
Di sisi lain Nuha yang melihat itu dari balik jendela hanya bisa tersenyum. "Ya Allah, bapernya ngeliat orang tua sendiri seperti itu... Semoga suami ku seperti Abi, amin...amin ya Allah." Gumam Nuha.
Hingga sebatang sendok mengenai kepalanya. Pletaaaakk.
"Aaaawwwww." Memegangi kepalanya, lalu menoleh sebal ke arah pria di belakangnya.
"Ngintip-ngintip gitu, bintitan aja, tahu rasa kamu?" Ucap Rumi melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jailnya nauzubillah ya! Tidak bisa kah, tidak menggangu ketenangan ku? Balik saja sana ke Bandung, ngapain lama-lama di sini sih." Nuha masih mengusap kepalanya yang sakit akibat getokan sendok tadi.
"Ngusir-ngusir lagi, siapa suruh ngintip-ngintip begitu, tidak baik tahu."
"Hiissss!!" Nuha bersungut sebal.
"Jadi ke toko buku tidak nih? Mumpung aku lagi baik hati, mau mengantar mu." Berbangga diri.
"Iya jadi," jawab Nuha, dengan tangan yang masih betah mengusap kepalanya, sesat ia mengingat sesuatu, "tapi? Janji kak Rumi buat bayarin buku yang Dede beli, harus di tunaikan hari ini ya?" Terkekeh licik.
"Ya Allah, punya kembaran tapi nyiksa sekali ya, cuma gara-gara kalah hafalan aja di tagih terus utangnya."
"Hehehe, jangan cemberut dong. Pria jelek seperti kak Rumi akan tambah jelek kalo lagi cemberut."
"Cepet nikah saja sana kamu dek, biar aku tentram di rumah."
"Iiiisssshhh ngomongnya kok gitu sih? Kalo aku nikah siapa yang bakal kau jahili? Tidak ada kan? Makanya bersyukur punya kembaran secantik Nuha ini."
"MashaAllah, cantik? Dari mananya cantik? Yang ada sakit mata tiap hari melihat mu, dasar! Sudah sana siap-siap. Sepuluh menit lagi belum siap? ku batalin nih ya." Ucap Rumi sembari melenggang pergi.
"Siap bos kyuuuuu—" seru Nuha, sembari berlari kecil, saking semangatnya, sehingga ibu jarinya menendang kaki kursi kayu di dekatnya.
"Aaawwwwwhhh hiks, sakit... Sakit ya Allah, astagfirullah al'azim..." Nuha merengek.
Sementara Rumi yang tengah duduk sembari meminum air mineralnya hanya geleng-geleng kepala. "Sumpah, pecicilannya kamu dek, nggak berubah-berubah ya." Geleng-geleng kepala.
"Hiks! Siapa suruh bikin Nuha terburu-buru. Rese!" Terpincang-pincang jalan menaiki anak tangga.
__ADS_1
Rumi pun kembali menggeleng pelan, tangannya meraih sebuah toples berisikan kacang Arab kesukaannya, lalu memakannya.
***
Di sebuah departemen store, keduanya berjalan bersama menuju toko buku, namun sebelum itu Fokus Nuha tertuju pada area Cinema 21, di sana ada poster film kesukaannya yang akan di putar.
"Kak... Kak, berhenti dulu deh. Lihat? Novel kesukaan Nuha di film kan? Keren kan? MashaAllah."
Rumi pun menarik lengan baju adik kembarnya. "Nggak ada ya, janjinya cari buku doang loh." Sambil berjalan sambil menarik Nuha pergi, karena ia paham Nuha pasti ingin merengek untuk nonton Film tersebut.
"Please... please kak... Nuha pengen nonton serius."
"Sudah ku duga, Nggak dek, Abi bilang apa? Sebelum jam delapan kita harus udah balik kan?"
"Yaaaahhh, please kak. Please."
"Nggak ada!" Tegas. Nuha pun memajukan bibirnya bersungut.
'tidak Abi ataupun kak Rumi, sama saja.' Batin Nuha,
Sehingga keduanya berpapasan dengan seseorang yang mereka. Kenal.
"Assalamualaikum, A' Faqih?" Panggil Rumi, Nuha pun menoleh ke arah Rumi, dan melebarkan matanya.
'lah... Dunia sempit sekali ketemu dia di sini.' batin Nuha, mengamati dua orang itu tengah berpelukan, sedangkan sendirinya tengah menunduk menjaga pandangannya.
"Sendirian aja?" Tanya Faqih datar.
'dih dia tanya sendirian? Kau pikir aku patung selamat datang apa?' batin Nuha, yang merasa di kacangin.
"Itu sama kutu A'," jawab Rumi.
"Kutu?" Faqih mengangkat satu alisnya.
"kutu buku maksudnya." Jawab Rumi selanjutnya.
__ADS_1
"Kirain kutu rambut," ucap Faqih datar, sehingga membuat Nuha membulatkan bola matanya. sebenarnya dia ngelawak tapi pake wajah datar, jadi kaya serius menghina gitu. Ya itulah A' Faqih.
Tapi entah telepati apa namun Rumi seperti mengerti ia pun terkekeh.
"Ya sudah aku pergi dulu ya. Assalamualaikum." Ucap Faqih pada Rumi yang di balas salam juga oleh Rumi. "Kutu." Gumamnya lirih, sesaat setelah melewati Nuha yang masih menundukkan kepalanya itu.
Namun Nuha masih mendengar apa yang pria itu katakan sehingga membuat matanya membulat pada Rumi, yang seketika itu pula memalingkan wajahnya sembari bersiul.
"Sebut aku kutu lagi, ku rajam kau ya. Menyebalkan!" Gerutu Nuha pada kembarannya itu. Sementara Rumi hanya terkekeh.
Kini mereka sudah masuk ke sebuah toko buku yang cukup terkenal, lalu memilih beberapa dan membayarnya di kasir, tentu saja sesuai janji.
Rumi yang membayarnya, namun tingkat ngelunjak Nuha itu memang tinggi jika sang kakak bersedia membayarkan barang yang ia beli, maka ia kan mengambil beberapa barang seenak jidatnya.
Terlihat dari lirikan sinis Rumi sembari mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya,
Sepertinya tingkat keikhlasan Rumi berkurang, karena uang jajannya habis di gasak sang adik.
sementara Nuha hanya nyengir tanpa dosa.
Krrrrrrrrrrrrrrrrr, suara mesin, mulai mengeluarkan kertas bukti pembayaran tersebut. Brrrrrrrrttt sang kasir pun merobeknya lalu menyerahkan buku dan juga kertas nota tersebut pada Nuha.
"Terimakasih sudah berkunjung," ucap sang kasir Ramah.
"Sama-sama." Jawab Nuha, sembari memalingkan wajahnya pada Rumi yang masih menatapnya sebal.
"Haaaaahhh, sabar-sabar." Mengelus dada, lalu kembali melangkahkan kaki menyusul Nuha yang sudah berjalan lebih dulu.
Sebelum pulang mereka sempatkan makan di luar terlebih dulu di salah satu restoran siap saji, selama makan keduanya hanya diam saja menikmati makanan yang mereka pesan.
Di sela-sela makan mereka telfon Rumi berdering, ia pun mengeluarkan ponselnya lalu membaca nama pada layar ponsel tersebut.
"Astagfirullah al'azim." Gumamnya, ia pun hanya mendiamkannya, dan apa yang ia lakukan membuat mata Nuha melirik sedikit.
"Kok nggak di angkat, siapa kak?"
__ADS_1
Hanya melirik. "Bukan urusan mu. Cepat habiskan, dasar lambat, ku tinggal juga kau nanti." Titah Rumi yang sudah menghabiskan makanannya sementara Nuha mendengus lalu kembali menyantap makanan yang hanya tersisa separuhnya, dan setelah selesai mereka pun kembali ke rumah.