ayo kita bangunkan Daddymu" Eleanor mengangguk penuh antusias. Pevita hanya mengikuti dibelakang, saat melewati ruang tengah Pevita melihat Paman Ethnes sedang meroko sambil menonton televisi. Ia menyapa untuk sejenak pria itu, sejujurnya Pevita merasa takut. Tiap bertemu, pandangan Tuan Ethnes terasa menelanjanginya
Cepat-cepat Pevita menyusul Mammi Diana kedalam kamar yang ditempati Milan. Benar apa kata ibunya, Milan masih bergelung dalam selimut tebal. Pevita tersenyum ketika melihat cara putrinya membangunkan sang ayah, balita itu mencium kening Milan dengan bibir yang mengerucut lucu. Mammi Diana dan Pevita saling melirik dan tersenyum
" Mom, kenapa Daddy tidak bangun?" Gerutunya lucu. Padahal sejak tadi Milan sudah bangun, pria itu pura-pura tidur
" Coba lakukan lagi." Perintah Pevita. Eleanor mengecup kening itu bertubi-tubi membuat Milan tak bisa menahan senyumnya. Tanpa membuka mata, pria itu merengkuh tubuh kecil Eleanor dan membawanya kedalam pelukan, cekikikan riang memenuhi kamar itu
" Nikmati waktu kalian, Mammi akan memasak dulu." Pevita mengangguk pelan lalu duduk disisi ranjang memperhatikan keduanya yang asyik bercanda ria. Itu pemandangan indah untuk Pevita
" Daddy, kenapa rambut Daddy tidak ada?" Tanya Eleanor. Milan tertawa pelan begitupun Pevita. Karena operasi, rambut hitam legam itu dipapas habis dokter
" Karena ini style Daddy, Mommy sangat menyukainya." Pevita tersenyum
" Baiklah kalau Elea tidak suka, Daddy akan memanjangkannya kembali."
" Really?"
" Yes, untuk Elea."
" Bagaimana dengan Mommy? Apa Mommy tidak akan suka Daddy lagi."
" Coba tanyakan pada Mommy." Perintah Milan. Eleanor beringus duduk tegap
" Mommy tidak akan suka Daddy lagi." Canda Pevita
" That's good. Karena Daddy hanya milikku." Pevita dan Milan tak bisa menahan tawanya. Ditertawakan Eleanor malah ikut tertawa cekikikan. Eleanor membawa kebahagiaan sendiri dalam hidup Milan yang gelap
" Sayang, kamu sudah makan?" Tanya Milan sembari mengusap rambut Eleanor
__ADS_1
" Ya, Mommy memberiku segelas susu dan roti pagi ini." Milan tertawa lagi, lalu ia menoleh pada Pevita
" Apa dia selalu seperti ini?"
" Ya, dia bocah yang banyak bicara." Milan tersenyum lalu kembali pada Eleanor. Milan merengkuh tubuh kecil itu lagi hingga berbaring, ia memeluknya dengan gemas
" Daddy aku tidak bisa bernafas. Daddy mau membunuhku apa!" Milan terbahak kencang dengan ucapan itu. Kedua mata Pevita berkaca-kaca, inilah yang selama ini ia impikan. Memberi keluarga utuh untuk putrinya
Ketika Milan melepaskan tubuhnya, Eleanor beringus turun dari kasur berlarian dikamar Milan dengan keingintahuannya, ia mengotak-atik furniture yang ada disana, seperti orang dewasa memperhatikan setiap celahnya. Milan tersenyum melihat itu
" Kamu tidak mau mandi?" Tanya Pevita duduk mendekati Milan. Milan beringus bangun menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang
" Pev, bisakah kamu ambilkan celanaku dilemari."
" Bisa-bisanya kamu tidur tanpa celana, memangnya apa yang kamu lakukan semalam." Pevita melipat kedua tangannya didada dengan mata menyipit
" Jangan berpikiran buruk, aku punya Elea sekarang." Saut Milan sembari menyentil kening Pevita
" Lagipula aku tidak punya selera pada wanita lain." Gumam Milan
" Apa katamu?" Tanya Pevita yang tak jelas mendengar gumaman itu
" Ah tidak, kamu cantik sayang." Puji Milan. Pevita mengulum senyumnya lalu beranjak berdiri. Mengikuti perintah Milan untuk mengambil celananya dilemari. Pevita memilih yang paling simpel yaitu celana selutut warna beige
Milan memakainya didalam selimut sambil bersitatap dengan Pevita." Kamu sudah sarapan?" Pevita menggelengkan kepalanya
" Mammi pasti sudah selesai memasak." Ucap Milan turun dari kasur, ia menarik Pevita
" Sayang." Panggil Milan pada Elea. Balita itu berlari cepat pada Milan, dengan sigap melepaskan tangannya yang memegang jemari lentik sang ibu, Pevita terperangah karena itu. Putrinya lebih posesif dari dirinya bahkan terhadap ibunya sendiri
Milan tertawa cekikikan melihat ekspresi Pevita." Kamu punya saingan berat Pev." Ledek Milan berbisik ditelinga Pevita
" Daddy." Panggilnya manja, Eleanor sudah mengacungkan kedua tangannya ingin dipangku Milan. Meskipun tubuh Milan belum pulih sempurna namun ia tak bisa menolak keinginan putri kecilnya
-
__ADS_1
-