
Di luar langit masih temaram. Angin sejuk masih berhembus dengan dinginnya.
Menunggu sang mentari keluar dari tempat peraduannya.
Embun pagi yang menyejukan menemani Rumi yang tengah memanaskan mesin motor di luar, sementara Rahma berjalan tergopoh-gopoh menghampiri sang putra dengan jaket di tangan.
"Kakak, pakai ini jaketnya." Titah Umma Rahma sembari memasang jaket tersebut di bahu Rumi.
"Ya Allah Umma," terkekeh karena masih di perlakukan selayaknya anak kecil yang perlu di pakaikan jaket saat akan bepergian. Belum lagi tatapan sedihnya. "Jangan nangis Umma." Mengecup kening Ummanya, sembari mengusap-usap bahu beliau.
"Hiks, Umma masih kangen, belum lagi kemarin kamu habis di pukul Abi. Umma kan tidak tega."
Terkekeh. "MashaAllah, Umma...Umma." di pelukannya sang ibu dengan sangat erat.
Sementara Irsyad yang keluar hanya bisa geleng-geleng kepala, menghampiri mereka berdua. "Anak mau sekolah di gituin sih Umma kebiasaan ya."
"Habis kakak ambil S2 jauh banget ke Bandung, padahal Jakarta kan ada."
"Umma? hei, Jakarta-Bandung itu nggak jauh, lagian Kakak juga dua Minggu sekali pulang. Berlebihan sekali sih."
"Huuuaaaaa masih kangen kakak."
"Ya Allah Umma." Rumi Terkekeh, menunggu sejenak sampai Ummanya itu puas memeluk Rumi, sembari mendengarkan ribuan kata-kata wejangan dari Ummanya barulah Rumi bersiap dan berangkat ke Bandung menggunakan motor CBRnya.
Irsyad menoleh ke arah Rahma dan mengusap-usap kepalanya. "Yuk masuk, bantu Abi beres-beres," ajak Irsyad, Rahma pun mendengus, namun tetap menuruti suaminya melangkah masuk bersama.
***
Sudah tiga hari berselang Rumi di Bandung, ia mulai kembali pada rutinitasnya. Dan biasanya setiap Jumat Siang dia akan mengadakan kajian di masjid kampus, biasanya kajian akan di mulai pukul dua siang dan akan berakhir di waktu ashar sembari melangsungkan solat berjamaah di sana.
__ADS_1
Dan saat waktu masih menunjukkan pukul satu siang, seorang gadis dengan rambut sebahu itu baru saja keluar dari Greja setelah mengikuti kebaktian di Gereja Katolik bersama keluarganya.
"Debby mau kemana?" Seru sang Mama, yang merasa aneh dengan gadis itu.
"Ke kampus Ma—" sembari berlari.
"Kampus? Betah sekali sih anak itu di kampus." nyonya Brigitta Geleng-geleng kepala, sementara Gallen kakak dari Debby sudah siap dengan mobilnya, menunggu ayah dan ibunya masuk ke dalam mobil keluarga mereka.
Ayah Debby adalah seorang pendeta di salah satu gereja katolik di sana, keluarga itu memang selalu membiasakan anak-anak mereka untuk rutin menjalani kebaktian agar semakin dekat dengan Tuhan mereka.
Dalam laju motor seorang ojek online membawa gadis itu kembali menunju kampusnya. Ia pun menyempatkan waktu menuju toilet umum guna mengganti pakaiannya, karena saat ini dia menggunakan dress sebatas lutut.
Setelah mengganti pakaian yang lebih tertutup, ia pun mengeluarkan sebuah pasmina dari dalam tasnya, seraya tersenyum.
"Untung selama ini aku tidak ketahuan Mama, kalo aku punya hijab." Terkekeh, lalu menggunakannya.
Kini pasmina sudah terpasang sempurna, sesuai yang ia pelajari dari teman-teman muslimahnya kala mereka menggunakan hijab itu.
Ia pun keluar dari toilet tersebut, dan berpapasan dengan beberapa mahasiswi lain yang menatapnya aneh.
Sembari berbisik-bisik, namun gadis itu tidak peduli, ia tetap saja berjalan dengan riang meninggalkan para mahasiswi yang masih memandanginya itu.
"Ehhh dia itu anak Non-muslim kan ya?"
"Iya, sudah biasa dia begitu."
"Ya ampun, tapi terharu juga aku loh."
"Emmm." Mereka berdua pun masuk ke dalam toilet tersebut.
__ADS_1
Sementara Debby berjalan cepat menuju masjid kampus. "Tidak sabar, rasanya ingin mendengar suaranya yang lembut." Gumam Debby yang sudah mulai masuk ke dalam masjid dan duduk di antara para jamaah wanita.
Walaupun tatapan aneh terus saja tertuju kepadanya Debi tidak peduli yang pasti saat ini dia bisa mendengarkan ceramah Ustadz Rumi. Seperti itu mereka mengenal Rumi.
Hingga sebuah suara dengung mikrofon menandakan jika Rumi sudah berdiri di atas mimbarnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabbarokatuh."
"Walaikumsalam warahmatullaahi wabbarokatuh." Jawab semua jamaah yang sudah berkumpul di sana.
"Senang saya kalo melihat teman-teman kumpul, janjiannya jam dua, eh jam dua kurang seperempat sudah ramai, seolah mematahkan tradisi jam karet kita ya. Padahal niatnya saya mau minum es cendol dulu tadi," ucapan Rumi membuat semua yang di sana terkekeh, lebih-lebih Debby yang mulai meronta-ronta di hatinya.
"Tapi sebelum itu kita baca sholawat nabi dulu ya, biar mendapatkan syafaat dari Beliau. Dan juga mendapatkan keberkahan di hari Jumat ini. Walau suasana hati tak secerah mentari ya, apalagi yang jomblo? Sama saya juga jomblo." Terkekeh.
"Tapi jomblo fisabilillah, kaya temen-temen semua pasti nih, makannya hati juga turut terik seperti mentari di luar, karena ngeliat pasangan halal ya, jadi panas gitu." Terkekeh lagi. Setelahnya Rumi pun mulai memimpin pembacaan sholawat tersebut hingga selesai dan di mulailah ceramah singkat nya, mengambil tema tentang Apa yang kita inginkan belum tentu itu yang terbaik untuk kita (maka Berhusnuzon kepada Allah-lah jawabnya)
"Jadi gini teman-teman? Pernah tidak sih kita merasa kaya menginginkan sesuatu, contoh saja mengagumi seorang ukhti, atau sebaliknya ya. Terus kita berjuang sedemikian rupa, dari sholat malam, sampai puasa, yang parah sampai main dukun ya? Ada tidak yang seperti itu di sini? Tidak ya, semoga tidak ada Nauzubillah. Nah kita sudah berjuang, kerja, nabung buat mengkhitbah orang itu. Tapi kok ternyata nggak dapet. Alasannya apa? 'kamu jelek cuma ustadz biasa' asiiikk, nggak mungkin kan nolak tapi bilangnya 'kamu terlalu sempurna untukku' basi ya nolak seperti itu, cewe sih biasa hehehe." Terkekeh.
"Pasti ada kan ya? Keluhan di hati, kaya menyalahkan Tuhan, seolah-olah apa yang kita lakukan itu sia-sia." Ucap Rumi.
"Atau mungkin contoh lain, kita itu tengah memperjuangkan sesuatu lain dan kita sudah berusaha keras tuh tapi kalah dengan mereka yang bahkan tidak berjuang sama sekali, kaya kompetensi masuk perguruan tinggi? Yang niat siang malam belajar bahkan sampai kurang tidur, telat makan dan berujung sakit, demi bisa masuk ke perguruan tinggi negeri favorit kita, tapi ternyata apa? Kita tidak masuk, sedangkan si Fulan yang hanya modal tidur dan main nggak ada usahanya sama sekali, bahkan daftar aja asal daftar gitu. Eh dia lolos. Sakit nggak tuh? Patah hati, kecewa, iya kan?"
"Itu manusiawi sebagai seorang manusia ya, bahkan saking kecewanya kadang kita menyalahkan Tuhan. 'kok gini sih? Aku berjuang loh, berdoa juga, kok tega banget sih Allah sama saya' itu kerap terjadi di hati kita, dan Yang tadinya kita sudah semangat buat ibadah akhirnya redup, karena rasa Kecewa terhadap Allah itu sendiri yang. sampai-sampai muncul fikiran buruk di diri kita yang menganggap bahwa hidup ini tidak Adil, Allah tidak sayang karena tidak berpihak pada mereka yang yang sudah berjuang keras, saya hanya orang biasa yang tidak akan di dengar doanya."
"Padahal teman-teman, kapan sih? Allah berpaling dari kita? Kapan sih Allah tidak memberikan apapun yang kita butuhkan, seperti hidup ini?"
"semua kebutuhan kita, Allah pasti cukupi, dari yang kita inginkan Bahkan yang nggak kita inginkan sekali pun kalau itu baik Allah pasti kasih. Tergantung manusia itu sendiri sadar atau tidak, bersyukur atau tidak, dengan kemurahan Allah itu. Walaupun di saat kita sedang tidak dalam keadaan beriman sekalipun."
"Dan ketika kita berusaha mendekat, demi bisa mendapatkan apa yang kita inginkan itu, kerap kali kita di beri sebuah kekecewaan dulu, biar apa? Biar Allah tahu sifat kita, masih bisa berhusnuzon tidak kita terhadapNya, saat apa yang kita inginkan dan kita ucap dalam setiap doa itu tidak terwujud."
__ADS_1
"Karena yang perlu kita tahu teman-teman ku yang seiman, bahwasanya sebuah pengharapan itu terkadang tidak langsung kita dapatkan dalam kehidupan di dunia, bisa jadi nih harapan kita di tunda dulu, atau mungkin itu tidak baik untuk kita, dan di ganti sama Allah dengan cara dihindarkan dari keburukan hidup dan dibalas di hari akhir nanti. Jadi kita harus bertawakal dan yakin akan rencana Allah itu jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan, jangan sampai kita tidak meyakinkan itu, lalu berzu'udzon kepada Allah, maka kita tidak akan mendapatkan apapun kecuali kehampaan dan keputusasaan."