Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bab 7. ketenangan (season 2)


__ADS_3

Setelah adzan subuh berkumandang, Irsyad kembali meraih sajadahnya.


Ia melihat Rahma masih terlihat sedih akibat kata-katanya tadi.


Sejenak beliau mendekati Rahma mengecup kepalanya. "Mas Irsyad minta maaf ya, sudah membuat dek Rahma sedih."


Sudut mata yang sudah menganak itu tiba-tiba meneteskan buliran air mata di pipi Rahma. "Rahma sayang mas Irsyad, jangan mengatakan hal-hal yang berbau kematian mas, Rahma takut."


Menghela nafas sejenak. Lalu tersenyum. Beliau tak menjawab apapun hanya mengecup keningnya saja.


"Mas?" Mengangkat kepalanya melihat ke wajah sang suami.


"Iya, tidak akan lagi mas mengatakan itu. Ya sudah mas ke masjid dulu ya sayang."


Rahma mengangguk, lalu meraih tangan kanan Irsyad dan mengecup punggung tangannya.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah." jawab Rahma.


Pria itu keluar dari dalam kamar mereka dengan sajadah menggantung di bahunya.


Rahma menyentuh dadanya. Kata-kata Irsyad menusuk relung hatinya, bukan dari beliau yang memerintah Rahma untuk menjaga diri, namun kata-kata tentang Ajal yang akan membuat dia tidak bisa lagi menjaga Rahma.


Manusia memang selalu menginginkan cintanya tetap ada disisinya, namun jika sudah ada kata takdir untuk memisahkan? Akan kah ada keikhlasan untuk dirinya bisa menerima itu?


Sudah cukup dia di pisahkan dengan cintanya oleh takdir. Tidak ingin terulang lagi... Tidak mau lagi.


Rahma menyeka air matanya. Dan beranjak, segera dia berjalan keluar guna menjalankan ibadah solatnya.


Dengan pengharapan besar ia berharap pada sang maha memegang hidup dan matinya seseorang. Meminta untuk memberikan umur panjang pada sang suami, karena mau bagaimana pun juga tidak pernah terfikir bagaimana nasib kehidupannya bersama kedua anaknya jika sang suami harus meninggalkannya lebih dulu.


***


Di sebuah Sekolah Tinggi.


Irsyad baru saja keluar dari kelasnya.


Pak Huda menghampiri beliau karena kebetulan sama-sama habis mengajar. Mereka memutuskan untuk berjalan bersama menuju ruangan Dosen.


"Ustadz bagaimana? Acaranya tiga Minggu lagi ini." tanya pak Huda.


"Saya sudah memikirkannya, dan saya bersedia pak Huda." jawab Irsyad.


"Alhamdulillah, bukan keterpaksaan kan ini?" Tanya pak Huda ngeledek.

__ADS_1


"Astagfirullah ya nggak dong pak Huda. Ikhlas lillahita'ala." jawab Irsyad.


"Hahaha syukur kalau begitu, nanti saya kabarkan deh pada saudara saya itu. Haduh rindu jamaah sepertinya akan terobati segera ini" tergelak. Sama halnya dengan Irsyad.


Setelah beberapa kegiatan beliau lakoni di kampus itu beliau pun kembali ke rumah, melihat anak-anak nya tengah bermain dengan Lego mereka.


Walau rumah sudah semakin berantakan tak karuan kali ini Irsyad hanya diam saja.


"Maaf ya mas, rumah dalam keadaan berantakan sekali."


Terkekeh sejenak sembari mengusap kepala Rahma. "Tidak apa-apa sayang." ucapnya kemudian lalu kembali melangkah naik.


"Mas mau Rahma buatkan kopi?" Seru Rahma.


Irsyad menoleh. "Boleh dek, taro di meja dekat tangga ya." Tersenyum lalu kembali melangkahkan kakinya.


Rahma pun berjalan ke dapur, di sana mbak Rani tengah memasak hidangan makan malam untuk keluarga ustadz Irsyad.


"Bu, ini ikannya sama ayamnya mau goreng sekali atau bagaimana?" tanya mbak Rani sang asisten rumah tangga.


"Nanti saja mbak, biar saya saja yang menggorengnya. Oh iya saya mau menemani bapak, mbak tolong jagain Nuha dan Rumi sebentar setelah ini ya."


"Iya Bu." Jawab mbak Rani mengiyakan.


Setelah selesai membuat kopi Rahma kembali berjalan, sebelum itu dia mewanti-wanti anak-anaknya untuk bersikap baik karena abi nya sudah pulang.


Rahma meletakkan kopi itu di meja, lalu membuka pintu kamarnya. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Menandakan Sang suami tengah mandi di dalamnya.


Rahma pun menata beberapa mainan yang ada di kamar itu.


Membenahinya, sedikit. Karena kamar mereka masih menjadi satu dengan dua anak-anak itu, sudah pasti masih ada jejak kekacauan di sana.


Cklaaaaak pintu tandas terbuka, Irsyad keluar dengan handuk melingkar di pinggangnya.


Lalu berjalan mendekati lemari pakaian yang tidak jauh dari pintu kamar mandi tersebut.


Setelah memilih beliau mengenakannya, dan menghampiri sang istri yang terlihat lelah itu.


"Sudah berapa kali ini urat lehernya tertarik?" Ledek Irsyad sembari mengecup lekuk leher sang istri membuat Rahma terkekeh.


"Bukannya mas ya, yang melarang Rahma untum menarik urat leher Rahma pada anak-anak?"


"Hehehe. Bagaimana rasanya menjadi sabar sayang?"


"Berat lah mas, mas kan tidak pernah merasakan menjaga mereka seharian."

__ADS_1


Masih memeluk Rahma dengan erat dari belakang. "Mas paham kok dek." Mencium terus-menerus di bagian lekuk leher sang istri.


"Sudah mas geli." Terkekeh.


"Tapi suka kan?" Mengecup lagi tanpa ampun. Membuat tubuh keduanya saling menggeliat karena yang satu menghindari yang satu terus meluncurkan serangan.


Cklaaaaaaakkk Irsyad melepaskan pelukannya cepat. Dan beralih memegang sesuatu.


Karena sang anak yang tiba-tiba masuk.


"Kamu nggak kunci pintu sih." Bisik Irsyad. Rahma pun terkekeh.


"Abiiiiiii, ummaaaaa, liatβ€” mainan Nuha di rusakin sama kakak." Merengek sembari berjalan masuk menemui dua orang tuanya yang masih terlihat salah tingkah karena hampir kepergok anak mereka saat tengah bermesraan.


Irsyad berjongkok. Meraih tubuh Nuha agar duduk di pangkuan nya. "Sini coba abi lihat?" Meraih mainan tongkat Peri yang bisa menyala milik Nuha.


"Masih bisa di perbaiki Ini sayang. Memang di apain sama kakak?"


"Di banting, kakak nakal..." Mengadu masih dengan nada merengek manja.


Rahma pun geleng-geleng kepala. Dia lantas berjalan keluar melewati Irsyad yang dengan jail menyolek pinggangnya.


Mata Rahma pun membulat mengarah pada pria yang tengah terkekeh itu. Sedangkan tangannya masih fokus pada mainan Nuha. Dan berusaha memperbaikinya.


Setelah berkutat cukup lama, mainan itu sudah selesai di perbaiki.


Irsyad mencoba menyalakan kembali, dan tongkat itu kembali menyala.


"Tuh jadi kan?" Tutur Abi Irsyad,


Nuha tersenyum, ia mengecup pipi abi nya.


"Terimakasih Abi.... Dede mau main lagi." Anak itu beranjak.


"Jangan lari-lari ya sayang, turun tangganya hati-hati loh." Seru Irsyad namun anak itu sudah berlari keluar.


Membuat Irsyad kembali beranjak lalu melangkah keluar. Di sofa dekat tangga Irsyad duduk sembari menikmati kopi buatan Rahma.


Setelah menyeruput satu teguk, ia meletakkan kembali cangkir kopinya di atas meja lalu meraih buku di rak yang berada di sebelah kursi tersebut.


Ya semenjak ruangan tengah menjadi area kekuasaan dua anak kembar itu kini sofa di lantai dua lah yang menjadi tempat favorit sang Abi. Menikmati waktu luang dengan membaca buku yang sudah ia pindahkan di lantai dua tersebut.


Karena memang Irsyad sedikit menyukai ketenangan, itu sebabnya tempat Favorit Irsyad berpindah di lantai dua. Agar tidak terlalu terdengar suara bising jika dirinya sedang menginginkan kesendirian.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Hai maaf ya dua bab dulu, besok jika tidak ada halangan insyaAllah up lagi.πŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Terimakasih sudah sabar menunggu up nya ustadz Irsyad.


__ADS_2