
Malam harinya Axel mengadakan pesta didalam kapal pesiar itu. Tujuannya tak lain agar Pevita mau keluar dari kamarnya. Sejak siang, ia tak melihat keberadaan gadis cantik yang mulai menarik hatinya itu. Axel mengundang semua tamu disana yang berjumlah 100 orang lebih untuk hadir memeriahkan pestanya, termasuk kamar VIP room yang ditempati Pevita dan kawan-kawan
" Ya Tuhan, kita benar-benar beruntung berada disini. Demi Tuhan ini benar-benar surga." Ucap Lany bersorak senang sembari memilih pakaian apa yang pantas untuk pesta malam ini
" Kau tahu Pev, pria yang tadi siang bicara denganmu, dia pemilik kapal ini." Pevita tampak acuh, ia juga sibuk memilih gaun pesta untuk malam ini
" Pev, kamu mau saja, lumayan kan untuk disini."
" Bisakah kau tidak banyak bicara." Saut Pevita ketus, ia sama sekali tak tertarik mencari pria disini. Tadi siang ia hanya menguji dirinya didepan Milan, apa ia masih trauma atau tidak pada pria itu. Nyatanya bukan trauma, malah ia lebih brani dari yang ia kira. Sakit hatinya karena Eleanor membuat Pevita jadi seberani itu, mengenai hal siang tadi ketika ia menganiaya Milan membuatnya merasa lucu dan ingin sekali tertawa
" Hah, kau selalu saja begitu. Sebenarnya pria seperti apa yang kau cari. Tidak rugi juga kan bergaul dengan orang-orang sekaya itu."
" Aku juga sangat kaya-"
" Itu kekayaan orangtuamu, memangnya kau sudah menghasilkan uangmu sendiri." Gerutu Lany
" Mungkin saja itu juga uang orangtua mereka-"
" Kau tidak lihat mereka adalah pria dewasa bila dibandingkan dengan kita." Pevita membungkam bicara dengan Lany tak akan ada habisnya, gadis itu tak pernah mau mengalah meskipun usianya jauh lebih tua
Kini Pevita sudah begitu cantik dengan rambut panjangnya ia cepol diatas dan menyisakan anak rambutnya yang menghiasi leher jenjangnya. Gaun coklat susu yang dipakai Pevita sangat cocok untuk bentuk tubuhnya, memperlihatkan keseksian dari segala arah, bahkan belahan dadanya terlihat sempurna. Riasan natural membuat Pevita tampil Elegan dan sangat anggun. Bahkan Lany yang seorang perempuan pun memuji kecantikan Pevita
Mengenakan sepatu hak tinggi yang senada dengan pakaian yang dipakainya. Pevita dan kawan-kawannya keluar dari kamar tersebut. Pevita seperti bintang utama malam ini, gadis itu disambut jemari kekar Axel. Pria itu tancap gas menyalip David dan Milan yang ikut dalam permainan mereka
Pevita membuat hampir semua wanita merasa iri, kecuali Lany, wanita itu selalu mendukung temannya tersebut. Wanita itu tersenyum melihat Pevita yang digandeng Axel, sejujurnya Lany merasa Pevita lebih cocok bila bersama Milan, keduanya sama-sama memiliki paras yang nyaris sempurna
" Apa yang harus kulakukan agar Axel tak menang." Gumam Milan mengetuk-ngetuk meja dimana dia duduk sambil meminum red wine dalam gelas ditangannya
" Milan." Milan terkejut ketika Sabina memeluk tubuhnya dari belakang
" Kau tahukan, aku sedang main bersama Axel. Jaga jarak!" tegur Milan kesal, Sabina tersenyum lalu melepaskan Milan
" Kalau kau menang, kau mau kan berbagi padaku?" Milan menoleh kebelakang dan berdecih
" Kau bilang kau tak butuh uang."
" Aku memang tak butuh uang, aku membutuhkan kapal pesiar ini untuk liburan berdua denganmu." Bisik Sabina ditelinga Milan, pria itu hanya menggelengkan kepala lalu meminum lagi red winenya. Tipe wanita seperti Sabina sudah bisa ia tebak
Dari jauh, Milan memperhatikan Pevita, ia berusaha melindungi Pevita. Entahlah, padahal Pevita tak ada hubungan dengannya. Tapi rasanya Milan ingin sekali melindungi gadis itu dari mata-mata nakal, Milan ingin sekali menutupi dada Pevita yang terekspos sempurna, sayang itu hanya keinginan Milan. Milan memegangi tatanan rambutnya, ia mengingat kejadian tadi siang, rambutnya jadi rontok karena Pevita. Sedikit membuat nyalinya menciut
" Pevita, your beatifull." Puji Axel, keduanya duduk di meja paling tengah
__ADS_1
" Sebenarnya ini pesta apa?" Tanya Pevita karena tak ada apa-apa disana, hanya ada seorang dj dan lampu yang kelap-kelip seperti di diskotik
" Sebenarnya ini alasanku saja, aku ingin bertemu denganmu." Axel memberanikan diri menyentuh dagu runcing itu, Pevita menepisnya pelan membuat Milan tersenyum di sebrang sana bersama David
" Ternyata sulit juga mendekati gadis itu." Ucap David menoleh pada Milan yang tampak tenang
" Dia terlalu jual mahal." Gerutu David sembari meminum cairan merah dalam gelas yang sudah dituangkan pelayan
" Saat dance nanti aku akan mencoba mendekatinya." Bisik David menoleh lagi pada Milan
" Bagaimana kalau kita kerjasama." Bisik David lagi
" Apa yang kudapat?" Tanya Milan sedikit tertarik mencondongkan tubuhnya mendekati David
" Kita bagi rata, saat aku ataupun kau mendapatkan gadis itu."
" Kau akan membuat Axel mengamuk." Goda Milan
" Tidak, selama dia tidak tahu."
" Apa rencanamu?" Tanya Milan
" Kau gila, itu benar-benar licik. Awas saja kalau kau berani melakukannya."
" Kau ini munafik sekali, uang kita dapat dan tubuh gadis itu juga bisa kita nikmati."
" Aku tidak setuju, kita dekati pelan-pelan saja. Aku akan membantumu." Bisik Milan, setidaknya ia bisa mengontrol David
" Dengan cara apa?" Milan tersenyum memandangi Pevita
" Kita cari apa yang dia suka."
" Astaga itu pendekatan yang sangat membosankan." Saut David sambil tertawa lucu. Milan mendelik sebal karena itu
" Kau tidak mengerti permainan ini? Siapa cepat dia dapat. Siapa yang paling berani dia akan mendapatkan semuanya." Milan membungkam, Milan memang tak pernah bisa merayu wanita, sejak dulu ia selalu pengecut bila dalam hal wanita
" Axel pasti akan berusaha menidurinya."
" Itu tidak akan terjadi."
" Ya, bersemangatlah dalam kompetisi ini." Ujar David lalu bangkit meninggalkan Milan untuk mendekati Axel dan Pevita yang sedang berbincang santai. David tersenyum licik lalu duduk disamping Axel, tak bisa bersama Milan, David akan mencoba peruntungan bersama Axel
__ADS_1
" Bagaimana kalau kita kerjasama untuk mendapatkan 50 juta dollar." Bisiknya membuat Axel tersenyum. David melirik Milan yang saat itu tampak memejamkan kedua matanya, pria itu mulai pusing karena alkohol
" Aku yang akan menidurinya." Bisik Axel ditelinga David
" Setelah kau puas." Saut David
" Cool." David dan Axel saling tersenyum, lalu Axel kembali pada Pevita, merayu gadis itu dengan berbagai cara, agar mau menjadi kekasihnya
David tersenyum senang lalu pergi menjauh. Ia harus melakukan tugasnya dulu. Hal itu tak luput dari perhatian Milan yang pura-pura tidur saat melihat gelagat aneh David dan Axel, tatapannya terus mengikuti David. Ketika pria itu lenyap dibalik pintu, Milan mengejarnya
" Brengsek kau David." Milan mengepalkan kedua tangannya geram, ia hendak mencegah David namun Sabina menahannya, wanita cantik itu tiba-tiba menarik Milan untuk dansa. Milan mendorong tubuh cantik itu agar melepaskannya lalu kembali pada David, sialnya ia kecolongan, David sudah tak ada ditempat. Lalu Milan kembali kedalam, genderang musik dan lampu disko cukup membuatnya merasa semakin pusing
Ditambah ia tak menemukan keberadaan Pevita, pikirannya semakin kalut. " Dasar pria bermuka dua!!." Gumam Milan mengepalkan kedua jemarinya
Milan berjalan cepat mencari keberadaan Pevita, pandangannya mengedar pada setiap sisi. Anehnya malam ini semua orang tampak mabuk. Milan sendiri mabuk tapi ia masih bisa menahannya. Ia berlarian kesana kemari mencari Pevita namun tak menemukan keberadaan wanita itu
Milan keluar dari ruangan dansa, ia mencari kesekitar, kesana kemari. Lalu melihat Axel yang sedang muntah-muntah diujung kapal, pria itu juga tampak mabuk
" Apa ini ulah David?" Gumam Milan lalu berlarian lagi mencari Pevita
Milan melewati lorong kamar, sialnya ia tak bisa membuka satu persatu kamar tersebut. Pelayan disini juga tak bisa sembarangan membuka kamar bila tanpa ijin Axel, Milan akhirnya mencari ke setiap ruangan terbuka
" Dimana mereka?" Gumam Milan meremmas rambutnya sendiri. Berlari lagi seolah tak lelah
" Bangsat kau David." Gumam Milan berlari sekali lagi keluar, ia menuju belakang kapal. Dadanya terasa lega ketika menemukan Pevita sedang terduduk lesu menyandar kedingding kapal. Milan segera mendekat, pandangannya melihat kesekeliling namun tak menemukan keberadaan David
" Dimana David?" Tanya Milan pada Pevita lalu berjongkok
" Pevita dimana David?" Milan menyentuh pundak itu membuat Pevita mengangkat wajah. Kedua mata itu sayu, wajah Pevita memerah bagaikan kepiting rebus
" Panas." Hanya itu yang keluar dari tubuh Pevita. Milan segera membantu tubuh itu untuk berdiri
" Tolong." Suara teriakan itu membuat Milan menoleh pada Pevita
" Dimana David?" Tanya Milan, dengan lemas Pevita menunjuk pagar membuat Milan melepaskan Pevita dan beringus kesana. Milan terkejut ketika melihat David dibawah, dalam air laut
Meskipun kesal, David adalah sepupunya. Milan tak bisa membiarkan pria itu mati begitu saja, ia berlari untuk mengambil pelampung dan melemparnya pada David. Kemudian kembali pada Pevita yang lemah menyandar didingding kapal. Ia menggandeng Pevita, membawa gadis itu masuk kedalam
-
-
__ADS_1