
Gara-gara keisengan ustadz tadi sore saat mengajari Rahma berbahasa jawa, nampaknya benar-benar membuat Rahma geram.
Ibu dua anak itu sekarang malah tengah melakukan aksi mogok bicara dengan ustadz. terlihat dia sedari tadi mendiami suaminya, bahkan setiap kali suaminya mendekati Rahma dia malah pergi menjauh.
Petang itu selepas solat isya, keluarga kecilnya itu tengah menonton serial animasi bersama-sama.
Terlihat dua anak itu Nuha dan Rumi tengah asik berjoget bersama menyanyikan lagu yang tengah dimainkan dalam serial animasi tersebut.
Terlihat hafal anak-anak itu menyanyikan lagu tersebut. Dan mengikuti setiap gerakannya.
Di sisi lain Abi Irsyad baru saja turun dari kamarnya setelah mengganti pakaian, ia memandangi sang istri yang langsung membuang muka.
'hehe masih marah rupanya. Coba ku lihat sekuat apa diri mu marah pada ku dek Rahma?' batin Irsyad. Beliau pun duduk di sofa tepat di hadapan Rahma yang tengah menopang dagu.
Rahma memalingkan wajahnya. Menggeser tubuhnya, Irsyad pun turut bergeser, membuat Rahma kembali bergeser hingga mentok.
Sudah tidak ada ruang lagi untuknya bergeser lagi, sehingga membuat Rahma beranjak lalu duduk di bangku lain.
Tak mau kalah bapak dua anak itu pun turut pindah membuat Rahma bersungut.
"Issssshhh." Kesal, ia lantas duduk menyerong membelakangi Irsyad. Sebenarnya Rahma ingin tertawa melihat tingkah suaminya itu.
Terlebih saat Irsyad hanya menatapnya sembari tersenyum.
Dan saat ini tangannya mulai aktif menoel-noel pinggang Rahma.
"Khumaira... Oh...kumaira..." Panggil Irsyad meniru logat serial animasi budak botak kembar itu.
Rahma sudah menyunggingkan senyum, namun dia masih diam saja. "Kumaira... Sayang ku. Yuhuuu." Irsyad Terus saja menggoda Rahma.
'pengen ketawa...pengen ketawa.' batin Rahma yang Masih belum mau menggubris mas Irsyad. Tangan nakal suaminya mulai menyusup masuk melingkari pinggang dan perut Rahma lalu mengusap-usap perutnya.
"Ada Dedenya ya? Kok buncit sih? Wah mas mau punya anak lagi ini? Kembar lagi kah?" bisik Irsyad di telinga Rahma.
"Itu lemak bukan hamil, ngejek aja terus, sampai puas!" Tutur Rahma ketus. Irsyad terkekeh.
"Masa sih? Coba mas periksa. wah... wah..., benar bukan Dede tapi ada cakwe, odading, ini oooohhh cilok, ada lagi, bakso pentol juga minta di absen kayanya." Rahma menoleh kebelakang, dengan cepat karena menganggap mas Irsyad semakin mengejeknya. Cupppp
__ADS_1
Bibir Rahma menempel ke bibir bagian samping suaminya. "Lahhh siapa yang nyuruh nyium coba? Tadi katanya ngambek tuh? Masih mau cium-cium. Ngambeknya bohongan ya?" Menuding Rahma.
"Apa sih, mas tuh yang deket-deket Rahma tadi."
"Apa? Mas kan cuma diam saja. Bibir ini nih yang nakal." Menyentuh bibir Rahma dengan jari telunjuknya nya. "Tapi lagi dong, lagi ya...sini... Sini."
Rahma mengulum bibirnya berusaha keras menahan tawa karena ekspresi wajah Irsyad itu. Dia menyentuh pipi Irsyad dan mendorongnya. "Cium saja sana bantal!!!" Rahma beranjak, ia menghampiri anak-anak.
"Dede, kakak sudah ngantuk kan, yuk bobo." Ajak Rahma.
Kedua anak itu beranjak sembari mengusap-usap mata mereka.
Rahma sempatkan melirik sejenak ke arah Irsyad. Pria itu memajukan bibirnya. Mengisyaratkan sebuah ciuman.
Rahma pun menjulurkan lidahnya lalu membuang muka, sembari menuntun kedua anak mereka naik ke lantai dua.
Melihat tingkah Rahma Irsyad terkekeh.
"Minta jatah nih Umma." Geleng-geleng kepala, Irsyad meraih remote Tv ya lalu mengganti saluran acaranya.
Sudah ada hampir satu jam Irsyad menonton acara televisi, Beliau pun mematikan TVnya, lalu mengunci pintu depan, belakang dan samping. Setelahnya beliau mematikan lampu-lampu yang tidak terpakai. Barulah beliau masuk ke dalam kamarnya.
Di dapatinya sang istri tengah tidur di ranjang Nuha dan Rumi.
Irsyad pun menyentuh tubuh Rahma.
"Dek." Panggil nya. "Dek Rahma tidur ya? Jangan tidur di sini sayang. Nanti yang mas peluk siapa?"
"Bantal...!" Jawab Rahma ketus. Irsyad terkekeh. Ia mengecup lekuk leher Rahma.
Lalu berbisik. "Kalo bantal nggak ada yang nikmat di sentuh, yuk bobo sama mas nanti mas kasih hadiah."
"Hadiah apa?"
"Kasih hadiah belaian kasih sayang suami mu ini lah, apa lagi?"
Rahma tersenyum, wajahnya masih ia tutupi dengan bantal guling.
__ADS_1
"Sayang ayo pindah. Kasian anak-anak sempit."
"Emang Rahma gemuk banget gitu? Sampai di bilang sempit?"
"Emang iya kok,"
"Kan menghina lagi? Males aahh sama mas."
"Hehehe, nggak...nggak sayang. Sini yuk sama mas saja boboknya ya."
"Nggak mau."
"Beneran nggak mau ini?" tanya Irsyad. Rahma masih diam saja menutupi wajahnya dengan bantal.
"Ya sudah kalau gitu. Memang Rahma suka di gendong kayanya."
Mata Rahma membulat terlebih saat Irsyad mulai meraih tubuh Rahma dan mengangkatnya.
"Kyaaaaa mmmpp" di bungkam lah teriakan Rahma dengan bibir Irsyad.
"Selain suka di gendong dek Rahma ini suka di cium ya?"
"Mas...mas... Rahma itu berat mas. Turunin ya? Rahma sudah ngeri rasanya." Kedua tangannya Melingkari leher Irsyad.
"Mas masih kuat dek. Memang kamu pikir mas sudah sepuh apa?"
"Iya lah, kan sudah ubanan." Rahma terkekeh.
"Memang minta di kasih hadiah kamu ya."
"Hadiah apa?" Tanya Rahma manja.
"Hadiah surga cinta ustadz Irsyad hehehe." Irsyad membawa tubuh istrinya ke atas ranjang mereka lalu setelahnya hanya dua orang itu yang tahu. Hehehehe.
beberapa menit pun terlewati keduanya dengan sentuhan penuh cinta.
Di bawah sorot lampu tidur kamar mereka.
__ADS_1