
" Pev, Pevita." Lany menggoyang tubuh itu, sejak malam Pevita belum juga bangun dari tidurnya. Hingga kini menjelang malam ia masih terlelap dengan perut kosong. Masih tak bangun Lany mengguncang tubuh itu sedikit kencang
" Euuuuhhhhh."
" Bangun, memangnya kau tidak lapar."
" Aku tidak berselera makan." Saut Pevita masih tak membuka mata. Lany menghela nafas, temannya ini belum apa-apa sudah patah hati duluan. Bahkan semalaman menangis mengganggu tidur temannya yang lain
" Pev, malam ini ada pesta perpisahan. Kudengar ada seorang dj kelas atas yang disewa Axel." Lany mencoba menbujuk Pevita
" Ayolah, ini kesempatanmu untuk merasakan apa itu dunia malam."
" Aku sudah bilang aku tidak akan menemuinya lagi." Saut Pevita. Lany memukul lengan atas Pevita membuat kedua mata itu tiba-tiba terbuka
" Kenapa bilang begitu."
" Tidak ada harapan untuk aku dan kak Milan."
" Sudah kubilang, hubungan mereka sudah lama berlalu." Gerutu Lany jadi ikut kesal dan memukul lengan Pevita lagi
" Sekarang ayo mandi ikut denganku!"
" Aku tidak mau, aku sudah janji pada diriku. Aku tidak akan menemuinya lagi." Tolak Pevita memejamkan mata. Lany tak bisa melihat temannya terus bersedih, gadis itu menarik lengan Pevita hingga Pevita duduk
" Lany." Bentak Pevita
" Aku tidak suka melihatmu patah hati seperti ini." Saut Lany
" Aku tidak bisa melakukan apapun, semuanya terasa menyedihkan." Saut Pevita
" Itu karena ulahmu sendiri." Saut Lany turun dari kasur
" Ikut denganku atau aku akan memaksamu!"
" Sudah kubilang, aku tidak mau!" Lany menggeram kesal, akhirnya ia menarik satu kaki Pevita hingga gadis itu terjatuh kelantai
" Lany, apa kau sudah gila!" Teriak Pevita, untungnya hanya ada mereka berdua dikamar itu. Lany tak mendengarkan teriakan Pevita, ia menarik Pevita sekuat tenaganya menuju kamar mandi
" Lany, aku akan benar-benar marah."
" Seharusnya aku yang marah padamu!" Saut Lany
Tiba dikamar mandi Lany menarik tangan Pevita lagi hingga berdiri dan mendorong tubuh itu dibawah guyuran shower. Pevita hanya bisa merutuki Lany, lalu ia benar-benar mandi
__ADS_1
Lany terkekeh pelan lalu keluar dari kamar mandi. Ia membuka koper hitam Pevita, menyiapkan baju gadis itu untuk ia pakai malam ini. Sambil tersenyum ia merapihkan lagi koper itu dan menyembunyikan koper Pevita jauh dari tempatnya
Dengan bibir mengerucut karena kesal, Pevita keluar dari kamar mandi. Ia mendekati ranjang dimana ada gaun hitam seksi disana. Pevita mencari kopernya
" Lany, dimana koperku?"
" Itu aku sudah sediakan, kurang baik apalagi temanmu ini."
" Tidak, bukan ini. Aku tidak niat pergi."
" Aku tidak perduli, kau harus menemaniku!"
" Aku bilang tidak mau ya tidak mau!" Gerutu Pevita
" Aku akan benar-benar marah kali ini." Ucap Lany, kali ini wajahnya tampak serius membuat Pevita menciut dan menuruti keinginan Lany
Dibelakang Lany tersenyum, ia memperhatikan Pevita yang menurut padanya. Ketika gadis itu selesai, Lany membantu menata rambutnya didepan cermin rias
" Pev." Pevita melirik dari balik cermin
" Kau tahu aku yang paling tahu tentangmu ataupun Laura." Pevita hanya diam mendengarkan
" Laura tidak semenyedihkan itu Pev, dia hanya iri denganmu." Pevita tak menjawab, begitupun Lany tak banyak bicara lagi
Keduanya memutuskan keluar dari kamar menuju area tengah kapal dimana pesta itu diadakan. Lagu ajep-ajep mulai terdengar ditelinga Pevita dan Lany
" Sepertinya kita salah kostum." Gumam Lany karena dirinya ataupun Pevita malah memakai dress ketat yang seksi dibagian dada dan punggung
" Mau menari denganku?" Tanya Axel. Pevita menoleh pada Lany
" Ayolah, yang lainnya juga ada didalam." Ajak Axel memaksa Pevita dengan menarik tangannya
" Axel, lepaskan."
" Ayolah, kau dan temanmu terlalu banyak berpikir." saut Axel menarik Pevita dan Lany menuju lantai dansa. Banyak gadis-gadis seusia Pevita dan Lany tampak bersenang-senang, bergoyang bersama pria ataupun teman wanita mereka
Anehnya kali ini Pevita tak melihat Milan, pria itu tak ada diperkumpulan Axel dan David. Tapi Pevita merasa bersyukur atas itu, setidaknya hatinya tak akan terluka setiap kali melihat Milan. Pevita dan Lany akhirnya membaur bersama Axel dan David, Pevita sendiri heran, sejak kapan Lany dan David jadi dekat. Keduanya menari bersama dengan posisi dekat. Pantas saja Lany memaksanya untuk datang ke pesta ini, rupanya gadis itu sedang mencari perhatian David, pikir Pevita
Pevita tampak bersenang-senang, tertawa-tawa dengan tingkah konyol Axel dan David. Pevita tidak tahu bahwa tak jauh dari sana, kedua pasang mata memperhatikannya, dengan pandangan tak bisa diartikan. Apalagi ketika jemari Axel melingkar dipinggangnya, jemarinya mencekal kuat gelas berisi cairan alkohol ditangannya
Deg
Pandangan Pevita tak sengaja melihat ke arah pria itu, yang tak lain adalah Milan. Tubuh Pevita yang sedang bergoyang asyik itu tiba-tiba membeku membuat Axel heran dan ikut memandang ke arah Pevita memandang
__ADS_1
" Tidak usah hiraukan dia. Sejak kemarin tingkahnya aneh." Gerutu Axel, mencoba memegang lagi pinggang Pevita
" Aneh?" Saut Pevita sembari menepis pelan kedua jemari Axel
" Iya, dia marah-marah tak jelas."
Pevita tampak merenung, ketika Milan pergi Pevita melangkah
" Mau kemana cantik?" Tanya Axel
" Sebentar." Saut Pevita lalu mengikuti Milan yang mulai menjauh
Diluar disisi kapal, Milan mengusap wajahnya kasar. Ia mencekal pagar kapal dengan kuat. Darahnya mendidih melihat Pevita tampak lebih nyaman bersama pria lain." Demi Tuhan, aku bisa gila!" Gumam Milan sambil mengatur nafasnya yang tiba-tiba sesak. Milan merasakan kedua tangan melingkar diperutnya. Milan menunduk dan langsung menepis kedua tangan itu
Milan tak menghiraukan Laura, ia hendak melangkah namun ditahan Laura." Semenjijikan kah itu aku?" Milan berbalik mendengar pertanyaan itu
" Aku rasa kau tidak sebodoh itu, aku sudah bilang berulang kali. Hubungan kita!"
" Karena ada Pevita begitu!" Potong Laura
" Ya, karena dia. Aku bisa gila bila tak bersamanya!" Bentak Milan cukup membuat Laura mematung ditempat
" Jauhi aku!" Ancam Milan lalu meninggalkan Laura begitu saja
Milan tidak tahu, Pevita sedang berdiri dibalik tembok mendengar percakapan keduanya dengan mata berkaca-kaca. Milan kembali kekamarnya, ia lebih baik tidur daripada melihat Pevita bersama Axel, Milan jadi meras terjebak dan tersiksa dengan permainan Axel
Pevita juga langsung pergi kekamarnya. Ia menangis kencang didalam kamar itu. Ia ingin sekali menghamburkan dirinya memeluk Milan dan bilang bahwa ia telah jatuh cinta pada pria itu. Tidak akan ada yang percaya bahwa gadis manja itu mudah sekali jatuh kedalam jeratan pesona Milan
Lany yang tak menemukan Pevita mencoba mencari Pevita kekamar mereka. Lany mendorong pintu yang tak terbuka itu, ia cukup terkejut mendengar tangisan Pevita dibelakang pintu." Pev."Panggil Lany
" Lany, aku sangat menyukai Milan." Sautnya sesegukan dan berlinang airmata, seperti Milan, Pevita pun merasa gila. Lany beringus mendekat, ia menarik Pevita berdiri
" Pergilah, katakan sendiri padanya."Perintah Lany mendorong tubuh Pevita namun gadis itu menggelengkan kepala
" Tidak usah hiraukan Laura, dia akan membaik dengan sendirinya." Pevita masih menggelengkan kepalanya
" Kalau kau seperti ini, bukan hanya dirimu yang sakit tapi kak Milan juga." Untuk kali ini Pevita terdiam, hanya isak tangisnya yang terdengar
" Pergilah!" Usir Lany mendorong Pevita lagi hingga Pevita keluar dari kamar
" Pergilah, daripada kau menyesal." Bentak Lany. Pevita mengusap airmatanya yang membanjir lalu memberanikan diri memutar tubuh dan melangkah menuju kamar yang ditempati Milan
" Dasar gadis cengeng!" Gerutu Lany
__ADS_1
-
-