
Gadis itu masih mengusap-usap mukenah di pangkuannya, lalu bergegas meraih bantal saat mendengar langkah kaki mendekati pintu kamarnya. Dan membuka pintu kamar itu.
"Deby, charger kakak mana?" Tanya kak Gallen, kakak kandung Deby. Gadis itu sedikit panik karena masih memegang mukena dalam pangkuannya yang ia tutupi dengan bantal.
"Di, di meja itu." Menunjuk ke arah meja belajar. Kak Gallen pun berjalan masuk mendekati meja belajar lalu meraih charger miliknya.
"Kalo minjem langsung balik, jangan kaya gini."
"Iya...iya ... Bawel sana keluar."
"Ngusir lagi, eh... Itu kamu di panggil mamah. Sana ke dapur."
"Iya sebentar lagi..! Sudah sana keluar." Titah Deby. Sementara kakaknya langsung keluar, dan menutup lagi pintu kamar itu.
"Haaaahh," bernafas lega, ia pun bergegas menyimpan lagi mukena miliknya, dengan membungkus menggunakan keresek Hitam lalu menyembunyikannya dalam tumpukan paling bawah, setelahnya melangkah keluar.
***
Kembali ke Jakarta.
Rahma tengah menyirami tanaman, sementara Irsyad tengah mencabuti rumput-rumput liar, seorang gadis pun datang dengan perutnya yang sedikit membesar.
"Assalamualaikum, Bu." Sapa gadis itu seraya tersenyum.
"Walaikumsalam warahmatullah. Qori? Kamu Qori temannya Nuha kan?" Rahma mendekati gadis itu. Namun pandangannya tertuju pada perut buncitnya. Bukan apa-apa, masalahnya yang ia tahu Qori belum menikah.
"Iya Bu, benar. Nuha ada?"
"Ada sayang, yuk masuk." Ajak Rahma, ia pun menuntun gadis itu masuk ke dalam rumah, mengucapkan salam sejenak pada Irsyad saat melewati beliau, Irsyad pun menjawabnya.
Di dalam ruang tamu itu, Rahma mempersilahkannya duduk. "Tunggu sebentar ya, Umma panggil Nuha dulu."
"Iya Bu." Tersenyum.
Rahma pun berjalan masuk, ia sangat penasaran sebenarnya dengan kondisi gadis itu, sudah sangat lama tidak pernah berkunjung, ketika berkunjung kondisinya sudah lain. Bahkan seperti ada memar di dekat matanya.
Ia pun bergegas masuk ke dalam kamar Nuha setelah mengetuk lebih dulu.
"Nuha."
"Iya Umma?" Gadis itu baru saja mandi, dan kini sedang mengeringkan rambutnya.
"Di luar ada Qori."
"MashaAllah Qori? Ya Allah, lama tak jumpa." Bersemangat.
"Tapi, sepertinya dia sedang mengandung Nuha."
"Ehh? Masa sih? Nggak mungkin Umma, Qori belum menikah."
__ADS_1
"Tapi perutnya membesar."
Tok tok tok... Keduanya menoleh ke arah pintu, dan sudah ada Abi Irsyad berdiri di sana.
"Jangan gibah, cepat keluar dan temui dia, Nuha." Titah Abi Irsyad.
"Iya Bi." Jawab Nuha, ia pun meraih hijabnya lalu berjalan keluar.
Sementara Abi Irsyad menjentikkan jari telunjuknya. Bersamaan dengan itu Rahma mendekat. Lalu di jewerlah telinga Rahma.
"Mas... Mas iiih, sakit."
"Enak ya mau gibah?"
"Gibah? Siapa yang gibah sih?"
"Tadi apa namanya?"
"Ya Allah cuma tanya mas."
"Sebaiknya tidak usah mencoba mencari tahu masalah apapun Umma." Mengusap-usap kepala sang istri.
"Bukan mau tahu, cuman hanya khawatir Bi,"
"Khawatir apa khawatir? Sudah buatkan minuman saja sana buat temannya Nuha. Abi melihat ada masalah di dirinya."
"Suuzon nih? Fitnah itu loh dek."
"I...iya... Iya maaf. Sudah jangan jewer lagi. Merasa jatuh harga diri ku kalau sampai Nuha lihat kan?" Bersungut. Irsyad pun terkekeh.
"Sudah sana buatkan minum."
"Iya!" Berjalan menjauhi Irsyad. sementara sang suami hanya geleng-geleng kepala.
Di ruang tamu.
"Assalamualaikum Qori." Nuha menyapa, gadis itu pun beranjak seraya tersenyum.
"Walaikumsalam warahmatullah Nuha." Keduanya saling berpelukan. "Apa kabar?"
"Baik Qori, kau bagaimana?"
"Seperti yang kau lihat." Tersenyum kecut.
"Maaf? Ini?" Nuha ingin bertanya tapi ia ragu, salah-salah dia bisa menyinggung perasaan Qori.
"Iya, aku sedang mengandung."
"Ya Allah. Tapi kau kan?"
__ADS_1
Qori menitikkan air matanya. "Aku ingin bercerita Nuha, aku sudah tidak bisa menyimpanya lagi."
"Ya Allah, ya sudah kita bicara di kamar ku saja yuk." Ajak Nuha, Qori pun mengangguk. Lalu mengikuti langkah Nuha dengan tangan yang di gandengnya masuk.
Baru saja mereka hendak naik tangga, Rahma keluar, dengan kue kering dan dua gelas minuman dingin.
"Umma?" Ucap Nuha.
"Kalian mau ke atas ya?"
"Iya Umma, sini biar Nuha bawa sendiri saja." Ucap Nuha.
"Ya sudah." Menyerahkan nampan itu.
"Ayo Qori." Ajak Nuha. Qori pun mengangguk pada Rahma lalu mengikuti langkah Nuha lagi.
"Ya Allah, anak itu. Kenapa aku rasanya iba sekali ya?"
Di dalam kamar Nuha, mereka pun duduk berhadapan di atas ranjang itu.
Nuha menyentuh wajah Qori yang sedikit memar.
"Qori, ini kenapa?"
"Bapak," baru mengucap itu, dia sudah terisak. Nuha pun langsung memeluknya. Ia tahu betul ayahnya sangat lah kejam kepadanya, apalagi semenjak sang ibu pergi dengan selingkuhannya. Semua kesalahan seolah di limpahkan kepada gadis itu. Qori adalah teman SMAnya dulu, ingat sekali saat gadis itu sering tidak masuk sekolah karena ayahnya yang selalu melarangnya berangkat sekolah jika dia sedang dilanda depresi yang mengakibatkan tingkat emosionalnya tinggi. Itulah mengapa Qori sering di minta untuk di rumah saja dengan berbagai alasan.
Setelah dirasa Qori mulai tenang, Nuha pun menyentuh perutnya yang membesar itu.
"Kau, benar-benar hamil Qori?" Tanya Nuha, gadis itu pun mengangguk.
"Tapi aku tidak pernah berzinah, aku berani bersumpah Nuha." Isaknya.
"Lalu bagaimana kau bisa hamil?"
"Ceritanya panjang, intinya. Aku menyewakan rahim ku untuk keluarga kaya, dengan proses bayi tabung, tanpa berhubungan badan Nuha."
Nuha mengerti, karena ada prosedur medis yang di sebut IVF atau bayi tabung. Yaitu dengan cara pengambilan sel telur dari ovarium wanita untuk dibuahi dengan ******, sehingga pembuahan terjadi di luar rahim. Telur yang sudah dibuahi ini atau embrio kemudian diimplantasikan ke dinding rahim wanita, sehingga terjadi kehamilan.
"Bagaimana bisa kau melakukan itu Qori?"
"Ayah ku banyak hutang Nuha, hampir setiap hari penagih hutang datang ke rumah kami dengan sangat kasarnya. Dan singkat cerita, ada keluarga kaya raya yang rela membayar mahal jika aku bersedia menyewakan rahim ku untuk membesarkan bayi ini dalam kandungan ku." Tutur Qori sementara Nuha masih mendengarkan dengan tatapan ibanya.
"Aku sedih Nuha, semua orang mengolok-olok diriku yang hamil tanpa suami, mereka tidak tahu kalau aku tidak pernah berzinah. Bahkan aku sampai di suruh melepaskan hijab ku melalui cibiran mereka, karena bagi Mereka, aku tidak pantas menutup bagian atas ku, namun menjadikan bagian bawah ku sebagai warung."
"Innalilah..." Nuha menangis, ia tidak tahu lagi seperti apa perasaan Qori saat ini. Ia pun memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Aku tidak kuat lagi Nuha, aku tidak tahan lagi. Dan memar ini ku dapatkan dari ayah ku, karena beliau masih saja minum-minum di luar. Sampai ke habisan uang lagi. Hiks. Aku ingin keluar dari rumah itu namun aku tidak tahu harus kemana." Semakin terisak gadis itu di pelukan Nuha.
Sementara Nuha hanya menepuk-nepuk punggung itu agar Qori bisa sedikit lebih tenang, sebelum ia memberikan berbicara lagi.
__ADS_1