
Rahma melepas pelukannya sejenak.
"Oh iya Aida, tadi mbak bertemu bu Tum, katanya dia sudah tidak di sini?" tanya Rahma.
"Iya mbak, dia harus merawat cucunya." jawab Aida.
"Kenapa kau tidak bilang ke mbak?" tanya Rahma.
"Aku tidak mau terus merepotkan mbak." ucap Aida.
"Siapa yang merepotkan siapa? Kau jangan berpikiran seperti itu Aida." Ucap Rahma, Aida pun tertunduk.
"Jadi selama ini kau sendirian?" Tanyanya lagi. Aida pun mengangguk.
"Lalu yang mencuci semua perabotan seperti piring dan gelas ini, juga mencuci pakaian."
"Emmm, Aida mbak, tapi Aida sudah mulai terbiasa kok." jawab Aida.
"ya Allah Aida, maafkan mbak ya. Andai saja jaraknya dekat mbak akan berkunjung setiap hari."
"Mbak Aida tidak apa-apa kok. Aida itu hanya ingin berhenti menyusahkan mbak Rahma dan mas Irsyad terus."
"Lagi? Aida di sini Tidak ada yang merasa di susahkan kok, emmm ya sudah, sekarang kamu siap-siap ya, mbak bantu." ucap Rahma.
"Siap-siap? Memang kita mau kemana?" tanya Aida.
"Mas mau mengajak mu ketempat terapi, kali saja kaki mu masih bisa di obati Aida." jawab Irsyad.
"Tapi, dokter bilang Aida cacat permanen. Dan pasti biaya terapi pasti mahal"
"Itu baru dugaan Aida, nanti kita akan ngecek ulang, kondisi tulangnya ya. Dan lagi, tidak usah memikirkan masalah biaya InsyaAllah kita ada rezeki kok, Sekarang ayo kita siap-siap." Rahma membantu Aida naik ke kursi rodanya lalu mendorongnya masuk.
"Sebentar ya mas." ucap Rahma pada Irsyad yang lantas mengangguk itu. Rahma pun menutup pintunya dan menguncinya.
Di dalam kontrakan itu, Rahma membantu Aida mengganti pakaiannya, dan juga menyisir nya.
"Jadi seperti anak kecil." Aida terkekeh.
"Aku suka rambut mu ini Aida, sangat bagus dan halus, jadi senang menyisir nya," jawab Rahma sembari tersenyum. Aida pun terkekeh.
"Mbak pakaikan hijabnya ya." ucap Rahma. Aida pun mengangguk.
Kini penampilan Aida sudah jauh lebih baik. Dengan pakaian dan hijab yang rapih itu.
"Sudah cantik." tutur Rahma di depan cermin.
"Mbak Rahma baik sekali sama Aida, padahal Aida sudah menyakiti mbak Rahma."
"Hei, Aida mbak kan sudah bilang jangan bahas itu terus, lagi pula, dari dulu mbak tuh ingin sekali memiliki adik perempuan yang bisa mbak dandani seperti ini." Rahma tersenyum sedangkan Aida menunduk malu.
"Sudah jangan di ingat-ingat lagi. Ayo kita keluar." ajak Rahma yang di balas dengan anggukan kepala Aida.
Rahma membuka pintu itu terlebih dulu, lalu mengeluarkan Aida.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Irsyad, Rahma pun mengangguk.
"Aida, kunci rumah mu mana sini? Biar mas yang menguncinya." ucap Irsyad, Aida pun menyerahkannya.
Sembari menunggu Irsyad menguncinya pintu itu, Rahma mendorong kursi roda Aida lebih dulu dan berjalan pelan menuju mobil mereka terparkir.
Di rumah sakit Aida pun melakukan pengecekan, awal mulai dokter pun melakukan Anamnesis guna menanyakan masih adakah respon yang di rasa pada kedua kaki Aida, barulah di lakukan pemeriksaan Rontgen, dimana Dokter harus mengecek kondisi kaki pasien.
"Sebenarnya kerusakan jaringan otot pada kaki nyonya Aida itu tidak terlalu buruk, bu. Dan mungkin nyonya Aida ini masih ada harapan untuk bisa berjalan lagi, walau mungkin akan membutuhkan waktu lama." ucap Dokter yang memeriksa Aida.
Dan di sana pancaran bahagia di wajah Aida mulai terlihat, dengan Rahma yang mengucap syukur.
Di sana ada banyak tahapan pemeriksaan sampai akhirnya mereka mengatur jadwal terapi Aida.
Setelah semua urusan telah selesai, mereka menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah resto ayam goreng.
Di sana Irsyad mengelupaskan kulit ayam itu dan menyerahkannya pada Rahma. Irsyad tahu, istrinya itu sangat suka kulit ayam. Rahma pun tersenyum.
"Terimakasih mas." ucap Rahma.
"Sama-sama dek." jawab Irsyad.
Aida menatap ke arah ke duanya, dan merasa senang, karena hampir saja ia merusak kebahagiaan Rahma dan Irsyad hanya karena egonya itu.
Namun Aida lega, karena semuanya sudah baik-baik saja. Walaupun rasa bersalah akan tetap selalu ada, cuman bukan manusia namanya jika tak memiliki kesalahan. Hanya saja ia terus berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Dan berusaha ikhlas dengan keadaannya.
***
Di malam harinya, Rahma keluar dari dalam kamar mandinya melihat Irsyad tengah sibuk dengan laptopnya. Saat itu Irsyad tengah membuat lembar kerja untuk mahasiswanya karena dua hari lagi ia akan mengadakan kuis di kampusnya.
"Mas, mas masih lama kah?" tanya Rahma.
"Kenapa sayang? Sebentar lagi mas selesai kok." ucapnya, matanya masih fokus mengarah ke laptopnya.
"Rahma ingin bicara mas."
"Bicara saja dek, mas pasti mendengarkan." jawabannya.
"Rahma ingin bekerja lagi." tutur Rahma tiba-tiba, Irsyad pun menoleh.
"Kerja?" Tanya Irsyad, Rahma pun mengangguk.
"Memang kita sedang kekurangan uang ya? Atau uang yang mas kasih ke Rahma kurang?" tanya Irsyad. Rahma menggeleng cepat.
"Tidak mas tidak, aku hanya ingin mandiri, karena selama ini kan Rahma sudah di rumah saja, Rahma hanya rindu dengan pekerjaan Rahma." ucap Rahma. Irsyad pun melepas kacamatanya lalu menyingkir laptop yang ada di pangkuannya itu.
"Coba, kasih mas alasan yang kuat, agar mas bisa mengijinkannya." ucap Irsyad.
"Iya seperti yang Rahma bilang tadi mas, dan jujur saja Rahma sudah jenuh di rumah karena tidak ada pekerjaan, Rahma rindu sama pekerjaan Rahma."
Irsyad terdiam, ia pun merebahkan kepalanya di pangkuan Rahma. "Sini mas kasih pekerjaan untuk mu." ucap Irsyad, yang lantas meraih kedua tangan Rahma dan meletakkannya di kening.
"Ayo pijat Kepala mas." titah Irsyad.
__ADS_1
"Kenapa di suruh mijit sih mas, Rahma itu mau kerja iiissshhh."
"Boleh Rahma, tapi kerja merawat mas saja ya." jawab Irsyad.
Rahma pun besengut sebal.
"Astaghfirullah, mulai deh memajukan bibirnya itu." ucap Irsyad yang kembali beranjak.
"Ade, mas bukannya tidak mengizinkan namun? Ade kan harus benar-benar istirahat dulu sampai rahim dek Rahma benar-benar sehat." ucapnya.
"Rahma itu baik-baik saja mas, lagi pula bekerja sebagai perawat itu tidak terlalu berat."
"Iya mas tahu sayang, tapi untuk saat ini mas ingin Rahma di rumah. Mas masih mampu membiayai hidup kita. Lagipula kodratnya wanita itu di rumah sayang, bukan keluar mencari nafkah."
"Tapi di luar sana wanita tetap bekerja mas,"
"Itu mereka Rahma, tapi khusus istri mas Irsyad ini, mas minta Rahma di rumah saja, biar mas yang bekerja, Rahma masih bisa pergi ke rumah teman atau ke rumah ibu kan? Untuk membuang jenuh?" Ucapnya.
"Ck,"
Irsyad tersenyum. Ia pun mencubit hidung Rahma dan menariknya.
"Mas, sakit ih, kebiasaan ya mas ini?"
"Habis marah terus nanti cepat tua loh."
"Memang sudah tua kok."
"Oh ya?"
"Iya."
"Tapi kok pipinya masih halus ya, jadi ingin menciumnya." Ledek Irsyad yang langsung membuat Rahma menutup kedua pipinya dengan tangannya dan senyum tipis pun tersungging.
"Kok di tutup sih? Ya sudah kalau tidak mau di cium, berarti cium yang ini saja." Irsyad menekan-nekan pipinya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Ayo, sudah menunggu ini." pinta Irsyad
"Tidak mau mas, Rahma masih marah."
"Yakin tidak mau nih?" tanya Irsyad. Sembari bertopang dagu dan menatap terus ke arah Rahma. Irsyad tahu Rahma paling tidak bisa di tatap dengan waktu yang lama. Sehingga membuat Rahma terkekeh.
"Mas itu curang sekali sih, ya sudah sini Rahma cium." ucap Rahma,
"Alhamdulillah, sini sini." Irsyad menunjukkan pipi kirinya. Membuat Rahma mengecupnya dan kembali duduk ke posisi normal.
"Eh dek Rahma yang kanan iri lho ini," ucap Irsyad.
"Ya Ampun." Rahma terkekeh, dan langsung mengecup pipi kanannya.
"Ini, di sini belom dek." Irsyad menunjuk keningnya.
"Ya Allah mas ini ya." Rahma kembali mendekat dan mengecup kening Irsyad.
__ADS_1
"Alhamdulillah paket lengkap mas dapat hehehe." Keduanya pun tertawa bersama, malam itu.
Benar Rahma memang tidak akan bisa tahan lama jika marah dengan Irsyad, lebih-lebih dengan sikap manisnya itu, sesaat rasa dongkol nya akan cepat berubah menjadi rasa cinta yang teramat.