
Aida dan Ulum sampai di rumah sakit pukul 02:58. Karena pembukaan yang belum sempurna mereka masih menunggu hingga beberapa jam lagi.
Dan pukul delapan pagi. Aida melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan dengan proses normal.
Pancaran bahagia terlihat dari wajah Ulum yang tengah mengumandangkan Adzan di telinga kanan Putri kecilnya, lalu komat di telinga kirinya. Setelahnya ia mengecup pipi anaknya dengan gemas sebelum akhirnya di bawa ke ruangan bayi oleh perawat tersebut.
Ulum mendekati Aida yang masih terkulai lemah di atas bed ruangan bersalin itu. Cukup lama Ulum mengusap kepalanya dan mengecup kening Aida dengan rasa syukur yang teramat.
"Terimakasih Aida, sudah mau berjuang melahirkan anak ku." ucap Ulum dengan suara parau nya. Aida tersenyum.
"Semua berkat kekuatan dari mu juga mas, yang sudah merawat ku dengan baik selama hamil."
"Sungguh Mas sangat bahagia. Sekali lagi Terimakasih ya Aida." ucap Ulum.
"Iya." jawabnya lirih.
Setelah kondisi Aida yang mulai membaik Aida pun di bawa ke bangsalnya. Dan dengan kondisi keuangannya itu Ulum hanya mampu memberikan Aida fasilitas bangsal rawat inap kelas dua. Sebenarnya Irsyad sudah menawarkan bantuan untuk membiayai biaya rawat inap nya namun Ulum menolak itu. Ia hanya tidak ingin semakin berhutang pada mantan dosen pembimbingnya.
Sudah cukup banyak bantuan yang di terimanya dari Irsyad, kini dirinya hanya akan terus berusaha menjadi pria mandiri yang mampu bertanggung jawab atas keluarga kecilnya tanpa bantuan dari mana pun.
Ulum terus mengamati bayi kecilnya yang berada di gendongan Aida. Karena bayi perempuan itu sudah waktunya menyusu. Walaupun asi Aida belum banyak namun bayinya sepertinya tidak kekurangan. Dengan tenang bayi itu terus menerus menghisap nya.
Tangan Ulum mengusap kepala anaknya yang kecil dan menggemaskan itu. "Ya Allah lucunya. Mas pengen deh gendong namun belum berani." ucap Ulum, senyum bahagia itu terus saja tersungging dari bibir Fathul Qhulum akibat rasa syukur nya karena merasakan kebahagiaan yang lengkap.
"Latian mas." jawab Aida.
"Iya sayang, mas juga tengah nonton tutorial memandikan bayi ini. Kalau nanti di rumah. Mas harus bisa memandikan Shafa." tuturnya.
"Shafa?" tanya Aida.
"Iya. Mas kasih nama Baitus Shafa, boleh kan? Terinspirasi saja dari bukit Shafa di Madinah." ucapnya.
Aida mengangguk. "Nama yang bagus mas." tutur Aida. Ulum tersenyum.
Kini bibir mungil itu telah berhenti mengisapnya, Aida pun menutupi kembali bagian dadanya.
"Assalamu'alaikum." ucap Rahma sembari menyibak tirai pembatas bed yang lain.
__ADS_1
"Walaikumsalam mbak Rahma." Aida tersenyum senang saat mendapati kedatangan Rahma dan Irsyad. Ulum pun menghampiri Irsyad yang langsung memeluknya mengucapkan selamat karena telah menjadi seorang ayah.
Sedangkan Rahma pun memeluk Aida lalu mengusap kepala bayi mungil yang tengah tertidur di gendongannya.
"Lucunya anak mu ini Aida. Boleh tidak aku menggendongnya?" pinta Rahma.
"Boleh mbak. Silahkan." Aida menyerahkan bayinya pada Rahma.
Dengan lues Rahma menggendongnya. "MashaAllah, benar-benar cantik anak ini." tutur Rahma.
Melihat Rahma menggendong bayi itu Irsyad pun tersenyum, semua karena Rahma yang tidak murung lagi setiap kali menengok kerabat yang baru saja melahirkan. Malah sebaliknya. Wajah itu terlihat ceria bahkan lebih ceria dari pada biasanya.
Mungkin karena kali ini Rahma bisa menggendong seorang bayi. Tidak seperti biasanya yang hanya menilik saja ke arah boks bayinya.
"Bagaimana rasanya setelah melahirkan Aida?" tanya Rahma.
"Lega mbak. Karena bayi ku sudah berada di luar dengan selamat. Jadi Tidak lagi khawatir." ucap Aida.
"Kau mendapatkan jahitan tidak?" tanya Rahma.
'Ya Allah, andai ini anak ku. Aku pasti sangat bahagia sekali. Dan senyum mas Irsyad itu pasti akan lebih dari saat ia melihat ku menggendong bayi ini.' batin Rahma yang tidak henti-hentinya mengecup Shafa dengan gemas. Sembari berharap dirinya bisa segera di berikan momongan dengan sehat tanpa adanya masalah.
Selang beberapa jam mereka di dalam ruangan itu Irsyad dan Rahma pun berpamitan pada Ulum dan Aida. Dan yang pasti kecupan sebelum pulang pada bayi mungil itu. Dengan waktu yang lumayan lama saking gemasnya.
Sembari mengucapkan salam Irsyad mengatupkan tangan Rahma berjalan ke luar dari bangsal tersebut. Sepanjang jalan Rahma hanya diam, namun diamnya Rahma bukan karena rasa iri nya seperti biasa. Ia merasa turut senang dan hatinya pun iklhas, menanti kapan waktunya ia bisa mendapatkan kembali kepercayaan itu.
Masih di area lorong rumah sakit, Rahma dan Irsyad berpapasan dengan seorang pria yang sepertinya tidak asing.
"Maaf, Rahma bukan ya?" tanya pria itu. Dengan sneli (jas dokter) tergantung di lengannya.
"Iya, anda?"
"Saya Miftahul Aziz, masih ingat? Senior di SMA dulu." ucap pria itu.
Rahma mengingat-ingat. "Oh mashaAllah Mas Miftah, iya Rahma ingat." jawab Rahma sembari melebarkan senyumnya.
"Mas sampai pangling karena Rahma berhijab sekarang." tuturnya.
__ADS_1
"Hehe iya mas, Emmmm kenalkan ini suami Rahma namanya mas Irsyad." ucap Rahma memperkenalkan Irsyad pada pria di hadapannya. Irsyad pun menjabat tangan Miftah dengan senyuman hangat.
"Sudah menikah rupanya ya?" tanya Miftah.
"I...iya."
"Oh, syukur lah kalau begitu. Maaf ya saya harus kembali ke ruangan, habis Visit soalnya."
"Wah mas Miftah dokter sekarang."
"Iya, semua itu karena dulu, pernah ada yang bilang pada ku, kalau dia punya Cita-cita jadi perawat, makanya saya berusaha sekali untuk jadi dokter, dan pas ketemu lagi eh sudah berkeluarga ternyata."
"Eh?" Rahma terkekeh aneh.
Irsyad pun berdeham, sedikit terkekeh ia menyadarinya kalau pria di hadapannya itu memiliki rasa di masa lalu pada istrinya. Bahkan hal yang menggelikan baginya karena hanya Rahma yang di ajaknya mengobrol.
"Emmm ya sudah mas Miftah, saya juga mau pulang dulu, Assalamu'alaikum." ucap Rahma.
"Assalamu'alaikum warahmatullah" ucap Irsyad pula sembari tersenyum dan menelungkup kan kedua tangannya didepan dada. Lalu berjalan sembari menggandeng tangan istrinya.
Miftah pun hanya diam saja ia sedikit menghela nafas. Karena Rahma adalah cinta masa SMA nya dulu. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya masuk menuju ruangan prakteknya.
Di sisi lain Irsyad mengamati wajah Rahma yang terlihat malu-malu itu.
"Tampan ya dek?" tanya Irsyad tiba-tiba.
"Sedikit." jawabannya.
"Ya walaupun dia dokter sama seperti Almarhum, tapi mas percaya sih, kalau Rahma sekarang sukanya sama ustadz?" tanya Irsyad. Rahma pun menoleh dan menghentikan langkahnya.
Sedikit tersenyum jail Rahma yang menyadari sepertinya suaminya tidak hanya cemburu pada mas Fikri namun pada Mas Miftah juga.
"Mas tahu tidak, Dia itu dulu kakak kelas Rahma loh mas, dan salah satu pria yang selalu ngejar Rahma." ucap Rahma.
"Haaahhh ya Allah, saingan ku kok dokter semua ya. Tapi ternyata lebih unggul ustadz sih kayanya. Memang Ustadz itu pesonanya tidak tertandingi." gumam Irsyad sembari melenggang pergi.
Rahma pun terkekeh merasa lucu melihat ekspresi cemburunya Irsyad yang masih berusaha tersenyum segar di luar namun mungkin panas di dalam hatinya.
__ADS_1