
Karena merasa tidak di anggap Rahma memutuskan untuk keluar ruangan resepsi tersebut. Dekorasi yang mewah, dan elegan, suara musik romantis dari seorang arti yang cukup terkenal sepertinya tidak menarik lagi untuk Rahma. Ia memilih untuk menjauh dari kelompok yang berada di tingkat lebih tinggi darinya.
Rahma sedikit kesal tidak kesal lagi sepertinya sangat kesal.
Bagaimana bisa pria itu dengan santainya menggandeng tangan wanita lain di depannya padahal ia sendiri tengah berada di dekat kekasihnya itu.
Masih di area gedung, Rahma memutuskan untuk berjalan-jalan tanpa tahu akan kemana, yang pasti saat ini menyendiri lebih baik dari pada harus menjadi kentang sendiri di dalam.
Sebenarnya Rahma sudah merasa hubungan toxicnya ini dari dua tahun belakangan. Bahkan Selama merajut kasih dengan Fikri pun tidak satu, dua kali ia putus hubungan karena sikap Fikri yang terlalu gemar mengatur segala yang ada pada Rahma,
Belum lagi sikap dirinya kala memperlakukan wanita dengan sangat berlebihan di depan Rahma. Dan beliau memang paling tidak suka di tegur ataupun di larang karena bagi Fikri ada salah satu aturan yang selalu ia tekankan pada Rahma, dan Rahma tidak akan di perbolehkan untuk membantah itu.
Saat itu Rahma masih sendirian duduk di sebuah bangku taman di luar gedung. Sudah lebih dari setengah jam ia sendirian, sesekali Rahma mengecek ponselnya tidak ada satu pun pesan apalagi telfon dari Fikri.
Rahma mulai menitikkan air matanya. Ia sedih karena rasanya sulit sekali menjadi seorang kekasih Fikri. Namun ia juga kesal dengan hatinya sendiri kenapa bisa ia mencintai seorang pria seperti Fikri. Yang sudah berkali-kali membuatnya menangis namun hanya satu ucapan maaf saja Rahma sudah luluh.
Rahma sudah mulai jenuh. Ia ingin pulang saja ke kosannya namun ia takut Fikri akan marah karena pulang sendirian. Tak lama Fikri pun menelfon nya. Seperti ada hawa segar, Rahma mengusap pipinya yang basah lalu menerima panggilan telfon itu.
"Assalamu'alaikum mas."
"Walaikumsalam Rahma kau dimana?" Tanya Fikri.
"Di luar mas."
"Ngapain di luar?"
"Kan mas sudah ada dokter Imel kan?"
"Haha kamu ini, masuk sini. Sebentar lagi kita akan pulang kan?"
"Mas, Rahma nunggu di luar saja ya."
"Masuk Rahma, jangan bikin aku kesal ya. Cepat mas Fikri tunggu." Pikk telfon itu dimatikan.
"Ck, kenapa mas Fikri tidak bisa menjemput Rahma di luar sih? Atau seenggaknya meminta maaf kek." Rahma semakin kesal. Ia pun tidak punya pilihan lain selain kembali masuk kedalam gedung tersebut. Di depan pintu masuk area resepsi Fikri masih bersenda gurau dengan Imelda bahkan tangan Imelda menyentuh dada Fikri sembari tertawa lepas.
"Mas Fikri, katanya mau pulang." Seru Rahma. Dengan tatapan sebal mengarah ke keduanya.
"Sebentar ya Rahma." ucap nya ia pun kembali menghadap ke arah Imelda. "Mel, aku pulang dulu ya. Nanti kabar-kabar lagi saja." tuturnya.
"Iya Fikri, aku tunggu loh telfon dari mu."
'Ck, apa sih maksudnya. Mereka saling bertukar nomor telfon? Ayo lah Rahma marah padanya. Tegur mereka.' Rahma mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Fikri mendekati Rahma. "Yuk pulang." Baru saja Fikri akan menggandeng tangan Rahma, Rahma sudah menepis nya.
"Rahma jalan sendiri saja." jawab Rahma ketus, Seperti tidak ada rasa bersalah Fikri hanya tersenyum dan berjalan di belakang Rahma. Di dalam Lift mereka bahkan tidak berbicara apapun.
Bahkan hingga mereka berada di dalam mobil yang sudah melaju dengan kecepatan sedang.
Di dalam mobil itu ada dua ekspresi wajah yang berbeda, yang satu ekspresi kesal bercampur sedih, yang satu lagi seperti bahagia.
"Haduh Friska...Friska, bisa-bisanya kau menikah dengan Doni. Ckckck." Fikri terkekeh merasa tak berdosa.
Rahma menoleh, tangannya sudah terkepal teramat kencang, hingga detik ini pria itu sama sekali tidak ada kata maaf sedikit pun. "Mas,"
"Ya?"
"Apa tidak ada rasa bersalah sedikit pun di hati mas Fikri ya?" tanya Rahma.
"Apa sih sayang, kamu kenapa sedari tadi bete terus bawaannya." Fikri terkekeh.
"Itu mas tau kan kalau aku bete?"
"Ya terus?"
"Ya terus? Mas! Mas tahu aku kesal karena mas seperti tidak menganggap Rahma ada."
"Siapa yang mem besar-besarkan masalah mas. Mas yang keterlaluan tahu. Sadar tidak sih mas itu terlalu dekat dengan teman wanita."
Fikri menghela nafas, "cukup ya Rahma, jangan bahas itu terus, mas lelah soalnya, kau itu selalu saja mempermasalahkan soal hal ini Rahma."
Rahma mendesah sinis "Mas sebegitu tidak pedulinya kah pada Rahma. Mas tidak memikirkan perasaan Rahma ya? Sampai-sampai menggandeng tangan dokter Imelda seperti itu di depan Rahma? Sebegitu murah nya kah diri mas itu?"
Ckiiiiiiiiiit. Fikri membawa ke tepi jalan lalu menginjak rem secara tiba-tiba.
"Jaga mulut mu itu ya Rahma. Siapa yang kau panggil murah!" Seru Fikri. Tatapannya terlihat sangat tajam.
"A...aku tidak?" Rahma mulai ciut.
"Aku tanya pada mu, sudah bosan kah kau menjadi kekasih ku?" tanya Fikri. Rahma pun hanya diam saja.
"Kau kan tahu, dari awal kita berkomitmen, kalau aku ini memang seperti ini. Mau dekat dengan siapapun aku itu memang humble pada siapa saja baik pria ataupun wanita. Yang penting aku tetap setia pada mu kan??"
Mata Rahma mulai menganak. "Tapi mas melukai Rahma." Suara Rahma sangat lirih.
"MELUKAI YANG SEPERTI APA?!" bentak Fikri. Bahkan Rahma sampai memejamkan matanya dan air matanya mulai kembali menetes. "Aku tanya pada mu. Apa aku memacari mereka yang selalu ku rayu dan ku puji itu, tidak kan?" Fikri menuding kening Rahma.
__ADS_1
"Aku sudah bilang berkali-kali pada mu, bahkan mulutku ini sampai berbusa kala memberitahukan mu kalau aku tidak suka kau banyak protes dengan sikap ku yang masih suka kumpul bareng teman-teman ku, bersenda gurau dengan teman wanita. Karena yang penting aku kan tidak selingkuh dari mu. Dan kau tidak perlu marah karena hal itu Rahma!"
Rahma tertunduk sembari terisak. "Kau tidak adil mas."
"Apa maksud mu, berkata aku tidak adil?"
"Kau melarang ku memiliki kontak pria lain di ponsel ku. Kau selalu mengatur hidup ku, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Makan pun harus kau atur, terlihat gemuk sedikit kau protes meminta ku untuk menjaga bentuk tubuh seideal mungkin. Aku selalu mengikuti aturan mu, namun kau? Kau sendiri malah senang melakukan apapun semau mu."
"Jadi kau tidak suka itu? aku tanya sekarang, APA KAU MULAI JENGAH DENGAN KU?"
"IYA!!" pekik Rahma.
Fikri mendesah "Tolong jangan seperti anak kecil Rahma, bertingkah lah lebih dewasa."
Rahma pun terdiam ia masih terisak sembari tertunduk. Fikri yang merasa tidak tega melepas seat beltnya lalu memeluk Rahma. Secepat itu pula Rahma mendorong tubuh Fikri.
"Lepas mas jangan dekati Rahma. Mas Fikri tidak sayang Rahma." Rahma masih terisak.
"Mas sangat menyayangi mu Rahma."
"Tidak mas tidak menyayangi Rahma."
"Maafkan aku Rahma."
"Tidak, aku benci pada mu mas."
"Rahma tolong jangan seperti ini." Fikri masih berusaha memeluk Rahma.
"Menyingkir lah mas, jangan sentuh Rahma,"
Fikri menghela nafas. "okay sekarang mau mu apa?"
"Rahma mau hubungan kita berakhir saja mas."
"Tidak mau."
"Kenapa mas Fikri egois sekali sih?"
"Siapa yang egois Rahma, aku sudah bilang aku menyayangimu!"
Rahma semakin terisak. Sedangkan tangan Fikri sudah meraih dagu Rahma
"Pokoknya, mas tidak mau putus dari mu." ucapnya lirih sembari mendaratkan kecupan di bibir, Kini kedua bibir mereka sudah menyatu, walau kedua tangan Rahma berusaha mendorong bahunya, namun Fikri tetap ******* bagian bibir itu dengan lembut selama beberapa menit. Hingga Rahma kembali hanyut dan kemarahannya itu terendam.
__ADS_1