
Bulan berganti bulan kandungan Rahma sudah memasuki trimester akhir. Saat itu Rahma tengah menjalani ibadah sholat subuh bersama Irsyad. Setelah berzikir Irsyad pun meraih Al Qur'an di dekatnya.
Terlihat sekilas Rahma meringis. Hal itu pula membuat Irsyad urung meraih Al Qur'an tersebut dan beralih fokus pada Rahma.
"Dek, kenapa?" tanya Irsyad.
"Entahlah, rasanya tidak nyaman, bagian pinggang belakang Rahma sedikit panas dan pegal."
"Ya sudah, kita tidak usah mengaji ya, yuk mas antar Ade ke kamar." ucap Irsyad, Rahma mengangguk, dengan Hati-hati Irsyad membantu Rahma bangun. Terlihat kesusahan Rahma dengan perutnya yang besar itu, usia kandungan Rahma baru menginjak delapan bulan kurang satu minggu. Namun rasa tidak nyaman itu sudah mulai terasa sejak usia kandungannya berjalan tujuh bulan.
Di dalam kamar, Irsyad membantu Rahma, perlahan Irsyad mengangkat kaki Rahma, naik ke atas ranjang, karena Rahma mengenakan daster yang hanya mencapai betis Irsyad sedikit melebarkan bola matanya saat mendapati darah mengalir di bagian atas lututnya.
"Dek, kok ada darah ya?" tanya Irsyad sedikit khawatir.
"Masa sih mas?" Rahma tidak bisa melihatnya.
"Iya dek sungguh."
"Jangan-jangan Rahma pendarahan mas." Rahma mulai panik.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit saja ya." ajak Irsyad, Rahma pun mengangguk.
Perlahan Rahma kembali beranjak duduk, sedangkan Irsyad membantu meraih gamis Rahma dan membantunya mengganti pakaian.
"Rahma bisa sendiri mas." tutur Rahma.
"Tidak apa dek, mas cuma ingin membantunya. Kamu tidak merasa kesakitan kan?"
Rahma menggeleng pelan, setelah selesai keduanya pun beranjak, dan benar saja ada bercak darah di atas ranjang mereka.
"Ya Allah Rahma darahnya banyak sekali." Irsyad semakin panik.
"Tenangkan diri mu mas, dan maaf Rahma minta tolong, sepertinya Rahma harus pakai pembalut, apa mas mau mengambilkannya? Tanya Rahma."
"Iya, sebentar ya." Dengan cepat Irsyad berjalan masuk ke dalam bilik kamar mandi guna meraih pembalut yang berada di dalam lemari gantung, lalu kembali menghampiri Rahma.
"Mas, keluar sebentar deh, Rahma mau pakai pembalut."
"Sayang kenapa mas harus keluar sih, sudah mas bantu juga tidak apa-apa kok."
"Ya tapi Rahma malu mas, sudah mas keluar dulu ya."
"Disaat seperti ini masih malu sama suami dek Rahma sendiri? Sudah mas mau bantu pokoknya." Irsyad meraih pakaian dalam Rahma.
__ADS_1
"Mas jangan, sungguh Rahma malu."
"Sudah tidak apa, mas harus membantu mu."
Benar saja dengan bantuan Irsyad Rahma sudah memakainya. Dan Irsyad melepas seprai yang terkena noda darah Rahma lalu merendamnya terlebih dulu, setelahnya mereka pun bergegas menuju rumah sakit terdekat.
Ketegangan terpancar di wajah Irsyad, sembari membawa laju mobilnya. Ia tidak hanya takut dengan kondisi kedua anaknya, namun juga khawatir dengan kondisi Rahma yang terlihat lemas dan pucat itu.
"Ade serius tidak merasakan sakit?" tanya Irsyad. Sembari meraih tangan Rahma dengan tangan kirinya.
Rahma menggeleng lemah "hanya lemas mas, mungkin karena efek pendarahan Rahma."
"Mas hanya minta dek Rahma bertahan ya, usahakan terus untuk tetap sadar sayang. Baca sholawat, dan juga doa yang mas ajarkan ke Rahma ya?" Irsyad mengecup tangan Rahma. Sedangkan Rahma hanya mengangguk pelan.
Mobil semakin melaju kencang. Keadaan langit di luar sudah mulai terang. Dan kini Mobil Irsyad sudah berhenti di depan ruangan UGD. Dengan di bantu dua orang perawat yang membawakan kursi roda, Rahma pun di bawa masuk.
Dokter melakukan Anamnesi untuk mengetahui kondisi Rahma dan mengecek dengan memasukan jari ke lubang jalur bayi.
"Sepertinya efek pendarahan ini karena plasenta yang menutupi jalur rahimnya." tutur dokter tersebut. Ia pun melepas sarung tangan lateks nya lalu menemui Irsyad untuk berbicara.
Di hadapan Irsyad dokter mulai membicarakan Kondisi Rahma yang harus melakukan operasi Caesar saat ini juga. Di samping kondisi sang ibu yang melemah, adanya plasenta yang menyumbat jalannya pun membuat pendarahan hebat pada Rahma. Hal itu juga yang membuat khawatir dokter tersebut akan kondisi Rahma dan kedua anak kembarnya itu.
Tanpa berfikir panjang Irsyad lantas memutuskan untuk menyetujui proses operasi Caesar Rahma, dan berharap dokter bisa menyelamatkan ketiganya.
Dengan itu pula proses operasi pun di siapkan, dokter spesialis kandungan yang tadi tengah berbicara pada Irsyad kembali fokus pada Rahma, sedangkan Irsyad kini tengah berbicara pada salah seorang dokter spesialis anestesi.
"Saya percayakan pada dokter dan tolong usahakan selamatkan istri dan anak-anak saya dok." tutur Irsyad dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kami satu tim hanya akan berusaha semaksimal mungkin pak, selebihnya tetap, Tuhan yang menentukan. Karena operasi ini termaksud operasi besar. Jadi bapak berdoa saja, semoga ibu dan anak-anaknya bisa terselamatkan."
Irsyad menitikkan air matanya. "Semoga saja pak."
"Kalau begitu saya tinggal dulu, bapak bisa tandatangani surat persetujuan, dan surat pernyataannya." tutur Dokter Rudi, Irsyad mengangguk pelan tak lama seorang perawat menghampiri Irsyad dan memberikan surat persetujuan tersebut untuk di tandatangani Irsyad.
Dengan mengucapkan bismillah Irsyad mulai mengguratkan mata pena nya di atas kolom tanda tangan, setelahnya ia pun mendekati Rahma terlebih dulu sebelum proses operasi di jalankan.
"Dek Rahma, istri mas, jangan lupa beristighfar ya sayang, berdoa juga. Mas akan mendoakan mu dari luar, mas sebenarnya ingin mendampingi mu di dalam namun tidak di izinkan." Irsyad mengusap-usap kepala Rahma.
Rahma tersenyum tipis. "Mas tenang saja, insya Allah Rahma akan baik-baik saja."
Air mata Irsyad kembali menetes, ia mengecup kening Rahma dengan waktu yang lumayan lama sembari memanjatkan doa untuk keselamatan Rahma dan kedua anaknya yang masih berada di dalam kandung Rahma. "Mas mencintai mu Dek Rahma. Tolong berjuang dengan baik ya di dalam, dan keluarlah dengan senyuman manis dek Rahma untuk mas." Bisik Irsyad dengan Air mata yang terus saja mengalir dari sudut matanya, kecupannya berpindah ke pipi Rahma.
"Mas jangan seperti ini, Rahma jadi takut."
__ADS_1
Irsyad melepaskan kecupannya. Lalu menatap Rahma dalam-dalam. "Jangan takut sayang, InsyaAllah, Rahma akan baik-baik saja." ucap Irsyad sembari tersenyum. Rahma pun mengangguk.
Setelahnya dua perawat pria yang sudah mengenakan pakaian khas ruang operasi itu menghampiri keduanya.
"Maaf bapak, kami harus membawa ibu Rahma ke ruang operasi karena operasi akan segera di mulai." tutur salah satu dari mereka.
Rahma tersenyum. "Do'akan Rahma ya pak ustadz." ucap Rahma lirih.
Dalam tangisnya Irsyad sedikit terkekeh. "Iya sayang." Mengecup sekali lagi kening Rahma lalu berjalan mundur sedikit menjauh dari bed Rahma.
Keduanya pun membawa ranjang Rahma menuju ruang operasi, Irsyad mengikuti dari belakang dan tertahan di depan ruang operasi tersebut.
Sembari menanti ia pun duduk di sebuah kursi panjang dengan tasbih yang ia pegang, Irsyad mulai berzikir mendoakan istrinya yang tengah menjalani operasi di dalam.
Di ruangan operasi tersebut. Setelah dibantuin perawat wanita untuk melecuti pakai Rahma dan menggantinya dengan pakaian khas pasien operasi, Rahma pun mulai mendapatkan suntikan bius separuh badan dengan posisi duduk, lalu kembali di minta untuk merebahkan tubuhnya. Dengan di tutupi kain di bagian bawah dadanya, lampu operasi mulai menyala.
"Anestesi siap." tutur Dokter Rudi.
"Baik, pisau bedah." titah Dokter Doni spesialis bedah, sedangkan dokter Sarah spesial kandungan itu masih mengamati pembedahan di bagian perut bawah dengan beberapa sayatan karena perut terdiri dari beberapa lapis kulit. Hingga ke rahimnya.
Di sisi lain Rahma masih terus berzikir, rasa takutnya masih ada, hingga tak lama ia mendengar suara tangisan bayi. Air mata Rahma mulai menetes.
"Bayi pertama sudah lahir." Seru seorang di sana. Terdengar pula suara alat penyedot guna menyedot cairan ketuban yang masuk tertelan oleh bayi. Setelahnya memberi penjepit pada tali pusarnya lalu mengguntingnya pelan. Tak lama Seorang dokter mendekati Rahma sembari menunjukkan bayinya.
"Bayi pertama ibu berjenis kelamin laki-laki bu. Selamat ya." tuturnya, Rahma mengucap syukur, dokter Sarah menyerahkan bayi tersebut pada seorang perawat untuk di bawa keluar.
Tak lama Rahma kembali mendengar suara tangis kedua.
"Bayi kedua telah lahir." Serunya lagi. Setelah mendapatkan penanganan pertama bayi itu kembali di bawa ke hadapan Rahma.
"Selamat sekali lagi bu, bayi kedua ibu perempuan." tuturnya.
Tak henti-hentinya Rahma mengucap syukur. Dengan air mata yang menderas.
Saat ini kedua bayinya sudah di bawa keluar menuju ruang perawatan sebelum akhirnya di adzani oleh Irsyad.
Masih di ruangan operasi, kini dokter tengah menutup lukanya dengan cara menjahit bagian dalamnya.
Di saat yang sama Rahma mulai merasakan ada sesuatu yang aneh, ia merasa sesak nafas dan jantung yang berdebar kencang.
Dengan isyarat tangannya dokter Sarah mengganti selang oksigennya dengan masker oksigen.
Rahma masih berusaha menghela nafas panjang dan menghembuskan nya pelan demi mendapatkan oksigennya.
__ADS_1
Melihat kondisi Rahma Dokter Rudy pun menyuntikkan suntikan kedua. Membius total Rahma, karena Rahma sedikit mengalami kejang-kejang.
Bersambung.....