Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
sebuah kejujuran.


__ADS_3

Kini dirinya telah sampai di rumah mencari Rahma yang belum menyambutnya.


Irsyad membuka pintu kamarnya. Dan mendapati Rahma tengah tersenyum menyambutnya di atas ranjang si kembar selepas menyusui Rumi.


Irsyad menghampiri Rahma. Dengan cepat Rahma meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangan Irsyad.


Irsyad membelai lembut rambut panjang Rahma. "Dek, mas Irsyad ingin bicara pada mu." ucap Irsyad.


"Bicara apa mas."


"Ke ranjang kita dulu yuk." ajak Irsyad sembari menggandeng tangan Rahma.


Dengan menatapnya bingung Irsyad terus saja memegangi wajah Rahma.


"Mas ingin bicara apa?" tanya Rahma yang sudah mulai penasaran.


"Tentang pertanyaan mu yang waktu itu."


Rahma berfikir sejenak. "Pertanyaan yang mana?"


"Tentang seorang wanita yang pernah mas kagumi."


Rahma tertegun. "Perasaan Rahma jadi tidak enak deh." ucap Rahma. Irsyad pun terkekeh ia mengecup kening Rahma lembut.


"Mau dengar tidak?" tanya Irsyad.


"Sebenarnya takut, tapi ya sudah lah Rahma penasaran juga." jawabnya.


"Hehe Tapi sebelum itu mas ingin bertanya sesuatu dulu pada Rahma." tutur Irsyad.


Rahma mendengus "Haduh mas Irsyad nih, belum juga di jawab pertanyaan Rahma, eh mas malah tanya yang lain."


"Hehehe. Maaf sayang, mulai tidak nih?"


"Iya."


Irsyad membelai rambut Rahma. "Dek, misalnya mas Wafat lebih dulu?"


"Mas! Rahma tidak mau ya, jika mas membahas itu?" Potong Rahma.


"Dek ini kan misalnya."


"Ya kenapa harus misalnya sih, Rahma tidak mau mas bahas tentang itu, Rahma kan takut."


Irsyad terkekeh. "Bukan begitu sayang dengar dulu ya. Misalkan Mas wafat nih, terus ada seorang pria yang mendekati Rahma dan pria itu sudah beristri apa Rahma mau menerima pria itu?"


"Pertanyaannya kok begitu sih mas."


"Jawab saja sayang, tapi yang jujur ya."


Rahma menghela nafas. "Mas pernah bercerita tentang Baginda Nabi Muhammad SAW kan? Dimana beliau pernah bersabda pada para istrinya. Jika mereka ingin bertemu lagi, dan bersama lagi dengan Rosulullah SAW maka mereka tidak boleh menikah lagi. Dan jika sampai itu terjadi pada Rahma, Rahma akan berusaha tidak menikah lagi karena Rahma kan ingin bersama mas Irsyad lagi di akhirat kelak, mas juga pernah bilang ingin berjodoh dengan Rahma juga di akhirat kan? Begitu juga dengan Rahma." Irsyad tersenyum. "Apa lagi pria itu sudah beristri seperti yang mas bilang, Rahma tidak akan mau." sambungnya.


"Kalau pria itu tampan dan gagah. Seperti dokter Miftah bagaimana?"

__ADS_1


"Kok jadi ke dokter Miftah?"


"Jawab saja sayang. Ini kan umpannya."


Rahma terdiam ia memandang dalam-dalam wajah suaminya. "Rahma itu seorang wanita mas. Rahma tidak ingin menyakiti hati sesama wanita. Karena memposisikan diri memiliki madu saja rasanya sudah sesak, apalagi harus menjadi madu itu sendiri. Rahma tidak akan mau. Dan lagi sudah jelas Rahma akan berusaha tetap menjanda hingga Rahma wafat menyusul suami Rahma ini."


Irsyad tersenyum. "Ade benar-benar mencintai mas berarti sekarang?"


"Pertanyaan yang aneh. Ya jelas lah mas.


walaupun tutur kata Rahma tidak halus, dan terkesan menyebalkan namun Rahma itu sangat mencintai mas Irsyad, suami Rahma."


Irsyad mengecup kening Rahma. "Mas jadi malu pada mu Rahma." tuturnya.


"Malu bagaimana?"


Irsyad terdiam, ia bingung ingin memulai cerita dari mana.


"Ade ingat wanita yang bertemu di mall waktu itu? Waktu kita nonton Film berdua?" tanya Irsyad.


Pikiran Rahma mulai bekerja membuka memori yang menurutnya tidak perlu di ingat. "Yang mana sih, Rahma lupa."


"Yang bertemu saat kita hendak makan. Wanita yang mengenakan cadar."


"Oohhh yang pakai baju serba hitam itu. Yang katanya mahasiswi mas dulu bukan sih?" tanya Rahma.


"Benar sayang." Irsyad mengecup pipi Rahma.


"Kenapa memang?"


"Dan beliaulah, wanita yang pernah mas kagumi." Sambungnya, membuat Rahma mematung.


'Wanita yang bertutur kata selembut itu wanita yang pernah di kagumi mas Irsyad.' batin Rahma sedikit minder.


"Sebelum meng khitbah dek Rahma, mas pernah punya niatan untuk menikahinya. Namun sudah keduluan pria lain."


'Mas Irsyad punya cinta masa lalu rupanya.' Batin Rahma yang masih mendengarkan.


"Dan waktu itu. Mas ijin akan ke rumah pak Huda kan?" tanya Irsyad, Rahma mengangguk pelan. "Mas tidak tahu ini kebetulan atau apa, mas menyelamatkan seorang anak yang jatuh dan ternyata anak itu adalah putra dari Isti."


"Jadi namanya Isti? Mas bertemu lagi dengannya?" suara Rahma lirih. Irsyad mengangguk, dan terdiam sejenak melihat ekspresi Rahma saja ia sudah bisa membacanya kalau Rahma merasakan sedih.


"Lanjutkan mas. Kenapa diam?"


"Mas takut dek Rahma kecewa."


"Kecewa? Kenapa harus kecewa?"


Irsyad memeluk tubuh Rahma. "Karena pertemuan itu. Tidak sengaja cadar Isti terlepas. Mas jadi melihat wajahnya lagi. Dan?" Irsyad kembali terdiam.


"Lanjutkan mas." Pinta Rahma.


"Mas merasakan kerinduan lagi. Sehingga membuat mas tidak bisa berhenti memikirkannya."

__ADS_1


Rahma membulatkan bola matanya. Ia ingin melepas pelukan Irsyad namun dengan cepat Irsyad menahannya. Semakin mempererat pelukannya.


"Dek Rahma marah kan?" tanya Irsyad. Rahma pun terdiam. "Mas sudah menduganya, dek Rahma pasti akan kecewa pada mas, walaupun Mas hanya ingin jujur, namun sepertinya mas sudah salah karena sudah jujur padamu."


Rahma mendongak menghadap Irsyad yang turut membalas tatapannya. "Rahma mencintai mas Irsyad. Rahma bahkan sudah melupakan mas Fikri. Apa sekarang giliran mas yang mulai goyah dengan cinta masa lalu mas?" Rahma menitikkan air matanya.


Irsyad mengecup bibir Rahma. "Maafkan mas." Gumamnya setelah melepaskan kecupannya.


"Benar mas goyah? Apa mas bertemu dengannya lagi? setelah itu?" Irsyad menggeleng cepat. Melihat itu saja Irsyad sudah melihat kekecewaan Rahma apa lagi bercerita tentang tasbih itu. Dan soal mimpinya.


"Dek Rahma tolong jangan marah ya. Mas hanya ingin jujur saja. Mas juga tidak ingin rasa ini kembali hadir." Rahma masih terdiam air matanya kini semakin deras keluar.


"Wanita itu pasti cantik sekali. Bahkan sampai suami ku yang seorang ustadz saja sampai goyah."


"Dek Rahma tolong jangan katakan itu." Irsyad hendak mencium Rahma lagi namun Rahma mamalingkan wajahnya.


"Katakan, benar kan wanita itu sangat cantik?" tanyanya.


"Dek Rahma."


"Jangan sebut nama ku mas, jika di hati dan fikiran mas itu hanya ada nama Isti."


"Astaghfirullahalazim, dek Rahma salah, di hati mas Irsyad hanya ada nama Rahma. Jika tidak mana mungkin mas merasa bersalah seperti ini?"


Rahma berusaha melepaskan diri dari pelukan Irsyad. Namun Irsyad justru semakin mempererat nya.


"Mas sangat mencintaimu dek Rahma."


"Wanita itu pasti sangat cantik, sehingga suami ku saja bahkan bisa menumbuhkan benih cinta itu lagi pada Isti? Dan dari pertanyaan mas tadi, apa mas sedang mengibaratkan diri mas sendiri dan mas akan meminta izin menikah lagi setelahnya?"


Irsyad menggeleng cepat, "tidak dek Rahma"


"mas, Rahma tidak mau mas, mas tidak akan berpoligami kan?" Rahma semakin terisak.


"Dek, dengar kan mas dulu."


"Mas ingat Rumi dan Nuha kan? Mas tidak akan tega dengan Rahma kan? Mas...hmmmp." Irsyad membungkamnya dengan kecupan, menahan Rahma dengan tangannya lumayan lama. Lalu melepaskannya pelan.


"Tolong dengarkan suami mu ini ya sayang, wanita itu memang cantik dek Rahma. Namun istri ku ini jauh lebih cantik dari pada dirinya, dan akan lebih cantik dari seluruh gadis di dunia ini bahkan mengalahkan bidadari yang berada di surga." Irsyad mengusap air mata Rahma.


"Sayang, Mas tidak ingin mengulang kesalahan di masa lalu. mas benar-benar mencintai mu, InsyaAllah mas berjanji, istri mas hanya akan satu yaitu kamu.


selamanya hingga tubuh ini terbujur kaku terbungkus kain kafan." Irsyad mengecup kening Rahma.


Rahma melingkari lengannya di leher Irsyad. "Janji ya mas, mas harus berjanji pada Rahma, menua lah berdua bersama ku. Hanya dengan ku." Rahma terisak.


"InsyaAllah, sayang. Mas akan berusaha. Maafkan suami mu ini ya dek Rahma." tuturnya.


"Iya." jawab Rahma yang masih betah memeluk suaminya. Kini Irsyad merasakan kelegaan.


Benar tidak ada yang perlu ia takuti dengan yang namanya kejujuran. Itu lebih baik dari pada harus memendamnya sendiri. Ia merogoh saku celananya. Lalu tersenyum.


'Nanti malam saja ku berikan benda yang ku beli tadi padanya. Yang penting saat ini istri ku sudah tahu walau tidak sepenuhnya, namun itu lebih baik. Mas mencintai mu Dek Rahma. Sangat mencintaimu.' batin Irsyad tangannya masih melingkar di pinggang Rahma membalas pelukannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2