
🌹🌹🌹
Bella menghempaskan tubuhnya dengan kasar didudukan toilet. Ia menutupi wajahnya dan menangis, punggungnya sampai bergetar. Bagaimana bisa dia merendahkan harga dirinya lagi dihadapan Delan
" *Murahan, hanya seorang murahan lah yang mampu merebut suami orang."
" Bella ada apa denganmu, kami semua tak menyangka, kamu jadi wanita seperti ini. Jelaskan pada kakak apa yang terjadi, kakak akan membantumu .. "
" Menjauh dari anakku, kamu tidak pantas. Kamu mau menjadi parasit untuk putraku! kalau bayimu membutuhkan seorang ayah pergilah pada ayahnya jangan memanfaatkan rasa cinta putraku*!"
Kata-kata itu kembali terngiang ditelinga Bella, bagaimana saat itu semua orang datang ke Apartementnya dan Delan, wajah-wajah itu tampak merendahkannya. Bella memang tak terlahir dari keluarga kaya tapi ia masih punya harga diri. Meskipun menjadi yang kedua namun Bella selalu menempatkan posisinya bahkan ia tak pernah meminta nafkah lahir pada Delan jika bukan pria yang memberinya
Bella semakin menangis kencang bila mengingat malam itu, ia menangis tersedu sampai suaranya keluar
" Bella, Delan itu hanya main-main. Bagaimana bisa kamu menanggapinya dengan serius? kau pikir Delan mencintaimu? kau pikir selama ia berselingkuh denganmu hubunganku dan Delan hancur, aku dan Delan bertengkar? Tidak Bella, ketahuilah, aku dan Delan masih terus bercinta setiap malam bahkan sampai malam kemarin kami masih melakukannya."
Bella menggelengkan kepalanya dengan airmata yang terus meluncur deras. Rasanya sangat sakit mendengar perkataan Angela dulu padanya. Angela bahkan memberi tamparan keras layaknya seorang istri sah pada umumnya terhadap seorang wanita yang menggoda suaminya didepan semua orang, itu tentu sangat menghina Bella bahkan tak ada yang membelanya saat itu, ia hanya sendiri menghadapi semua orang
" Aku sedang hamil lagi bayi Delan, tidakkah kamu sebagai wanita masih punya hati nurani? ahh aku lupa kau hanyalah wanita rendahan yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang suamiku. Katakan Bella berapa yang kau butuhkan agar kau bisa pergi dari suamiku.1 Triliun apakah cukup untukmu dan bayi harammu itu? bayi yang ayahnya saja tidak tahu siapa?"
Bella mengepalkan kedua tangannya lalu mengusap kedua pipinya yang basah. Ia bangkit berdiri dan mendekati cermin. Wajah sembab, leher dan dada yang dinodai bekas kecupan Delan itu menjadi perhatian Bella. Lalu Bella memutuskan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air sambil mencakar-cakar seluruh tubuhnya yang dijamah Delan
" Tidak, aku bukan wanita murahan, bukan." gumam Bella lalu menangis lagi
" Jeslyn juga bukan anak haram."
Huuuu
Tangisan Bella kian mengencang dibawah guyuran shower itu. Cukup lama sampai seluruh tubuhnya menggigil dan terasa membeku barulah Bella bangkit dan keluar dari kamar mandi
Paginya Bella membuka mata saat merasakan sentuhan hangat dan basah dikeningnya. Bella terkejut menepis jemari Delan dipipinya dengan kasar. Wajah Bella kembali galak pada Delan tak seperti semalam saat mereka bergumul mesra
__ADS_1
" Kamu demam." ucap Delan lalu berniat membantu Bella untuk duduk namun sekali lagi Bella meronta
" Singkirkan tanganmu dan enyahlah." perintahnya yang mana langsung dituruti Delan, pria itu tak mau memaksa Bella. Lalu Delan mengambil nampan diatas meja nakas disamping ranjang dimana dalam nampan itu ada semangkuk bubur, segelas air putih dan obat penurun demam
Delan menyendok full bubur dengan sendok dan mendekatkan kebibir Bella. " Makanlah, kamu harus sembuh, Jeslyn masih membutuhkanmu." perintah Delan, demi Jeslyn Bella mau membuka mulutnya dan memakan bubur buatan Delan
" Maaf." ucap Delan
" Tidak jangan membahasnya. Anggap saja itu sebuah kesalahan."
" Ya, itu kesalahanku." saut Delan dengan wajah sedih, sejujurnya Delan sangat terluka. Bella yang sekarang teramat sangat membencinya
" Bella .." panggil Delan, kali ini Bella mengangkat wajahnya yang pucat dan menatap Delan
" Apa selama ini kamu bahagia?" tanya Delan dengan kedua mata berkaca, Bella merasa tak tahan melihat kedua mata dengan netra coklat itu, ia memalingkan wajah
" Aku sangat bahagia." saut Bella
" Syukurlah!" ucap Delan lalu mengusap sudut matanya yang basah dan kembali menyuapi Bella
" Kamu tidak usah bekerja hari ini. Istirahatlah biar aku yang mengurus Jeslyn." Bella hanya diam, tubuhnya yang terasa lemas membuat Bella mau tak mau menuruti Delan dan kembali berbaring dikasur
Seharian ini Bella melihat Delan mengurus Jeslyn, memandikan bayi mereka, menyuapi Jeslyn membuatkan susu formula karena Delan tak mengijinkan Bella menyusui Jeslyn disaat demam seperti ini. Membuat Bella sedikit tersentuh, bagaimana pria itu tampak senang mengurus buah hati mereka. Juga bayi mereka yang juga semakin menempel pada sang papa
Bella tersenyum mendengar cekikikan lucu putrinya dari luar kamar. Tentu itu pasti karena Delan yang terus mencandai Jeslyn, pria itu memang tampak menyayangi Jeslyn tapi Bella juga tidak mau dibodohi Delan untuk kesekian kalinya. Jika sekali lagi Bella jatuh kepelukan Delan dan terluka lagi, bukan tidak mungkin ia akan menjadi gila. Sudah cukup selama ini Bella hidup dengan kepahitan dan rasa sakit
Delan yang sedang menciumi bawah dagu Jeslyn yang dipenuhi lemak itu diganggu oleh suara bell yang terus berbunyi. " Emmm kamu sangat menggemaskan sayang." ucap Delan, sekali lagi ia menciumi pipi bakpau itu membuat Jeslyn yang Delan tidurkan dikedua pahanya itu cekikikan lagi. Delan memangku Jeslyn dan bangkit dari duduknya untuk membuka pintu
Delan termenung saat membuka pintu. Lalu ia sadar dan membuka pintu lebar. Disana ada Jun, pria itu tampak masih kesal dengan pria didepannya ini yang mengaku sebagai suami Bella." Masuklah." perintah Delan
Ia memutuskan untuk mengalah, bukan karena tak mau memperjuangkan pernikahannya lagi, tapi tangisan Bella semalam benar-benar menyadarkan Delan, tangisan itu terdengar menyakitkan dikedua telinga Delan. Apa yang terjadi pada Bella? kenapa wanita itu terdengar kesakitan, tangisannya, suaranya. Apa keluarga Delan teramat menyakiti Bella sampai-sampai wanita itu memutuskan melarikan diri dan pergi meninggalkan Delan? sungguh Delan tidak akan memaafkan semua orang jika benar mereka menyakiti pujaan hatinya. Sejak semalam hatinya menjadi sangat sakit, Delan memang salah karena memaksa Bella dan ia sudah memutuskan tak akan lagi memaksa Bella dalam hal apapun termasuk memaksakan perasaannya lagi. Jika Bella bahagia bukankah itu sudah cukup untuknya? Delan tak mau egois dan tak akan melarang Bella. Baginya yang terpenting adalah kebahagiaan Bella, cinta yang teramat besar membuat Delan melupakan kebahagiannya sendiri
__ADS_1
Delan tak mau egois dan berpikir Bella masih mencintainya karena nyatanya Bella sangat membencinya saat ini. Delan akan mengalah selama itu terbaik untuk Bella dan Jeslyn meskipun tak dapat dipungkiri bahwa ia sangat terluka
" Dimana Bella?" tanya Jun
" Dia sedang istirahat dikamar." saut Delan sambil mengusap puncak kepala Jeslyn yang celingukan dengan kedatangan Jun
Jun mengabaikan Delan, wajah itu tampak panik dan melenggang masuk kekamar Bella. Delan mengikuti Jun tapi pria itu hanya diam diambang pintu, berdiri disana dengan wajah sedih. Dalam hatinya cemburu dan merasa terbakar, tapi Delan bisa apa? bicara dan membela diripun rasanya percuma karena Bella tak akan mempercayainya
" Bella." panggilnya membuat kedua mata yang sedang terpejam itu terbuka lebar
" Jun?" Bella sedikit terkejut dengan Jun yang tiba-tiba ada dikamarnya, Bella merasa tidak nyaman dengan hal ini. Kepalanya mengedar dan menemukan Delan yang berdiri diambang pintu bersama Jeslyn dalam gendongannya
" Apa yang terjadi?" tanya Jun tiba-tiba membelai pipi Bella
" Aku hanya tidak enak badan." saut Bella mencekal jemari Jun dipipinya, Bella menjauhkan tangan itu, ia benar-benar tak nyaman dengan sentuhan Jun. Tapi semalam ia dan Delan melakukan lebih dari sentuhan Bella malah menerima dan menikmatinya
" Apa yang pria itu lakukan padamu?" Bella menggelengkan kepalanya, kenapa ia merasa tak suka dengan pertanyaan Jun. Sebenarnya yang dilakukan Delan dan dirinya semalam tak ada salahnya sedikitpun, toh Delan tak pernah menceraikannya
" Kalau dia berani macam-macam, bicara padaku aku akan memberinya pelajaran." Bella tersenyum lalu mengangguk pelan, Jun memang pria yang sangat perhatian sejak beberapa bulan lalu ia mengenal Jun
" Terima kasih Jun dan maaf aku tidak bekerja hari ini."
" Ahh kenapa bicara seperti itu, pikirkan saja kesehatanmu." ucap Jun
Cup
Bella terkejut bukan main saat bibir itu mendarat tiba-tiba dikeningnya lalu Bella menoleh pada Delan, lebih tepatnya punggung Delan karena pria itu menjauhi keduanya. Bella tidak tahu kalau Delan sangat marah, tentu hatinya sangat sakit dan cemburu melihat istrinya dicium pria lain dihadapannya tapi Delan juga tidak bisa marah seperti sebelumnya, ia tak mau memaksa Bella
Delan memutuskan untuk duduk lagi disofa, ia mengangkat Jeslyn yang sedang mengemut kepalan jemarinya. Delan menciumi pipi Jeslyn dengan lembut." Jeslyn, tidak apa-apa kan jika papa tidak selalu berada disisi Jeslyn hmm?" Kedua mata Delan berkaca menatapi putrinya
" Jeslyn, papa tetap papamu sampai papa mati. Tapi Jeslyn papa tidak bisa bersama Jeslyn setiap detiknya jadi Jeslyn jangan membenci papa ya. Papa janji papa akan sering mengunjungi Jeslyn." ucap Delan dengan senyum manis dan airmata yang terus berjatuhan
__ADS_1
-
-