
Pagi harinya Ulum tengah memandikan anaknya yang sudah berusia dua tahun delapan bulan. Sedangkan Aida menyiapkan sarapan paginya.
Sembari tertawa dan sesekali berteriak-teriak saking senangnya saat sang ayah tengah menyiramnya dengan air hangat, Ulum pun beranjak lalu meraih handuk yang ada di dekatnya lalu kembali berjongkok.
"Agi aya, ail na agi..." ( lagi ayah, airnya lagi) Shafa menunjuk ke arah keran air sembari melompat-lompat.
"baju ayah sudah basah ini, ade sih siramin air ke ayah. Sudah yuk, nanti di marahin ibu loh, ade juga sudah kedinginan. Sini pakai dulu handuknya ya, nanti sore kita main air lagi."
"Na au aya... Afa au andi," (Ngga mau ayah, Shafa mau mandi) Tuturnya sembari terus melompat-lompat berniat meraih keran air itu berusaha memutarnya sendiri namun tidak sampai. Ulum pun terkekeh. Ia hanya menutupi tubuh putrinya lalu menggendongnya.
"Na au aya, afa au ail.... Au ail." (Nggak mau ayah, Shafa mau air... Mau air) kaki kecil itu terus saja mengayun-ayun. Meminta ayahnya untuk kembali menurunkan tubuhnya lalu menyalakan keran air dan mengisi ember mandinya.
"Haduh kebiasaan kalau di suruh mandi susah, giliran sudah kena air baru deh nggak mau stop." Aida geleng-geleng kepala. Saat Ulum melewatinya dengan putrinya yang terus berteriak menolak di keluarkan dari bilik kamar mandi itu. Ia pun melanjutkan pekerjaannya.
Setelah selesai menyiapkan sarapan sederhana, Aida menghampiri Ulum dan Shafa di kamar mereka.
"Mas sarapan sudah siap. Mas ganti baju saja siap-siap, sudah lewat jam enam ini."
"Iya sayang." Ulum mengecup pipi Shafa lalu beranjak.
"Dek Shafa makan sama ibu yuk." ajak Aida yang lantas menggendong Shafa.
Ulum tersenyum ia sempatkan untuk menyolek pinggang istrinya, menggoda. Membuat Aida terkesiap dan membulatkan bola matanya pada Ulum yang langsung terkekeh.
Di ruang tamu yang kini sudah ada kursi sofanya Aida menyuapi Putrinya. Walaupun hanya kursi sudut dari kayu yang tidak empuk, itu jauh lebih baik dari pada harus lesehan terus menerus bukan. Sudah lebih dari dua tahun mereka menghuni rumah itu. Kini rumah mereka sudah tidak begitu kosong. Semua berkat kerja keras Ulum, dan pintarnya Aida dalam mengelola keuangan.
----
Selang beberapa menit Ulum sudah siap dengan baju khas seorang pengajar, rambutnya pun sudah tersisir rapih. Ia berjalan keluar dan duduk di kursi ruang tamu itu, dengan nasi goreng dan segelas teh manis sudah tersedia di atas meja ruang tamu.
Memang mereka belum memeiliki meja dan kursi untuk makan yang lengkap di dapur. Lagi pula bagi Aida dan Ulum makan di ruangan manapun sama saja. Yang penting nyaman dan nikmat.
Setelah selesai menyantap hidangannya Ulum beranjak masuk kembali ke kamarnya beberapa detik kemudian keluar lagi.
"Bu', kaos kaki ayah dimana?" tanya Ulum.
"Di tempat biasa yah, di lemari rak paling bawah," jawab Aida.
"Tidak ada bu, coba carikan deh ayah sudah mencarinya."
"Duh, jangan ngarang deh, aku baru taro di sana kemarin."
Ulum masuk kedalam kamarnya lagi. Mencari kaos kakinya. "Istri ku yang baik hati, bantuin mas mu ini ya, soalnya kaos kakinya tidak ketemu."
"Ck, mas Ulum ini. Kebiasaan ya." Aida pun menggendong Shafa dan berjalan masuk kedalam kamar mereka.
"Ini pegang dulu Shafa. Kalo sampai ibu nemu kaos kakinya, awas saja." Aida menyerahkan Shafa pada Ulum. Lalu berjongkok.
__ADS_1
Dan benar saja tidak memakan waktu lama, kaos kaki hitam milik Ulum sudah berada di tangannya.
Ulum cengengesan, melihat istrinya berdiri sembari memegang kaos kakinya.
"Ini apa ayah?" tanya Aida.
"Ajaib, langsung ketemu loh itu. Hehehe."
"Ayah, nyarinya pake mulut sih. Coba cari yang bener dulu." Aida bersungut.
Ulum mengecup pipi Aida "Memang benar, mahluk paling jago mencari barang yang hilang itu adalah Ibu dan seorang istri. Hehehe.
Mas kan suami wajar saja kalau mas tidak mampu menemukan barang yang hilang."
"Pinter sekali bapak satu ini ya."
"Pinter lah. Kan mas Ulum." Ulum terkekeh. Sedangkan Aida geleng-geleng kepala. Ia kembali meraih Shafa dan membawanya keluar. Yang di ikuti dengan Ulum yang turut melangkah keluar. Duduk di kursinya guna mengenakan kaos kaki dan sepatunya.
"Waduh, tas ku di mana ya?"
Aida menghela nafas. "Buka tuh bagasi motor mas. Pasti ada."
Ulum keluar rumahnya lalu membuka bagasi motornya. Sembari terkekeh Ulum menutup bagasi motornya lagi.
"Ada kan?" Seru Aida dari dalam rumah.
"Iya istri ku yang hebat—" jawab Ulum sembari garuk-garuk.
Lain hal dengan keluarga bahagia satunya. Yuk kita beralih dari Babelan ke Harapan Indah.
Memutar waktu ke satu jam sebelumnya.
Karena di pagi itu seorang ibu dua anak tengah sibuk mondar-mandir dari dapur ke kamar, lalu turun lagi ke ruang tengah. Membuat Irsyad merasa bingung melihat istrinya sedang melakoni peran seperti sebuah setrikaan yang gemar mondar-mandir.
"Adek ngapain sih? Cari apa sayang?" tanya Irsyad. Kala Rahma sudah berada di dekatnya, tengah mengangkat bantal sofa satu persatu.
"Cari jilbab Mas." Rahma mendekati Irsyad. "Mas coba berdiri dulu deh. Kali saja kedudukan." Pinta Rahma pada sang suami yang tengah duduk di depan televisi bersama Nuha dan Rumi.
"Tidak mungkin kedudukan dek, masa iya mas nge dudukin jilbab nggak kerasa."
"Issshhh coba deh berdiri dulu."
"Astaghfirullah," Irsyad beranjak. "Tuh nggak ada kan? Kalau mas dudukin pasti kerasa lah."
"Duuuhhh dimana sih?" Rahma garuk-garuk kepala, terlihat mulai kesal sepertinya. Pandangan Irsyad beralih pada sebuah kursi meja makan lalu menghela nafas.
"Dek," Panggil Irsyad.
__ADS_1
"Apa sih mas. Jangan ganggu Rahma dulu deh." Ia masih sibuk mencari hijabnya bahkan sampai ke ruang tamu.
"Dek Rahma—" Panggil Irsyad.
"Ya mas sebentar, Rahma tengah mencari jilbab Rahma ini."
"Dek, sini dulu sebentar."
"Hiiiisssshhh iya iyaaa, mas ini ya." Rahma sudah berdiri di dekat Irsyad.
"Lihat. Itu apa?" tunjuk Irsyad mengarahkan kesebuah kursi meja makan.
"Astaghfirullah kok ada di sana sih." Rahma berjalan cepat menuju ke arah dapur. Irsyad pun menyusul.
"Dek Rahma ini bagaimana sih, mas kan bilang, mencari sesuatu kalo pakai emosi, barang di depan mata juga nggak akan terlihat."
"Duhhh, iya mas iya... Ya sudah ya Rahma harus ke warung."
"Mau beli apa lagi. Tadi dek Rahma bukannya sudah dari warung ya?"
"Iya tadi beli penyedap rasa, dan nggak ngeh kalau garam habis."
"Lah, kenapa tidak sekali tadi dek?"
"Kan tadi Rahma bilang mas, kalo Rahma nggak ngeh." Tuturnya sembari melangkah keluar setelah mengenakan hijabnya.
"Dek tunggu, coba sini di liat dulu apa lagi yang kurang. Kamu kebiasaan. Setiap masak pasti bolak-balik ke warung ada saja yang kurang. Cek dulu semuanya baru kamu ke warung."
"Iya mas iya." Rahma mengecek semuanya.
"Bumbunya lengkap tidak tuh?" tanya Irsyad.
"Ketumbar abis kayanya. Ahhh kemiri juga." gumamnya.
"Benar kan? Inget-inget tuh yang perlu di beli ya. Biar nggak balik lagi ke warung."
Rahma terkekeh. Lalu mengecup pipi suaminya. "Iya iya sudah ku catet di otak, Rahma tidak akan balik lagi kok hehehe. Assalamu'alaikum Rahma ke warung dulu ya."
"Walaikumsalam." Jawab Irsyad. Ia pun kembali melangkah menghampiri kedua anaknya. Baru beberapa detik Rahma kembali masuk.
"Apa lagi dek? Kok balik?"
"Dompet Rahma ketinggalan." tuturnya sembari terus melangkah masuk guna mengambil dompetnya.
"Astaghfirullahalazim, Rahma...Rahma..." Irsyad geleng-geleng kepala.
Memang seperti itulah ke riweuhan dua keluarga bahagia itu. Hehehe.
__ADS_1
______________________________________
Extra part masih ada ya... Jadi tunggu saja kelanjutannya hehehehe....