
Masih di hari yang sama, ketika senja mulai bergulir menghiasi langit kota Jakarta, dua anak kembar itu tengah pergi menggunakan mobil milik Abi mereka.
Sementara Irsyad yang baru beranjak dari alas Sujud mereka menghampiri Rahma yang tengah kesulitan memasang sebuah regulator gas.
Irsyad berdiri di belakang sembari menyandar ke meja makan, ia melihat sang istri terlihat bersungut-sungut karena tabung yang tengah ia pasang regulatornya itu selalu mengeluarkan suara gas yang membuatnya melepaskan lagi.
"Iiissshhh, heran sekali ya? Di kasih karet gelang gasnya nggak masuk, nggak di kasih keluar terus." Masih berkutat dengan tabung gas di hadapannya.
Sementara ustadz Irsyad terkekeh tanpa suara, dan masih berdiri saja di belakang.
"Ck, mas Irsyad lama banget lagi zikirnya, tidak tau apa, jika sang istri lagi repot?"
"Tau dek, tau..." Jawab Irsyad yang lantas membuat Rahma menoleh, dan mendapati suaminya tengah tersenyum. beliau memang seperti itu, jika di depan anak-anak akan memanggil Rahma Umma, namun jika tidak ada akan memanggil dengan sebutan kesayangannya, jika tidak "dek" ya "Khumaira", atau "sayang".
Irsyad pun berjongkok, "sini biar kang mas yang pasang, ibu ratu duduk dulu sana, dari pada tambah maju itu bibirnya." Meraih tangan Rahma.
"Itu tangan Rahma mas, bukan regulator gas."
"Loh, salah ya? Enak pegang yang itu soalnya." Mengecup pipi Rahma. Sang istri pun hanya geleng-geleng kepala lalu beranjak.
"Nih, kalo berhasil mas pasang? Kira-kira kang mas ini mau di kasih apa?"
Rahma terkekeh, merasa lucu aja jika Irsyad mengucapkan kata kang mas. "Kasih kopi seperti biasa lah, memang maunya apa lagi?" Duduk di kursi meja makan sembari bertopang dagu.
"Itu sudah biasa dek, yang lain dong." Menurunkan kenopnya dan regulator pun terpasang sempurna. Beliau mengendus sejenak, lalu mendekatkan telinganya. "Alhamdulillah." Gumamnya seraya memasukkan tabung itu ke lemari bawah kompor, lalu beranjak dan mencuci tangannya.
"Kok diam saja dek? Cepat jawab kasih apa?" Berjalan mendekati sang istri, dan duduk di kursi sebelah Rahma.
Rahma tersenyum, ia menyentuh wajah suaminya dengan lembut. "Jangan melihat Rahma seperti itu mas. Malu."
"Halah sok malu segala sih?" Mencolek pinggang istrinya.
"Hei, jangan main kaya gitu mas. Inget umur."
"Umur boleh tua, tapi kalo soal cinta dengan kekasih ku ini, jiwa ku akan selalu muda." Meraih dagu Rahma.
"Apa sih mas," terkekeh. Irsyad pun meluncurkan kecupan di sana.
"Duh Gusti, bidadari ku Benar-benar cantik ya Allah." Irsyad menarik kursi Rahma.
"Astagfirullah al'azim, mas!" Terperanjat kaget. "Kalo Rahma jatuh bagaimana?"
"Kan langsung mas tangkap," memeluk tubuh sang istri. "Mumpung tidak ada anak-anak. Pengen mesra-mesraan," bernada manja.
Rahma tergelak. "Ya Allah, ingat umur mas. Ya ampun."
"Apa sih, umur terus yang di sebut." Mengecup-kecup wajah sang istri sementara Rahma hanya terkekeh.
Sudah cukup puas bermesraan di dapur, Irsyad pun mengajak sang istri untuk pergi ke luar, menggunakan sepeda motor yang biasa di pakai Rahma.
Tangan Rahma yang melingkari pinggang Irsyad dengan tangan sang suami yang sesekali mengusap-usap tangan Rahma, belum lagi senandung lagu cinta dari bibir Irsyad membuat Rahma merasa hanyut dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Sementara motor terus melaju, menyusuri kompleks perumahan mereka yang semakin padat, hingga keluar kompleks tersebut.
"Dek, makan di luar yuk," ajak Irsyad.
__ADS_1
"Loh, nanti anak-anak bagaimana?"
"Nanti mas kirim pesan ke mereka, biar makan di luar sekalian."
"Ya sudah deh, tapi mau makan di mana kita mas?"
"Emmmm, mas pengen makan nasi kebuli sayang."
"Wah lama juga tidak makan itu, Rahma mau deh."
"Asiikkk, nanti mas di suapi ya."
"Hahaha, mas ini ya."
"Kenapa? Kan enak makan dari tangan mu zaujatii."
Rahma tersenyum "Iya deh Zauji."
"Alhamdulillah." Tersenyum senang saat Rahma menyebutnya Zauji.
Motor pun terus melaju, menyusuri jalan ibu kota, berhenti sejenak di perempatan lampu merah.
Dan kembali berjalan setelah lampu berubah hijau.
Hingga sampailah mereka di sana, dengan tangan Abi Irsyad yang langsung menggandeng tangan Umma Rahma masuk ke dalam restoran bergaya Arab.
Setelah memilih meja, mereka pun duduk di are privasi, dimana meja itu seperti bilik-bilik yang dengan dinding tak terlalu tinggi mengelilingi bilik tersembut.
Ya semenjak Rahma bercadar, mereka sangat jarang makan di luar. Sekalipun keluar maka Irsyad akan memilih tempat yang memiliki meja privasi, seperti restoran ini.
"Ayo buka mulutnya sayang," titah Irsyad. Rahma pun membuka mulutnya. "Jangan gigit tangan mas loh ya," ledek Irsyad, sementara Rahma hanya mendelik.
Setelah itu gantian pula Rahma yang meraih sesuap nasi itu dan memasukkannya ke dalam mulut sang suami.
Sungguh ya? Dua orang itu memang selalu seperti itu, bahkan hingga di usia yang sudah tak muda lagi.
"Enak mas?" Tanya Rahma.
"Enak dek, apa lagi di suapi begini." Terkekeh.
"Tapi Rahma malu kalo makan begini mas, ini kan tempat umum."
"Kan tertutup sayang."
"Walaupun demikian tapi tetap merasa malu dengan diri sendiri juga?"
"Kok malu dengan diri sendiri sih?"
"Ya? Maksudnya tuh kita kan sudah tua mas, kaya merasa tidak pantas saja."
"Dek, menjaga keromantisan itu wajib loh, Baginda Nabi Muhammad Saw, juga selalu Romantis kok, bahkan hingga lanjut usia."
"Iya sih, tapi?"
"Memang Rahma mulai bosan ya, karena di perlakukan seperti ini?" Tanya Irsyad.
__ADS_1
"Tidak kok mas, sungguh Rahma suka."
"Makanya, di luar sana orang ingin loh mendapatkan perlakuan seperti ini sayang. Jadi Rahma harus bersyukur."
"Iya mas. Maaf."
"Jangan minta maaf, dek Rahma tidak salah kok, ayo Aaa—" titah Irsyad. Rahma pun membuka mulutnya.
Mereka pun melanjutkan makan mereka hingga selesai, hingga dua porsi nasi kebuli itu habis di lahap keduanya.
Setelah puas menikmati makan sore mereka memutuskan untuk ke masjid terdekat sebelum pulang ke rumah, karena waktu magrib akan tiba sekitar sepuluh menit lagi.
Rampung dengan ibadah mereka, ustadz dan sang istri kembali pulang ke rumah. Di sela-sela langkah kaki mereka menuju parkiran, keduanya pun menghentikan langkah mereka saat seorang wanita bercadar lain dan seorang anak laki-laki berpapasan dengan mereka.
"Ustadz." Panggil wanita itu, yang lantas menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Ya Allah, Isti bukan ya?" Tanya Irsyad, Rahma pun menoleh.
'Isti? Seperti tidak asing.'
"Iya benar Ustadz." Jawab wanita di hadapannya, tubuhnya yang masih langsing dengan sorot mata sendu, membuat Rahma merasa minder sendiri. "Ibu." Sapa wanita itu juga mengulurkan tangannya pada Rahma yang lantas menjabat tangan putih bersih di hadapannya.
"Dari mana Isti? Ini Bilal ya?"
"Iya pak Ustadz." Pria itu menjabat tangan Irsyad dan mengecup punggung tangannya.
"MashaAllah, sudah dewasa, masih kuliah atau sudah lulus?"
"Alhamdulillah sudah lulus kuliah pak..."
"Owh, sudah kerja?"
"belum, sih. Tapi sudah mencoba meletakkan surat lamaran disalah satu perusahaan motor dari Jepang."
"MashaAllah, hebatnya. semoga di terima, ya?
"Aamiin..."
Rahma masih mengamati wanita di hadapannya, karena terlihat jelas sorot matanya masih tertuju pada sang suami, walaupun Irsyad lebih fokus mengarah kepada si Bilal itu sendiri.
"Maaf Ustadz, kami mau ke masjid dulu, belum sholat soalnya." Ucap Isti.
"Oh, iya silahkan." Irsyad memberi jalan, dengan tangan yang langsung melingkar di bahu Rahma.
"Siapa sih dia mas?" Tanya Rahma.
"Isti, si pemilik tasbih." Hanya sebatas itu Rahma pun mengingatnya.
"Owh, mantan ya?"
"Astagfirullah, kok mantan sih?"
"Mantan cinta pertama mu." Melepaskan tangan Irsyad lalu berjalan lebih dulu.
"Haduh... Emak-emak," geleng-geleng kepala lalu berjalan menyusul sang istri, yang terlihat kesal padanya, walaupun Irsyad tidak ngapa-ngapain ya.
__ADS_1