Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bab rindu 6


__ADS_3

Malam selepas isya, keluarga Ustadz Irsyad melakukan perjalanan ke daerah Asemka.


Dua anak yang duduk di cabin tengah nampak senang, duduk menghadap belakang sambil menghitung mobil yang ada di belakangnya, serta berebut kepemilikan.


"Abi, nanti kalau Rumi sudah besar. Rumi bakal punya mobil merah yang bagus itu," menujuk salah satu mobil yang baru saja menyalip mobil mereka.


"Aamiin, Abi doakan. Lebih bagus daripada yang itu."


"Yeeeaaay."


"Kalau Dede nanti mau mobil yang kaya punya Abi."


"Hehehe, mobil Abi memangnya bagus, ya?"


"Bagus. Dede suka pakai mobi Abi. Nanti Nuha yang ajak Umma sama Abi jalan-jalan."


"Hahaha, Aamiin." Abi dan Umma tertawa sambil mengaminkan. Sementara ocehan demi ocehan anak-anak mereka terus meramaikan suasana sepi, saat perjalanan malam ini.


Sesampainya di sebuah komplek perumahan. Ustadz Irshad sedikit kebingungan. Pasalnya Beliau amat jarang mendatangi rumah Ustadz Rahmat. Bahkan selama lebih dari sepuluh tahun menjadi teman sesama dosennya, Beliau baru tiga kali ini datang kemari.


"Belok kiri apa kanan, ya?" gumam Irsyad setelah menghentikan laju kendaraannya di pertigaan.


Rumah-rumah di komplek ini cukup banyak. Jadilah Beliau bingung.


"Telfon Ustadz Rahmat saja, Bi," ujar Rahma mengusulkan. Irsyad pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Belum juga menghubungi nomor yang di tuju, sebuah klakson mobil di belakang sudah mengejutkannya.


"Bi, itu mobil Pak Huda, bukan?" tanya Rahma yang sigap menoleh.


"Eh, iya." Beliau memutuskan untuk menepikan mobilnya agar mobil di depan bisa mendahului.


Mobil putih yang tadi di belakangnya mulai berjalan maju dan berhenti sejenak di sebelahnya.


"Assalamualaikum!" Sapa pria gemuk dengan brewok agak tebal di sekitar rahangnya.


"Walaikumsalam, Akhi...," jawab Ustadz Irsyad sambil terkekeh.


"Gimana, ini? Kok malah diam di sini. Kirain udah nyampe duluan?"


"Ini, saya lupa blok yang mana? Makanya mau telfon Ustadz Rahmat."


"Waaaah, payah ini. Yuk, saya yang jalan duluan."


"Hehehe. Monggo Pak Huda." Irsyad membiarkan mobil Pak Huda berjalan lebih dulu, lalu disusulnya kemudian.


Sesampainya di salah satu rumah lantai dua, berpagar besi warna hitam. Mereka pun langsung menepikan mobilnya.


Tak lama keluar seorang wanita dengan gamis berwarna biru muda, dengan hijab segi empat jumbo dari dalam mobil putih. Menghampiri Rahma lebih dulu.


"Assalamualaikum, Mbak Rahma."


"Walaikumsalam warahmatullah, Kak Siti."


"MashaAllah, lama nggak bertemu."


Keduanya saling berpelukan setelah saling menjabat tangan.


"Iya, benar. Kalau nggak ada acara begini, emang susah buat ketemu."

__ADS_1


"Benar sekali." Kak Siti tersenyum, ia pun menyambut dua anak Rahma begitu pula sebaliknya. Saking asyiknya menyapa anak masing-masing, tanpa sadar mereka telah lama di luar rumah hingga akhirnya sang Tuan rumah pun menghampiri keluar.


"Di tungguin, malah arisannya di sini...," Ustadz Rahmat menjabat tangan dua teman mengajarnya. Lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Iya ini, Ustadz Irsyad katanya mau ngadem. Kalau saya mah nggak mau, mending masuk biar bisa nyobain Nila bakar yang udah antum share di grup," selorohnya sambil tertawa. Tentunya di sambut tawa juga oleh keduanya.


"Yuk semuanya masuk. Mari Mbak Rahma, Teh Siti. Istri saya masih di dapur," ajak Ustadz Rahmat ramah.


***


Di dalam rumah, suasana kekeluargaan tercipta. Walaupun hanya dua keluarga, namun karena banyaknya anak-anak membuat suasana rumah menjadi semakin gaduh.


Posisi para orang tua ada di ruang tamu, sementara anak-anak ada di area ruang tengah. Bersama Faqih juga yang pada saat itu baru pulang dari Bekasi untuk acara lomba tilawah Al-Quran.


Nuha yang sedang bermain dengan Hanifah, anak perempuan terakhir Pak Huda mulai merasakan bosan.


"Hanifah, kita main kejar-kejaran, yuk?" ajaknya dengan polos.


"Nggak boleh, Nuha. Nanti di omelin Abi sama Ummi, ku. Katanya di rumah orang harus tenang."


"Enggak di sini, tapi di luar."


"Emmmm...," Hanifah menoleh kearah Kakak perempuannya yang hanya duduk dengan sopan di atas sofa.


"Jangan! Nanti Teteh bilangin sama Ummi, loh," ancamnya dengan suara yang amat lirih.


"Tuh, nggak boleh sama teteh," bisik Hanifah.


"Yah, udah deh. Dede mau keluar." Nuha bangkit dari posisi duduknya. Ia pun berjalan-jalan. Anak perempuan yang terlalu aktif itu memang tidak pernah betah duduk lama-lama. Dan kini ia seperti tengah penasaran dengan pernak-pernik yang ada di atas meja.


Dari arah dapur, keluar seorang wanita berhijab panjang sambil membawa sepiring kue lapis Surabaya. Ia pun mendapati Nuha tengah menyentuh sebuah hiasan porselen yang ia dapatkan saat umroh beberapa bulan yang lalu.


"Nuha, jangan. Duduk aja, sana sama yang lain," katanya sambil menyentuh tangan Nuha.


"Itu apa?"


"Hiasan, Neng," jawabnya sambil menuntunnya ke tempat duduk.


"Tapi bagus, Dede mau pinjam."


Hasnah tersenyum tipis, "Jangan, ya, Neng. Itu bukan mainan. Yang di sini aja."


Nuha pun menuruti. Ia ikut ibunya Faqih, dan duduk lagi di tempatnya semula. Sementara Hasnah meletakkan piring berisi potongan kue keatas meja.


"Anak-anak, ini kuenya di makan, ya," tuturnya.


Sesaat tatapannya tertuju pada Zahra. Gadis kecil itu mengangguk sekali dengan sopan.


"MashaAllah, Zahra udah besar. Tambah cantik..."


"Makasih, Ummu Faqih," jawabnya. Hasna kini duduk di sebelah.


"Kelas berapa sekarang?"


"Kelas empat, Ummu."


"Oh, MashaAllah. Katanya kemarin rangking satu, lagi?"

__ADS_1


"Iya...," Tersenyum manis.


"Duh, gelis pisan, sopan, pinter lagi. Kamu, mah. Jadi pengen punya anak perempuan kalau liat si Zahra," pujinya tanpa henti pada gadis kecil yang semakin melebarkan senyum manisnya. "Ya udah, sok. Di makan itu kuenya."


"Iya, Ummu." Gadis kecil itu mengangguk sekali dengan sopan. Sebelum Hasnah keluar lagi.


Setelah Ummanya Faqih keluar Nuha yang tadinya kembali main mulai melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.


Gadis kecil itu kembali bangkit dan berjalan mendekati salah satu rak yang berada di sudut ruangan.


Tingkat keingintahuannya kali ini justru menyadarkan Faqih, yang tadinya hendak minum, pun langsung berlari kecil sambil membawa gelasnya.


Ia berusaha mendahului Nuha, sebelum berdiri di depan rak berisi beberapa Action figure Toy's strory miliknya. Jangan sampai di sentuh anak yang baginya usil ini, pikirnya.


"Kakak awas," Nuha mendorong-dorong tubuh Faqih, yang tengah berusaha untuk mempertahankan mainan yang baru ia tata. Ia tidak akan rela jika sampai acak-acak anak kecil ini.


"Nggak!" jawabnya singkat, dengan ekspresi ketusnya. Bersandar sekaligus menghalangi tangan kecil Nuha yang terus-terusan mencari cela untuk mengambil mainan tersebut.


Semua dia lakukan demi menyelamatkan mainannya dari tangan Nuha yang doyan gratakan.


"Iiihhh, Kakak awas! Dede mau lihat boneka itu." Nuha masih saja mendorongnya, tanpa menyerah. Namun Faqih tidak peduli. Dia hanya diam saja sembari melirik sebal.


Saking kesalnya karena Faqih tak kunjung menyingkir. Tangan Nuha, tanpa sengaja mendorong lengan Faqih. Dan, gelas itu pun terjatuh lalu pecah.


PRAAAAAAAANGGGG!


Suara pecahnya gelas itu membuat Nuha menangis. Semua yang ada di luar sudah pasti mendengar juga, tak terkecuali Rahma yang langsung peberjalan cepat, masuk.


"Duh, Dede ngapain, sih...." Rahma menggendongnya. Sementara Nuha hanya menunjuk-nunjuk mainan milik Faqih itu dengan tangisnya yang semakin kencang. "Nggak boleh begitu, nggak sopan. Umma kan sering ajarin Dede untuk sopan di rumah orang," bisiknya.


"Tapi, Dede mau itu...," menunjuk terus mainan yang ia inginkan.


Faqih yang masih berdiri di depan rak hanya menghela nafas, belum lagi saat Umma Hasnah dan Abi Rahmat turut masuk.


Dia sudah bisa menebak, orang tuanya akan membela Nuha dan mengambil mainan miliknya. Lalu menyerahkannya pada nuha, semua akibat tangis Nuha yang tak kunjung berhenti bahkan sampai meminta di belikan.


Setelah drama tangisnya Nuha, Faqih pun mengikhlaskan dua mainannya di pinjam. Dan bersyukur ketika sebelum pulang Nuha sudah mengembalikannya.


Suasana kembali menghangat sebelum akhirnya acara makan malam di mulai. Sebuah ikan nila bakar yang menjadi menu utama. Membuat Rahma menyadari, suaminya itu sangat suka nila bakar.


****


Saat semuanya sudah pulang, Ustadz Rahmat langsung membantu Isterinya membereskan sisa acara di rumah mereka.


Menata gelas kotor dan juga piring, guna menumpuknya menjadi satu.


"Bi, anaknya Ustadz Irsyad yang kecil itu benar-benar, deh."


"Apanya yang benar-benar, Umma? Jangan bicarakan yang aneh-aneh, ah. Atuh, kan, masih anak kecil. Wajar..."


"Lihat atuh sih Zahra, sama si Hanifah? Apa kaya Nuha. Sebenarnya tadi, mah, emang anak itu banyak nggak diemnya. Mungkin Mbak Rahma terlalu memanjakan, kali, ya?"


Ustadz Rahmat menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri.


"Berhenti sampai sini, ya. Nggak baik, ngomongin anak orang lain. Apalagi sampai ngebahas metode mendidik. Kita juga belum tentu baik mendidik anak." Ustadz Rahmat menutup pembicaraan dengan cara pergi sembari membawa masuk nampan berisi piring dan gelas kotor ke dalam.


"Atuh Si A'a mah emang begitu. Aku kan ngomong apa adanya." Hasnah berjalan sambil membawa sisa makanan di atas meja kedalam.

__ADS_1


__ADS_2