
Rahma melepas mukenah nya setelah selesai menjalankan ibadah sholat Ashar di dalam kamarnya. Ia tidak berzikir lama karena harus segera menemui si kembar lagi di bawah bergantian dengan Irsyad yang akan mandi.
Namun baru saja ia selesai mengemas sajadah dan mukenah yang ia kenakan tadi Irsyad sudah masuk ke dalam kamar mereka sembari menggendong kedua anak mereka.
"Wah Uma sudah selesai tuh. Abi mandi dulu ya." ucapnya. Sembari melangkah masuk lalu menurunkan keduanya ke atas ranjang Rahma dan Irsyad. Namun sepertinya si kembar masih betah bersama Abinya. Hal itu terlihat dari cara Nuha ataupun Rumi yang masih saja memegangi lengan Abinya itu.
Irsyad terkekeh saat keduanya saling berebut memegangi lengan Irsyad, terlebih saat Nuha terjatuh akibat di dorong kakaknya. "Kak Rumi nakal nih, kan lengan Abi dua nak. Kamu malah mendorong dek Nuha." tutur Irsyad. Rahma mengikat rambutnya yang sudah ia sisir rapih itu lalu duduk di dekat Irsyad.
"Yuk sayang, kalian sama Uma lagi ya, Abi biar mandi dulu." tuturnya, Irsyad mengamati perubahan istrinya yang sepertinya tidak ceria akhir-akhir ini. Beliau tersenyum lalu mengusap kepala Rahma dengan penuh kasih sayang.
"Mas mandi dulu ya sayang." ucap Irsyad. Rahma mengangguk pelan tanpa menatapnya.
Setelah itu Irsyad mengangguk, ia pun berjalan menuju bilik kamar mandinya untuk bebersih. Setelah selesai ia kembali mendekati istri dan kedua anaknya di atas ranjang.
"Tas mas Irsyad sudah di bawa masuk?" tanya Rahma.
"Astaghfirullah, masih di gazebo dek." ucap Irsyad.
"Ya sudah biar Rahma saja. Sekalian menyiapkan makan malam." ucapnya. Ia pun langsung keluar begitu saja dengan wajah masam.
"Rahma kenapa ya? Apa dia sedang mengalami depresi ringan akibat mengurus anak dan terlalu lama di rumah saja? Kalau di pikir-pikir. Semenjak si kembar lahir dan kini usia mereka sudah menginjak satu tahun lebih aku belum mengajaknya meluangkan waktu untuk berduaan, dan lagi ini bulan?" Degg, Irsyad mengingat sesuatu, ia pun meraih ponselnya dan melihat kearah layar itu. "Astaghfirullah , hari ini sudah kelewat dua hari dari tanggal pernikahan ku dan Rahma. Mungkin kah Rahma murung karena itu ya?" Ia pun kembali fokus pada kedua anak mereka.
"Anak-anak kita Keluar sebentar yuk temani Uma. Sepertinya Uma kalian lagi ngambek itu." Tutur Irsyad ia pun menggendong keduanya.
"Waduh kok Abi baru sadar kalian sudah sedikit berat. Hehehe" Irsyad mengecup pipi mereka satu persatu lalu berjalan keluar menghampiri Rahma yang tengah duduk di atas meja makan sembari memandangi ponselnya.
"Uma?" Panggil Irsyad. Rahma pun menoleh ia menutup kembali ponsel itu.
"Iya Bi?" Rahma beranjak dan meraih Nuha.
"Hari ini tidak usah menyiapkan makan malam ya. Uma belum masak kan?" tanya Irsyad.
"Belum Bi, maaf."
"Kenapa minta maaf Uma sayang. Sekarang siap-siap yuk, kita ke tanjung priok. Ke rumah kakek dan nenek." ucap Irsyad semangat.
"Mau ngapain mas?" tanya Rahma.
"Mau menitipkan si kembar sebentar." jawabannya.
"Di titipin?" Rahma memandang bingung.
Irsyad pun mendekati telinga Rahma. "Mas mau kencan sama dek Rahma malam ini kan malam sabtu." Bisik nya.
Rahma tersenyum tipis "Mas ini seperti anak muda saja."
"Anak muda kan malam mingguan, kita malam sabtuan." ucap Irsyad sembari terkekeh begitupun juga Rahma. "Yuk mau tidak nih kencan sama pacar Halal?" Irsyad meraih dagu Rahma.
"Iya mas." jawabannya.
"Yes, alhamdulillah." ucap Irsyad, Rahma pun geleng-geleng kepala. Keduanya berjalan menuju tangga guna berganti pakaian, sebelum itu Irsyad menggantikan pakaian Rumi, dan Rahma menghentikan pakaian Nuha.
"Mas sudah selesai mengganti pakaian Rumi. Ini dek Rahma mau mas gantikan juga?" goda Irsyad.
"Mas ini." Rahma terkekeh. Irsyad pun mengecup pipi Rahma.
'Senang melihat nya ketawa lagi. Tidak masam seperti tadi.' batin Irsyad.
Kini gantian keduanya bersiap-siap. Setelah itu lanjut mengambil start menuju daerah Jakarta Utara menghampiri ayah dan ibu Rahma guna menitipkan si kembar.
Untung saja kedua orang tua Rahma menyambutnya dengan baik, dan malah justru senang saat si kembar di titipkan di sana. Sedikit ragu Rahma meninggalkan mereka. Ya takut saja keduanya rewel. Namun Irsyad sudah merangkul bahu Rahma dan membawanya kembali masuk kedalam mobil mereka. Mobil pun kembali berjalan menuju kawasan Kelapa Gading yang masih terletak di daerah Jakarta Utara itu.
__ADS_1
"Mas kita mau kemana sih?" tanya Rahma.
"Mau jalan-jalan Rahma. Makan malam terus kalau bisa? mas sih mau jadiin nontonnya, dulu kan kita tidak jadi nonton."
"Tumben sekali." ucap Rahma.
"Loh. Kan beberapa hari yang lalu hari jadi pernikahan kita, lupa ya?"
Rahma menoleh cepat. "Rahma sih tidak lupa ya. Mas tuh yang lupa, buktinya baru ngajakin Rahma keluar sekarang." Rahma bersungut sebal membuat Irsyad tergelak ia meraih tangan Rahma dan mengecupnya. Dan memutuskan untuk menepi sejenak.
Irsyad melepas seatbelt nya kemudian sedikit menghadap ke arah Rahma. membelai lembut kepala Rahma yang tertutup kain hijab panjang sebatas panggulnya, lalu mengecup keningnya. "Terimakasih ya dek sudah mencintai mas Irsyad dengan Ikhlas selama empat tahun ini. Melayani mas sepenuh hati, mau belajar merubah diri menjadi wanita soleha sesuai tuntunan mas, dan yang paling membahagiakan adalah, ade sudah memberikan keturunan menggemaskan seperti Nuha dan Rumi." ucap Irsyad. Rahma pun tertunduk diam ia kembali menitikkan air matanya.
"Kenapa sayang?" tanya Irsyad yang menyadari Rahma tengah bersedih atau mungkin terharu.
"Maaf ya mas Rahma tadi sudah membentak anak kita." ucapnya. "Mas pasti kecewa sekali pada Rahma kan?" tanya Rahma.
Irsyad menghela nafas. "Ade mengingat itu. Mas kan sudah memaafkannya tadi."
"Hiks, tapi tetap saja. Mas saja tidak pernah membentak Rahma. Masa Rahma membentak Anak mas Irsyad."
Irsyad terkekeh. "Anak dek Rahma juga kan? Wajar lah sayang kalau kau sedikit kesal akibat lelah mengurus anak namun mas tidak ingin Rahma hampir setiap hari berteriak seperti tadi pada mereka ya. Karena didikan kita ke anak sedari kecil itu seperti tengah menanamkan watak pada mereka sayang." ucap Irsyad.
"Boleh sekali-kali berseru hanya jika keduanya nakal. Namun tidak seperti tadi. Kalau untuk anak kita di usia sekarang itu masih terlalu dini untuk di bentak sayang. Jangan ulangi ya."
Rahma mengangguk pelan. "Maaf mas."
"Iya mas maafkan sayang. Mas memahami mengurus anak itu sangat melelahkan. Maka dari itu Mas kan menawarkan, kita cari pengasuh saja ya dek, tapi dek Rahma bilang tidak usah, dek Rahma sanggup kok mas. Begitu kan bilangnya?"
"Iya kalau satu anak sayang ini dua loh, sehari ibu tidak datang saja istri mas ini sudah kewalahan sekali. Bagaimana jika setiap hari coba? Lagi pula mas kasihan sama ibu harus setiap hari datang sayang. Jauh juga kan?"
"Iya mas." jawab Rahma singkat.
"Ya sudah untuk masalah mendidik. Mas cuma minta tangan dek Rahma ini? Jangan sekali-kali menghardik kedua anak kita ya. Berseru boleh itu saja jika anak kita sudah benar-benar ngeyel dek."
"Lalu yang baik seperti apa mas?" tanya Rahma.
"Ambil jalan tengah. Mas mau bertanya. Ade lebih takut sama ibu atau sama ayah?" tanyanya.
"Ayah."
"Kenapa?"
"Karena ayah jarang marah pada Rahma, namun sekalinya di bentak Rahma sudah takut. Lain sama ibu. Kalau ibu sering berseru, jadi Rahma tidak begitu takut pada ocehan ibu."
"Nah seperti itu contohnya. Kenapa Rahma takut pada Ayah, karena ayah tegas hanya karena Rahma salah kan, dari situ Rahma jadi segan pada ayah, lain halnya ibu, yang sering berkoar pada mu. hal itu lah yang membuat Rahma seperti sudah terbiasa dengan ocehan ibu dan tidak lagi menganggap itu sebagai hal yang perlu di takuti oleh Rahma, padahal seharusnya dek Rahma lebih menakuti ibu loh dari pada Ayah." ucap Irsyad.
"Iya sih mas." jawab Rahma lirih.
"Ya sudah. Yang tadi jangan di ulangi lagi ya. Kasian loh tadi Nuha sampai nangis di bentak Umanya."
"Hiks, Rahma jadi kangen Nuha Dan Rumi. Pulang saja yuk mas, Rahma ingin peluk mereka."
"Ya ampun baru saja keluar sudah pulang. Tenang saja dek mereka pasti akan tenang kok bersama nenek dan kakeknya. Ade jangan khawatir. Sekarang kita kencan dulu. Sudah dandan gagah loh ini masa tidak jadi kencan sama sang pacar halal yang cantiknya sudah mengalahkan seluruh bidadari di surga." ucap Irsyad.
Rahma pun tergelak "Mulai berlebihan kan. Mas ini."
Irsyad tersenyum ia pun mengetuk-ngetuk pipinya dengan satu jari telunjuk.
"Apa itu?" tanya Rahma.
"Pakai tanya lagi. Cepat kasih nanti tidak jalan-jalan loh ini mobil."
__ADS_1
"Haha, memang apa hubungannya."
"Ada lah. Kan mas sama saja harus memiliki daya. Sama seperti mobil ini."
"Oh ya?"
"Iya dek. Tahu tidak bedanya dek Rahma dengan kendaraan ini."
"Apa?" tanya Rahma sembari terkekeh.
"Kalau mobil agar mau melaju terus kan harus mengisi minyak sedangkan kalau mas agar semangat terus harus sering-sering di beri kecupan."
Rahma tergelak Jenaka "Tidak nyambung mas garing itu garing rayuannya." Rahma tertawa.
"Oh mau yang tidak garing ya? Ada kok Ada Rahma... Dengar ya." Rahma bertopang dagu menatap kearah Irsyad.
"Tahu bedanya dek Rahma dengan pelajaran matematika tidak?"
"Tidak tuh, memang apa?"
"Kalau pelajaran matematika semakin di pikir semakin bikin botak kepala, kalau dek Rahma semakin di pikir semakin membuat bunga-bunga tumbuh di otak."
Rahma tertawa terpingkal-pingkal. "Ya Allah, rayuan pak ustadz benar-benar ya."
"sudah...sudah... Yuk kita jalan saja sebelum semakin malam." Irsyad merasa geli sendiri sehingga memutuskan untuk kembali menyalakan mesinnya. Sedangkan Rahma masih tergelak sembari memegangi perutnya.
"Wah wah seperti mobil ini belum mau berjalan, karena energinya belum di kasih ke pak supir." Irsyad ngelirik.
"Ohooo iya iya... Sini... Sini saya kasih energinya." Rahma mengecup pipi sebelah kiri Irsyad.
"Sini belum dek." Irsyad menunjuk ke sebelah kanan.
"Siap sini pak supir." Rahma pun mengecup sebelah kanannya.
"Alhamdulillah cukup nyonya, yang ini simpan untuk nanti ya. Kalau si kembar sudah tidur." ucap Irsyad. Rahma pun terkekeh-kekeh.
"Pak ustadz nih bisa saja."
"Bisa lah bu Ustadzah."
"Kok bu ustadzah?"
"Habis manggil pak ustadz terus."
"Lah maunya apa."
"Sayang dong, Rahma sangat jarang atau bahkan hampir tidak pernah menyebut sayang tuh."
"Oppa saja enak." jawab Rahma jail.
"Moh dek, ojo oppa lah. Gak sreg mas iki. Kang mas wae yo ra popo dek." (Nggak mau dek, jangan oppa lah. Ngga suka mas ini. Kang mas saja tidak apa) tutur Irsyad sembari terkekeh jahil.
Mata Rahma membulat. "Mas kok pakai bahasa Jawa sih?"
"Ayo coba jawab, ayo jawab dek tapi pakai bahasa Jawa." Irsyad iseng.
"Moh." Jawab Rahma dengan logat jawa yang aneh. Irsyad pun tertawa terbahak-bahak.
"Meneh yo dek, opone sing moh jal?" (Lagi ya dek, apanya yang tidak coba?)
"Tau ah... Rahma tidak mengerti bahasa mu, sudah ayo jalan keburu semakin malam ini."
__ADS_1
"Hahahaha. Iya deh iya." Irsyad kembali melanjutkan perjalanannya. Menuju tempat tujuan mereka berkencan setelah puas bercanda di dalam mobil mereka, terlebih mengerjai Rahma menggunakan bahasa Jawa.