
Setelah puas melihat cucu mereka. keduanya kembali mengobrol santai. Ibunda Rahma kini tengah membantu mengupas kan telur rebus yang ia bawa dari rumah. Karena anak dari teman-temannya ada yang menjalani operasi Caesar, dan beberapa dari orang tua itu lah yang menyarankan untuk memberikan Rahma putih telur yang di rebus guna mempercepat pemulihan jahitannya. Sebelum dokter menyarankan hal yang sama.
Sebenarnya bukan hanya telur namun semua jenis makanan yang berprotein tinggi mampu mempercepat pemulihan paska operasi, seperti, ikan, tahu, tempe, dan telur pastinya. Dan jika ingin mengkonsumsi telur setidaknya mengkonsumsi tujuh hingga delapan butir telur perhari.
Sedangkan dua bapak itu sedang berada di luar bangsal untuk mengobrol, entah apa yang tengah mereka bahas, mungkin tentang si kembar karena kedua seperti tengah membahas nama. Ya karena ada beberapa nama yang keluar dari mulut pak Akmal.
Sementara itu di dalam bangsal Rahma sudah memalingkan wajahnya, menolak telur yang di sodorkan ibunya.
"Habiskan Rahma."
"Sedikit mual bu, sudah dulu saja, nanti Rahma makan lagi." Rahma meringis.
"Itu tinggal separuh Rahma." tutur Ibunya.
"Nanti saja bu, Perut Rahma tidak enak." Rahma merengek karena rasa sakit di perutnya masih terasa. Hal itu pula yang membuat ibunda Rahma mengalah lalu mengusap kepala Rahma.
"Sakit sekali ya?"
__ADS_1
"Iya, terutama di bagian simpul jahitan ini. Sakit sekali rasanya." Rahma mulai menangis seperti anak kecil yang merasakan sakit, setelah efek biusnya sudah hilang total.
"Sabar sayang, seperti inilah seorang ibu yang baru melahirkan, baik Caesar ataupun normal semuanya sama saja. Jika tidak bagian perut, ya di bawah."
"Hiks... Tapi sakit sekali Rahma tidak tahan rasanya." Rahma terisak.
Mendengar suara tangis Rahma Irsyad pun masuk, mendekati istrinya itu.
"Dek Rahma kenapa bu?" tanya Irsyad.
Ia beranjak dari kursinya memberikan ruang untuk sang menantu. "Ya, mungkin efek biusnya sudah benar-benar hilang. Jadi merengek karena kesakitan." jawabnya.
"Sssssst sudah jangan nangis terus ya, nanti lukanya tambah terasa, begini saja lebih baik ade tidur saja ya, untuk mereda nyerinya." Rahma mengangguk pelan,
"Tapi mas temani Rahma," rengeknya.
"Iya sayang." jawab Irsyad dengan sabar. Irsyad pun mulai bersholawat di dekat telinga Rahma. Dengan tangan yang terus mengusap bagian kepala Rahma sedangkan tangan yang satunya mengusap lembut pipi Rahma. Berusaha menenangkan istrinya yang masih saja merengek sesekali, sembari memejamkan matanya. Menikmati senandung yang merdu dan menyejukkan hati dari bibir suaminya itu.
__ADS_1
Irsyad menatap iba pada Rahma, ia benar-benar tidak tega melihat sang istri harus merasakan kesakitan sendiri. Dan tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain bersabar dengan segala rengekannya.
Karena mau bagaimana pun istrinya telah berjuang keras demi si kembar bisa terlahir ke dunia ini. Kini Rahma sudah terlelap. Irsyad pun menarik tubuhnya yang sedari tadi tercondong di samping Rahma, ia mengecup sesaat kening Rahma lalu membenarkan selimutnya.
Irsyad menoleh kebelakang, melihat ibu mertuanya yang masih berada di sofa tengah memejamkan matanya lalu berjalan keluar ruangan tersebut dan kembali mengobrol dengan sang bapak mertua.
"Memang benar ya, istri lebih suka di dekat suaminya ketimbang ibunya ya walau tidak semua." tutur ayah Rahma. Sedangkan Irsyad hanya terkekeh.
"Begitulah Rahma, Irsyad. Luka sedikit saja dia menangis apalagi luka paska operasi ini." tutur ayah Rahma.
"Iya, normal saja pak. Tapi Irsyad tidak apa-apa kok. Irsyad lega Rahma baik-baik saja, dan berharap baik Rahma atau si kembar bisa cepat pulih dan kembali ke rumah." tutur Irsyad.
"Semoga saja. Oh iya bapak ibu mu sudah di kabari?"
"Sudah pak, cuman karena bapak ibu sudah sepuh, jadi Irsyad hanya minta doanya saja dari mereka."
"Syukur lah, tidak apa-apa kok, yang penting doanya, lagi pula Magelang Jakarta juga jauh. Kalau si kembar sudah bisa di ajak perjalanan jauh kan bisa di bawa ke sana."
__ADS_1
"Iya pak." jawab Irsyad. Mereka pun menyambung pembicaraan mereka di luar sedangkan ibunda Rahma tengah merebahkan tubuhnya di sofa ruangan bangsal tersebut. Entah lah beliau juga turut memejamkan matanya mungkin akibat mendengar senandung merdu dari menantunya tadi. Memang Hal itu biasa Irsyad lakukan jika istrinya kesulitan tidur. Ia akan bersholawat, tidak lama Rahma terlelap. Namun ternyata mantra tidurnya itu tidak hanya menyihir Rahma, bahkan ibu mertuanya pun turut terlelap. Hehehe.