
Ketika tangis Qori sudah mulai mereda Nuha pun meraih segelas es teh yang tadi di buatkan oleh Umma Rahma, lalu mengulurkannya kepada Qori.
"Terimakasih Nuha." Ucapnya meraih gelas itu lalu meminumnya, Nuha pun tersenyum.
"Qori... Aku paham sekali, Walaupun apa yang kau rasakan itu jauh lebih pedih dari apa yang ku bayangkan? Tapi percayalah. Jika kita bukan tergolong sebagai manusia yang munafik karena tidak bisa bersabar atas ujian yang kita terima. dan apa yang kau alami itu adalah ujian mu Qori, percayalah ada Allah yang akan selalu ada bersama mu.
Coba belajar lah di setiap tangis kita untuk merasakan adanya dekapan Allah untuk menenangkan qolbu mu. La Tahzani yaa sahabat ku Qori, La Tahzan." Mengusap air mata Qori.
"Kau ingat kisah Maryam Radhiallahu Anha? Beliau memiliki anak tanpa suami, padahal Beliau adalah salah satu wanita paling Soleha, sangat suci. Bahkan ada riwayat yang mempercayai jika Maryam adalah Nabi namun dari golongan wanita, walaupun belum di pastikan kebenarannya. Intinya jangankan dia berselingkuh, jangankan dia berzinah, bertatap muka dengan lawan jenis pun tidak ada. Saking sucinya bahkan tidak ada satu pria pun yang pantas menjadi jodohnya. Kalaupun bisa mungkin hanya satu pria di bumi ini yaitu Nabi Muhammad Saw. Namun kan mereka beda generasi jauh sekali." Mengusap lagi air mata Qori yang kembali lagi menetes.
"Hingga saat malaikat Jibril datang, dengan tampangnya yang sangat tampan, bahkan jika di gabungkan orang-orang tampan di dunia ini tidak ada yang lebih tampan selain beliau. Apa yang Maryam katakan? Dia hanya mengucapkan innalilah, dan A'udzubillah. Demi melindungi Pandangannya, itu bukti betapa solehanya Siti Maryam. Dan malaikat Jibril pun meniupkan sesuatu ke Perut Maryam, hingga tumbuhlah janin dalam kandungannya."
"Kau tahu apa yang di alami Maryam? Dia benar-benar di buli habis-habisan oleh kaum Bani Israil. Dengan segala asumsi mereka, dengan segala pikiran buruk mereka tanpa mau tahu apa kebenarannya. mereka terus menebar fitnah bahwa Maryam adalah penzinah, Maryam tengah di bukakan kebusukannya, hingga dia hamil tanpa suami. Bulian dulu MashaAllah, lebih kejam Qori. Bahkan Maryam pun sempat mengeluh, saking semua orang seantero negeri mungkin ya dalam perumpamaannya. Menghujat beliau. Sampai-sampai beliau bilang apa? 'andai saja aku mati sebelum adanya musibah ini, mungkin itu lebih baik, dari pada aku harus merasakan kepahitan akibat menanggung malu karena hamil tanpa suami?' begitulah dalam doanya. Sampai Allah berfirman, seperti yang ku katakan tadi. La Tahzani yaaa Maryam sesungguhnya apa yang kau alami itu hanya jalan menuju hal baik yang akan kau dapatkan setelahnya, maka bersabarlah atas segala musibah dan ujian yang selalu menimpa mu, maka kau akan mendapatkan kemuliaan dan ke bahagian setelah itu, dan janganlah kau mengeluh atas apa yang tengah kau alami, agar tak menjadikan sia-sia di semua kesusahan yang sudah kau jalani ini."
Qori semakin terisak, lalu di genggam lah tangan itu oleh Nuha.
"Qori, kau tahu? Orang yang paling banyak ujian dalam hidupnya? Bisa jadi Allah itu sangat lah sayang terhadap orang itu, dia mau kita di bersihkan dosanya sampai benar-benar habis di dunia. Yaitu dari ujian itu sendiri. Jadi percayalah, dan tetap terus bertawakal ya."
"Tapi Nuha? Kadang hati ini sudah tidak sanggup lagi. Andai bunuh diri tidak lah berdosa maka aku pasti sudah melakukan itu."
"Astagfirullah al'azim, Qori jangan katakan itu, beristighfar Qori. Ayo."
__ADS_1
"Astagfirullah al'azim." Gumamnya seraya menangis.
"Tidak kuatnya manusia menjalani hidup di dunia, itu karena beberapa hal..? Satu, dia tidak percaya akan adanya Allah SWT yang maha menolong, ke dua dia adalah orang yang Munafik? Mengaku beriman namun sebenarnya tidak. Semua manusia, selagi ruh masih berada dalam badan? Maka masalah akan terus datang sampai tiba ajal itu maka terputuslah semua urusan di dunia termasuk ujian itu sendiri. Jika kau tidak mampu lagi membendung rasa sedih di hati mu, maka menangis di alas Sujud mu, dan bayangkan jika Allah ada di sekitar kita, menghibur kita. Bahkan maaf mungkin kita bisa membayangkan selayaknya orang tua yang tengah mengusap kepala anaknya saat tengah menangis tersedu-sedu di pangkuannya. Itulah Allah yang sebenarnya sangat menyayangi kita Qori. Makanya janganlah berputus asa, jika kau berputus asa maka kau bukan termasuk golongan orang yang beriman. Nauzubillah Qori."
Qori mendesah, ia pun mengusap air matanya sendiri.
"Sabar ya Qori, ini hanya perkara waktu. Dimana Allah sudah menyiapkan hal indah untuk mu, jikalau tidak di dunia pun Allah pasti kasih kebaikan di akhirat. Percaya lah dengan itu ya sahabat ku?"
Qori tersenyum. "Terimakasih Nuha, aku merasa lebih lega sekarang, walaupun aku tetap takut setelah pulang nanti."
"Qori, percayalah, bagaimana pun juga. Bapak mu itu adalah orang tua kandung mu. Beliau pasti masih punya setitik hati. Dan untuk masalah cibiran orang-orang? Biarkan saja. Orang seperti itu sudah jelas manusia keturunan Bani Israil, yang suka menghujat dan menyebarkan gosip semau mereka, tanpa mau mencari bukti kebenarannya. Jadi biarkan saja, nanti juga lelah sendiri."
Qori terkekeh. Melihat gadis itu tertawa lagi Nuha pun merasa senang. Dan di peluklah lagi sahabatnya itu.
"Emmm, bagaimana ya? Tapi sebentar saja ya Nuha."
"Iya. Yuk kita ke resto siap saji." Ajak Nuha, Qori pun mengangguk.
Setelah berpamitan pada Abi dan Umma, keduanya pun pergi menggunakan sepeda motor Nuha.
Di salah satu mall. Entah karena kebetulan atau memang dunia sangatlah sempit, Nuha pun mendengus sebal saat melihat seorang pria dari kejauhan. Ia pun menundukkan pandangannya sembari menutupi wajahnya menggunakan selebaran yang di kasih oleh mbak-mbak SPG.
__ADS_1
Namun mau seperti apapun dia menutupi wajahnya, pria yang tak lain adalah Faqih itu hapal sekali dengan Nuha.
Ia pun berhenti sejenak tepat saat Nuha sudah semakin dekat. "Kutu, kalau mau nutupi wajah mu pakai saja kostum badut Mampang."
"Apa?" Nuha pun berhenti. Ia menoleh kebelakang. Pria itu masih membelakangi Nuha.
"Tidak sopan sekali ya bertemu senior tidak mengucap salam?"
"Assalamualaikum!!"
"Walaikumsalam. Nah itu baru ukhti beretika." Plaaaakk memukul pangkal kepala Nuha dengan buku yang ia pegang. Lalu melanjutkan langkahnya.
Nuha pun mengepalkan tangannya. "Huuuuhh ku sumpahin jodoh mu itu Kutu!!! Dasar pria menyebalkan." Umpatnya kesal, setelah itu dia pun mengelus dada lalu beristighfar berkali-kali.
Qori pun terkekeh. "Siapa dia Nuha?" Tanyanya.
"Hanya senior super super menyebalkan."
"MashaAllah tapi tampan."
"Hei, jangan nge-fans sama dia. Pria itu killer, kalo jadi jodoh dia? Haduhhh kayanya bisa mati berdiri."
__ADS_1
"Astagfirullah al'azim, hahaha, ada-ada saja."
"Sudah yuk ah jangan hiraukan mahluk tak kasat mata seperti dia." Ajak Nuha, entah mengapa saat ada Faqih bawaannya ingin mengumpat walaupun dia langsung beristighfar setelahnya. Hehehe.