
Selang beberapa lama, rekan-rekan Irsyad di kampus datang. Seperti pak Huda dan ustadz Rahmat.
Berbarengan dengan itu. Aida, Ulum dan tentu saja putrinya datang.
Terasa suasana hangat di dalam ruang bangsal kelas satu itu. Dimana pak Huda dengan perut gembul tengah tertawa sembari bercerita hal-hal lucu di sana.
Sementara Rahma dan Aida di luar. Mengobrol ringan bersama Bu Ratih juga. Dan dua anak kembar itu? Jangan di tanya, mereka tengah asik berlari keluar masuk ruangan, mengikuti kak Safa, terlihat Rumi sangat SKSD sekali pada Safa, seperti menawarkan ini, menawarkan itu, sementara Nuha juga sama, kedua anak kembar itu seperti tengah berebut perhatian kakak Safa hahaha. Apa lagi Rumi, lebih genit sepertinya.
Di dalam Pak Huda merangkul Ulum. "Dulu saya itu setampan dia loh. Hahaha maka dari itu yang ngejar banyak." Ucap pak Huda pada semua orang. Sedangkan Ulum hanya terkekeh tipis, beliau belum bisa lepas, mau bagaimana lagi semua yang di sana mantan dosennya.
"Tumben pak, biasanya nyamain nya ke saya." Tutur Irsyad.
"Ustadz itu sudah ketuaan kalo mau di jadikan visual muda saya."
"Loh tua bagaimana? Saya masih muda loh ini."
"Iya muda sepuluh tahun yang lalu ya ustadz. Kalo sekarang sih mending di samain ke bapak muda ini." Menepuk-nepuk punggung Ulum.
Terlihat canggung sekali sebenarnya si Ulum itu dan hanya ikut-ikutan haha hihi saja seperti yang lain.
"Ustadz? Kemarin anaknya habis menang lomba menghafal Al-Qur'an ya?" Tanya Irsyad pada ustadz Rahmat.
"Alhamdulillah iya ustadz."
"Wah, berapa juz?"
"Sepuluh ustadz."
"MashaAllah, Sayang Nuha masih kecil ya, kalo udah besar saya jodohkan itu sama Faqih." Tertawa, hanya sekedar banyolan semata.
"Tidak apa ustadz? Faqih sudah dua belas tahun, hanya terlampau 7 tahun sama Nuha, masih bisa lah." Pak Huda tertawa.
"Ya boleh lah... Boleh lah... Jadi besan ya kita." Ustadz Rahmat Terkekeh.
"Biar saya jadi saksi ya hahaha" semuanya tertawa mendengar ucapan pak Huda.
Jauh sekali ya bapak-bapak itu bicaranya hahaha biarkan saja lah mungkin tidak ada bahasan lain saat ini, yang penting happy.
__ADS_1
***
Di rumah Ulum...
Mereka baru saja tiba, terlihat lelah tersirat di wajah Safa, gadis kecil itu pun di bawa oleh ayahnya ke atas ranjang.
Sementara Aida membuatkan susu untuk putrinya.
Di dapur sederhana itu, Aida mondar mandir, mengambil air, lalu memasaknya. Kembali lagi ke rak tempat penyimpanan gelas-gelas.
Saat hendak kembali. Kaki Aida tiba-tiba lemas, ia bahkan sampai terjatuh dengan posisi lututnya lebih dulu menghantam keras ke lantai ubin.
Bruuuuuukkk..."astagfirullah al'azim." Gumam Aida. Ia berusaha kembali menaikan tubuhnya. Sedikit sulit namun dengan tangan yang bertopang pada meja. Aida bisa kembali berdiri.
"Ya Allah, kaki ku? Ada apa ini?" Perlahan Aida menggerakkannya."
"Aida—" panggil Ulum menghampiri.
"Mas?"
"Kenapa? Kenapa sayang?" Tanya Ulum. Dia mendengar suara Aida terjatuh tadi sepertinya.
"Kenapa? Ada apa sama kakinya."
"Kaki ku kembali lemas, Aida takut." Mulai berkaca-kaca.
"Ya Allah, sini duduk dulu. Mas bantu ya." Di papah lah Aida ke sebuah kursi.
"Kompornya mas." Titah Aida pada Ulum.
Pria itu pun berjalan mendekati kompor yang masih menyala, terlihat gemulak air yang sudah masak, karena Aida hanya memasaknya sedikit, pas untuk satu gelas susu.
"Mas saja yang membuatnya, kamu istirahat dulu ya sayang." Ucap Ulum, Aida pun mengangguk. Ia masih memijat-mijat ringan kakinya, ada perasaan sedikit takut, masalah kelumpuhannya akan kembali.
Sementara itu Ulum segera memberikan susunya kepada Safa.
"Dek, minum susunya habis itu bobo ya. Ayah mau ke luar dulu." Titah Ulum, anak itu mengerti setelah meminum semua susunya ia menyerahkan gelas itu pada sang ayah lalu merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Ulum menepuk-nepuk sebentar lalu mengecup keningnya.
Setelah merampungkan urusan dengan Safa beliau menutup pintu kamar itu kembali, Dan menghampiri Aida.
Ulum pun menggendong tubuh istrinya.
"Mas jangan di gendong, Aida bisa sendiri."
"Nggak sayang, mas khawatir soalnya. Kita ke kamar ya." Ucap Ulum yang mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mereka.
Yuppps kamar mereka sudah tidak bareng dengan Safa ya.
Di dalam kamar itu, Ulum memberikan pijatan sedikit di kaki Aida dengan lembut.
"Kenapa bisa begini?" Tanya Ulum.
"Tidak tahu mas, tiba-tiba kaki Aida lemas. Dan Aida terjatuh."
Ulum menyibak rok istrinya mengecek bagian lutut Aida. "Ya Allah memar. Keras banget pasti tadi ya jatuhnya." Tanya Ulum, Aida hanya mengangguk lirih.
"Mas, Aida takut. Takut jika?" Cupph Ulum mengecup bibir istrinya.
"Jangan bicara hal-hal yang tidak baik, kaki mu pasti hanya kelelahan saja sayang."
"Iya tapi tetap saja mmpp." Lagi. Kali ini lebih lama. Bahkan sampai Ulum merebahkan tubuh sang istri yang tadinya hanya duduk sembari meluruskan kaki.
"Mas bilang jangan katakan hal yang tidak baik kan?" Ucapnya setelah melepaskan. Aida pun hanya tersenyum, namun matanya mulai basah.
"Pokoknya stop dulu menjahitnya. Istirahat kan kaki mu ini ya."
"Tapi orderan lagi banyak mas."
"Penting mana orderan dengan kondisi kaki mu Aida? Tolong menurut ya."
"Iya mas." Jawab Aida. Ulum pun tersenyum beliau pun mengecup kening sang istri lalu kembali memijat kakinya dengan penuh kasih sayang.
Benar-benar suaminya itu masih saja perhatian seperti dulu, dalam hati Aida hanya berharap penyakit masa lalunya tidak kembali.
__ADS_1
Karena saat ini dia sudah ada Safa, terlebih ia tidak mau menyusahkan Ulum lagi jika sampai kondisi kelumpuhannya itu kembali pada dirinya.
Bersambung...