
Nuha gadis berusia dua puluh tahun, tengah berlari kecil memasuki pelataran sebuah rumah Tafiz.
"Assalamualaikum—" Nuha menghentikan laju kakinya tepat di belakang seorang ustadz dan satu orang pria yang entah siapa. Keduanya pun menoleh bersama.
"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab keduanya berbarengan.
"Maaf pak ustadz Rahmat, Nuha terlambat. Tadi ban motor Nuha bocor jadi Nuha naik angkot, dan dari jalan raya ke rumah Tafiz ini ternyata jauh. Jadi Nuha maraton deh." Tersenyum lebar.
Ustadz Rahmat Terkekeh "ya Allah, sampai lari segala. Jadi ngos-ngosan kan?" Ucap ustadz Rahmat, sementara pria di sampingnya hanya diam saja.
"Saya pikir? Nuha sibuk jadi tidak bisa datang mengajar di sini."
"Bisa lah pak ustadz, soalnya Abi yang nyuruh, tahu sendiri kan Abi kalo sudah nyuruh seperti apa?" Terkekeh.
"Tapi ikhlas kan?" Tanya ustadz Rahmat.
"Ikhlas dong, Kan Nuha suka ngajar anak-anak." Tersenyum lebar. Saat ini Fokus Nuha hanya tertuju pada ustadz Rahmat bukan pria jangkung di sebelahnya.
"Ya sudah, kalau begitu langsung ke kelas mu ya,"
"Iya pak ustadz, Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab ustadz Rahmat, saat itu pula Nuha kembali setengah berlari menuju lantai dua.
"Ayo jalan." Ajak ustadz Rahmat pada pria di sampingnya.
"Dia siapa bi?" Tanya pria itu sejenak, menahan langkah Abinya.
"Nuha, masih ingat tidak? Anak perempuannya ustadz Irsyad?"
Terdiam 'ohhh, pantes. masih sama pecicilannya.' Batin Faqih.
__ADS_1
"Faqih—, Kok diam? Sana ke kelas mu."
"Iya bi." Jawab Faqih, ia sempat kan melirik ke atas sejenak lalu berjalan lebih dulu di depan Abinya.
Ya ustadz Rahmat memiliki rumah tafiz di mana beliau mengajar anak-anak calon Hafizh dan Hafizah Qur'an di daerahnya.
Singkat cerita Nuha yang baru sebulan ini menyandang gelar sarjananya memang masih menganggur itu lah kenapa ustadz Rahmat menawarkan pada ustadz Irsyad apakah putrinya berkenan untuk membatu mengajar di rumah Tafiz nya ini untuk sementara waktu, berbeda dengan Rumi yang sudah lulus lebih dulu, dia menjalani study lanjutan di ITB, sementara Nuha sebenarnya memiliki niatan untuk melanjutkan di Mesir namun belum mendapatkan persetujuan dari Abi Irsyad.
Sementara Faqih? Ya Pria itu baru saja pulang setelah lulus strata duanya di Kairo. Dan untuk sementara waktu membatu mengajar di rumah Tafiz milik Abinya itu.
Itulah awal pertemuan mereka lagi setelah terakhir bertemu di rumah Irsyad dulu saat mereka masih kanak-kanak.
Hari itu Nuha baru tahu, jika Faqih biasa di panggil oleh anak-anak di sini sebagai A' Faqih, karena keluarga Ustadz Rahmat itu masih berdarah Sunda. Itu kenapa Mereka lebih memanggil Faqih dengan sebutan Aa' .
Cuman ada hal lain lagi yang baru di ketahui Nuha, jika Faqih ternyata ustadz yang bisa di bilang killer, dimana pria itu sedikit bicara namun di takuti anak didiknya.
Bahkan setiap kali lewat kelas Faqih, Nuha sering terkejut saat mendengar suara sabetan rotan di meja. Membuat Nuha sedikit geleng-geleng, dan merasa tidak tega dengan anak-anak didiknya itu.
Hari-hari Nuha di sana bisa di bilang mudah. Namun sepertinya di dua Minggu terakhir ini dirinya merasakan ke anehan, di mana tas dan sepatunya yang ia letakkan di locker selalu berpindah tempat, sehingga membuatnya harus kelimpungan setiap hari mencari barangnya itu.
Seperti contohnya hari ini, loker itu memang tidak ada pintunya seperti sebuah rak kayu biasa. Tempat menyimpan tas, buku dan sepatu. Karena biasa di sana mereka akan mengenakan sandal jepit, mau bagaimana lagi, setiap pintu masuk ruangan terdapat kolam kecil, dan mereka yang hendak masuk harus membasahi kaki mereka itu, guna menghindari najis di kaki mereka.
Saat ini Nuha masih kelimpungan mencari tas nya. "Ya Allah, tas ku dimana? Masa iya setiap hari ada orang jail yang nyimpen tas ku sih?" Berjalan dengan kesal menyusuri setiap locker yang ada.
"Ustadzah—, cari apa?" Tanya seorang wanita di dekat Nuha. (Julukan para guru di madrasah, ataupun majelis pasti akan di sebut ustadz dan ustadzah.)
"Ini Uzt, lagi nyari tas."
"Loh, hilang lagi?"
"Iya?" Jawab Nuha.
__ADS_1
Wanita di sebelahnya pun melihat sesuatu seperti tas Nuha. "Itu bukan Ust?" Seru wanita tersebut sembari menunjuk ke Locker yang lumayan tinggi. Nuha pun menoleh.
"Astagfirullah al'azim, Rese deh... Siapa sih yang selalu memindahkannya?" Terlihat jengkel gadis itu mendekati locker tersebut. Sedikit melompat Nuha meraihnya.
"Kok bisa ya ust? Jangan-jangan ada penggemar rahasia ini." Ngeledek.
"Apa sih Ust, tidak mungkin lah." Sudah berhasil meraihnya.
"Kali saja kan?" Terkekeh. Nuha pun hanya geleng-geleng kepala.
"Ya sudah ust saya jalan dulu ya? Malam ini mau pergi sama Abi dan Umma ku soalnya, Assalamualaikum." Nuha pun berlari.
"Walaikumsalam warahmatullah." Tersenyum. Gadis itu pun kembali berjalan menuju lockernya.
Di sisi lain Nuha berpapasan dengan A' Faqih, wanita itu menganggukkan kepalanya, lalu berjalan melewatinya.
"Cepat sekali ketemu nya?" Gumam Faqih sesaat setelah Nuha Pergi. Pria itu pun kembali melangkahkan kakinya pergi.
epilog...
Beberapa jam sebelum Nuha pulang, Faqih selalu lewat lorong di mana para locker itu berjejer di pojok lorong.
Dalam diamnya pria itu terus saja berjalan hingga menyawel satu tas yang ia kenal lalu memindahkannya ke loker lain.
Seperti itulah setiap harinya, entah apa tujuannya. Namun Faqih tidak pernah absen melakukan itu, sehingga membuat si pemilik barang itu selalu geram di buatnya.
****
Bonus cerita selesai....
Terimakasih sekali lagi sudah mengikuti cerita ustadz Irsyad ini ya....😘😘😘😘
__ADS_1