
🌹🌹🌹
Papa
Paapaa
Paapaa
Paapaa
Sayup-sayup Delan mendengar suara lucu itu terus memanggil namanya menggetarkan hati Delan. Namun disisi lain kedua mata Delan masih terasa berat untuk terbuka dan menanggapi panggilan sang putri yaitu Jeslyn. Bayi yang bahkan belum menginjak usia sembilan bulan itu sudah bisa berceloteh memanggil ayah dan ibunya
Paapaa
Paapaa
" Auuww." Delan memekik dan spontan membuka mata saat rambutnya terasa ditarik kebelakang dengan kuat. Ulah siapa lagi jika bukan ulah Jeslyn, tak ditanggapi sang ayah bayi itu merangkak mendekat dan menjambak-jambak rambutnya
" Aduuh Jeslyn." Bukannya takut dengan gerutuan sang ayah, bayi yang memang belum mengerti apapun itu malah terkikik lucu dan kembali menjambak-jambak rambut Delan
Meskipun terasa sakit dan rambutnya mulai rontok karena ulah sang anak yang hampir setiap hari melakukan itu saat berusaha membangunkan Delan namun tak dapat dipungkiri hal ini membuat hati Delan membuncah bahagia, mimpinya punya seorang bayi kecil lucu nan menggemaskan itu akhirnya terwujud
Akhrinya Delan membalikan badan dan langsung membawa tubuh kecil itu duduk didadanya. Ia tersenyum meskipun kedua jemari kecil itu menepuk-nepuk wajahnya
" Jeslyn." Panggil Delan
" Paapaa."
" Uuuh sayang Papaa." Delan menarik tubuh itu untuk menciumi pipi Jeslyn, bayi itu meronta sambil terus menepuk-nepuk pipi Delan
" Uuuhhhmmm lucu sekali sayangku." Gumam Delan dipipi Jeslyn, ia terkikik mendengar jeritan Jeslyn yang tak mau diciumi ayahnya
Hal itu menjadi pemandangan indah untuk Bella, ia tersenyum manis dengan tumpukan pakaian yang sudah rapi ditangannya. Lalu mendekati lemari untuk memasukan pakaian itu satu persatu kedalam lemari
" Bukankah sudah siang?" Mendengar suara Bella, Delan berdecak kesal, ia langsung menghentikan aktifitasnya dan beralih pada Bella. Sudah dua minggu ini wanita itu terus menggagalkan usaha Delan untuk berhubungan badan dengan alasan tubuh Delan yang bau. Tentu itu menjadi hal yang mengesalkan untuk Delan, ia tak mengerti dengan istrinya. Jika pagi hari seperti ini Bella akan manis namun menjelang malam hari wanita itu berubah ketus dan tak mau didekati Delan
Dan itu menjadi pertengkaran kecil untuknya dan Bella selama seminggu ini
" Sayang." Lihatlah, dengan wajah tanpa dosanya perempuan itu memanggil Delan dengan begitu lembut
" Iya." Jawab Delan ketus membuat Bella terperangah, ia tak suka diabaikan
" Ada apa denganmu?" bentak Bella pelan membuat Delan menghela nafas dan mengabaikan Bella. Sambil memangku Jeslyn, ia bangkit mendekat pada Bella, menyerahkan Jeslyn tanpa mengatakan apapun. Dengan wajah sinis ia melenggang meninggalkan Bella, sialmya wanita itu benar-benar tak memahami keinginan Delan
__ADS_1
" Dasar gila, apa sek* sepenting itu." Gerutu Bella
" Mama." Kemarahan Bella meredam saat panggilam dengan suara lucu itu terdengar ditelinganya
" Sayang." Balas Bella
" Mimi Mama." Bella tertawa melihat wajah memelas bayi kecilnya
" Uuuhhhm Mimi." Tak menjawab sang ibu, jemari kecil itu berinisiatif mencoba membuka kancing baju atas ibunya membuat Bella tertawa, ia mencium pipi gembul itu sambil berjalan menuju ranjang untuk menyusui Jeslyn
" Uuuuhhh bayiku." Gumam Bella menatapi Jelsyn yang lahap menyusu padanya
Didalam kamar mandi Delan mengguyur tubuhnya dari kepala sampai rambut dengan air shower. Ia benar-benar tak mengerti dengan Bella yang tiba-tiba terus menolak ajakannya. Jika tubuhnya benar-benar bau, mana mungkin hanya Bella yang menciumnya sedangkan orang lain tidak
" Aku harus melakukan apa." Gumam Delan menjedugkan kepalanya pada dingding kaca kamar mandi lalu memejamkan mata memikirkan Bella
" Aahh benar, rumah itu. Wanita pasti akan luluh bila diberi hadiah." Gumam Delan dengan seringai dibibirnya
Dengan segera ia menyelesaikan acara mandinya pagi ini dan bergegas keluar dengan handuk putih melingkar ditubuhnya
" Kemana dia." Gumam Delan lalu menuju balkon kamar namun Bella tetap tak ada. Delan kembali dan mendekati ranjang dimana disitu ada pakaian kerjanya yaitu setelan coklat dengan kemeja putih dan dasi hitam
Sudah seminggu kebelakang Delan kembali pada aktifitasnya seperti dulu yaitu memimpin perusahan keluarganya. Meskipum dalam hatinya ia sangat bermimpi untuk menjadi seorang dokter spesialis bedah namun Delan tak bisa egois dan setega itu meskipun sang ibu dan ayah menyuruh Delan untuk selalu menentukan apa kemauannya, tapi jika bukan dirinya lalu siapa lagi. Pevita adalah seorang wanita, kelak wanita itu akan menjadi milik seseorang jadi ialah yang harua mengalah
Dengan setelan dan rambut yang sudah tertata rapi, Delan menyambar tas kerjanya dan keluar dari kamar. Ia menuju lantai satu dimana keriuhan berada, setiap pagi, siang ataupun malam Jeslyn menjadi sumber utama keriuhan itu. Dengan tawa dan tangisnya rumah itu terasa lebih hangat
" Morning Mam, Dad." Sapa Delan pada kedua orangtuanya, mencium kening sang ibu adalah hal rutin untuk Delan, ia melakukan itu sebelam duduk disamping Delan
" Delan, persidanganmu dan Angela."
" Dua hari lagi Mam." Saut Delan lalu melirik Bella sambil menggandengnya, wanita itu hanya diam membalas mengabaikan Delan
" Jeslyn." Mendengar suara ayahnya, kepala bayi yang sedang berdiri memegang ujung meja kaca itu mengedar, saat melihat Delan Jeslyn tersenyum lebar
" Come here Jeslyn." Spontan bayi itu langsung duduk dan merangkak dengan cepat
" Ah merangkak lagi, sayang seharusnya kamu melangkah." Gerutu Delan membuat semua orang tertawa kecuali Bella, wanita itu hanya tersenyum memperhatikan Jeslyn yang lincah merangkak menuju tempat ayahnya
Saat sampai Jeslyn mengangkat kedua tangannya
" No!" Delan menggelengkan kepalanya
" Stand up huuumm."
__ADS_1
Tapi Jeslyn malah menjerit dan akan menangis membuat semuanya tertawa lagi, bayi itu benar-benar tak bisa berjauhan dari ayahnya. Alhasil Delan mengangkat tubuh kecil itu kepangkuannya
" Sungguh setengah saham akan kamu berikan?" tanya Daddy Dean
" Aku tidak akan memberikan apapun pada Angela." Saut Delan sambil jemarinya mengelus pelan puncak kepala Jeslyn
" Dia tidak pantas mendapatkan sepeserpun, mammi tidak setuju." Delan tertawa mendengar ucapan sang Mammi, rasa sayang wanita itu langsung lenyap tatkala tahu Angela yang lebih dulu mengkhianati putranya, selama ini Angela selalu menampakan wajah sedih seolah dia yang paling tersakiti
" Baiklah, itu tidak akan terjadi Mam. Aku lebih baik menyumbangkan setengah saham itu ke yayasan amal agar lebih bermanfaat." Ujar Delan
" Sungguh kamu mau melakukannya?"
" Iya."
" Ini benar-benar perubahan besar.." Suara cempreng menyaut pembicaraan mereka, terlihat Pevita baru turun dari tangga dengan wajah bantalnya
" Anak gadis macam apa baru bangun sesiang ini?" Gerutu Delan menoleh kebelakangp
" Kakak, semalam aku mengerjakan tugas yang sangat banyak." Balas Pevita menggerutu lalu langsung berjongkok dihadapan Delan dan Jeslyn, ia menciumi bayi mungil itu karena sangat merasa gemas
" Sejak bersama Kak Bella, Kakak banyak berubah." Seru Pevita membuat kedua orantuanya tersenyum, yang dimaksud perubahan oleh Pevita adalah kini Delan yang lebih hangat dan lebih perduli terhadap orang lain. Jika dulu mana mau pria itu banyak berinteraksi dengan orang asing jika bukan kepentingan urusan pekerjaan
" Bukankah luar biasa, selain cantik istriku sangat pintar bukan?"
Pevita mencebikan bibirnya." Bukan pintar, tapi kakak yang bucin."
" Cih enak saja." Gerutu Delan
" Maksudmu tidak?" Bella ikut menyaut
" Maksudmu kamu tidak mencintaiku." Raut wajah Delan menciut takut melihat ekspresi datar Bella
" Tidak maksudku emmm, aku mencintaimu. Tentu saja." Bella memutar bola matanya malas dan melipat kedua tangannya didada.
" Matilah aku." Gerutu Delan dalam hati. Bukan membuat suasana yang tegang mencair, ia malah menambah masalahnya dan Bella
-
-
-
-
__ADS_1