Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Bab 2. Aib pasangan (Season 2)


__ADS_3

Di malam harinya. Rahma belum merampungkan tugasnya menyetrika pakaian.


Sudah hal biasa jika hari Minggu mbak asisten rumah tangga tidak datang, maka semua pekerjaan rumah akan di pegang Irsyad dan Rahma.


Sebenarnya Rahma biasa menyetrika selepas Zuhur, namun pukul delapan pagi tadi Irsyad mengajaknya dan anak-anak berlibur ke Taman safari, dan baru pulang sehabis magrib tadi.


Irsyad menghampiri istrinya di sebuah ruangan laundry yang dekat dengan dapur.


Terlihat letih dan lesu istrinya itu, mungkin karena faktor kelelahan.


"Dek, sudah malam di kerjakan besok saja." ucap Irsyad.


"Sebentar mas, seragam Nuha dan Rumi yang buat besok belum di setrika. Dan koko batik yang mau di pakai mas besok juga kusut lagi karena ke tumpuk pakaian yang lain."


Irsyad tertegun, iya baru ingat kalau besok adalah hari pertama si kembar masuk PAUD "Oh iya, Rumi dan Nuha sudah mulai masuk pendidik usia dini ya besok?" gumamnya.


"Iya mas." jawab Ramah, masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Tidak terasa ya, anak-anak kita sudah mulai sekolah." ucap Irsyad.


Rahma tersenyum.


"Aku juga semakin tua ya mas." jawab Rahma.


"Mas juga kok dek." Mengusap kepala Rahma.


"Apanya yang mas juga, Mas Irsyad itu belum terlihat seperti bapak-bapak tau."


"Masa? Usia mas saja sudah hampir empat puluh tahunan loh. Bahkan beberapa kali Rahma menemukan uban di rambut mas kan?"


"Emmm iya sih, tapi wajah mas ini loh yang bikin nggak tenang hati, kalo umur sih nggak keliatan ya, mau mas ngaku masih bujangan juga orang percaya."


Irsyad terkekeh. "MashaAllah, ya nggak gitu juga dek, masa ngaku bujangan."


"Emang faktanya tuh, mas masih tampan dan terlihat awet muda, tidak seperti Rahma. itu enaknya jadi laki-laki, tidak mudah terlihat tua, tidak seperti wanita padahal usia kita terlampau lumayan ya mas. Namun aku malah seperti lebih tua dari mas Irsyad." Rahma mengusap peluh dengan lengannya, menyetrika memang membuah hawa menjadi gerah.


Irsyad tertegun, Rahma memang sudah tidak seperti dulu, namun baginya Rahma masih cantik. Wajahnya yang putih bersih benar-benar memancarkan kecantikan alaminya.


Namun sejatinya perempuan, akan selalu merasa tidak pede dengan bentuk tubuh dan kecantikan alami wajahnya sendiri.


Satu kemeja Irsyad sudah selesai dia setrika dan di gantung di dekat meja setrika tersebut.


dengan pakaian Nuha dan Rumi.


Irsyad menyentuh wajah Rahma "Sudah istri ku, jangan di setrika semuanya. Lanjut besok saja ya sayang." pinta Irsyad tidak tega, melihat wajahnya yang lelah.


Rahma tersenyum. "Tanggung mas."

__ADS_1


"Dek, pekerjaan rumah itu memang nggak ada habisnya. Sudah jangan lanjutkan ya. Besok lagi saja." Irsyad mencabut colokan kabel dari setrika tersebut.


"Sudah lanjut besok saja ya." Titah Irsyad, Rahma pun mengangguk.


Irsyad merapikan sejenak setrikanya, lalu meraih pergelangan tangan Rahma.


"Mas sudah buatkan teh manis loh untuk kita, sekarang kita minum teh dulu yuk di ruang tengah. Mumpung si kembar sudah tidur, pacaran dulu kita." Ajak Irsyad, Rahma pun terkekeh sembari mengikuti langkah kaki suaminya yang sudah menggandeng lengan Rahma.


Di ruang tengah Rahma mendapati satu cangkir besar teh manis di atas meja.


"Lah kok cuma satu?"


"Kan barengan dek."


Rahma tersenyum. Sudah apal sih dia sebenarnya. Memang suaminya seapa-apanya selalu ingin barengan. Seimbang lah ya antara menghemat dan romantis hahaha.


Keduanya duduk berdampingan, Rahma merebahkan kepalanya di pangkuan Irsyad. Sembari menunggu teh itu sedikit dingin.


"Rahma senang deh, dimana-mana seorang suami pasti akan cuek dengan istrinya. Banyak malah di antara para suami itu tidak peduli, mau si istrinya bekerja dua puluh empat jam tanpa henti atau tidak? yang penting tugas suami mencari uang itu sudah cukup. Tapi lain halnya dengan suami Rahma, mas Irsyad malah sering melarang Rahma mengerjakan pekerjaan rumah dan fokus mengurus anak."


Irsyad tersenyum. "Dek, mengurus anak bukannya lebih melelahkan ya? dari pada pekerjaan membereskan rumah? Apa lagi kita punya dua anak."


"Iya sih, tapi biasanya para lelaki itu tidak peduli dengan tugas sang istri. Bahkan boro-boro membantu, memberi perhatian saja tidak mau." ucap Rahma. Sedangkan Irsyad hanya diam saja.


"Mas?"


"teman ku kemarin-kemarin bercerita. Dia itu ibu rumah tangga, sama seperti Rahma. Tadinya ia bekerja di rumah sakit yang sama dengan Rahma. Dia Menikah dengan seorang pria dan kini tinggal di Lampung. Dia tidak hanya rela meninggalkan pekerjaannya, dia juga hidup dalam satu rumah dengan ibu mertuanya. Bahkan teman ku bilang, setiap harinya ia selalu merasa tidak betah tinggal di sana." Rahma terus berbicara panjang lebar. Sedangkan Irsyad hanya diam saja sembari mengusap-usap kepala Rahma.


"Terus, ibu bapaknya itu seorang pedagang. Ya lumayan lah orang berada. Sering sekali ada acara di rumah mertuanya. Teman ku itu memang pandai memasak menurut Rahma, maka dari itu, setiap kali ada acara pasti teman Rahma itu yang selalu membuatkan hidangan. Tanpa di bantu, sembari menjaga anaknya yang masih balita."


"Bahkan terkadang masih sering di salah-salahkan, padahal dia merawat anaknya sendiri dan mengerjakan pekerjaan rumah itu tanpa di bantu siapapun. Bangun pagi hanya untuk menyiapkan sarapan pagi buat kedua mertuanya. Membereskan rumah, mengurus anak. Dan pulang pun rumah harus tetap dalam keadaan bersih. Dan makan malam pun juga harus sudah tersaji."


"Tapi sayang, dari semua yang ia lakukan itu sama sekali tidak ada harganya di mata kedua orang tuanya. Lebih-lebih sang suami yang sama sekali tidak peduli, jika di adukan boro-boro di bela yang ada malah temen ku itu yang di marahi, karena? Emmmpp" Irsyad membungkam mulut istrinya dengan kecupan di bibir, semua sebab Rahma terus saja mengoceh tanpa jeda, bahkan semakin kesini semakin menggebu-gebu, seperti turut kesal dengan cerita yang ia bawakan sendiri. Rahma mendorongnya Pelan bahu Irsyad naik hingga kecupan itu terlepas.


"Mas ini ya, Rahma kan sedang bercerita."


"Bercerita apa sedang membicarakan keburukan orang lain?" tanya Irsyad sembari mengusap bibir Rahma dengan ibu jarinya.


"Cerita mas, teman Rahma itu curhat ke Rahma."


"Itu salah dek."


"Siapa? Orang tuanya teman Rahma ini?"


"Teman Rahma lah."


"Kok gitu?" Rahma beranjak duduk.

__ADS_1


"Iya lah. Yang ia ceritakan itu siapa? Suaminya kan? Sama orang tuanya?"


"Iya. Tapi kan itu sedih, kasian teman Rahma di gituin." jawab Rahma.


"Mas tahu, tapi dengan seperti itu pahala dia gugur dek, malah dosanya bertambah." Irsyad membelai lembut rambut Rahma.


"Ya tapi kan?"


"Pasangan kita itu adalah pakaian kita, kita membuka keburukannya sama saja menanggali pakaian kita sendiri. Ade mendengar itu dari sisi teman mu kan? Ade tidak melihat kondisi yang sebenarnya seperti apa di sana, bisa saja ada bumbu-bumbu dalam cerita itu. Yang akan menjadi fitnah untuk suami dan kedua orang tua suaminya, itu dosa besar sayang."


Rahma terdiam. Mau debat pun tiada guna. Apalah daya dia yang hanya tahu Alif, ba', ta'. Harus berdebat dengan si penghafal tiga puluh juz.


Maka diam dan mendengarkan adalah hal yang wajib ia lakukan ketika sang suami sudah membahas soal agama.


"Nih ya, mas kasih tahu. Hukum dalam rumah tangga itu adalah saling menjadi pakaian masing-masing pasangannya. Jangan pula keburukan di umbar-umbar dek. Ade mungkin enak ya mengumbar keburukan suami untuk mendapat simpati dari orang, tapi jika posisi ade di balik, suami Ade yang mengumbar keburukan dek Rahma memangnya kamu Ridho? Tidak kan? Intinya permasalahan di dalam rumah itu jangan sampai ada orang luar mendengarnya dek. Jangankan orang luar. Misal kata kita hidup masih dengan orang tua. Kita punya masalah pribadi jangan sampai lah masalah itu keluar dari dalam kamar kita hingga terdengar di telinga orang rumah. Dari sini Paham kan?"


"Iya mas paham," Jawab Rahma.


Irsyad tersenyum. "Pinter istri mas ini."


"Huuhh niat hati mau memuji suami malah kena ceramah pak Ustadz."


Irsyad terkekeh. "Jangan membandingkan pasangan kita dengan pasangan orang lain sayang. karena sikap manusia itu berbeda-beda. Hal yang baik pada diri beliau mungkin buruk pada diri mas. Begitu pula sebaliknya."


"Iya pak Ustadz." Rahma meraih cangkir tehnya. "Di minum mas." Rahma mendekatkan cangkir itu kearah Irsyad.


Irsyad tersenyum. "Dek Rahma dulu dong."


"Nggak mau ah, masa mas minum di bekas Rahma terus. Kan nggak sopan lama-lama."


"Halah nggak sopan bagaimana? Itu kan ciuman secara nggak langsung." ucap Irsyad yang langsung menutup mulutnya sembari terkekeh. Kala melihat Rahma melebarkan matanya.


"Te...teori dari mana itu?"


"Teori cinta Ustadz Irsyad lah." Cuppph Irsyad mengecup pipi Rahma yang tengah merona itu.


"Yang ada-ada saja, mas ini, ciuman tidak langsung. Hadeeeehhh bucin...cucin" Rahma Terkekeh.


"Apa itu bucin?"


"Alaaaah mas tidak akan paham." Rahma masih tertawa lalu mendekatkan cangkir teh itu di dekat bibirnya sendiri.


"Bismillah dulu dek."


"Iya mas sudah dalam hati." jawab Rahma asal. Padahal sih belum.


Irsyad geleng-geleng kepala. Setelahnya Baru lah Irsyad meminum teh manis hangat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2