
Pukul lima sore ini, rombongan keluarga Irsyad baru saja tiba, mereka tidak mampir dahulu ke kediaman Rahma dan Irsyad, namun langsung mengunjungi rumah sakit demi bisa mengetahui kondisi pasti Irsyad.
Ibu mertua memeluk Rahma sembari menangis, dan akibat tangis ibunda Irsyad itu membuat Rahma kembali menangis. Begitu pula mbak Adiba, di sana mereka bertanya tentang apa yang terjadi, Rahma pun menjelaskannya sesuai dengan penjelasan pihak kepolisian di lokasi tempat kejadian lalu menjelaskan tentang kondisi Irsyad menurut dugaan dokter.
Dalam bincang-bincang itu, beberapa dokter dan perawat datang. Meminta izin untuk mengecek kondisi Irsyad, dari luar terlihat tiga dokter yang ada di dalam saling diskusi, dan seperti ada perdebatan kecil yang membuat Rahma merasakan perasaan yang tidak enak.
Terlihat salah seorang dokter itu seperti menggeleng kecil lalu berbicara lagi. Hingga mereka pun keluar.
'apa yang terjadi ya? Ya Allah, semoga tidak ada kabar buruk setelah ini.' gumam Rahma dalam hati.
"Dek Rahma." Panggil mbak Adiba. Rahma pun menoleh.
"Dek, kamu sepertinya lelah sekali, sebaiknya kamu pulang dulu saja ke rumah ya. Di sini biar mbak yang menemani Irsyad."
"Rahma tidak apa-apa mbak, Rahma mau di sini saja menemani suami Rahma."
"Nduk? Adiba itu benar. Kamu pulang dulu saja, Nuha dan Rumi pasti merindukan mu, temani anak-anak dulu saja. Biar bapak sama Adiba yang di sini." Titah sang bapak mertua dengan bahasa Indonesia yang medok.
"Tapi pak? Rahma pasti tidak akan tenang jika di rumah."
"Bapak tahu Nduk, namun kamu juga harus menemui anak mu di rumah. Nanti malam bisa kesini lagi ya." Bujuk sang bapak mertua.
"Biar kamu pulang sama ibu, dan Gani. Di sini biar bapak dan Adiba yang menemani Irsyad." Sambung beliau.
Rahma pun menoleh sejenak ke kaca mengarah ke tubuh ustadz Irsyad yang masih terbaring di atas bednya.
'aku masih mau di sini, menunggunya sampai mata itu terbuka.' batin Rahma.
Di saat yang bersamaan ponselnya berdering.
Ada panggilan telepon dari rumah, segera lah Rahma menerima panggilan telfon itu.
📞 "Assalamualaikum."
__ADS_1
📞 "Walaikumsalam Ummaaaaaaa." Seru dua anak dari sebrang dengan riangnya, Rahma pun tersenyum kala mendengar suara Nuha dan Rumi.
📞 "Kakak awas Dede yang ingin bicara sama Umma." Terdengar suara dari sebrang sepertinya dua anak itu tengah berebut gagang telepon.
📞 "Kaka dulu dek, awas, Kakak mau bicara sama Abi dan Umma." Suara Rumi menyaut.
📞 "Dede, kakak, bareng-bareng sayang. Jangan berebut ya." Ucap Rahma.
📞 "Umma... Umma... Abi mana? Abi mana Umma... Umma jalan-jalan sama Abi kok tidak mengajak Dede sih Umma? Dede kan mau ikut, kakak juga." Di sebrang kedua anak itu masih terdengar berebutan.
Mendengar mereka menanyakan abinya Rahma sedikit tersayat. Ia Tidak tahu ingin menjawab apa selain kembali menitikkan air matanya, dengan pandangan tertuju ke arah Irsyad.
📞 "Umma cepat pulang ya, Dede sama kakak mau menghapal lagi sama Abi."
Rahma menghela nafas. Berusaha menenangkan dirinya, tangan mbak Adiba sudah melingkar di bahu Rahma menguatkannya.
📞 "Sabar ya sayang, Abi masih di rumah pak Huda." Berbohong.
📞 "Umma juga di sana? Umma ngaji juga ya seperti Abi?" Tanya Rumi polos. Rahma pun terkekeh.
📞 "Umma... Umma... Dede mau donat coklat."
📞 "Kakak juga Umma, kakak mau donat."
📞 "Iya, nanti Umma belikan ya." Jawab Rahma.
📞 "Janji Umma, Umma cepat pulang loh sama Abi. Cepat ya Umma."
Rahma serak. Ia sudah tidak bisa menjawab lagi. Sehingga membuat Adiba mengambil alih panggilan telepon itu dan berbicara dengan dua anak kembar di sebrang.
Terlihat dari kekehan mbak Adiba, sepertinya anak-anak itu masih terus saja mengoceh ke sana ke mari, hingga akhirnya Adiba mematikan ponselnya setelah mengucap salam. Lalu menyerahkannya pada Rahma.
"Anak-anak sudah rindu dek, sebaiknya kamu pulang saja dulu ya." Titah Adiba.
__ADS_1
Yang saat itu juga di jawab dengan anggukan kepala Rahma.
Rahma pun menyempatkan untuk masuk ke ruangan ICU terlebih dulu berpamitan dengan mas Irsyad.
"Mas, maaf ya, Rahma harus pulang dulu. Anak-anak mencari ku. Tapi nanti Rahma balik lagi kok, tapi? Bolehkah Rahma meminta sesuatu? Mas harus membuka mata ya jika Rahma kembali nanti." Tersenyum tipis lalu mengecup pipi Irsyad. "Assalamualaikum mas Irsyad." Ucap Rahma sesaat sebelum beranjak dan keluar.
"Sudah siap?" Tanya mas Gani.
Rahma pun mengangguk. Sembari melingkari bahu ibu mertuanya. Mereka pun berjalan bersama menyusuri lorong panjang rumah sakit hingga keluar.
Di perjalanan, Rahma meminta izin untuk mampir ke salah satu mall membeli donat pesanan anak-anaknya.
Di dalam mobil, ibu mertua mulai bercerita tentang Irsyad kecil.
Dimana anak laki-lakinya itu sedikit nakal waktu kecil, bahkan saat SMP juga masih sama, sering kabur dari bapaknya agar tidak ikut hapalan.
Hingga tiba saat malam tahun baru. Ada beberapa anak pondok yang turut kabur bersama Irsyad juga. Di sana mereka kepergok tengah mengkonsumsi minuman beralkohol.
Rahma mengerutkan kening. "Mas Irsyad pernah minum?" Tanya Rahma.
"Ibu tidak tahu jelas, karena Irsyad bilang dia tidak ikut minum, namun saat itu bapaknya marah sekali, bagaimana tidak wong Irsyad lah yang tengah memegang gelasnya. Sampai-sampai beliau membuat liang, sedalam liang kubur asli. Di sana Irsyad di ikat seperti jenazah menggunakan kain Kafan oleh bapaknya. Lalu di rebahkan di dalam liang itu, selama beberapa menit untuk merenungi kesalahannya."
"Ya Allah. Sampai seperti itu Bu? Lalu bagaimana dengan mas Irsyad dulu?"
Ibu mertua mengusap air matanya. "Nggak ingat jelas sih, namun anak itu menangis sesenggukan memohon ampun sama bapaknya."
"Astagfirullah al'azim. Rahma jadi kasihan."
"Tapi setelah itu Irsyad jadi lebih taat lagi beribadah. Karena ia trauma. Katanya seperti benar-benar berada di alam kubur." Terkekeh.
"Itu sudah jelas bu, siapa yang tidak ketakutan jika di hukum seperti itu? kasian mas Irsyad, pasti takut sekali dulu."
"Dulu saat melihat Irsyad di buat seperti itu saja ibu sudah sangat takut Nduk. Membayangkan saja... Lah wong di bungkus benar-benar seperti jenazah." Kembali menitikkan air matanya.
__ADS_1
"Semoga anak ibu itu bisa sembuh ya Nduk. Jangan mendahului ibu yang sudah sepuh ini." Kembali terisak. Rahma pun memeluk ibu mertuanya, sama-sama menangis di dalam mobil yang masih melaju dan berharap suaminya bisa segera tersadar dari tidur panjangnya.
Hingga tak lama mobil pun masuk ke dalam area parkir di sebuah mall. mas Gani pun mematikan mesin mobilnya. Di sana Rahma menanyakan apa ibunya ingin turut turun atau tidak. Namun beliau memilih untuk tetap di dalam mobilnya beristirahat.