Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
kepercayaan lagi.


__ADS_3

Sudah dua minggu berlalu Rahma merasakan nyeri di perut bagian bawah di samping kiri.


Pagi itu Rahma baru saja mandi, ia pun menyadari pembalut yang ia beli dua minggu yang lalu belum ia gunakan.


"Kalau dari perhitungan ku, aku sudah telat datang bulan." gumam Rahma. Ia pun meraih testpack di lemari gantung itu. Ini sudah ke sekian kalinya ia mengecek urine nya, dan selama ini hasilnya terus saja negatif. Rahma kembali meletakkan lagi Testpack itu ke lemari gantung tersebut, karena ia benar-benar takut kecewa lagi. Namun karena perasaan yakinnya ia pun kembali meraihnya.


"Baiklah, aku akan mencobanya." gumam Rahma. Ia pun mulai menampung urine nya dan mencelupkan testpacknya.


Di dalam toilet itu ia terus mondar-mandir, menunggu hasilnya. Hingga beberapa menit lamanya.


"Bismillahirrahmanirrahim." Rahma mengangkat dan menatapnya. Saat itu juga Rahma menitikkan air mata. Ia menutup mulutnya merasa tidak percaya. Dengan cepat ia pun keluar. Menghampiri Irsyad yang tengah berada di ruang solat, tengah berzikir sembari menanti adzan subuh.


"Mas Irsyad." panggil Rahma dengan suara seraknya.


Irsyad menoleh ia tersenyum senang, karena melihat Rahma sudah terjaga sebelum ia bangunkan terlebih sudah memakai jubah mandinya, itu tandanya Rahma sudah mandi juga.


"Ade sudah bangun?" tanya Irsyad yang lantas mengecup kening Rahma.


"Mas, Rahma sedikit ragu, namun? Mas lihat ini." Rahma menyerahkan testpack nya pada Irsyad.


"Mas, mas Irsyad tolong pakai kaca matanya dan katakan pada Rahma. Kalau Itu beneran garis dua kan?" ucap Rahma.


Irsyad berbinar. "MasyaAllah, Rahma. Istri ku."


"Mas Rahma tidak salah lihat kan?" tanya Rahma lagi.

__ADS_1


Irsyad menggeleng. "Tidak sayang, ini sungguhan, istri ku hamil. ya Allah, Alhamdulillah." Irsyad mengecup kening Rahma lalu memeluk tubuh Rahma erat. Irsyad terharu, saking terharunya ia bahkan sampai terisak.


Setelah dukanya akibat kehilangan calon anak pertamanya, hingga penantian panjang setelah Rahma mengalami keguguran, terlebih semua masalah yang ia hadapi bersama Rahma. Akhirnya sekarang ia bisa di beri kepercayaan kembali.


Di sisi lain senyum Rahma memudar, ia ingat akan kata-kata dokter tentang kekhawatiran kalau ia akan mengalami kehamilan di luar kandungan lagi di kehamilan selanjutnya. Terlebih melihat suaminya yang terlihat sangat bahagia itu. Sungguh ketakutan akan membuat kecewa Irsyad kembali menghantui.


"Mas, tapi Rahma takut." ucap Rahma. Irsyad pun melepaskan pelukannya. Ia mengusap matanya yang basah.


"Takut kenapa sayang?" tanya Irsyad.


"Takut kalau kasus yang dulu itu kembali terulang."


"Semoga saja tidak sayang. Sekarang kita sholat subuh dulu ya. Nanti mas akan menelfon pihak rumah sakit untuk mengatur jadwal USG kamu. Kita harus langsung mengeceknya ke rumah sakit ya?" tutur Irsyad, Rahma pun mengangguk.


Irsyad menyentuh perut Rahma lalu membacakan doa. Dan mengusapnya lembut. "Calon anak Abi, sehat-sehat pada wadah mu ya. Lalu sapa Abi dan juga Umma di dunia." tutur Irsyad. Rahma tersenyum.


Barulah pukul sepuluh pagi ia mengunjungi rumah sakit besar setelah melakukan pendaftaran Via telfon.


Di rumah sakit itu Rahma harus menahan buang air kecilnya karena usia kandungan yang masih muda, ia bahkan di minta untuk meminum air putih banyak-banyak agar keinginan untuk buang air kecilnya cepat ia rasakan.


Kini Rahma sudah berada di ruangan praktek dokter kandungan, dimana suster mengaplikasikan ultrasonik gel pada Doppler nya lalu menempelkan ujung Doppler tersebut kebagian perut Rahma di bagian bawah.


Dengan harap-harap cemas Rahma dan Irsyad berharap agar kali ini kandungan Rahma benar-benar sehat dan berada pada wadahnya.


Senyum dokter itu tersungging. "Bapak, ibu. Alhamdulillah kandungan ibu Rahma normal." Ucap dokter tersebut.

__ADS_1


Keduanya pun mengucap syukur, dengan rasa bahagia yang tidak terkira.


"Dan ada kabar baik lagi ini." tuturnya.


"Apa itu dokter?" tanya Irsyad.


"Lihat yang seperti telur ini? Ada dua kan? InsyaAllah jika sehat, ibu dan bapak akan mendapatkan anak kembar." tutur dokter tersebut.


"Subhanallah..." gumam Irsyad bahagia sekaligus tidak menyangka. Ia akan mendapatkan anak sekaligus dua.


"Selamat ya ibu, dan bapak, setelah ini tolong di jaga dengan baik kandungannya." ucap Dokter tersebut sembari menjabat tangan Rahma.


"Terimakasih banyak dokter." ucap Rahma yang sudah menitikkan air matanya.


Setelah keluar dari ruangan dokter, dan mengurus administrasinya Irsyad dan Rahma sudah di dalam mobil mereka. Di sana Irsyad dan Rahma masih mengamati hasil USGnya.


"MashaAllah, mas masih tidak percaya. Kita akan punya anak kembar sayang." Irsyad mengecup kening Rahma.


"Rahma juga mas."


"Tidak terbayang seperti apa ramainya nanti." tutur Irsyad.


"Hehehe. Dan sepertinya lebih ekstra merawatnya."


"Tenang saja sayang, mas pasti akan membatu sekuat tenaga merawat si kembar ini, InsyaAllah." tutur Irsyad. Rahma pun tersenyum.

__ADS_1


Ia bahagia melihat suaminya terlihat sangat bersemangat dan ceria. Kini hanya tinggal bagaimana ia bisa menjaga kehamilannya itu agar tetap sehat hingga anak mereka bisa terlahir ke dunia ini.


__ADS_2