
Di sisi lain Irsyad tengah berjalan berasama lima orang Bapak-bapak setelah acara tahlil itu berakhir. Yang pasti sudah mengobrol lumayan lama juga di rumah orang yang punya hajat. Sesaat salah satu dari mereka melihat Rahma. Yang kebetulan melintas di depan mereka berjarak dua meter dari gang tersebut.
"Ustadz, itu sepertinya istri ustadz." tuturnya. Irsyad pun memburu.
"Dimana pak?"
"Sudah melintas tadi."
"Jalan kaki atau naik motor?"
"Jalan kaki Ustadz."
"Oh ya sudah kalau begitu, maaf ya saya duluan pak. Assalamu'alaikum." ucap Ustadz Irsyad
"Walaikumsalam." Jawab mereka serentak.
Irsyad pun berjalan cepat keluar gang tersebut. Lalu belok ke arah kanan, dan benar saja ia melihat Rahma sedang berjalan sendirian.
"Rahma—" Seru Irsyad memanggil. Dan Rahma pun menoleh.
"Assalamu'alaikum." sapa Irsyad saat sudah berdiri di hadapan Rahma.
"Walaikumsalam, mas." Rahma meraih tangan Irsyad dan mengecup punggung tangannya.
"Habis dari mana, kok jalan kaki?" tanya Irsyad. Mereka pun melanjutkan langkahnya.
"Beli pembalut mas." jawab Rahma.
"Beli pembalut? Memang di rumah tidak ada?"
"Pas belanja bulanan kemarin Rahma lupa membelinya."
"Oh begitu ya,"
"Iya." Terlihat jelas dari wajah Rahma yang nampak sedikit kesal.
"Ade kenapa?"
"Kenapa apanya?" jawab Rahma.
"Itu sepertinya sedikit kesal."
"Biasa aja mas, mungkin karena Rahma mau menstruasi maka dari itu Rahma sedikit sensitif." jawab Rahma.
"Masa sih? Tapi tadi pas mas mau berangkat ke acara Tahlil dek Rahma masih biasa saja." jawab Irsyad.
Rahma menghela nafas. "Sebal." jawabnya singkat.
"Sebal kenapa?"
"gara-gara ibu-ibu yang tinggal di gang itu." tutur Rahma.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?"
"Masa Rahma di gosipin mandul."
"Astaghfirullah, masa sih?"
"Mas tidak percaya? Mas pikir Rahma mengada-ada begitu?"
"Iya mas percaya. Memang mereka bicara apa lagi?"
"Rahma harusnya menyadari dan menyuruh mas menikah lagi. Bahkan dia bilang ingin sekali menjadikan mas Irsyad sebagai menantunya dan menikahi anaknya yang masih berusia 16 tahun. Huuuuh Rahma tawarin saja. Mas mau tidak tuh sama anak usia 16 tahun." tutur Rahma sembari bersungut-sungut.
Irsyad terkekeh-kekeh, ia pun mengusap kepala Rahma dengan lembut dan sedikit gemas. "Tapi Rahma tidak mengamuk kan saat mendengar itu?" tanya Irsyad.
"Tidak lah, Rahma kasih tahu pakai Dalil dari Ustadz Irsyad idaman mereka itu."
Irsyad tertawa jenaka lalu menarik hidung Rahma gemas.
"Pinter istri mas, Itu sebabnya mas tidak suka jika ade kumpul-kumpul sama teman."
"Apa hubungannya ibu-ibu itu sama kumpul bareng teman."
"Ada lah. Intinya gibah itu perbuatan dosa yang tidak terasa kita lakuin loh sayang, di samping tidak terasa kalau kita sedang bergosip, kadang juga kita memberikan bumbu-bumbu di dalam gosip kita itu. Satu lagi. Kita nggak ngerasa tuh kalau itu perbuatan dosa dan nggak ngerasa juga kalau kita sudah melukai orang lain. Ya kalau gosip itu tidak di dengar orang yang tengah di gosipin jika kasusnya sama dengan dek Rahma, pasti akan jadi masalah yang besar kan?" ucap Irsyad.
"Iya, lagi pula Rahma juga tidak seperti mereka kok suka ngomongin orang."
"Alhamdulillah sih kalau gitu. Soalnya apa? Lidah itu Organ tubuh manusia ciptaan Allah SWT, yang paling membahayakan. Dimana Rosulullah saw pernah bersabda (Saya lebih suka diam dari pada membuka suara namun menyakiti.) dan dari lisan itu pula pertanggungjawabannya besar sayang. Dan lagi pada jaman dulu orang yang bergibah itu ketahuan, soalnya tercium aroma busuk dari mulut sang pelaku." tutur Irsyad.
"Semua karena saking banyaknya orang bergosip dan menjadikan itu semua sebagai hal biasa. Kita ibaratkan saja dengan lingkungan, misalkan kita tinggal di lingkungan dimana tempat itu banyak sekali sampah. Dan kalau orang baru pasti mencium bau busuknya kan? Tapi bagi kita yang sudah terbiasa, kita tidak akan merasakan itu."
Rahma manggut-manggut. "Lalu bagaimana caranya untuk menghindari gosip."
"Hemmm, kalau sedang berkumpul, misal salah satu teman Rahma sedang membuka pembicaraan yang sifatnya seperti menjelekan orang lain, Rahma baca saja sholat lalu menghindar pergi dulu begitu."
"Tapi kan Rahma tidak mungkin pergi begitu saja saat sedang mengobrol."
"Ya baca saja terus sholawat nya berusaha bagaimana caranya untuk tidak mendengarkan ataupun menanggapi."
"Kalau banyak orang sih bisa mas, kalau cuma berdua bagaimana, masa tiba-tiba bersholawat begitu, sama saja mengejek kan?"
Irsyad terkekeh "Ya Allah kamu ini. Ya pinter-pinter nya dek Rahma lah mengalihkan. Nah ketahuan nih tadi bilangnya tidak suka bergosip? Berarti suka bergosip juga ya."
"Sedikit kok,"
"Sedikit sama saja itu dosa Rahma."
"Lagian Rahma kalau bergosip kan lain mas, tidak membicarakan tentang teman atau orang lain."
"Lalu?"
"Membahas Oppa." Rahma tersenyum girang.
__ADS_1
"Opa? Apa itu?"
"Halaaaaah mas tidak akan paham."
"Paham kok paham, opa yang di Udin dan Idin kah?" tanya Irsyad. (Plesetan ya, jangan ngakak loh... Sentil nanti nih sama author. Hehehe)
Rahma tertawa. "Bukan lah... Mas ini, oppa itu pria tampan asal Korea."
"Oh jadi sukanya sama yang berkulit putih ini?" tanya Irsyad.
"Iya." jawab Rahma sembari tersenyum jahil.
"Mas kulitnya kuning langsat ini. Masih lah masuk dan sepertinya kalau kaca mata mas di buka. Lihat ini?" Irsyad melepas kaca matanya. "Seperti orang berkulit putih itu kan sipitnya? Lebih tampan malah." Rahma terkekeh mereka kini sudah berada di depan rumah. Rahma membuka kucinya.
"Tetap tampan oppa lah." Ledek Rahma.
"Waduh minta di cium ini."
"Jangan, maunya di cium oppa."
"Opa lagi?"
"Iya oppa Irsyad." Rahma mengecup pipi Irsyad cepat lalu berlari masuk.
"Wah Mancing nih sukanya. Awas ya nanti di dalam mas habisin kamu loh Rahma. Sini tidak?" Irsyad pun mengejar Rahma masuk. Dengan gelak tawa keduanya terlebih saat Irsyad mampu meraih tangan Rahma dan mendekap nya. Terlebih saat Irsyad merebahkan tubuh Rahma di atas Ranjang dengan serangan kecupan yang terus di hujani Irsyad di wajah Rahma, membuat Rahma terus tertawa menahan geli.
"Belum keluar kan darah haidnya?" tanya Irsyad. Rahma menggeleng.
"Kalau begitu mas bisa memulai nih sekarang?"
"Iya oppa."
"Opa lagi jangan opa lah sayang, kan kaya kakek-kakek jadinya."
"Ya sudah mamang."
"Ya Allah Mamang lagi?"
"Uwa bagaimana?"
"Rahma benar-benar ya..." Irsyad kembali mengecup wajah Rahma.
"Okay A'a saja deh..."
"Aku bukan orang Sunda ya."
"Kyaaaaaaa mas geli...hahaha."
"Tidak peduli mas mau habisin Rahma, salah siapa mancing-mancing." Mereka pun tertawa di dalam kamar itu, dengan irsyad yang lantas beranjak guna menutup pintu kamar dan menguncinya lalu mematikan lampu kamar mereka.
Ia pun kembali mendekati Rahma dan melakukan hubungan suami istri mereka. Dengan sentuhan kasih sayang Irsyad yang tercurahkan untuk Rahma.
__ADS_1