
Langit pagi di hari senin yang masih gelap. Terdengar suara Adzan subuh bersaut-sautan dari masjid satu ke masjid yang lain. Irsyad masuk ke dalam kamarnya setelah melakukan zikir setelah solat di sepertiga malamnya, guna membangunkan sang istri.
Senyum hangat tersungging saat Rahma sudah siap dengan pakaian bersihnya.
"Subhanallah, mas senang rasanya Rahma sudah rajin bangun pagi tanpa mas bangunkan."
"Mungkin karena sudah terbiasa mas. Jadi mata Rahma terbuka dengan sendirinya di jam empat pagi." tuturnya. Irsyad mengecup kening istrinya merasa bangga. Mata Rahma tertuju pada sajadah yang menggantung di bahu Irsyad.
"Mas kok bawa-bawa sajadah?" tanya Rahma.
"Mas ingin solat di masjid sayang, semenjak menikah mas sangat jarang ke masjid lagi setiap subuh, hanya saat Rahma menstruasi, dan nifas dulu."
"Iya sih tapi kan mas memang harus mengimami Rahma kan?" tanya Rahma.
Irsyad tersenyum. "Sayang, sebenarnya Laki-laki itu lebih wajib solat di masjid ketimbang di rumah. Kemarin-kemarin mas kan hanya mengajari mu untuk lebih taat lagi. Karena Rahma masih suka kesal kalau mas suruh sholat subuh tepat waktu, ngaji dan zikir. Kalau sekarang mas senang karena tidak perlu di suruh, eh... Istri mas ini sudah langsung meraih Al Qur'an."
Wajah Rahma sedikit masam. "Rahma solat subuh sendirian dong?" gumamnya.
Irsyad membelai kepala Rahma lembut. "Rahma, kemarin sepulang mengajar mas mampir ke warung dekat sini. Dan bertemu dengan pak RT, dia minta mas untuk rutin ke masjid lagi setiap subuh dan membuka kuliah subuh untuk para jamaah masjid di sana lagi seperti saat mas belum menikah."
"Begitu ya."
"Iya sayang, tidak apa-apa ya. Rahma kan sudah pintar, Rahma solat di rumah ya. Mas harus ke masjid dulu. Assalamu'alaikum" tuturnya halus, Rahma pun mengangguk dan mengecup punggung tangan Irsyad lalu menjawab salam Irsyad.
Suaminya benar-benar pria yang sangat di kagumi dan selalu menjadi panutan bagi para warga di kompleks ini. Bahkan hampir setiap pengajian yang di adakan selalu menginginkan suaminya lah yang mengisi. Tidak hanya itu beberapa masjid pun menginginkan Ustadz Irsyad menjadi imam di sana. Namun memang semenjak menikah suaminya itu sudah sangat jarang berada di masjid.
Agak tidak enak sebenarnya Ustadz pada para warga di sana, ia meminta jamaahnya untuk tetap berjamaah namun sendirinya setelah menikah malah sangat jarang.
Ada sih beberapa di antara mereka yang memaklumi kala awal-awal Ustadz menikah beliau harus membimbing sang istri. Namun tetap saja ini sudah berjalan empat tahun lebih. Dan sudah saatnya Irsyad kembali mengisi masjid itu sebagai Imam sekaligus penceramah di sana.
***
Pukul delapan pagi Irsyad sudah tiba di kampusnya. Hari ini ia akan mengadakan kuis, dan sudah bersiap dengan soal-soal yang ia copy menjadi beberapa lembar.
"Assalamu'alaikum Ustadz."
__ADS_1
"Walaikumsalam Ustadz Rahmat, baru datang ya?" tanya Irsyad sembari menjabat lalu menempelkan kedua pipi mereka secara bergantian kiri lalu yang kanan.
"Iya Ustadz, emmm nanti jadi menjenguk pak Huda bersama-sama kan selepas Zhuhur ini?" tanya Ustadz Rahmat.
"InsyaAllah tadz, saya juga sudah izin pada istri saya."
"Baiklah kalau begitu. Soalnya pak Huda sudah kembali dari rumah sakit tadi malam."
"Oh begitu ya? Kalau begitu kita menjenguk di rumahnya saja ya?" Tutur Irsyad.
"Iya tadz." jawab Ustadz Rahmat.
"Ya sudah saya ke kelas dulu, Assalamu'alaikum." ucapnya.
"Walaikumsalam warahmatullah." jawab Ustadz Rahmat sembari berjalan menuju mejanya.
Irsyad pun masuk kedalam ruang kelasnya. Di sana para mahasiswa dan siswinya sudah berkumpul. Dan kuis pun di mulai sesaat setelah Irsyad membagi lembar soalnya.
Irsyad berjalan mengelilingi para mahasiswa nya hingga ke sudut ruangan belakang. Ia pun berdiri di sudut ruangan itu, dengan tangan menyilang di depan dada. menatap kearah jendela mengarah ke sebuah kubah masjid.
Pikiran Irsyad pun kini melayang ke tahun-tahun awal dimana ia baru saja mengajar di kampus ini.
(flashback on)
Seorang wanita yang baru keluar dari masjid terburu-buru menghampiri temannya.
"Nissa, ayo, kita ada kuis." seru seorang temannya.
"Tunggu... Tunggu dulu—" Seru wanita yang tengah sibuk berkutat dengan kaos kakinya. Setelah selesai ia pun beranjak dan bergegas pergi.
Saking terburu-burunya, jari-jari tangannya meraih tasbih yang tengah di pegang Ustadz Irsyad hingga tertarik dan putus.
Biji-biji tasbih itu pun berhamburan.
Sontak saja mata wanita itu melebar tertuju pada tasbih yang putus itu.
__ADS_1
"Innalillah... Pak Irsyad tolong maafkan saya ya, sungguh maafkan saya." Tuturnya panik, namun pandangannya tidak tertuju pada Irsyad, matanya masih terarah pada biji-biji tasbih tersebut dengan cepat ia berjongkok memunguti biji tasbih itu satu persatu.
"Jangan, sudah tidak apa-apa dek. Kamu masuk kelas saja sana." titah Irsyad.
"Tidak pak Irsyad, saya harus bertanggungjawab." gadis itu masih sibuk memunguti dan menampung nya dengan hijab besarnya itu.
Irsyad memalingkan wajah saat wanita beranjak dan menatap ke arahnya. Sebenarnya tidak kearahnya langsung masih sedikit menunduk "pak Irsyad. Ini biar saya bawa ya." tuturnya.
"Untuk apa? Itu di buang saja."
'Lagi pula menerima dari tangannya hanya akan membuat ku semakin gemetaran, cepat lah pergi dari sini. Ku mohon.' batin Irsyad yang sudah tidak bisa berlama-lama di dekatnya. Padahal jika dia ingin langsung pergi juga bisa namun sepertinya kakinya menjadi kaku.
"Tidak pak, saya akan memperbaikinya." tuturnya.
"Ti...tidak perlu. Serius. Sudah kau kembali ke kelas mu saja dan buang itu."
"Iya Pak, saya permisi Assalamu'alaikum." tuturnya ia pun berjalan cepat menjauh dari Irsyad.
"walaikumsalam..." Gumamnya. Ia pun segera menuju masjid tempatnya tujuan awal nya datang ke sana.
(flashback off)
bayangan itu pun beralih pada saat dirinya berpapasan dengan seorang wanita bercadar.
'saya Annisa Nur Istiqosah, mantan mahasiswi pak Irsyad dulu.' degg degg
Sebuah getaran di ponselnya membuyarkan lamunan Irsyad... Ia menggeleng cepat segera beristighfar sebanyak mungkin.
Lalu membuka pesan singkat yang di kirim Rahma.
(Assalamualaikum Mas, pulang nanti belikan Rahma diapers ya untuk si kembar.)
Irsyad mengetik sesuatu.
(Walaikumsalam. iya dek, Nanti selepas pulang dari Rumah pak Huda ya.) balasnya.
__ADS_1
Irsyad menggeleng cepat 'Ya Allah kenapa saya tiba-tiba jadi teringat saat-saat itu? Astaghfirullahalazim ya Allah... Maafkan dosa Hamba Ya Allah.' batin Irsyad. yang lantas kembali berjalan ke depan.