
Pagi itu di hari minggu. Tugas Irsyad adalah bebersih kebun, seperti memotong tanaman, mencabuti rumput, dan membersihkan selokan air.
Seperti yang di bilang Rahma, kalau Irsyad itu sangat rajin.
Beliau tidak akan pernah mau berleha-leha di rumah tanpa melakukan apapun, bahkan Rahma saja terkadang bingung sendiri ingin melakukan apa, akibat semua pekerjaan sudah beres di kerjakan oleh Irsyad. Kecuali seperti mencuci pakaian, menjemur, dan menyetrika, itu semua selalu Rahma yang mengerjakannya.
Di dapur itu Rahma menghela nafas. Ia benar-benar ingin mencobanya lagi masak sendirian tanpa bantuan Irsyad.
Sebelum itu Rahma berindik, ia melihat Irsyad masih sibuk di kebun mencabuti rumput liar.
"Sepertinya mas akan lama selesainya." Bibirnya tersungging. Rahma pun berjalan kembali ke dapurnya.
"Hari ini Aku akan membuat sup ayam," gumam Rahma sembari mencari vidio tutorial, ia pun menepuk tangannya satu kali. "okay Rahma ayo tunjukan pada kepala Chef killer di rumah ini kalau kau juga bisa masak." Rahma pun mulai menghaluskan bumbunya, sembari menonton tutorial resep masakan di Loetube.
Dari luar Irsyad mencium aroma masakan. Hidungnya mengendus. Dari situ ia pun menyadari bahwa istrinya tengah memasak tanpa menunggunya.
"Haduh dek Rahma," Irsyad segera beranjak, ia mencuci tangannya sampai bersih. Dan berjalan masuk kedalam rumahnya.
Di dekat dapur itu Irsyad menghentikan langkahnya, ia melihat Rahma sangat serius memasaknya, dan terlihat dari caranya mengolah semua bahan di hadapannya membuat Irsyad tersenyum.
'Istri ku benar-benar tengah berusaha keras.' batin Irsyad, ia terus mengamati dari pintu dapur itu.
Saking fokusnya Rahma memasak ia bahkan tidak sadar kalau suaminya sedang mengamatinya memasak.
"Kalau di lihat dari wujudnya sudah tidak ada yang salah, saatnya mencicipi." gumam Rahma. Ia pun meraih sendok di tempatnya. Lalu meraih sedikit kuahnya.
"Bismillah Ya Allah, semoga berhasil." tutur Rahma sembari meniup sedikit dan mencicipi nya. Mulutnya mengecap sejenak.
"Ya Allah, aku berhasil. Hampir seperti masakan ibu." Rahma berbinar. "alhamdulillah sudah tidak seperti air laut lagi... Aku tidak akan di ejek mas Irsyad lagi." Rahma sedikit melompat-lompat, sedangkan Irsyad yang masih mengamatinya hanya bisa geleng-geleng sembari tersenyum. Ia pun membuka suaranya.
"Hmmmm lezat sekali aroma ini, mas jadi lapar." ucap Irsyad yang saat itu membuat Rahma terkesiap.
"Loh, mas di sini?"
"Iya dek, coba mas lihat kamu masak apa?" Irsyad mendekati Rahma dan menengok ke arah panci yang berisi sup itu. "Wah, mas mau coba dong." Irsyad meraih sendok di tangan Rahma dan mengambil sedikit kuahnya lalu mencicipi.
"Bagaimana mas?" tanya Rahma.
"Ada yang kurang kayanya." ucap Irsyad.
"Apa yang kurang?" tanya Rahma, sedikit kecewakan.
__ADS_1
"Kurang nasi dek," jawab Irsyad sembari mengusap kepala Rahma. Rahma menghela nafas.
"Berarti Rahma berhasil?"
"Iya, khumairah. Hebat lah Istri mas ini." Irsyad mengecup kening istrinya.
"Alhamdulillah," Rahma senang.
"Ya sudah mana nasinya, mas mau makan sekarang saja lah kalau begini." ucap Irsyad sembari melangkah menuju kursi meja makan, dengan cepat Rahma pun menyiapkan makanannya.
Melihat Rahma terlihat sangat bersemangat Irsyad pun tersenyum bahagia.
Di meja makan itu Irsyad memakannya dengan lahap.
"Padahal tadi Rahma ingin membuat sambal dulu mas."
"Ini juga cukup kok dek, enak sekali ini rasanya, sungguh." puji Irsyad.
"Jadi sudah tidak ada drama menantu dan mertua lagi di dapur ini ya mas, pokoknya mas sudah tidak boleh bawel lagi kalo Rahma tengah masak."
"Hehehe iya, iya kesayangan." Irsyad mengusap kepala Rahma. "Eh, dek Rahma nanti kita jalan-jalan yuk." ajak Irsyad.
"Kemana mas?"
"Wahh, mau Rahma mas."
"Kita ajak Aida juga ya." ucap Irsyad.
Rahma pun sedikit menarik senyumnya. "Mengajaknya juga ya?" gumamnya lirih.
"Kenapa sayang? Masih cemburu sama Aida?"
"Jujur saja sedikit, tapi ya sudah mas tidak apa-apa kok." Rahma beranjak, Irsyad menahan Rahma dengan menarik tangannya hingga saat itu juga membuat Rahma terjatuh ke pangkuan Irsyad, dengan cepat Irsyad melingkari pinggang Rahma dengan kedua tangannya.
"Mas senang kalo ade selalu cemburu begini, jadi seperti Aisyah Ra. yang sering cemburuan sama Rosulullah Saw. mas Irsyad jadi gemas tau." ucap Irsyad.
"Mas enak di cemburuin, Rahma kan lelah cemburu terus mas."
"Ya jangan terlalu makanya, kan mas bilang mas tidak akan mencintai wanita lain lagi, InsyaAllah dek."
"Habis mas terlalu baik sama semua orang termaksud wanita, mas tahu sikap wanita mudah bawa perasaan kan?"
__ADS_1
Irsyad tersenyum ia pun mengecup bahu Rahma. "Mas dari dulu memang seperti ini dek, kepada siapapun, entah pria ataupun wanita, kalau sama wanita yang lebih muda mas itu menganggap mereka seperti adik, kan menyayangi sesama itu wajib. Mas sayang tuh sama Aida." ucap Irsyad.
"A... Apa?" Rahma melepaskan pelukan Irsyad cepat, namun tangan Irsyad semakin erat memeluk Rahma.
"Jangan salah paham dong Rahma, mas sayang kepada Aida itu lain dengan sayangnya mas kepada Rahma. Kalo Aida hanya sebatas sayang selayaknya adik saja beda dengan Rahma. Kalau Rahma itu kedudukannya paling tinggi setelah ibu mas Irsyad." ucap Irsyad.
Rahma tersenyum.
Masih dalam posisi memeluk Rahma, Irsyad pun mulai bercerita sedikit.
"Adek tahu tidak, saking cemburuan nya Aisyah Ra, pernah suatu ketika Rosulullah menginap di rumah Aisyah, karena malam itu, malam di mana giliran Aisyah tidur bersama Rosulullah Saw dan saat tengah malam Aisyah terjaga, ia mencari Rosulullah Saw sudah tidak ada di sebelahnya, ia pun kesal dan menganggap Rosulullah Saw pulang ke rumah istrinya yang lain, nah malam itu juga beliau mencari Rosulullah Saw, sampai-sampai mendatangi satu persatu rumah istrinya lho."
"Lalu, ketemu tidak?" tanya Rahma yang tertarik dengan cerita Irsyad.
"Tidak dong, ketemu-ketemu itu Rosulullah Saw tengah berada di masjid, beliau bersabda seperti ini. ("Kau cemburu lagi Aisyah? Kau lupa ini malam Nifsu Sya'ban?"), di situ Aisyah sedikit malu karena sudah cemburu pada Rosulullah Saw dan berfikir buruk tentangnya."
Rahma tertawa. "Tapi Rahma tidak mau jadi Aisyah yang di madu mas." ucap Rahma.
Irsyad kembali mengecup bahu Rahma. "Mas kan bukan Rosulullah Saw sayang, mas tidak akan sanggup seperti beliau. Paling hanya berusaha sedikit agar bisa seperti beliau. Seperti dalam hal memanjakan Rahma." tutur Irsyad. Rahma tersenyum.
"Tapi ingat janji mas ya, anggap Aida cukup sebagai adik mas Irsyad saja." pinta Rahma.
"InsyaAllah dek. Ya sudah siap-siap sana, mas mau mandi lagi ini, kamu juga mandi lagi saja ya bau asap soalnya." tutur Irsyad.
"Ya sudah mas mandi duluan saja."
"Mas suruh Rahma mandi itu, supaya mas bisa mandi sama Rahma." tutur Irsyad dengan nada manjanya.
"Ih mas ini, kan ini bukan mandi junub mas, jadi mas mandi sendiri saja."
"Rosulullah saw itu sering mandi bersama istrinya loh sayang. Lagi pula mas kan juga senang mandi bareng istri mas ini."
"Manja."Kekeh Rahma.
"Nggak papa kan sama istri sendiri. Yuk naik. Kita mandi abis itu siap-siap." titah Irsyad, Rahma pun beranjak, begitupun Irsyad yang langsung menggandeng tangan Rahma.
"Di gandeng juga?" Rahma terkekeh.
"Loh memang kenapa? Oh mas tahu, Rahma maunya di gendong pasti nih."
"Kyaaaa tidak mas," Rahma pun berlari lebih dulu sembari tertawa menghindari Irsyad yang akan menggendongnya.
__ADS_1
"Hey dek, kok lari sih?" Seru Irsyad yang juga tertawa, ia pun melanjutkan langkahnya mengejar Rahma.