
Masih di hari yang sama. Setelah pulang dari rumah sakit Irsyad kini tengah menghadiri acara syukuran di salah satu rumah yang terdapat di gang depan komplek mereka, sebagai pemimpin tahlil di sana. Sudah biasa Rahma sendirian di rumah, selain di tinggal bekerja tak jarang juga di tinggal sampai berhari-hari jika Irsyad tengah di panggil untuk mengisi pengajian di luar kota.
Ustadz Irsyad memang akhir-akhir ini lebih sering di minta untuk mengisi pengajian. Terlebih-lebih jika di kawasan kampusnya. Tidak hanya itu pesona suaminya dikalangan para remaja juga sepertinya semakin terpancar. Bahkan beberapa kali Rahma melihat banyaknya kaum wanita yang ngetag ustadz Irsyad dengan captionnya "halalin saya dong ustadz".
Ya itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Rahma, dan hal yang ia lakukan hanyalah geleng-geleng kepala sembari terkekeh. melihat para fans ABG suaminya itu. Walaupun terkadang ingin rasanya menyentil mereka dengan caranya sendiri. Namun Irsyad selalu meminta Rahma untuk tidak terlalu menanggapi mereka, toh ustadz pun tidak pernah menanggapinya. Malah sebaliknya Ustadz semakin sering memposting foto dirinya bersama Rahma ataupun foto Rahma yang ia curi jika sedang berada di luar. Entah sedang berada di toko buku, ataupun jika Rahma tengah makan. Iya itu lah kegemarannya yang lain mengambil foto Rahma Diam-diam lalu memposting nya.
Malam itu Rahma merasa bahwa perutnya sudah dari pagi seperti nyeri. Hal itu biasa ia alami jika hendak mengalami menstruasi. Rahma mengecek lemari gantung di dalam bilik kamar mandi. Dan mendapati pembalut persediaannya sudah habis. Mungkin ia lupa saat belanja bulanan tidak membeli pembalut. Rahma pun memutuskan untuk keluar menuju warung terdekat.
Baru saja ia melangkahkan kaki masuk ke dalam warung itu. Di sana ia sudah mendapati dua ibu-ibu yang tengah bergosip. Sebenarnya Rahma bukan tipe wanita yang suka mendengarkan gosip tersebut namun ia mendengar nama suaminya di sebut sehingga membuatnya memutuskan untuk berdiam diri dulu sembari mendengarkan.
"Nonton apa sih bu Ani?"
"Oh ini Bu Gino... Ceramahnya Ustadz Irsyad, betah saja saya mendengarkan nya, beneran adem soalnya." tutur Ibu Ani, sang pemilik warung.
"Oh pantes, beruntung ya ustadz tinggal di kompleks depan, saya jadi sering melihatnya setiap hari."
"Hehe iya bu, kadang juga mampir ke warung saya, seperti tidak percaya saja seorang ustadz tenar sering belanja ke sini. Jadi grogi kalau sedang melayaninya."
"Hehehe Bener, saya yang sudah uzur saja suka melihatnya. Ingin deh rasanya saya jadiin menantu." jawab Ibu Gino.
"Haduh bu Gino ini, Ustadz Irsyad itu kan sudah punya Istri,"
"Iya saya tahu. Tapi kan, seorang ustadz sah-sah saja beristri lebih dari satu."
__ADS_1
"Benar juga sih." gumam Ibu Ani.
"terlebih istri beliau sepertinya juga maaf mandul ya bu, sudah hampir dua tahun masa iya belum juga di beri keturunan." Deeeeeeeg Rahma membulatkan bola matanya. Belum pula ada dua tahun dia sudah di anggap mandul?
"Ssstt bu, jangan bilang mandul, mbak Rahma itu pernah hamil loh." ucap Ibu Ani.
"Iya saya tahu. Istrinya pernah hamil dan hamil di luar kandungan kan. Tahu tidak? Saya punya saudara, dia kasusnya sama dengan mbak Rahma, satu kali dia hamil di luar kandungan, dua, tiga kalinya mengalami hal yang sama, akhirnya dokter menyarankan untuk mengangkat rahimnya. Dan tidak menutup kemungkinan kan? mbak Rahma akan mengalami hal yang sama bu. Lagi pula Kasian Ustadznya loh kalau tidak di kasih anak, dan harusnya istrinya juga menyadari suruh lah suaminya untuk nikah lagi." tutur Ibu Baik.
'Astaghfirullahalazim, ibu-ibu itu jika sedang gibah kejam sekali ya.' batin Rahma yang masih mendengarkan, sembari menyentuh dadanya. Sebenarnya Rahma sudah sangat kesal ingin rasanya ia mendamprat salah satu dari ibu-ibu itu. Namun ia ingat akan statusnya yang seorang istri ulama. Ia pun memutuskan untuk menguatkan hati, menghela nafas lalu berjalan masuk.
Dari sana pula ibu-ibu itu langsung gelagapan saat mendapati Rahma masuk ke dalam toko tersebut sembari tersenyum.
"Assalamu'alaikum bu, saya ingin membeli pembalut oranye satu." ucap Rahma.
"Beli apa bu?" tanya Rahma dengan sangat ramah.
"I... Ini, beli plester. bu...buat anak saya." bu Gino masih gelagapan.
"Beli plester to? Untuk menutupi luka kah?" tanya Rahma.
"I.. Iya."
"Boleh saya bertanya bu?" ucap Rahma.
__ADS_1
"Bo...boleh Mbak Rahma."
"Anak ibu perempuan ya?" tanya Rahma.
Deeeg, wanita itu tertohok. "I...iya."
"Sudah usia berapa?"
"Ma...masih enam belas tahun."
"Oh masih muda sekali ya. Emmm, tapi sepertinya tidak apa sih kalau mau di nikahi sama suami saya." tutur Rahma sembari tersenyum. Sedangkan wanita itu membisu.
"Ma..maaf Mbak Rahma ini pembalut nya." ucap Bu Ani. Rahma menoleh dan menerima bungkusan itu.
"Berapa bu?"
"Hanya delapan ribu rupiah." jawab Bu Ani. Rahma pun menyerahkan uang senilai dua puluh ribu rupiah.
Setelah menerima kembalian Rahma kembali menoleh ke arah bu Gino.
"Maaf sekali bu, tadi saya tidak sengaja menguping, jadi tidak sopan ya. Tapi kalau boleh saya berpendapat. Ucapan ibu tadi bisa loh melukai wanita yang ibu sedang gosipi itu. Dan karena saya mendengar nama saya di sebut jujur saja saya sedikit terluka, namun tidak dalam kok. Saya masih bisa memaafkan ibu. Namun lain kali di jaga ya bu, supaya tidak jadi masalah untuk ibu sendiri, terlebih ibu memiliki anak perempuan. Coba posisikan anak ibu itu ada pada posisi saya pasti ibu sedih bukan? dan lagi menjaga lisan itu penting. Karena kata suami saya, lidah itu memang tidak bertulang, dan karena itu juga, lidah bisa menyeret kita ke neraka jika kita tidak bisa menjaganya. Walaupun kita orang salih sekalipun. Maaf ya bu saya jadi berbicara panjang lebar dan menggurui seperti ini. Kalau begitu saya permisi Assalamu'alaikum." ucap Rahma.
"Walaikumsalam," jawab Bu Ani, sedangkan bu Gino masih tertunduk malu, dan merasa sangat tidak enak.
__ADS_1
Sedangkan Rahma merasa lega, karena ia bisa menahan emosinya. Coba saja, jika ia masih menjadi Rahma yang dulu sebelum di peristri oleh Irsyad sudah pasti, Kata-kata kasar akan terlontar, dan yang ia dapatkan bukanlah wajah tidak enak dari ibu itu melainkan adu argumen yang berakhir pada kebencian di keduannya. Rahma bersyukur dari situ pula hatinya merasa lega dan menang. Itu hanya segelintir yang ia dengar, tidak tahu lagi dengan gosip yang lainnya juga, yang mungkin lebih menyakitkan lagi dari pada ini.