Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Irsyad sakit


__ADS_3

Setelah solat subuh berjamaah, Irsyad merebahkan tubuhnya, tangan Rahma terus berkutat pada sebuah selimut guna menyelimuti tubuh Irsyad.


Rahma pun beranjak, dengan tangan Irsyad yang langsung menahannya.


"Mau kemana?" tanya Irsyad lirih.


"Rahma mau membuatkan teh hangat untuk mas."


"Nanti saja Rahma, di sini saja dulu ya."


"Sebentar mas, sekalian Rahma ambil air hangat untuk Mengompres." tuturnya, Irsyad tersenyum Rahma itu baik, walaupun ia suka marah-marah namun ia tetap perhatian. Perlahan Irsyad melepaskan tangannya dan mengangguk dengan Rahma yang bergegas keluar guna membuatkan teh hangat dan mengambil wadah lalu mengisinya dengan air hangat. Setelah selesai ia kembali naik menghampiri suaminya.


Sejenak ia melupakan masalahnya, ia lebih iba melihat suaminya yang tengah terpejam di atas ranjangnya.


"Mas Irsyad tertidur?" Gumamnya saat mendapati Irsyad sudah tertidur pulas. Ia pasti sangat mengantuk karena semalaman tidak tidur, Rahma pun menyesali perbuatannya yang sudah mengunci diri di kamar, ya walaupun kamar di rumah itu tidak hanya satu, namun ia kenal Irsyad, pria yang tidak bisa diam saja saat Istrinya tengah marah.


Dengan handuk kecil ditangannya, Rahma pun membasahi handuk itu dan Mengompres Irsyad, mata Rahma tertuju pada suaminya. sangat halus Rahma mengusap pipi Irsyad bahkan meraih tangan yang terasa panas itu akibat demamnya, lalu menempelkannya di pipi.


'Mas Irsyad suami ku, aku tidak mau suami ku menikahi wanita lain.' gumam Rahma, air matanya kembali menetes.


'Aku tidak mau cinta mas Irsyad terbagi, dan aku pun tidak bisa membayangkan tubuh pria yang ku sayangi ini bersenggama dengannya.' Rahma merebahkan kepalanya di dada Irsyad, tangannya memeluk tubuh itu sembari menangis sesegukan, sehingga membuat Irsyad terjaga. Tangan Irsyad terangkat ia membelai lembut kepala Rahma, Rahma pun menghentikan tangisnya lalu menoleh ke arah Irsyad.


"maaf mas, Rahma mengganggu tidur mas Irsyad ya?" Rahma mengusap air matanya, Irsyad tersenyum.


"Mas tidak terganggu kok. Ade maaf ya, mas sudah membuat mu menangis." ucap Irsyad. Rahma pun menggeleng.

__ADS_1


"Tidak mas, Rahma tidak apa-apa. Mas mau minum tehnya?" Rahma menawarkan Irsyad pun mengangguk dan beranjak duduk, sesaat tangan Irsyad meraih handuk yang berada di keningnya lalu meletakkannya kedalam wadah berisi air hangat di atas meja di sebelah ranjangnya.


"Ini mas," Rahma menyerahkan segelas teh hangat itu pada Irsyad. Irsyad pun mengusap kepala Rahma.


"Terimakasih sayang." ucapnya lalu meraih gelas itu dan meminumnya sedikit.


"Dek, mas ingin berbicara pada mu,"


"Sebaiknya mas istirahat saja dulu, karena mas belum tidur kan?" Rahma berusaha mengalihkan, karena saat ini ia tidak ingin mendengar jika Irsyad meminta ijin padanya untuk menikahi Aida.


"Dek, mas tidak akan menikahi Aida," ucapnya tiba-tiba membuat Rahma terdiam.


"Mas tidak akan menikahi nya, mas tidak ingin melukai hati istri mas ini." tuturnya, Rahma pun tertunduk.


"Tidak dek," jawab Irsyad, Rahma pun mengangkat kepalanya.


"Kemarin mas begitu mudahnya berucap akan menikahi Aida, sekarang semudah itu pula mas bilang tidak akan menikahinya?" tanya Rahma, Irsyad pun terdiam.


"Tolong putuskan itu dari hati mu mas, jangan pernah memandang semua itu dengan perasaan iba."


"Tapi mas tidak mencintai Aida, Rahma." jawab Irsyad, "mas akui, kemarin mas terpancing oleh kata-kata Aida, dan mas menyesali itu." ucap Irsyad, ia mengusap pipi Rahma yang basah.


"Mas hanya punya bidadari surga di hati mas yaitu kamu, mas ingin hidup berdua saja dengan mu, tanpa adanya orang ketiga." tuturnya.


"Bagaimana jika Aida kembali tak terkendali seperti kemarin?" tanya Rahma. Irsyad memijat keningnya, ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa pada Aida karena janjinya itu.

__ADS_1


"Poligami memang tidak di larang mas, tapi Rahma tidak mau di duakan, Rahma pasti tidak akan sanggup, dan mungkin Rahma akan memilih untuk menyerah." ucap Rahma sembari terisak. Mendengar itu Irsyad menggeleng cepat, ia meraih tangan Rahma dan menempelkannya di dada.


"Ade tahu seberapa berartinya Rahma di hati mas Irsyad? Lebih dari segalanya dek, dan mas tidak akan bisa menggantikan mu bahkan dengan ribuan Aida sekali pun." tuturnya.


"Seandainya Rahma tidak bisa memberikan anak untuk mas? Apa Rahma masih tetap berarti di hati mas?"


"Kata siapa, ade tidak bisa memberikan mas anak? Kita punya anak di surganya Allah, yang sudah menanti kita di sana, dan mas tidak akan menuntut itu pada mu sayang, lagi pula dokter hanya memvonis, selebihnya ada Allah yang maha Tahu seperti apa kondisi kita kedepannya." tutur Irsyad.


"Mas tidak akan sanggup beristri dua dek, Mas akan menjelaskannya pada Aida, ia pasti akan mengerti."


"Rahma tidak yakin Mas, Aida pasti sangat kecewa karena mas tidak menunaikan janji mas itu."


"Mas siap untuk mendapat kecaman darinya, atau cacian sekali pun. karena apa? Walaupun mas menikahinya, mas akan melukainya juga, dan mas tidak ingin melukai dua wanita sekaligus, terlebih-lebih mas tidak mencintainya, mas mungkin tidak akan bisa memberikannya nafkah batin seperti saat mas melakukannya dengan mu." ucap Irsyad tulus.


Mendengar itu Rahma sedikit lega namun tetap saja ganjalan di hatinya masih terasa, bagaimana dengan Aida yang pasti sudah menunggu kedatangan Irsyad untuk memberikannya jawaban.


"Kenapa ade, diam saja? Apa ade masih ragu?" tanya Irsyad.


"Entahlah mas, untuk saat ini Rahma mau mas istirahat saja dulu biar itu kita putuskan nanti setelah mas sudah sehat, dan kita temui Aida malam ini." ucapnya, Rahma pun beranjak dengan tangan Irsyad yang kembali menahannya.


"Mas Irsyad hanya mencintai mu dek Rahma. Sungguh." ucap Irsyad, Rahma pun tersenyum, lalu mengecup pipi Irsyad.


"Rahma percaya itu mas." Tuturnya Ia pun melepaskan tangan Irsyad, lalu meraih wadah berisi air hangat itu dan membawanya keluar dari kamar mereka.


Sedikit lega perasaan di hati Rahma, walaupun masih ada sedikit ganjalan namun ia tetap percaya pada suaminya itu, bahwa Irsyad tidak akan mengecewakannya.

__ADS_1


__ADS_2