
🌹🌹🌹
-
-
" Astaga!" gumam Delan membulatkan kedua matanya, ia beranjak berdiri hingga kursinya bergeser kebelakang. Dan Delan segera berlari mengitari meja, ia bahkan menepis jemari Milan yang akan menyentuh pipi Bella. Delan tak membuang waktu, ia segera membopong tubuh yang tak berdaya itu
" Sayang bawa dia kekamar tamu." perintah sang ibu beranjak berdiri lalu mengikuti Delan
" Angel .. suamimu benar-benar." ucap sang ayah menggelengkan kepala. Angel tertawa terbahak-bahak
" Ya .. Delan memang seperti itu. Dia terlalu baik bahkan untuk orang asing sekalipun." sautnya disela tawa menutupi semuanya dari semua orang hal itu membuat Milan, Jerome dan Pevita yang tahu hubungan keduanya memandang kasihan pada Angela. Jerome tersenyum menyentuh pundak Angela
" Kau benar-benar wanita tangguh Angel .." bisik Jerome. Angela memaksakan senyumnya pada Jerome
" Silahkan lanjutkan lagi makan malamnya." ucap Daddy Dean pada semua orang, lalu ia menghela nafasnya pelan, sebagai seorang pria tentu Dean merasa tak wajar melihat perangai yang berbeda putranya pada wanita bernama Bella itu. Semua orang mungkin tak merasa heran namun Dean adalah seorang ayah, sejak kecil ia mengurus putranya itu dan tentu ia sangat tahu bagaimana Delan
Dikamar Delan yang duduk disisi kasur tampak panik, pria itu terus menepuk pipi Bella yang tidur dipangkuannya." Mom akan memanggil dokter." ucap Bulan
" No Mam!"
" Kenapa?" tanyanya dengan dahi mengerut. Delan meneguk ludahnya susah payah, ia kebingungan menjawab pertanyaan sang ibu
" Kamu membuang-buang waktu, bagaimana sesuatu terjadi pada anak gadis orang." gerutu sang ibu lalu melengos keluar untuk menghubungi dokter keluarga mereka
" Bella bangunlah, jangan membuatku khawatir." ucap Delan menepuk-nepuk pipi Bella lagi
" Hey sayang bangunlah .. " ucap Delan berbisik ditelinga Bella lalu menciumi bibir yang tertutup rapat itu, ia tak tahu bahwa sejak tadi Milan memperhatikannya diambang pintu, ia khawatir pada Bella dan langsung menyusul Delan
Delan menyentuh jemari lentik itu." Kamu kedinginan hmm?" tanya Delan saat merasakan tangan itu sangat dingin lalu ia mencium kening Bella sebelum membaringkan tubuh itu dikasur. Delan juga membuka satu sepatu Bella yang masih menyangkut dikakinya dan menyelimuti tubuh itu sampai batas leher
Delan mengusap wajahnya kasar dengan pandangan terus pada Bella, ia kembali mengulurkan tangannya menyentuh pipi Bella." Dia belum sadar?" tanya Milan berjalan mendekat. Delan memejamkan matanya dalam, rasanya ia kesal pada temannya itu
" Kau pasti memaksa Bella untuk datang kemari bukan?"
__ADS_1
" Aku -" Milan tak mampu menjawab Delan, nyatanya ia memang memaksa Bella untuk ikut bersamanya. Awalnya ia ingin berlibur bersama Bella, mencoba mengambil hati wanita itu dan akan mengajak Bella kencan di Eifeel setelah acara pesta ini tapi semuanya hanya angan untuk Milan. Delan menghela nafasnya lalu beranjak berdiri, ia mendekati Milan dengan tatapan tajamnya
" Kau-"
" Dia tiba-tiba pingsan Dok." ucapan sang ibu menghentikan Delan. Delan semakin pusing saat melihat dokter datang bersama sang ibu. Keduanya langsung mendekati ranjang, dan wajah masam itu terlihat dimata Milan, bukan merasa kasihan namun Milan merasa Delan benar-benar pria yang sangat brengsek
Delan memijat pelipisnya lalu mendekati keduanya. Dokter yang seumuran ibunya itu memeriksa jantung Bella, tensi darah dan denyut nadi wanita itu. Itu membuat Delan semakin tak karuan, jantungnya dag dig dug ia mulai memikirkan cara agar dokter itu tak bicara pada ibunya tentang kehamilan Bella
" Dia kelelahan .. wanita yang sedang menga-"
" Bella .. kamu sadar!" teriak Delan membuat dokter dan ibunya terkejut. Semuanya menoleh pada Bella
" Syukurlah kamu sadar Bella." ucap mami Bulan tersenyum senang
" Bella sudah sadar, ayo dokter aku akan mengantarmu." ucap Delan menarik dokter itu berdiri
" Tidak perlu Tuan, saya membawa kendaraan sendiri."
" Ah ya biarkan aku mengantarmu sampai depan." saut Delan lalu memaksa menggandeng pria itu membawanya keluar dari kamar yang ditempati Bella
Delan benar-benar mengantar dokter itu keluar rumah dan menuju halaman dimana sang dokter memarkirkan mobilnya. Delan segera melepaskan gandengan itu." Jangan memberitahu siapapun atau kau akan tahu akibatnya." ancam Delan yang mana langsung dimengerti sang dokter kenapa tuannya itu mendadak aneh
Delan tak langsung masuk kedalam, ia berjalan menuju taman dan duduk di bangku taman. Tadi ia benar-benar panik saat Bella pingsan. Lalu Delan menyalakan rokok yang ia ambil dari kantung celananya dan tak sengaja juga ia menjatuhkan testpack dengan garis dua itu ketanah
Lama Delan berdiam disana sampai ia melihat keadaan dalam rumah mulai sepi dan mobil-mobil dihalaman mulai berkurang satu persatu. Delan kembali masuk kedalam, saat itu keadaan mulai sepi. Langkahnya hanya tertuju pada satu tempat yaitu kamar Bella. Delan mengendap-ngendap masuk kedalam sana dengan pandangan waspada kesekitar
Delan menutup pintu kamar itu rapat dan menguncinya. Ia tersenyum melihat Bella yang belum tidur dan masih duduk berselonjor diatas kasur. Delan mendekati Bella mengangkat kedua kaki itu dan duduk didepan Bella sehingga kedua kaki itu berada dipangkuannya
Tiba-tiba ia mengambil lilin dalam laci meja nakas disamping tempat tidur. Delan menyalakan lilin itu dengan korek api dan tersenyum pada Bella yang tampak kebingungan melihat Delan
" Kamu tahu, sebenarnya aku ingin merayakan hari jadiku hanya berdua denganmu." Bella tersenyum, Delan selalu bisa merayunya
" Katakan sesuatu padaku!" perintah Delan
" Selamat ulang tahun sayang, aku akan selalu mendoakan kebaikanmu." kini Delan yang tersenyum, ia menyentuh pipi yang menampilkan lesung pipi itu dengan jemarinya yang lain lalu mencium bibir itu lembut
__ADS_1
" Terima kasih sayang." ucapnya lalu meniup lilin itu. Keduanya tampak tersenyum dengan hal sederhana itu. Delan segera meletakan lilin itu kembali ketempatnya lalu memeluk Bella
" Jangan pingsan seperti itu lagi. Itu membuatku takut!" Bella tersenyum membalas pelukan Delan, ia mencium dengan lembut leher itu
" Kamu tidak tahu kalau selama seminggu ini aku mengalami morning sicknes?" Delan mengurai pelukan itu
" Aku harus bagaimana?" Bella hanya terdiam dengan dahi berkerut
" Bella, alasanku belum siap kita memiliki seorang bayi karena aku belum bisa terus ada disampingmu, merawatmu disaat-saat seperti ini."
" Aku tidak masalah, aku akan merawat diriku dan bayi kita dengan baik." saut Bella sembari menyentuh perutnya. Delan melepaskan pelukan itu, ia mengikuti Bella menyentuh perutnya. Keduanya kembali tersenyum menatap perut Bella
" Berhentilah bekerja!" Bella menggelengkan kepalanya
" Menurutlah, aku tidak mau lagi sesuatu terjadi padamu!"
" Aku tidak apa-apa, tadi aku hanya mual karena mencium seafood. Itu benar-benar membuatku pusing." Delan tersenyum lembut mengusap pipi Bella yang ia rasa sedikit membulat
" Kamu harus menghindarinya mulai sekarang." Bella mengangguk pelan lalu ia menangkup wajah Delan dan mengecup bibir itu dalam dan lama
" Tidurlah!" perintah Delan menepuk bantal disebelah Bella, wanita itu menurut membaringkan tubuhnya yang masih berbalut gaun kekasur
Bella menggenggam jemari Delan dan membawa didadanya membuat Delan bergerak membaringkan tubuhnya disamping Bella. Ia membelai pipi itu dengan lembut sehingga mata itu perlahan terpejam
" Jangan pergi." ucap Bella kembali membuka matanya lalu bergerak menghadap Delan, keduanya kini saling berhadapan
" Tidak akan, aku akan menemani kamu sampai tidur."
" Jangan pernah tinggalkan aku." ucap Bella memelaskan wajahnya, ia benar-benar tak rela bila Delan harus tidur dengan Angela malam ini
" Kumohon!"
-
-
__ADS_1
-
-