
Rasanya masih seperti mimpi, Rahma bisa menyuapi suaminya saat ini, walau beliau masih terlihat lemah.
Namun itu jauh lebih baik, dari pada tidak melihatnya lagi untuk selamanya.
Untuk saat ini rasanya Rahma tidak ingin jauh-jauh dari mas Irsyad, bahkan jika bisa? Matanya tidak ingin melepaskan pandangannya walaupun hanya sekedar berkedip.
Ia takut jika sosok pria yang tengah mengunyah makanan itu tiba-tiba menghilang.
Bahkan setiap kali Irsyad tertidur pun Rahma selalu mengamati gerakan perutnya. Atau mungkin memeriksa nafas sang suami dengan menempelkan jari telunjuknya ke dekat lubang hidung Irsyad.
Takut... Takut jika tubuh itu kembali pada masa komanya.
Takut jika beliau benar-benar memejamkan mata untuk selamanya. Rahma menepis pikiran buruk itu, berusaha melebur semua kenangan yang menyedihkan. Dan berharap bisa terhindar dari ujian-ujian berat yang lebih dari ini.
Satu suapan Nasi masuk ke dalam mulut Irsyad. Cuman memang kebiasan bapak dua anak itu ya?
jika tengah bersama istrinya tidak bisa tidak iseng, lihat saja.
Saat ini tangannya tengah sibuk menarik-narik cadar Rahma, memainkannya seolah-olah cadar yang terpasang itu adalah sebuah jenggot.
"Aki...aki..." Panggilnya. Jelas saja mendengar itu Rahma hanya melirik sinis ke arahnya. Sedangkan Irsyad kembali terkekeh.
Rahma kadang heran, suaminya itu pria dewasa, namun tingkahnya kadang seperti anak-anak yang gemar sekali iseng, sama persis dengan Nuha ataupun Rumi. Cuman mereka visual kecilnya, dan terikat sebagai kakak dan adik.
Berbeda dengan Rahma dan Irsyad.
Jahilnya Irsyad itu lebih ke intimnya dan berujung pada sentuhan-sentuhan cinta.
Sudah lah biarkan saja.... Rahma yang sekarang malah lebih menyukai dirinya yang kembali jail itu, hehehe puas-puaskan ustadz mumpung lagi baik nyonya Rahma nya.
Rahma menyendok suapan terakhir dan memasukkan kedalam mulut sang suami.
"Alhamdulillah habis." Ucap Rahma. "Mas memang pintar makannya."'
"Iya lah, memang kamu dek? Waktu kamu baru melahirkan anak-anak, makanya susah sekali dan merengek mintanya makanan dari luar rumah sakit."
"Mau bagaimana lagi, kan tidak enak makan rumah sakit tidak enak."
"Pintarnya istri ku, sendirinya nggak mau makan, giliran mas di paksa wajib, harus di habiskan." ucap Irsyad dan sang istri hanya nyengir, sembari meletakkan wadah stainless nya, lalu meraih gelas berisi air dan menyerahkannya pada Irsyad.
"Terimakasih Khumaira." Ucap Irsyad sembari menerimanya.
"Sama-sama." Senyum.
__ADS_1
Selang beberapa menit, anak-anak datang dengan kakek dan neneknya. Iya, pak Akmal dan Bu Ratih.
Soalnya baru kemarin Keluarga Irsyad kembali ke Magelang, walaupun demikian mereka tetap mengontrol kondisi Irsyad setiap beberapa jam, karena kata dokter mungkin besok Irsyad sudah di perbolehkan pulang.
Hanya saja mungkin nantinya mbak Adiba akan jadi sering ke Jakarta untuk menengok adiknya itu.
"Abiiiii—" teriak anak-anak yang sudah masuk ke dalam ruangan bangsal.
"MashaAllah, sini... Sini sayang..." Mata Irsyad basah. Setelah sekian lama akhirnya bisa melihat si kembar lagi.
Dua anak itu pun melompat-lompat sembari mengangkat kedua tangan mereka minta di naikan ke atas ranjang abinya.
Sebenarnya Rahma tidak mengizinkan mereka berdua datang, namun dua anak itu sudah menangis terus ingin bersama abinya.
Selama ini mereka hanya melepas kerinduan melalui panggilan vidio, namun setiap kali selesai, kedua anak itu pasti akan berubah moodnya yang tadinya ceria menjadi jengkel karena yang mereka inginkan abinya langsung bukanlah gambar Vidio abinya.
Begitu juga Irsyad, setiap kali selesai memandangi dua anak itu dari panggilan video pasti akan menangis. Bapak yang cengeng ya hehe namun memang seperti itu lah Abi Irsyad.
Dua anak itu kini sudah memeluk Abinya di sisi kiri dan kanannya. Ya berbaring di sana bertiga. Terlihat Abi Irsyad tidak henti-hentinya mengecup kedua malaikat kecilnya itu.
"MashaAllah, rindunya."
"Abi...Abi... Kemarin kakak dapat bintang dari Bu ustadzah karena bisa menghapal hadist, katanya besok kakak ikut lomba bi."
"Dede juga besok ikut lomba mewarnai bi... Bukan cuma kakak."
"Eh iya Dede juga ya, MashaAllah." Di kecup pula si Nuha.
"Tapi Dede tidak dapat bintang tuh... Kakak yang dapat."
"Dede dapat... Dapat ya Umma. Dede dapat kan?"
"Iya dapat, bintang dari Umma karena kamu menangis nggak dapat bintang."
Semua yang di sana pun tertawa, menertawakan dua anak kembar itu.
"Kalian ini, padahal Abi besok pulang malah ke sini." Ucap Rahma.
"Tidak apa-apa Umma, lagi pula alat-alat medis juga sudah mulai di lepas, jadi Abi tidak kesulitan." Tutur ustadz Irsyad.
Rahma pun menghela nafas, mau bagaimana lagi. Suaminya pun sudah merindukan sekali dua anak super aktif itu.
Saat ini saja mereka masih mengoceh panjang kali lebar Kali tinggi. Nggak jelas kemana pokoknya cerita aja. Dan si Abi dengan sangat tertarik sepertinya? Betah mendengarkan ocehan dua anak kembar itu. Walau mereka seperti tengah berebut dulu-duluan untuk membuka suara, namun hal itu hanya akan di tertawa kan Abinya.
__ADS_1
Bisa di bayangkan bukan? Bagaimana jadinya jika Irsyad benar-benar tidak selamat. Mungkin Rahma akan bingung menjelaskan pada anak-anak itu, saat mereka bertanya di mana Abinya.
Kini semua sudah berakhir, semua kesedihan itu sudah berubah jadi senyum yang kembali tersungging di bibir mereka. Orang-orang yang Rahma sayangi.
"Abi... Dede punya Lego baru. Nanti kita main sama-sama ya Abi," Ucap Nuha.
"Bohong Abi, Umma bilang barengan punya Rumi juga itu, iya kan Umma."
"Tapi Dede yang minta. Kakak cuma pinjam. Nanti yang boleh main Abi sama Dede saja."
Rumi pun mengangkat tangannya yang terkepal itu.
Dengan lembut Irsyad meraih kepalan tangan itu. "Tidak boleh sayang, ingat apa yang Abi ajarkan? Kita harus saling mengasihi. Tidak boleh memukul saudara sendiri ya."
"Tapi Dede nakal." Seru Rumi merengek.
Irsyad pun menoleh ke Nuha. "Dede, kalo punya barang kita harus apa?"
Nuha diam saja. Tidak ingin menjawabnya.
"Dek Nuha?" Tanya Abi Irsyad lagi.
"Dede tidak mau berbagi sama kakak. Kakak jail!!! Lego Dede sering di hancurkan sama kakak." Merengek.
Irsyad menghela nafas. Menoleh ke arah Rahma. Sedangkan ibu dua anak itu hanya terkekeh.
"Minta maaf dong, yuk saling minta maaf."
"Nggak mau kakak nakal."
"Dede yang nakal!!!" Meninggikan suaranya.
"Sini tangan kalian," ucap Abi Irsyad, sembari meraih tangan kedua anak itu, lalu menyatukannya.
"Bilang, maaf kakak." Titah Irsyad pada Nuha.
"Maaf kakak." Ucap Nuha lirih. Irsyad tersenyum. Lalu beralih pada Rumi.
"Bilang, kakak juga minta maaf." Titah Irsyad pada Rumi.
"Kakak juga minta maaf dek." Ucap Rumi. Irsyad pun menciumi dua anak kecil itu, yang sudah kembali lagi tertawa.
Di sana Rahma pun hanya geleng-geleng kepala. Dua anak itu memang selalu begitu, akan selalu bertengkar setiap saat namun cepat akur lagi setelahnya.
__ADS_1
Ya begitulah anak-anak ya.