
Hari terus berganti, sudah tiga hari Irsyad sakit dengan itu pula Rahma memberikan seluruh perhatiannya untuk suaminya.
Dengan sangat telaten Rahma menjaga dan merawat Irsyad sampai benar-benar sembuh, hal itu yang membuat Irsyad merasakan kekaguman akan istrinya yang masih sudi merawatnya padahal ia telah menyakitinya, dan hal itu pula yang terus membuatnya merasakan penyesalan atas kata-katanya yang sudah terlontarkan tempo hari.
Pagi itu keduanya baru saja menyelesaikan sholat subuh, Zikir pagi dan mengaji sebentar. Rahma pun menutup Al Qur'an nya lalu meletakkan di tempatnya.
"Rahma sini duduk dulu, mas ingin bicara." ucap Irsyad pada Rahma yang hendak melenggang keluar dari ruang pesolatan itu, sembari menepuk-nepuk alas duduk di hadapannya.
"Iya mas." Rahma pun duduk di hadapan Irsyad.
"Hari ini kita harus ke kontrakan Aida dek." ucap Irsyad, Rahma pun terdiam.
"Mas harus mengatakannya pada Aida kalau mas, sudah salah. Lalu meminta maaf atas janji mas yang harus ingkar itu." Lanjutnya lirih.
Irsyad menyentuh pipi Rahma halus.
"Mas masih merasa bersalah pada mu dek." tutur Irsyad dengan tatapannya yang dalam itu. "Ade, pasti masih terluka karena itu kan?" Lanjutnya.
Rahma tersenyum tipis, ia meraih tangan Irsyad lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya dan meletakkan tangan itu di pangkuannya.
Rahma pun menghela nafas sejenak. "Benar mas, Di sini." Rahma menyentuh dadanya sendiri, "jujur saja, Rahma masih merasakan sesak itu, Rahma masih suka menangis, kala mengingat kata-kata mas yang tiba-tiba bilang? (Aku akan menikah mu Aida)" Mendengar itu Irsyad tertunduk.
"Dan lagi, rambut ini." Rahma menyentuh rambut Irsyad yang masih sedikit basah.
"Pagi tadi Rahma membayangkan, bagaimana rasanya saat melihat rambut ini basah setelah mas menggauli nya. Karena jika itu benar-benar terjadi, mungkin kemarin Aida sudah resmi menjadi madu ku, dan semalam suami ku sudah tidur dengan Aida di kamar yang berbeda." ucap Rahma, matanya kembali berkaca-kaca dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Rahma mendekatkan tangan Irsyad dan mengecup punggung tangan suaminya lumayan lama, "Tapi Rahma bersyukur, karena semalam, suami ku tidur di sisi ku dan rambut ini basah karena nafkah batin itu untuk Rahma bukan untuk Aida." gumamnya lirih, mendengar itu Irsyad mengecup kening Rahma.
__ADS_1
"Maafkan mas ya sayang. Mas belum bisa menjadi panutan yang baik untuk mu. Mas bahkan masih bisa melakukan kesalahan." ucap Irsyad.
"Itu manusiawi kan mas," Jawab Rahma, "Mas pernah mengatakan satu hal pada Rahma, kalau semua orang pasti tidak akan pernah luput dari kesalahan, bahkan Kyai atau ustadz sekali pun." tutur Rahma.
"Dan ku anggap semua itu sebagai ujian ku mas. Rahma ingat, seberapa kuatnya hati mas kala itu, melihat Rahma menangisi mendiang mas Fikri karena rindu. Dan mas memeluk ku hanya untuk menenangkan Rahma yang tengah merindukan pria lain, Rahma yakin mas pasti terluka sekali kan?" tanya Rahma. Irsyad tersenyum.
"Mas selalu bilang pada Rahma, Hidup itu tidak akan pernah lurus, pasti akan selalu bergelombang dan bergelombang, hilang satu masalah maka akan datang lagi masalah yang baru, dan mas juga pernah bilang kan ke Rahma, hanya orang mati saja yang tidak punya masalah. Dan semua yang terjadi ini adalah sedikit ujian untuk kita mas." lanjutnya. Irsyad pun mengusap Kepala Rahma dengan penuh kasih sayang dengan senyum bangga yang masih tersungging di bibirnya.
"Mas tidak bisa berkata-kata lagi dek, yang pasti mas ingin menutup buku ini, dan menyimpannya agar mas ingat dan tidak akan mengulanginya lagi." ucap Irsyad.
"Iya mas," Rahma tersenyum. "Emmmm, Rahma mau bikin sarapan dulu ya." ucapnya sembari beranjak. Irsyad pun menarik senyumnya itu dan melebarkan bola matanya.
"Sebentar dek, mas saja ya yang bikin sarapannya." ucap Irsyad.
"Mas? Rahma itu sudah belajar, kali ini nasi gorengnya akan enak, Rahma janji." Irsyad menyentuh tangan Rahma masih menahannya.
"Aku tau mas pasti masih ragu kan?" Rahma mengajukan bibirnya.
"Tidak, tidak kok dek mas percaya ade sudah bisa masak, sungguh."
"Ya sudah kalau begitu lepas tangan Rahma."
"Emmmmh kita masak sama-sama ya." Irsyad masih memegangi tangan Rahma.
"Tidak mau, mas itu cerewet sekali jika tengah mengawasi. Rahma kan jadi dongkol." ucap Rahma.
"Tidak kali ini tidak kok dek." Irsyad mulai beranjak.
__ADS_1
"Tidak mau mas, sudah mas di luar saja ya, nanti Rahma buatkan teh hangat. Okay."
"Mas lebih betah di dapur kok dek sambil nonton dek Rahma masak ya...ya..." Bujuk Irsyad.
"Iya, tapi janji jangan bawel ya."
"InsyaAllah nggak janji dek." jawab Irsyad lirih sembari garuk-garuk.
"Kan?" Rahma bersungut.
"Iya, iya sudah ayo ke dapur, kita masak nasi goreng ala chef Rahma. Yang paling enak bagi mas Irsyad saja." tutur Irsyad sembari melingkari tangannya di bahu Rahma dan segera membawa Rahma pergi menuju dapur.
Dan di dapur kekacauan mulai terjadi.
Rahma menuang minyak yang sangat banyak ke dalam wajan.
"Dek, itu minyak mau buat goreng apa sayang?"
"Buat nasi gorengnya."
"Ya ampun Rahma, tidak perlu sebanyak itu, nanti malah jadi gorengan nasi bukan nasi goreng lagi. Kurangi... Kurangi..." titah Irsyad.
'Kan mulai deh mode bapak rempong nya. Semoga menantu ku kelak tidak tekanan batin jika masak sama bapak mertuanya.' batin Rahma yang tengah menahan kesal.
Rahma pun mengurangi minyaknya, dan menyalakan kompornya.
"Itu kenapa di nyalahin dulu sayang, siapin dulu semuanya, bumbunya saja belum di haluskan ini lho." ucap Irsyad. Dan Rahma langsung mematikan kompornya.
__ADS_1
"Pantas saja wajan mas semuanya gosong, bumbu belum siap sudah di nyalahin kompornya." tutur Irsyad sembari geleng-geleng. Belum lagi dengan puluhan ocehan lainnya dan di situ pula tatapan Rahma berubah, yang tadinya bersemangat menjadi sebuah tatapan sebal, dan yaaaaah Rahma masih mengikuti haluan sang suami yang tingkat kecerewetannya mengalahkan cerewetnya ibu mertua killer.