Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
keputusan Ulum.


__ADS_3

Suatu ketika Ulum baru saja memandikan ibunya, ia menyisir rambutnya yang panjang itu.


"Bu, Ulum cukur saja rambutnya ya, biar ibu tidak susah." Ulum mengusulkan.


"Iya nak." jawab ibunya.


Ulum pun keluar guna mengambil gunting, lalu kembali masuk kedalam kamar ibunya.


"Ulum cukur sekarang ya."


"Iya, tapi yang rapi ya." ucap ibunya sembari tersenyum.


"Pasti rapi lah, kan profesional ini. Hehehe."


Ulum pun mulai memangkas rambut ibunya yang sudah mulai memutih itu, hingga sebatas bahunya.


"Segini ya bu." ucap Ulum ia pun meraih cermin yang tidak terlalu besar lalu menyerahkannya kepada ibunya.


"Wah wah ibu jadi muda lagi ini?" tutur ibunya.


"Hehehe, cantik kan jadinya?" kekeh Ulum yang merasa senang.


"Hebat lah anak ibu." Puji ibu Nafsiyah yang merasa puas. Ulum pun terkekeh sembari membersihkan sisa rambut yang tergeletak di lantai.


"Ulum, ini kan minggu. Kau tidak keluar?"


"Keluar kemana bu?"


"Ya main atau kemana begitu? Memang kau tidak punya pacar?" tanya Bu Nafsiyah.


"Pacar? Ulum itu belum memikirkan soal pacaran bu, Ulum hanya ingin bersama ibu saja."


Bu Nafsiyah tersenyum ia mengusap tangan anaknya itu. "Terimakasih sudah menjadi anak yang baik Ulum, semoga kau bisa menemukan jodoh yang baik suatu saat nanti, dan satu pesan ibu. Apapun kondisinya, asal wanita itu baik, kau harus tetap menyayanginya, jangan pernah kau melukainya ya." pesan ibunya yang saat itu langsung di balas dengan anggukan kepalanya.


Dan beberapa bulan setelahnya, ibu Nafsiyah menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit setelah sempat koma selama dua hari.


Kesedihan yang mendalam di rasakan Ulum pada saat itu, wanita yang paling ia sayangi harus pergi untuk selamanya.


Saat itu pula Ulum mulai merasa tidak nyaman tinggal di rumahnya. Setelah lulus SMA, Ulum memutuskan untuk ke Jakarta menempuh pendidikan lagi.

__ADS_1


Dengan semangat Ulum menjalani kuliahnya, namun baru dua tahun berjalan pak Djarot mengabarkan jika bisnis bawangnya tengah merosot, hal itu pula yang menyebabkan Ulum harus menghentikan kuliahnya untuk sementara waktu karena tidak ada lagi kiriman uang dari bapaknya.


Di sana beberapa pekerjaan ia lakoni. Termaksud mengojek online guna bertahan hidup. sembari mengumpulkan uang lagi agar bisa melanjutkan kuliahnya itu.


(Flashback is off)


***


Di sepertiga malam Ulum terbangun, ia mengambil air wudhu untuk menjalankan sholat Istiqhoro dan solat tahajud.


Dalam do'anya ia selalu menyebut nama Aida, dan memohon pada sang kholik untuk memberikannya petunjuk atas keraguannya itu.


Hal itu terus Ulum jalani hingga satu minggu lamanya.


Sampai suatu malam ia bermimpi, seorang wanita dengan hijabnya yang panjang, sebatas panggul itu menghampirinya.


Ia memberikan sajadah kepada Ulum yang masih menatapnya bingung. Pasalnya wajah gadis dalam mimpinya seperti tidak asing bagi Ulum yang terus mengamati wanita yang sama sekali tidak berbicara itu. Ia hanya tersenyum indah lalu kembali menjauh.


Sesaat mata Ulum terbuka ia terjaga. Dengan posisi duduk, Ulum menengadahkan kedua tangannya. Ia memanjatkan doa bangun tidur dan menatap kearah jam yang sudah menunjukkan pukul 02:40.


"Aku mimpi apa ya tadi, gadis itu siapa?" Ia pun beranjak bangun guna menjalani lagi solat malamnya, saat tengah melakukan gerakan sujud wajah Aida tiba-tiba muncul, dan dari situ juga Ulum menyadari wanita yang ada di mimpinya mirip dengan Aida.


"Aida?" gumam Ulum lirih, tangannya perlahan menyentuh dadanya yang tengah berdegup kencang, ia pun kembali beristighfar, dan segera menggeleng cepat lalu kembali mengulang solat malamnya.


****


Di pagi harinya Ulum berdiri di depan ruangan Kantor itu, dengan sedikit ragu Ulum terus menghembuskan nafasnya. Melawan rasa gugupnya.


Tangannya terangkat "bismillah." Ulum mengetuk pintu ruangan kantor itu. Dan membuka pintu itu.


"Assalamu'alaikum," ucapnya, Irsyad pun mengangkat kepalanya menoleh kearah Ulum lalu tersenyum.


"Walaikumsalam. Kemari lah, silahkan masuk." ucap Irsyad,


Ulum pun masuk dan duduk di hadapan Irsyad.


"Ustadz maaf, saya ingin berbicara pada Ustadz mengenai Aida." ucap Ulum. Irsyad pun tersenyum.


"Boleh, silahkan." ucapnya.

__ADS_1


"Saya, ingin mengatakan. Kalau saya sudah memikirkan matang-matang. Dan hari ini saya sudah yakin dengan keputusan saya ini Ustadz." ucap Ulum.


"Lantas jawabnya?" tanya Irsyad.


"Saya bersedia menikahinya Ustadz." ucap Ulum yakin.


"Alhamdulillah," gumam Irsyad lega.


"Tapi Ustadz, saya tidak punya uang lebih dari ini untuk meng khitbah Aida." Ulum mengeluarkan uang senilai dua ratus ribu rupiah.


Irsyad tersenyum. "Simpan itu untuk emas kawin mu saja, dan berikan pada Aida sebagai nafkah pertama mu," ucap Irsyad.


"Lalu, kapan kau siap menikahi Aida?" Lanjut Irsyad.


"Ahad depan bagaimana ustadz?"


Melihat Ulum mengucapkan itu dengan lantang tanpa terbata-bata membuat Irsyad senang. "Kau sepertinya sudah benar-benar yakin ya?"


Ulum tersenyum. "Saya bermimpi Aida memberikan sajadah pada saya, saya hanya berfikir, arti dalam mimpi saya itu adalah suatu petunjuk bahwa, Aida ingin saya menjadi imamnya." jawab Ulum. Irsyad tersenyum.


"Jadi bagaimana Ustadz?" Tanya Ulum.


Irsyad beranjak dari kursinya dan mendekati Ulum.


"Ayo berdiri." titah Irsyad. Ulum pun berdiri. Dengan itu Irsyad langsung memeluk Ulum dengan sangat erat.


"Khitbah mu ku terima, dan saya setuju ahad depan kalian akan menikah," ucap Irsyad. Ulum berkaca-kaca bibirnya tersungging senang.


"Alhamdulilah ya Allah, Terimakasih Ustadz, terimakasih sekali." Ulum terharu.


"Sama-sama." Irsyad melepas pelukannya. Dan menepuk bahu Ulum pelan.


"Ya sudah siapkan saja berkas mu, nanti kita urus sama-sama ke KUA." ucap Irsyad.


"Iya Ustadz terimakasih sekali lagi, kalau begitu saya permisi Ustadz."


"Iya." Jawab Irsyad, ia pun melepas kacamatanya dan mengusap matanya yang sedikit basah akibat rasa harunya itu.


Dengan Ulum, ia benar-benar yakin pria itu akan membahagiakan Aida, dan mau berusaha keras untuk menafkahi Aida lahir maupun batin.

__ADS_1


__ADS_2