
Beberapa hari belakangan ini Aida merasakan keanehan di tubuhnya, ia bahkan tidak nafsu makan seperti biasanya semua di karenakan rasa mual dan pening selama berhari-hari. Hal itulah yang membuat Ulum merasa bingung dan cemas, melihat kondisi Aida yang terlihat tidak sehat.
Di atas ranjang itu Ulum duduk di sebelah Aida yang tengah merebahkan tubuhnya. Ia mengusap kening Aida dengan penuh kasih sayang.
"Aida, sepertinya kau masih sakit, apa kita ke klinik saja?" tanya Ulum.
"Tidak usah mas, Aida cuman punya firasat baik, kalau mas berkenan, Aida ingin mas membelikan alat tes kehamilan." ucap Aida. Ulum pun tersenyum.
"Apa, alat tes kehamilan?"
"Iya, Aida tidak yakin cuman?"
"Mas akan beli sekarang, sebentar ya sayang." potong Ulum bersemangat, ia mengecup kening Aida dan pergi mengunjungi apotek terdekat.
Di sebuah Apotek, seorang apoteker melayaninya.
"Permisi mbak, saya ingin beli alat tes kehamilan yang akurat ya." ucap Ulum. Apoteker itu mengangguk lalu menyerahkan beberapa alat tes kehamilan, dan ia juga memberitahukan setiap harganya.
"Yang paling akurat yang mana mbak?" tanya Ulum.
"Hampir semuanya 99% akurat mas." ucap Apoteker tersebut.
Ulum tersenyum "kalau begitu yang ini saja." ucap Ulum memilih salah satunya.
"Baik mas, ada yang lain lagi?"
"Mungkin itu saja mbak."
"Baiklah, totalnya sekian ya mas." ucap Apoteker tersebut, Ulum mengeluarkan uang lembaran lima puluh ribu rupiah. Setelah mendapatkan kembalian dan barang yang ia beli Ulum langsung pulang kerumahnya.
Di rumah, Aida sudah menunggu suaminya itu kembali.
"Assalamu'alaikum," sapa Ulum menghampiri Aida yang sudah berada di depan pintu.
"Walaikumsalam mas." jawab Aida.
"Yang ini kan sayang?" tanya Ulum. Aida mengangguk.
"Ya sudah, ayo coba kita cek sayang." titah Ulum.
"Sebentar mas. Sebelum itu, Aida ingin bertanya sama mas Ulum."
__ADS_1
"Bertanya apa?" tanyanya.
"Kalau Aida hamil, apa mas akan bahagia? Dan siap?"
"Ya jelas bahagia sayang, saat mas menikahi mu? Mas juga sudah siap jika harus di kasih momongan cepat ataupun lambat." ucap Ulum sembari mengecup kening Aida.
"Tapi Aida khawatir, akan menambah beban mas Ulum."
"Beban apa sih sayang? Setiap anak membawa rezekinya masing-masing, jadi mas akan tetap merawatnya." tutur Ulum.
"Jadi sekarang kita cek ya sayang." Pinta Ulum, Aida tersenyum lalu mengangguk.
Ulum pun mendorong kursi roda Aida menuju kamar mandi.
"Mas di luar saja ya biar Aida cek sendiri." ucap Aida.
"Kamu yakin, kamu bisa sendiri Aida?"
"Sudah beberapa bulan ini Aida menjalani terapi, Aida sudah mulai bisa berdiri walau belum lama mas, jadi mas tidak perlu khawatir ya." Ucap Aida.
Ulum tersenyum dan mengusap kepala Aida. "Iya sayang pelan-pelan ya." ucap Ulum.
"Iya mas." Aida pun masuk ke dalam kamar mandi.
"Bagaimana?" tanya Ulum penuh semangat.
Aida tersenyum. "Positif mas." ucap Aida dengan sudut mata yang basah.
"Positif?" tanya Ulum tidak percaya.
"Iya." Air mata haru yang sedari tadi tertampung di sudut mata Aida terjatuh.
"Ya Allah, Alhamdulillah." Ulum mengecup kening Aida, lalu mengangkat tubuhnya.
"Mas bahagia sekali Aida, terimakasih sayang."
"Iya mas, Aida juga." tangis haru ke duanya pecah.
Bagi Ulum, rasanya semua itu sangat lengkap, tidak ada kebahagiaan lain saat ini selain di berikan nya sebuah nikmat rezeki dari sang kholik, yaitu adanya momongan.
Ulum bahkan semakin bersemangat mencari nafkah, dan menabung demi bisa mencukupi kebutuhan Aida selama hamil hingga bersalin nanti.
__ADS_1
Selama itu pula Ulum benar-benar memperhatikan istrinya, dari pola makan dan kerutinannya mengantar Aida periksa kandungan ke salah satu bidan terdekat.
"Kandungannya normal ini, InsyaAllah sehat terus ya, tidak ada kelurahan lain kan bu?" tanya Bidan itu.
"Tidak ada bu bidan, selain mual muntah yang masih di rasakan." ucap Aida
"Tidak apa-apa, itu hal normal kok karena kandungan ibu Aida masih berada dalam fase trimester pertama, nanti jika sudah jalan tiga atau empat bulan sudah mulai enak." ucap bu bidan. Ia pun memberikan beberapa obat kepada Ulum.
"Bapak, karena ibunya tidak ada keluhan, saya hanya memberikan asam folat, penambah darah, dan pereda mual muntahnya ya. Obat penambah darah ini mungkin memang sedikit amis, jadi tidak di konsumsi rutin juga tidak apa. Dan pola makan juga harus di perhatikan, kalau bisa bu Aida harus lebih sering mengkonsumsi, lauk berupa Ikan, terlur, dan hati ayam ya. supaya ibunya tidak lemas, dan selingi juga dengan buah-buahan yang mengandung banyak asam folat seperti pisang atau alpukat, karena Asam folat itu penting untuk perkembangan otak pada janin." tutur bidan itu memberi wejangan.
"Iya bu bidan akan saya usahakan untuk mengikutinya, terimakasih banyak ya bu, kami permisi dulu," jawab Ulum.
Keduanya pun kembali ke rumah mereka dengan perasaan senang dan lega.
***
Di rumah...
Ulum merebahkan tubuh Aida ke atas ranjangnya.
"Aida, kamu istirahat ya sayang. Dan maaf, habis magrib ini mas harus ngojek lagi, mungkin bisa sampai malam." ucap Ulum.
Saat itu juga Aida memegangi lengan Ulum dengan sangat erat. "Mas, Aida ingin mas libur dulu hari ini. Masa Aida di tinggal terus sih mas?" rengek Aida manja.
Ulum tersenyum. "Ya sudah nanti mas peluk dulu sampai Aida tidur ya."
"Tidak mau, Aida tetap akan terjaga apalagi mas sering pulang sampai jam satu bahkan jam dua dini hari. Aida takut ada apa-apa sama mas Ulum." Aida masih kencang memegangi lengan Ulum.
Ulum garuk-garuk kepala. 'Haduh bagaimana ini, semenjak hamil Aida semakin sulit di tinggal bekerja.' Ulum melamun.
"Mas?" Panggil Aida, Ulum menoleh kebawah.
"Iya sayang?"
"Di rumah saja ya." pinta Aida.
"Ya sudah malam ini mas tidak mencari orderan, tapi mau nemenin Aida saja..." Jawab Ulum, Aida pun tersenyum girang.
"Duh manjanya, sini mas peluk." ucap Ulum yang langsung memeluk tubuh Aida yang tengah terkekeh itu.
Benar bukan? yang di inginkan seorang wanita hamil adalah suaminya yang harus bersedia untuk terus berada di sisinya setiap saat.
__ADS_1
Bahkan tidak ada aroma terenak selain aroma tubuh suami, yang percaya tidak percaya mampu meredam rasa mual yang di rasakan wanita hamil yang tengah berada pada fase ngidam mereka.
Terlebih suami yang senantiasa bersedia memanjakan istrinya setiap saat, sungguh nikmat dunia yang tidak ada bandingannya.