
Sudah tiga tahun berselang.
Di sebuah kampus yang ramai dengan hiruk-pikuk para mahasiswa dan siswinya.
Irsyad baru saja tiba. Ia menyapa beberapa staf yang kebetulan berpapasan dengannya mengucap selamat lebaran, setelah libur panjang Idulfitri.
"Ustadz—" Seru pak Huda dari belakang. Irsyad pun menoleh senyum Hangat tersungging di bibirnya kala mendapati salah seorang sahabat baiknya di kampus.
"Assalamu'alaikum warohmatuloh. Taqobalallahu minna waminkum *Shiyamana wa Shiyamakum." *(Semoga Allah SWT menerima amalan puasa saya dan kamu) Sapa Pak Huda sembari menjabat tangan Irsyad dan memeluknya.
"Walaikumsalam warohmatuloh.
minna waminkum taqabbal ya kariim," Irsyad menepuk-nepuk bahu pak Huda.
"Yang baru pulang mudik mashaAllah ceria sekali kelihatannya." tutur Irsyad sesaat setelah melepaskan pelukannya.
"Iya lah ustadz biasa, sudah dapet persediaan beras satu karung, rengginang kering dan oleh-oleh lainnya dari orang tua. Jadi lebih semangat saya hahaha."
"MashaAllah, memang benar ya, kalau ke rumah orang tua. Datang tangan kosong pulang pasti bawa barang se pikul." Irsyad dan pak Huda terkekeh.
"Itu lah orang tua ya. Padahal anaknya sudah berkecukupan tapi tetap saja di kasih. Takut kelaparan katanya."
"Iya lah, cinta orang tua kepada anak mengalahi luasnya lautan dan dalamnya samudera, berbeda dengan anak pada orang tua yang tidak akan lebih besar dari sebulir beras. Itu kenapa jika orang tua wafat anak akan mudah lupa, namun berbeda dengan orang tua jika anak yang wafat, maka seumur hidup akan terus merasakan kehilangan."
"Iya ustadz. Saya jadi rindu lagi sama orang tua."
"Apa lagi saya." Jawab Irsyad.
Pak Huda menoleh " Oh iya... Saya dengar-dengar antum tidak mudik tahun ini?"
"Iya Pak Huda. Si Rumi sakit satu minggu sebelum lebaran. Jadi ya di batalkan, padahal ibu dan bapak saya sudah rindu cucu kembarnya." jawab Irsyad.
"Ya Allah, Tapi sudah sembuh kan?"
"Sudah alhamdulillah pak Huda."
"Syukur lah. Nah ustadz, nanti sebelum pulang temui saya dulu ya."
"Memang ada apa?"
"Ada peuyeum yang mau saya kasih buat ustadz dan keluarga."
"MashaAllah di kasih oleh-oleh ini saya ceritanya?" Irsyad berbinar.
__ADS_1
"Iya lah ustadz. Saya bawa tidak banyak hanya dua keranjang saja satu untuk ustadz Irsyad, satu untuk ustadz Rahmat. Masih di dalam mobil saya."
"MashaAllah baik sekali bapak lima anak ini."
"Jangan sebut bapak lima anak dong ustadz, keliatan tua saya ini. Hahaha."
"Memang sudah tua, ini yang di perut saja tidak keluar-keluar." Irsyad menepuk perut gembul pak Huda.
"Haduh ustadz mengejek ini ya...?" tutur pak Huda keduanya pun terkekeh sembari melanjutkan langkah kaki mereka menuju ruang para staf pengajar.
***
Di rumah ...
Seorang anak perempuan, Nuha tengah berlari sembari memegangi telur mata sapi di tangannya.
Telur itu milik Rumi yang hendak di makannya namun di ambil adiknya. Sudah pasti ia tengah menghindari kejaran Rumi yang ingin merebut kembali telur miliknya itu.
Nuha memang gemar sekali menjahili kakak kembarnya, lebih-lebih sang kakak cengeng, itu akan membuat Nuha jauh lebih senang lagi.
"Umma, lihat Nuha—, punya kakak di ambil. Nuha kan punya sendiri." Seru Rumi menunjuk kearah adiknya yang tengah menggoyang kan pinggulnya sembari menggigit telur mata sapi milik kakaknya.
Seorang ibu rumah tangga yang baru saja selesai mencuci piring hanya bisa menghela nafas. Rambutnya yang sudah seperti seekor singa baru bangun tidur hanya bisa menatap lelah kearah keduanya. "Ya Allah Gusti, dek Nuha. Kamu ini ya. Sehari tidak membuat Umma pening tidak bisa kah?" Rahma mendekati Rumi yang sudah terisak. Lalu berjongkok.
Membawanya menuju meja makan tepatnya di dekat piring Rumi. Rahma mengambilkan telur yang ada di piring Nuha memindahkannya ke piring Rumi.
"Ini makan telurnya dek Nuha saja ya."
"Tidak mau, punya dek Nuha kecil."
"Sama saja kakak. Ini satu telur. Yang di makan dek Nuha itu hanya sedikit melebar, jadinya kelihatan lebih besar."
"Huuaaaa maunya yang di dek Nuhaaaaa. Maunya yang itu saja..."
Rahma menoleh ke arah Nuha yang masih memakan telur milik kakaknya dan hanya tersisa seperempatnya. "Punya kakak, dede habiskan." Ledek nya.
Rahma pun geleng-geleng kepala. Dalam hatinya kala melihat Nuha hanya sedikit geregetan saja. Mau marah bagaimana? melihat kelakuan jahil anak sepolos itu.
Tak lama mereka mendengar suara mobil abinya pulang.
"Abi Nuha pulang horeee." Nuha berjinjit meletakkan sisa telurnya di atas piring lalu berlari keluar.
"Abinya kakak! abinya kakak!" teriak Rumi yang semakin menangis kencang sembari mengayunkan kakinya minta di turunkan.
__ADS_1
"Ya Allah dua anak ini." Rahma menurunkan Rumi yang langsung berlari.
"Jangan lari Kakak nanti ja?" Belum sempat menyelesaikan ucapannya sudah terjadi. Rumi jatuh dengan posisi tengkurap.
Dan semakin kencang lah teriakannya.
"Naaaahhh kan, baru umma mau bilang awas jatoh! sudah jatoh kan?"
"Huaaaaaa abinya Kakak, Abiiiiii....!" Teriaknya saat melihat abinya masuk sembari mengucapkan salam dan menggendong Nuha yang tengah menjulurkan lidahnya kearah Rumi.
"MashaAllah, kenapa kakak nangis ini?" tanya Irsyad, yang sudah berdiri di dekat Rahma yang tengah menggendong Rumi.
"Apa lagi? Jika bukan karena adiknya. Mas kan tahu, mereka selalu rebutan abinya. Dia tadi mau ngejar Nuha yang sudah keluar duluan eh jatoh." jawab Rahma.
"Ya Allah anak ku." Irsyad terkekeh lalu mengecup Rumi yang sudah mengangkat kedua tangannya minta di gendong juga.
"Lihat kan? Mereka memang cintanya sama abinya. Kalo sudah ada abinya. Umma sudah tak terpakai lagi. Nih gendong saja semuanya." Rahma bersungut-sungut.
"Ya Allah... Sini... Sini anak-anak Abi sudah pada besar ya." Irsyad menggendong keduanya. Dan benar saja Rumi langsung diam.
Rahma menghela nafas. Sesaat matanya tertuju pada sesuatu. "Waduh lengan baju abi kotor itu, kena noda kecap dari tangan Nuha." Ucap Rahma.
Irsyad menoleh. "Wah... Wah... Dek Nuha lagi makan ya tadi? Sudah selesai belum makannya?" Nuha menggeleng.
"Abi....abi, tadi telur kakak di ambil dek Nuha tuh." Si kakak mengadu.
"Owalah.... Dek Nuha jangan nakal dong. Yuk sini kalian makan lagi ya. Abi suapi." Ajak Irsyad. Mereka pun bersemangat mengiyakan.
"Mas tidak lelah kah? Biar Rahma saja." ucap Rahma.
Irsyad tersenyum. "Lelah ku hilang kalau sudah melihat mereka berdua."
"Cuma mereka toh yang di rindukan?" tanya Rahma.
Irsyad terkekeh melihat bibir Rahma yang maju itu. "Sini tak bisikin." Ucap Irsyad. Rahma pun mendekat.
"Ummanya juga di rindukan kok. Tapi kalau siang kan mereka yang mas prioritaskan, dan kalau malam giliran ummanya." Bisik Irsyad. Rahma pun tersenyum.
"Mas bisa saja." Tersipu.
"Pengen cium, tapi tangan mas penuh, nanti saja ya di jamak." Sambungnya masih berbisik.
Rahma pun membulatkan bola matanya. Dengan Irsyad yang kembali terkekeh.
__ADS_1