
🌹🌹🌹
Mamamama
Jeslyn menangis kencang dikamar itu, sepertinya bayi itu mulai bosan karena terus digoda dan diciumi semua keluarga Delan. Lalu pria itu mengambil alih Jelsyn dari tangan sang Mammi dan menyerahkannya pada Bella yang duduk disofa disampingnya
Bella langsung memberikan satu buah dadanya untuk Jeslyn yang mana buah dada itu langsung ditutupi telapak tangan Delan. Bryan terkekeh lucu melihat itu, selain nafssu yang tinggi ternyata sifat posesive juga menurun pada semua anggota keluarga Ken, sang ayah
" Sepertinya setiap hari, rumah kita akan selalu ramai." Ucap Mammi Bulan sambil menatap Jeslyn dipangkuan Bella
Mendengar itu Bella menoleh pada Delan, pria itu langsung mencium keningnya dengan begitu lembut. Wajah Bella memerah karena malu lalu menunduk, Delan tersenyum lucu mengusap puncak kepalamya
" Bella .." Panggil Mammi Bulan yang masih duduk dikursi roda, kali ini ia memandang Bella
" Maafkan kami, terutama Mammi." Ucapnya membuat Bella kembali menoleh pada Delan. Pria itu tersenyum
" Aku tidak akan ikut campur urusan ini, mau kamu memaafkan atau tidak. Aku tidak akan memaksamu." Lalu Bella kembali pada Mammi Bulan
" Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua Delan." Saut Bella membuat Mammi Bulan tersenyum, dibantu Dean wanita itu mendekat dan mencoba meraih satu jemari Bella, menggenggamnya erat
" Kesalahan kami sangat besar, tapi kami pastikan kami sangat menyesal. Kami akan membuktikan semuanya, Mammi akan memperlakukanmu dengan baik, katakan .. apa yang kamu inginkan agar kamu memaafkan kami dan mau menerima kami sebagai keluargamu?" Wajah Mammi Bulan memelas pada wanita yang bahkan bila dibandingkan dari segi status tak sederajat dengannya. Tapi demi Delan sang putra, wanita itu memohon dengan tulus sampai kedua matanya berair
Bella memdadak menundukan pandangannya dan menangis
" Hey .." Delan menggandeng bahu itu dan memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Bella, airmata berjatuhan dari kedua pelupuk matanya
" Tidak apa-apa, jika kamu tidak mau. Kami akan memberimu waktu." Tapi Bella malah menggelengkan kepalanya
" Apa ini sungguh nyata?" Delan bernafas lega lalu mengangguk
" Selama ini aku melihat Delan sangat sedih, dia selalu tertawa dan tersenyum saat bersamaku dan Jeslyn. Tapi didalam hatinya aku tahu Delan memiliki banyak beban, aku akan memafkan kalian tapi kumohon jangan menyiksa lagi perasaan Delan." Saut Bella dengan isak tangisnya, ketulusan itu terlihat dimata semua orang, bagaimana Bella begitu menyanjung Delan Kini mereka semua benar-benar telah salah menilai Bella, ternyata wanita itu lebih baik dari yang merek kira
" Kamu akan melihat sendiri, kami akan membuktikan kalau kami sangat menyesal."
Rupanya tangisan Bella membuat Jeslyn menangis, bayi itu melepaskan putting Bella dan ikut menangis kencang sangat lucu dimata semua orang." Berhenti menangis, lihat Jeslyn mengikutimu." Ucap Delan sembari mengusap airmata dipipi Bella, wanita itu tertawa pelan ditengah isak tangisnya membuat Jeslyn mengikutinya lagi, bayi mungil dengan mulut yang baru ditumbuhi gigi itu tertawa kencang. Tidak ada yang tidak tertawa, semua orang tertawa sekaligus terharu hingga kedua mata mereka berkaca-kaca
" Kakak!" teriakan itu mengagetkan semua orang, mereka menoleh pada Pevita yang baru datang bersama Jiana dan anak-anaknya
Pevita berlari dan langsung menghamburkan dirinya memeluk sang kakak. Gadis itu menangis kencang dengan tubuh dipangkuan Delan, memeluk kakaknya dengan begitu erat. Delan tersenyum mengusap rambut Pevita yang panjang lalu membalas pelukan Pevita, menyalurkan rasa rindunya pada sang adik
" Kakak kemana saja? selama ini aku mencari kakak. Maafkan aku, kumohon maafkan aku. Aku salah, aku juga meragukan kakak dan Bella."
__ADS_1
" Panggil dia kakak, dia kakak iparmu sekarang." Gerutu Delan membuat Pevita tertawa ditengah isak tangisnya. Pevita melepaskan pelukannya, menangkup wajah Delan
" Kakak, kenapa sekarang kulitmu hitam." Ledek Pevita
" Jeju sangat panas." Saut Delan beralasan, tidak tahu saja semua orang bahwa Delan pernah menjadi seorang kuli
" Jadi selama ini kakak di Jeju?" Delan mengangguk sembari mengusap airmata disudut mata Pevita
Cup Cup Cup
Tiga kecupan dari Pevita mendarat dipipi kakaknya
" Ahh hentikan Pev." Gerutu Delan mengusap pipinya
" Jangan begitu aku sangat merindukan kakak." Saut Pevita lalu ia menoleh pada wanita yang disamping sang kakak, yaitu Bella yang sedang tersenyum padanya
" Kak." Pevita menatap Delan
" Dia Jeslyn." Saut Delan dengan senyumnya
" Dia .. dia keponakanku?"tanyanya menatap tak percaya pada Jeslyn
" Bukankah dia sangat cantik, kamu saja tersaingi Pev." Pevita tampak senang, ia langsung turun dari pangkuan Delan dan berjongkok didepan Bella
" Dia sangat mirip denganmu kak." Ucap Jeslyn menatap kagum keponakannya
" Tentu saja karena kakakmu ini yang membuatnya." Pevita berdecak kesal
" Ya disofa, kau membuatnya disofa." Gerutu Pevita saat dulu ia mengintip keduanya saat sedang bercinta
" Apa maksudmu disofa Pev?"
" Tanyakan saja pada dua orang ini Paman." Saut Pevita menjawab pertanyaan Bryan lalu memangku Jeslyn, bayi itu tampak merengek tak mengenali Pevita
" Lucu sekali huuummm." Pevita menciumi pipi bulat itu sambil membawa Jeslyn kebalkon kamar agar bayi itu berhenti merengek
" Apa kalian sudah makan?" tanya Mammi Bulan sembari mengusap kedua sudut matanya yang berair lagi, entahlah melihat Jeslyn rasanya ia ingin terus menangis
" Belum." Saut Delan menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa sambil menggandeng Bella, wanita itu menunduk karena malu Pevita meledeknya tadi
" Kalau begitu Mammi akan memasak."
__ADS_1
" Mam." Delan tampak tak setuju, ia bangkit berdiri
" Tidak apa-apa, Mammi sangat sehat. Apa yang kamu khawatirkan." Delan terdiam, kenapa ia baru menyadarinya. Lalu ia menoleh pada Bryan, pria itu menyengir pada Delan
" Aku hanya memberi sedikit keterangan palsu, agar kamu mau pulang " Ucapnya dengan wajah tanpa dosa. Delan menghembuskan nafasnya
" Sudah kuduga." Gerutu Delan membuat Bryan tertawa kencang
" Memangnya apa yang pamanmu bilang?" Tanya sang ayah
" Dia bilang Mammi sedang sakit parah dan sekarat." Saut Delan membuat semua orang tertawa
Dan tawa itu kian kencang saat Mammi Bulan beranjak dari kursi roda." Apa kalian bersekutu lagi?" tanya Delan terperangah
" Jika tidak begitu, putraku ini tidak akan pulangkan?" Mammi Bulan menangkup wajah Delan dengan kedua tangannya, bibirnya tersenyum manis dibarengi setetes airmata mengalir dari pelupuk matanya. Putranya kini benar-benar seorang ayah
" Kenapa kalian sangat jahat." Teriak Delan namun bukan takut semua orang malah tertawa
Bella yang melihat keluarga itu tersenyum manis, semuanya tampak senang. Bella merasa lega, kini suaminya bisa berkumpul lagi bersama keluarganya, selama ini Bella khawatir karena kerap memergoki suaminya yang melamun, Bella tahu meskipun marah tapi Delan sangat merindukan keluarganya
Dengan senyum tak pudar Bella beranjak bangun
" Mau kemana?" tanya Delan menahan lengan Bella
" Aku akan membantu Mammimu." Saut Bella membuat Mammi Bulan tersenyum, selama ini meskipun punya menantu namun Angela tak pernah menawarkan dirinya pergi kedapur
Betapa senangnya Bella kini lengannya ddigandeng Mammi Bulan." Iya ayo kita buat makan malam bersama-sama." Bella mengangguk dan tersenyum manis menampilkan lesung pipitnya
" Dia benar-benar sikriting." Bisik Bryan pada Jiana sang istri membuat wanita itu menampar pipinya, entah keberapa kali seribu atau sepuluh ribu, Bryan tak menghitungnya yang pasti tamparan cinta ini selalu Bryan rindukan saat jauh dari Jiana
" Si kriting si kriting, jangan asal bicara. Bella sangat cantik sekarang, lihatlah keponakanmh sampai tergila-gila padanya." Gerutu Jiana membuat Bryan tergelak dan mencubit pinggangnya
Jiana memberikan delikan sebalnya pada Bryan dan akhirnya mengikuti kedua wanita berbeda generasi itu kedapur. Lalu berdiri disamping Bella menatap kedua jemari Bella yang mulai cekatan membantu ibu mertuany
" Bella, selama ini kamu kemana? kenapa pergi? aku sudah bilanngkan kalau aku mempercayaimu!" Gerutu Jiana sementara Mammi Bulan tampak sendu, dalam hatinya ia teramat menyesal tak mendengarkan ucapan Bella yang mengaku hamil anaknya. Mungkin dulu Bella pergi karena sakit hati dengan perkataannya, pikirnya dipenuhi sesalan dalam hati
" Aku-" Bella tak melanjutkan ucapannya, diujung pintu ia melihat Angela, wanita itu mendekat dengan jalan melenggak-lenggok dan berdiri didepan meja pantri yang juga berhadapan dengan Bella. Angela melipat kedua tangannya dan menaikan dagunya angkuh memandang Bella
" Terima kasih Bella, akhirnya suamiku kembali." Hati Bella kembali berdenyut, kenapa ia baru sadar bahwa ia masih membagi Delan bersama Angela?
-
__ADS_1
-