Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Persidangan


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹


Hari ini tepat hari persidangan perceraian Delan dan Angela dimulai. Semua orang tampak bersiap-siap untuk pergi hadir menemani Delan keacara itu kecuali Bella, wanita itu tak ikut hadir karena hatinya masih merasa bersalah bila melihat Angela. Ditambah kondisi Bella yang memburuk, sejak pagi ia terus muntah mengeluarkan semua isi perutnya. Sarapan yang disiapkan Delan tadi pagipun belum ia sentuh sedikitpun


" Ckck kenapa tidak dimakan?" gerutu Delan diambang pintu dengen setelan yang sudah rapi, celana hitam dan kemeja putih vanilanya


" Aku tidak mau, berhenti memaksaku!" Bella malah menggerutu, ia masih terus bergelung dalam selimut tebal bahkan tak mengurusi Jeslyn sejak bayi mungil itu bangun, hanya Delan dan Mammi Bulan yang memandikan serta memberi makan Jeslyn


" Ayolah sayang." Delan melangkah mendekat dan duduk disisi ranjang disamping Bella, merapihkan rambut Bella dengan jemarinya. Bibirnya tersenyum manis menatapi wajah Bella yang memucat. Rasanya hatinya sangat senang dengan penuturan ibunya yang menerka-nerka sang istri sedang hamil muda melihat gelagat Bella yang seperti orang hamil. Delan tak perlu menunggu lama memberikan adik untuk Jeslyn


Cup


Kecupan lembut mendarat dikening Bella


" Baiklah terserah kamu saja."


" Kamu pergi sekarang?" tanya Bella


Delan mengangguk." Jeslyn ikut bersamaku."


" Jangan disini saja."


" Kamu sedang tidak baik-baik saja."


" Jangan, aku takut Jeslyn kenapa-kenapa."


" Memangnya tidak ada yang menjaga Jeslyn, huh?" Delan membelai pipi itu dengan jemarinya


" Kamu tidak akan selalu fokus pada anak kita, ada Angela disana."


" Memangnya kenapa kalau ada Angela." Bella membungkam, ia memalingkan wajahnya


" Ada Mammi, ada Daddy. Semua orang akan menjaga Jeslyn. Apa yang kamu takutkan hmm?"


" Bella." Panggil Delan dengan suara lembut dan membungkukan tubuhnya untuk mendekat pada Bella


" Tidak perlu khawatir, aku sudah membuang jauh-jauh semuanya tentang Angela dari hidupku." Delan seakan tahu isi hati Bella, ia tahu wanita itu cemburu dengan semua yang menyangkut Angela dalam hidup Delan


" Aku memilihmu, sejak awal aku tetap memilihmu." Tambahnya lagi membuat Bella kembali menatapnya


" Berjanjilah."


" Sayang." Panggil Delan lagi


" Awal bersamaku kamu juga menduakan Angela, aku selalu dihantui rasa bersalah. Aku takut Delan, apa yang terjadi pada Angela akan terjadi padaku." Delan menarik nafasnya pelan, jika kondisi Bella tidak seperti sekarang tentu ia akan sangat marah karena Bella masih saja meragukan semuanya, meragukan hatinya yang sudah jelas untuk Bella


" Dulu kamu juga mencintai Angela."


" No, berhenti, kamu tidak mengerti sayang." Delan menggelengkan kepala dan memejamkan mata


" Apa masih kurang semuanya dimatamu Bella?" tanya Delan menggeram menahan kesal, seberengsek itukah ia dimata istrinya


" Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya-"


" Berhenti, sekarang makan sarapanmu dan istirahat lagi." saut Delan tegas membuka mata dan beranjak berdiri membuat Bella beringus bangun sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing


Delan memutar tubuhnya, tanpa basa-basi lagi ia melangkah menuju pintu. Namun belum juga sampai ia berhenti dan berbalik, rasanya tak tega ia mengabaikan Bella, akhirnya ia kembali mendekat mencondongkan tubuhnya untuk mencium bibir yang selalu manis untuknya


" I love you." Bisiknya membuat Bella tak mengedip karena terkejut. Delan tersenyum lalu menyentuh hidung mungil Bella dengan hidung mancungnya


" I love you, i love you. Jangan lupakan itu. Kelak kamu akan tau seberapa besar cintaku padamu." Bisiknya lagi lalu benar-benar meninggalkan Bella yang terpaku dengan kedua pipi merona, Delan yang dulu Bella kenal sangat berbeda dengan sekarang. Jika dulu Delan tak pernah mau mengungkapkan isi hatinya namun kini sangat terbalik, hampir setiap hari Bella mendengar pernyataan cinta Delan untuknya


Meninggalkan Bella seorang diri bersama para pelayan. Delan dan keluarganya menuju pengadilan agama yang terletak di pusat kota. Dalam mobil itu tak ada yang bersuara kecuali Jeslyn yang berceloteh dan tak dimengerti siapapun


Rupanya Angela dan juga keluarganya sudah hadir disana. Wajah itu tampak pucat dan tubuhnya mengurus sempurna tapi tetap mencoba tersenyum manis pada Mammi Bulan


" Dasar wanita tak punya malu." Hati Angela mencelos mendengar perkataan Mammi Bulan, ibu pria yang masih jadi suaminya itu duduk didepan Angela, tak menghiraukan Angela malah terus mengumpat kasar


" Apa tak salah, bukannya anakmu yang sangat brengsek dan terus menyakiti putri kami." Terdengar dari belakang ibu Angela membela anaknya, wanita itu tampak tak rela dengan keputusan Angela yang tak mengambil sepeserpun dari Delan

__ADS_1


" Tanyakan saja pada putrimu yang anggun itu, berapa kali dia tidur dengan supirnya?" Mammi Bulan yang memang geram dari jauh-jauh hari tak bisa menahan semuanya lagi, ia menoleh kebelakang dengan tatapan tajamnya pada mama Rose


Sementara Angela semakin memucat, tubuhnya gemetar dengan kedua tangan terkepal kuat lalu tatapannya menyalang tajam pada pria yang masih menciumi putrinya yang juga dalam gendongan Pevita


" Apa? bisa-bisanya kau berbicara kotor seperti itu?" Suara teriakan Mama Rose membuat semua orang memperhatikannya


Saat itu Delan segera mendekat." Mam, bisakah berhenti?" Delan melirik Angela sekilas, kedua mata itu memerah memancarkan amarah yang sepertinya siap meledak, bagaimana tidak? ia merasa tertipu dengan ucapan Delan beberapa hari yang lalu, nyatanya kini aib Angela telah diketahui Mammi Bulan, orang yang paling ia sayangi di keluarga Delan


" Tidak Delan, mereka harus tahu bahwa bukan hanya kamu yang harus terus disalahkan." Mammi Bulan menoleh kebelakang pada Angela


" Tidak cukupkah dengan apa yang semua putraku beri padamu?"


Angela menggeleng pelan dengan airmata menderai


" Tidak mungkin Angela melakukan itu, jangan asal menuduh hanya untuk menutupi kebusukan putramu. Semua orang sangat tahu putramu yang sangat brengsek, menghianati pernikahannya sendiri, mana janjinya yang akan menjaga putriku dan tak akan menyia-nyiakannya huh?" Kedua mata Mama Rose membulat seakan ingin melahap Delan yang berdiri disamping ibunya, sementara pria itu masih tenang tak terkecoh sedikitpun


" Dan mana pelacu* itu? apa sekarang dia bersorak senang karena merasa menang?" Mama Rose terus berteriak seakan mengeluarkan semua amarahnya


" Menjijikan, sungguh wanita yang menjijikan." Umpat Mama Rose


Brakkkkkkkk


Delan yang sedari tenang akhirnya terpancing juga, ia tak tahan dengan penghinaan mantan mertuanya pada Bella


" Jaga bicaramu Tante, atau aku akan menuntut atas semua penghinaanmu pada Bella. Kupastikan Tante dan anak Tante akan sangat menyesal." Bahkan Delan tak memanggil wanita itu lagi sebagai Mama


" Cih, lakukan. Angela pun bisa menuntut atas semua kecurangamu!"


" Tante yakin?" Tanya Delan dengan tatapan tajamnya lalu mengalihkan pandangan pada Angela yang menunduk, airmatanya tampak berlinang dan kedua jemarinya tampak gemetar


" Ma, cukup!" suara Angela bergetar mencoba menghentikan sang ibu atau dirinyalah yang akan lebih malu karena Delan punya rahasianya


" Tidak Angela, sampai kapanpun Mama tidak akan diam. Pria ini menghina anak Mama, Mama sangat menyesal menikahkanmu dengan pria seberengsek ini." Teriaknya dengan wajah merah padam


Delan menghela nafas, lalu memutuskan untuk maju kedepan. Ia duduk ditengah persidangan, malas meladeni keluarga Angela


" Diam, bisakah Mama diam!" Angela berteriak histeris dan berdiri membuat semua orang saksi terkejut


" Angela!" bentak Mama Rose tidak terima diperlakukan seperti itu oleh anaknya, wanita itu masih saja membela Delan


Angela mengusap wajahnya yang berlinang airmata, ia sudah terlanjur malu pada keluarga Delan. Lalu Angela melangkah kedepan mendekati Delan


" Kenapa kau berbohong?" tanya Angela pada Delan yang tenang dengan wajah dinginnya


" Kenapa kau berbohong?"


" Delan, aku sedang bertanya padamu?" Angela mendudukan dirinya disamping Delan dimana seharusnya ia memang duduk disitu


" Aku-"


" Kau memisahkanku dan Bella juga putriku, itu hukuman untukmu." Angela menggelengkan kepalanya dengan airmata kembali menetes, tak menyangka pria yang dulu mencintainya itu akan berbalik sangat membencinya


" Tapi kau sudah janji akan merahasiakan semuanya." Delan mengedikan bahunya acuh yang mana membuat Angela mencengkram kerah leher Delan


" Kalau begitu, kembalikan aku seperti dulu. Kembalikan keperawananku. Bukankah itu juga yang membuatmu selalu merasa bersalah pada Bella?" Delan kembali terpancing, ia menoleh pada Angela


" Kau yang membawaku pada pernikahan ini. Jadi bisakah kau kembalikan semuanya?" Delan tersenyum sinis lalu mendekatkan bibirnya ditelinga Angela


" Aku tidak berhutang apapun padamu. Selama pernikahan kita, kau bahkan tidak pernah membuatku merasa puas saat bercinta. Meskipun tubuhmu sangat sempurna, tapi rasanya jauh lebih nikmat bila bersama Bella." Bisik Delan, detik itu juga Angela menyadari semuanya. Sama seperti Delan ia pun pernah mengatakan hal itu bersama Alvin, ia bicara pada Alvin tentang ketidakpuasannya tidur bersama Delan. Angela tak menjawab, hanya wajah merah dan airmata berlinang yang dapat mengartikan semuanya, penghinaan ini semata-mata karena Delan membalas ucapannya


" Jadi aku tegaskan sekali lagi Angela. Kita menikah atas dasar saling menyukai, tidak ada paksaan, tidak ada perjanjian ataupun aku membeli tubuhmu. AKU TIDAK BERHUTANG APAPUN PADAMU!!" Delan tersenyum lalu menjauhkan dirinya, ia menepuk pundak Angela dua kali


" Berbahagialah dengan pilihanmu, kau yang memilih semua ini." Tambah Delan lalu mengalihkan pandangan kedepan dimana para petugas pengadilan satu persatu telah datang dan menduduki tempat mereka


Sedangkan Angela masih terpaku menatap pria yang kini akan menjadikannya seorang janda muda. Airmata Angela tak tertahan, penyesalan-penyesalan itu semakin menggerogoti hati dan pikirannya, bodohlah Angela selama ini karena menghianati pria yang menurutnya sangat sempurna menjadi seorang suami. Ia sendiri yang melompat pada lubang hitam yang ia gali sendiri, menjadikannya menjadi seorang wanita hina


Tangis Angela mulai tersedu saat hakim mengetuk palu dua kali, akhirnya kini ia bukan siapa-siapa lagi untuk pria yang ia cintai. Bahkan Angela tak mengalihkan tatapan kedua matanya yang tak henti mengalirkan airmata, menatap Delan yang tersenyum dengan putusan hakim


Pria itu menarik nafas, rasanya lega. " Bella." Gumamnya terdengar ditelinga Angela, terbakar hati Angela

__ADS_1


" Delan." panggil Angela meraih jemari kekar Delan


" Bolehkan aku memelukmu!" pintanya dengan wajah memelas. Delan melepaskan pegangan Angela


" Maaf Angela, aku tidak mau menghianati Bella dalam hal apapun." Saut Delan malah mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Angela, Delan anggap salam terakhir mereka. Angela menarik nafas, rasanya sesak. Dadanya seperti ditimpa ribuan ton batu tapi untuk terakhir kalinya ia ingin menyentuh Delan, ia menjabat tangan itu


Cukup lama hingga Mammi Bulan sengaja menabrak tangan yang saling menjabat itu hingga terpisah." Ayo kita pulang." Ajaknya tanpa menatap Angela yang tersenyum padanya


" Mam, bolehkah aku memelukmu!"


" Aku bukan Mammimu!" sautnya ketus tanpa mau melihat Angela, sudah sakit karena Delan kini bertambah sakit karena orang yang paling menyayanginya dikeluarga Delan kini berbalik tak menyukainya


" Aku hanya ingin minta maaf."


" Jangan pernah menemui anakku lagi atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!" saut Mammi Bulan, bersama suaminya ia menarik lengan anak mereka yaitu Delan untuk keluar dari ruang persidangan meninggalkan Angela yang kembali menangis


" Dasar wanita sombong!" umpat Mama Rose


" Berhenti mempermalukan dirimu, dimana harga dirimu sebagai seorang wanita Angela!!" Mama Rose semakin tak tahan dengan sikap anaknya yang teramat bucin pada mantan suaminya


" Itu karena Mama tidak mengertiku!" saut Angela


" Sudah cukup, ayo kita pulang. Sudah cukup keluarga kita dihina!" Mama Rose menarik kasar lengan Angela agar mau berdiri, rasanya kepalanya mau pecah karena pertengkaran ini


" Ma, memangnya Mama tidak mengerti juga?" Jesy, sang adik yang menjadi saksi dipersidangan itu bersuara


" Diam, jangan ikut campur!"


" Jangan terus menyalahkan orang lain."


" Jangan membela si brengsek itu!"


" Coba Mama tanyakan pada kakak? apa selama ini kakak sudah menjadi istri yang baik untuk kak Delan?"


" Jesy!!" Mama Rose tambah geram dengan anak gadisnya itu membuat semua orang yang hadir berhamburan keluar, ketakutan dan meninggalkan keluarga itu disana tinggal berempat


" Cukup, ayo kita pulang." Kini ayah Angela bersuara, mencoba menggandeng putrinya yang terlihat lemah, benar saja kini Angela terkulai lemah. Tak sempat tertahan oleh sang Papa, ia terduduk dilantai dan mulai menangis meraung


" Ini salahku, aku sangat menyesal!" teriaknya histeris


" Angela, sadarlah!" bentak Mama Rose menarik lengan Angela sementara Jesy tampak jengah, ia menarik nafas dan bersedekap dada


" Kita bicarakan ini dirumah."


" Rasanya aku ingin mati, aku benar-benar malu. Kini semua orang membenciku!"


" Apa maksudmu?" tanya Mama Rose


" Aku yang lebih dulu menghianati Delan. Aku yang berselingkuh itu sebabnya Del-"


Plaaaakkkk


Telapak tangan sanga ayah mendarat sempurna, sangat kencang dan untuk pertama kali dalam hidup Angela


" Memalukan, kau yang lebih memalukan." ucapnya lalu meninggalkan Angela yang memegangi pipinya membuat Mama Rose berjongkok, memegang kedua bahu Angela dan mengguncangnya pelan


" Apa maksudmu? berhenti membela pria bodoh itu? dia bodoh meninggalkan wanita secantik dirimu!"


" Aku yang bodoh karena tidur dengan pria lain!" saut Angela setengah berteriak. Wajah Mama Rose merah padam, kedua matanya membulat dengan pengakuan Angela yang tentu saja benar adanya. Lalu ia menghempas tubuh Angela hingga terhuyung kebelakang dan berdiri


" Kamu sangat keterlaluan Angel, kamu mempermalukan dirimu sendiri dan juga kami!" kini Mama Rose pun pergi meninggalkan Angela, kecewa dan malu rasanya, wajahnya seakan ingin ia tenggelamkan kedasar bumi. Selama ini dimatanya sang menantu yang paling salah


Jesy yang melihat kakaknya terpuruk seperti itu berjongkok, ia memeluk Angela. Meskipun sering bertengkar dan beradu argument, namun ia merasa kasihan melihat Angela. Kakaknya memang salah karena lebih dulu menghianati Delan, itu ia tahu sejak lama, saat tak sengaja mendengar percakapan Delan dengan seseorang melalui ponsel diruangan kantor pria itu


Awalnya ia sering memergoki kakak ipar sekaligus atasannya itu sering berbincang sambil tertawa, tampak sangat bahagia. Ia pikir itu bersama sang kakak namun nyatanya adalah wanita lain. Sejak saat itu Jesy mencari tahu dan nyatanya malah menemukan hal yang sangat memalukan dari sang kakak


-


-

__ADS_1


__ADS_2