Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
lanjutan kilas balik.


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, bayangan Irsyad kembali pada hari di mana ia menyaksikan pernikahan Isti dan mendiang suaminya dulu.


(Flashback is on)


Entah bagaimana ia bisa diundang oleh Isti, terlebih di minta untuk mengisi ceramah singkat tentang bab pernikahan di hari pernikahan Anissa dan Habib Ustman.


Sekilas Irsyad tersenyum saat melihat kebahagiaan Isti dengan suaminya di atas bangku pelaminan. Gadis itu kini bercadar, terlihat tengah sesekali berbisik antar satu sama lain lalu terkekeh.


'Bahagianya. Semoga aku bisa menyusul mu Isti. Menikahi seorang gadis yang akan membuat ku bahagia. Dan mampu melupakan mu.' batin Irsyad sembari memandangi kedua sejoli di hadapannya.


Satu minggu berselang, pak Huda mengamati Ustadz Irsyad seperti tengah murung. Ia pun mendekati Irsyad.


"Ustadz Irsyad ini kenapa sepertinya jadi sering murung seperti ini?" tanya pak Huda.


"Tidak apa-apa pak."


"Pasti hatinya jadi kosong ya setelah Anisa menikah?" Ledek pak Huda.


"Pak Huda ini ada-ada saja."


"Ustadz. Sebaiknya antum itu menikah saja. Cari jodoh lah ustadz biar tidak merana."


Irsyad tersenyum. "Niatnya begitu. Besok saya libur, niat hati saya ingin menemui salah satu panutan saya untuk di carikan jodoh."


"Waaahhh semoga berhasil ya ustadz. Saya bantu pakai doa. InsyaAllah pulang dari sana langsung nikah." ledeknya.


Irsyad pun terkekeh. "Yang ada-ada saja pak Huda ini. Hahaha."


"Aminin saja lah, siapa tahu ada wanita yang harus secepatnya di nikahi." tutur pak Huda.


"Iya deh iya. Amin." Keduanya terkekeh bersama.


Dan di keesokan harinya, Irsyad benar-benar menemui kyai khalil lalu menceritakan maksud tujuannya datang ke sana.


bahwa dirinya ingin di carikan jodoh. Dari sana pula ia mendengar kisah seorang gadis yang batal nikah akibat calon suaminya yang harus meninggal dunia karena kecelakaan.

__ADS_1


Kala itu yang ada di pikiran Irsyad hanyalah rasa iba dan kasihan, belum ada rasa untuk benar-benar menikahinya, namun entah mengapa beliau bisa langsung menyanggupi untuk menikah dengan wanita itu, bahkan dalam jarak waktu tiga hari.


Siang itu juga Irsyad membeli parsel buah di salah satu toko buah yang tidak jauh dari tempat tinggal kyai Khalil, sebagai buah tangan kala bersilaturahmi nanti.


Di sana ia sempat melamun, tentang keraguan dihatinya bahkan ada niatan untuk membatalkan niatnya meng khitbah gadis yang belum pernah ia lihat itu.


Sepanjang lamunannya ia terus berfikir, bagaimana jika lamarannya di tolak sang gadis? Atau mungkin wanita itu tabiatnya buruk. Dan pernah berzinah juga dengan pasangan sebelumnya.


Terlebih sedikit info yang ia tahu. Hubungan gadis itu dengan calon suaminya sudah ada empat tahun terjalin belum lagi ia ngekos di kota yang sama, sendiri tanpa pengawasan orang tua.


Bagaimana kalau ternyata gadis itu sudah tidak suci lagi? Pikirannya terus melayang-layang. Irsyad segera menepis pikiran buruk itu.


'Sudah lah, bismillah. Aku percaya pada calon ku ini. Dia gadis baik-baik, dan harta berharganya itu hanya akan suaminya yang merasakannya.' batin Irsyad.


Ia pun meraih buah yang sudah terkemas rapih. Setelahnya kembali ke rumah Kyai khalil untuk beristirahat sejenak menunggu malam tiba.


Langit yang cerah dimalam hari seolah turut menyukseskan niat baik Irsyad untuk menghampiri jodohnya.


Dengan perasaan gugup ia menginjakkan kakinya untuk yang pertama kali di rumah pak Akmal. Sambutan yang diluar dugaan. Pria paruh baya itu sangat ramah. Dan yang paling ia syukuri keluarga itu menerima lamarannys. Terutama Rahma Qurrata Aini, calon istrinya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Namun Irsyad memutuskan untuk tidak melihat wajah Rahma lebih dulu dan menjadi kejutan indah saat dirinya melihat wajah cantik Rahma untuk yang pertama kalinya.


Kesuksesan lamaran sederhana yang dilakoninya tadi malam, seolah membuatnya merasa lebih berenergi.


Di bangkunya Irsyad terus mengamati layar ponsel, lebih tepat mengamati nomor ponsel Rahma yang di berikan pak Akmal tadi malam.


"Profilnya masih seorang pria." gumam Irsyad. "Secinta itukah gadis itu dengan pria tersebut. Apa dia bisa mencintai ku ya? Soalnya pria yang ada di profilnya sangat tampan dan gagah sekali." gumam Irsyad.


Hari demi hari terlewati, Irsyad masih belum berani mengirim pesan chat pada Rahma. Hingga di malam sebelum pernikahannya. Irsyad baru saja selesai berzikir, rasa gugup yang masih menguasai dirinya seolah membuatnya semakin takut menghadapi ijab kobul di esok hari.


Irsyad bercermin ia pun berlatih mengucap ikrar di hadapan bayangannya sendiri. Hingga beberapa kali.


"Ya Allah, bagaimana ini, kenapa berdebar sekali jantung ku." senyumnya tersungging. Ia pun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menghadap kelangit-langit.


"Wajah dek Rahma seperti apa ya?" Irsyad mulai membayangkan gadis-gadis yang tak memakai hijab. "Rambutnya pendek atau panjang?" deg deg. Irsyad menggeleng cepat.

__ADS_1


"Astaghfirullahalazim," Irsyad menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya. Tak lama selimut itu kembali di buka.


"Duh dek Rahma, belum melihat mu saja aku sudah seperti ini." Irsyad terkekeh sendiri. Sesaat wajahnya menoleh kearah ponsel. Tangannya pun meraih ponsel tersebut.


Irsyad mulai mengetik sesuatu. Bertuliskan (assalamu'alaikum) namun terhenti.


"Haduh mau ngomong apa ya?" Hampir satu jam ia berfikir untuk membuka obrolan pesan chatnya dengan Rahma. Ketik ketik, hapus, ketik, hapus lagi hal itu ia lakukan sampai beberapa kali.


Hingga akhirnya sebuah pesan sederhana sebagai tanda pengenalan pun berhasil beliau tulis dan lagi butuh waktu beberapa detik bahkan menit sampai akhirnya ia berhasil mengirim pesan singkat tersebut.


"Bismillah." Irsyad menanti ceklis dua itu berubah jadi biru. Dan tak lama senyumnya tersungging.


"Dek Rahma membacanya." Gumamnya. Matanya masih memantau layar ponsel tersebut.


"Kok tidak mengetik ya?" Di tunggunya pesan itu hingga hampir setengah jam. Bahkan tulisan onlinenya pun menghilang. Rahma tidak membalas pesan chatnya.


"Kok dek Rahma tidak membalas ya? Ah sudah lah mungkin dia masih malu-malu," Irsyad terkekeh.


Beliau lantas meletakan ponselnya kembali. Membaca doa tidur dan segera terlelap dalam tidurnya.


Dan setelah ijab qobul di ucapkan di keesokan paginya, Irsyad merasa lega, Lebih-lebih kala melihat wajah Rahma untuk yang pertama kali. Perasaan beruntung yang tiada tara karena bisa menikahi seorang bidadari yang menurut Irsyad justru lebih cantik dari sosok Isti itu.


Wanita yang bahkan selalu membuatnya candu untuk mengecup wajahnya setiap saat.


Wanita yang selalu ketus namun membuatnya gemas.


Wanita yang selalu membuatnya berdebar kala memeluknya.


Dan wanita yang membuatnya jatuh cinta untuk yang pertama kali, walau sempat ada Isti sebelumnya namun tetap saja, ia tidak se berdebar kala bersama Rahma.


Hingga suatu kepuasan di malam pertamanya yang sempat tertunda bisa bersenggama dengan Rahma, Irsyad merasakan gadis itu benar-benar masih suci.


hal itulah membuatnya merasa lebih beruntung dan bahagia lagi. Menikmati segala hembusan cinta yang terus saja menerpanya. Hingga ia pun bahkan mabuk akan cinta Rahma yang terus saja membuatnya tidak bisa berhenti mencurahkan kasih sayangnya itu.


(Flashback is off)

__ADS_1


__ADS_2