
Di sisi lain, Rahma masih terus merawat Irsyad yang tengah terbaring di atas ranjangnya. Matanya Irsyad tengah terpejam, Irsyad benar-benar terlelap dari tidurnya.
Berkali-kali Rahma membasahi handuk kecilnya itu dan kembali mengompres kepala Irsyad yang masih terasa panas itu.
Sesekali Rahma pun mengecek suhu tubuh suaminya dengan termometer.
"Demam mas Irsyad tinggi sekali, aku jadi khawatir," Rahma pun menoleh ke wajah Irsyad yang sedikit mengerutkan dahi, dengan rintihan kecil di bibirnya.
"Semua gara-gara Rahma, mas Irsyad jadi seperti ini," Rahma menunduk.
Pasti bukan hanya dirinya yang tidak makan kemarin melainkan Irsyad juga, bahkan semalaman suaminya itu tidak tidur hanya karena Rahma yang tengah mengunci diri di kamar.
Rahma meraih tangan Irsyad, "maafkan Rahma mas Irsyad, begitu sabarnya diri mu sampai-sampai kau mengorbankan kesehatan mu demi Rahma yang seperti ini." Rahma terisak. Pandangannya masih tertuju pada Irsyad yang masih sedikit merintih itu. Perlahan Rahma naik keatas ranjang mereka, ia merebahkan tubuhnya di sebelah Irsyad dan memeluknya.
"Rahma sangat menyayangi mas Irsyad," Gumamnya, ia menangis, dengan tangannya yang tangah maju mundur mengusap dada Irsyad hingga matanya pun kini terpejam dan turut tertidur.
Selang satu jam, Adzan Ashar berkumandang, Irsyad terjaga, Ia pun menoleh dan mendapati Rahma tertidur di sebelahnya sembari memeluk tubuhnya.
Bibir pucat itu tersungging. Merasa senang karena Rahma benar-benar merawatnya dengan baik. Ia pun mengusap lembut kepala Rahma. "Dek Rahma, bangun dek." ucap Irsyad, ia pun sedikit terbatuk-batuk. Lalu kembali mengeluarkan suaranya.
"Sayang ku, bangun ayo." ucap Irsyad, Rahma pun terjaga, ia mengangkat kepalanya menatap Irsyad lalu tersenyum saat melihat Irsyad tersenyum.
"Mas sudah bangun?" tanya Rahma, ia pun menyentuh kening Irsyad. "Mas kok demamnya belu hilang sih?" ucap Rahma, ia pun beranjak meraih termometernya.
"Sini Rahma cek dulu." titah Rahma,
"Iya ibu perawat," Jawab Irsyad bahkan dengan gaya Bahasa yang terdengar manja itu, sehingga sedikit membuat Rahma terkekeh, sembari meletakan termometer itu di ketiak Irsyad lalu menunggu hingga berbunyi. Setelah itu mengeceknya.
"Masih tinggi mas, kita ke dokter saja ya mas." ucap Rahma khawatir.
"Ngapain ke dokter, kan dokternya mas ada di sini." ucap Irsyad yang lantas mengecup pipi Rahma.
__ADS_1
"Mas ihhh, serius, mas itu sakit, mas butuh dokter." tuturnya, Irsyad pun menggeleng.
"Mas hanya butuh air madu hangat dan habbatussauda saja sayang, nanti juga insyaallah sembuh. Mas biasa konsumsi itu jika tengah demam." tuturnya.
"Iya kah? Ya sudah nanti Rahma buatkan." Rahma menyentuh lagi keningnya. "Tapi sepertinya Rahma harus tetap ke apotik lah beli parasetamol dan obat lainnya untuk mas." ucap Rahma, Irsyad pun mengangguk.
"Ya sudah sekarang kita solat dulu yuk."
"Kita sholat di kamar saja ya." ajak Rahma.
"Iya sayang, mas wudhu dulu ya." Ucap Irsyad yang berusaha beranjak, walau Kepalanya terasa berat."
"Rahma bantu ya mas?" ucap Rahma yang sudah memegangi tangannya. Irsyad pun mengecup kening Rahma.
"Mas bisa sendiri sayang, sudah kamu siapkan saja sajadahnya ya." Ucap Irsyad.
"Ya sudah mas, tapi kamar mandinya jangan di kunci ya," Pinta Rahma, Irsyad pun mengangguk pelan.
"Ya Allah sakit sekali rasanya." gumamnya dengan tubuh menyandar di pintu. Mata Irsyad terpejam menghalau pusing yang teramat di kepalanya.
"Ya Allah, Astaghfirullahalazim." Gumamnya lagi, ia terus memijat kepalanya yang terasa sakit itu, rasa sakit yang di rasakan Irsyad tak biasa. Ia pun menghela nafas panjang dan membuangnya berkali-kali, tangannya terus bekerja memijatnya perlahan, berharap sakit kepalanya itu segera mereda.
Di luar Rahma merasa Irsyad terlalu lama di kamar mandi itu, sehingga membuatnya sedikit khawatir, ia pun mengetuk nya.
"Mas, mas Irsyad kenapa lama sekali? Rahma bahkan tak mendengar suara air." Seru Rahma dari luar pintu kamar mandi tersebut.
"Mas, tidak apa kok dek, ini mas sedikit pusing saja. Dan sekarang, mas baru mau ambil air wudhu," jawab Irsyad dari dalam.
"ya sudah mas, Rahma tunggu ya." balas Rahma kemudian, ia pun menunggu Irsyad. Tak lama pintu itu terbuka, Irsyad terlihat sedikit sempoyongan.
"Mas, mas yakin mau sholat dengan berdiri? Jika tidak bisa sambil duduk saja mas." Ucap Rahma.
__ADS_1
"Kaki mas masih mampu berdiri dek, sekarang ade ambil air wudhunya ya mas mau sholat sunah dulu." ucap Irsyad, dengan Rahma yang langsung masuk kedalam kamar mandi untuk berwudhu.
Setelah selesai mereka pun sholat berjamaah, dan setelahnya Irsyad pun menoleh ke belakang, tubuhnya sedikit tumbang ia menyandarkan kepalanya di bahu Rahma.
"Mas, mas Irsyad?" Rahma menggoyangkan tubuh Irsyad, ia khawatir kalau Irsyad pingsan.
"Iya sayang, mas hanya lemas saja, mas tidak pingsan kok." jawabnya, Rahma pun menghela nafas.
"Ya sudah ayo bangun dulu mas, kita ke ranjang lagi ya, mas tidur lagi saja."
"Tidak baik tidur selepas Ashar dek, tidak enak di badan." ucap Irsyad.
"Kalau begitu tidak usah tidur mas, hanya tidur-tiduran saja yang pasti mas harus banyak istirahat." titah Rahma.
"Iya iya, tapi sambil di peluk dek Rahma ya, biar mas cepat sehat." Irsyad terkekeh.
"Sempat-sempatnya mas ini menggoda Rahma." jawab Rahma yang turut terkekeh sehingga membuat Irsyad semakin tertawa. Dengan di bantu Rahma, Ia pun beranjak dan kembali duduk di atas ranjangnya.
Dengan cekatan tangan Rahma melepas koko Irsyad, yang saat itu sudah memakai kaos berwarna putih di dalamnya.
"Benar-benar, beruntung sekali mas menikahi seorang perawat, ade benar-benar perawat yang handal."
"Hanya pada mas Irsyad kok Rahma seperti ini." ucap Rahma.
"Benarkah?" tanya Irsyad.
"Iya suami ku." jawab Rahma sembari memegangi wajah Irsyad.
"Duh kesayangan mas." Irsyad mengusap-usap tangan Rahma itu.
Sesaat mereka melupakan hal tentang Aida, betapa tidak? Cinta Irsyad sangatlah dalam pada Rahma, itu yang membuatnya tidak bisa jauh dari Rahma saat ini. Ia juga tidak ingin merasakan kemarahan Rahma seperti kemarin.
__ADS_1