
"Seringkali, istri pertama saya menelfon kala saya sedang mandi, dan sengaja di matikan oleh istri kedua saya, bahkan Chatting yang di kirim istri pertama saya pun sengaja di hapusnya."
"Astaghfirullahalazim, sampai seperti itu pak?" tanya Irsyad. Pria itu mengangguk.
"Hingga suatu ketika? saya melihat dari pesan singkatnya ia memarahi istri pertama saya, membodoh-bodohkannya yang masih mau bertahan dengan saya. Dan memintanya untuk berpisah dari saya."
Irsyad geleng-geleng kepala.
"Begitu sabarnya istri pertama saya. Ia bahkan tidak marah dengan saya karena perlakuan istri kedua saya itu, bahkan walau saya sangat jarang pulang dan baru menggauli nya setelah sebulan lamanya. Dia tetap bertahan dengan saya Ustadz, demi anak-anak saya." Suara pria itu mulai parau.
Irsyad pun tersentuh. Ia turut merasakan apa yang tengah ia rasakan. Dan tidak bisa membayangkan jika beliau ada pada posisinya.
"Saya menyesal telah menduakan nya Ustadz. Saya sempat memutuskan untuk berpisah dari istri kedua saya namun dia tidak mau. Dia tetap keukeuh untuk menjadi istri saya. Namun saya sudah tidak tahan dengan sikapnya yang buruk itu Ustadz. Saya sudah tidak tega dengan istri pertama saya. Saya harus bagaimana Ustadz?" Pria itu terisak. Irsyad pun mengusap punggungnya, berusaha menenangkannya.
"Saya lelah dengan hal ini Ustadz, sangat lelah. Saya ingin terlepas dari masalah ini sungguh Ustadz. Saya tidak sanggup lagi." Gumam pria tersebut.
"pak Ruslan? Mohon maaf, setiap orang pasti pernah merasakan lelah dalam menjalani hidup, lagi pula ini jalan yang pak Ruslan pilih,"
"Hiks, saya salah Ustadz, saya telah tergoda cinta pada pandangan pertama."
Irsyad menghela nafas sejenak. Rasanya sangat ingin ia berbicara memberi saran namun seolah tertahan di lidahnya. Kala mengingat dirinya pun sama. Terjerat godaan akan pandangan pertama.
Lebih tepatnya. Pandangan setelah lama tidak jumpa.
"Ustadz saya harus bagaimana?" tanyanya lagi. Membuyarkan lamunan Ustadz Irsyad.
"Sesungguhnya, saya ingin memberi saran pada mu pak Ruslan. Namun sepertinya saya takut menjadi hantaman ke diri saya sendiri."
"Ma...maksud Ustadz?"
__ADS_1
"Tidak ada cinta pandangan pertama pak, yang ada hanyalah nafsu, cinta yang sesungguhnya ada pada istri pertama bapak, sedangkan istri kedua bapak itu adalah ujian dan godaan bapak sebelumnya. Jika saja bapak tahan akan godaan, hal itu tidak akan pernah terjadi. Namun pada kenyataannya. Bapak malah tergoda, dan menikahinya dengan dalih poligami itu tidak haram. Jujur saja saya sendiri pun tidak akan mampu melakukannya, tidak munafik pak saya pun pernah merasakan tergoda akan wanita selain istri saya. Namun sekuat tenaga saya tahan hasrat ingin memiliki itu. Terlebih melihat wajah istri dan anak-anak saya. Saya tidak ingin melukai mereka karena ego sesaat." tutur Irsyad, mengatakan itu seolah membuka catatan hitamnya kembali.
Pria itu masih terisak "ternyata Sangat berat Ustadz rasanya. Saya menyesalinya, saya menyesal telah melakukan poligami."
Irsyad bergumam mengucap istighfar, beliau tidak tahu ingin menuturkan nya seperti apa. "Bapak tahu surah Annisa? Hukum tentang poligami? 'Seorang pria di perbolehkan menikah lebih dari satu istri namun dengan syarat, pelaku poligami itu harus berlaku adil pada para istrinya,' Tapi masih ada lagi terusan nya pak? 'Dan sesungguhnya, diri kalian tidak akan pernah sanggup berlaku adil.' itu yang saya tahu."
Pria itu masih terdiam dalam tangisnya. Mendengarkan dalil dari Ustadz Irsyad.
"Tenangkan diri bapak, perbanyaklah memohon ampun. Jika memang harus bapak memberi talak padanya makan berikanlah. Jika wanita itu tetap menolak mohon bantuan pada Allah pak, Allah SWT pasti akan memberikan jalannya."
"Hiks.. Hiks..."
"Sabar ya pak, ini ujian untuk bapak karena Imam Syafi'i juga pernah menuturkan 'Tidak ada kemapanan sebelum melewati penderitaan, Allah telah menguji rosul-rosulNya, dan ketika mereka bersabar, barulah, Allah beri mereka kemapanan.' Maka jangan pernah berfikir bahwa kita tidak akan pernah merasakan pedihnya ujian," tutur Irsyad.
"Saya yakin setelah ini. Bapak akan lebih paham arti kesetiaan, terlebih-lebih bapak kini tahu, betapa wanita yang menjadi jodoh awal kita adalah pilihan terbaik dari Allah. Bidadari surga yang harus kita cinta. Itu sebabnya wanita di ciptakan dari tulang rusuk seorang pria yang dekat dengan hati, bermaksud agar pasangan kita bisa mendapat kasih sayang dan perlindungan dari kita."
Irsyad tersenyum. "Sudah pak, sebaiknya bapak kembali ke rumah istri pertama bapak dulu. Agar bapak bisa lebih tenang lagi."
Irsyad tersenyum. "Mohon maaf Pak, apa bapak memiliki anak dari istri kedua bapak?" tanya Irsyad. Pria itu menggeleng.
"Belum?"
"Iya belum Ustadz."
"Ya sudah bapak pikirkan saja semuanya matang-matang, kala saya jujur saja tidak berani menyarankan apapun, selain memberi bapak saran untuk memperbanyak solat malam agar di beri petunjuk."
"Iya Ustadz saya akan usahakan."
Irsyad pun mengambil buku note nya, dan menulis sesuatu, lalu merobeknya.
__ADS_1
Irsyad mengulurkan secarik kertas tersebut pada pak Ruslan "Ini pak. Amalkan zikir yang saya tulis ini, setiap bapak selesai solat tahajud. Atau minimal solat subuh. Syukur-syukur saat solat di sepertiga malam. Baca zikir itu sebanyak seratus kali. Rutin saja pak. Semoga di ijabah dan bapak bisa segera terlepas dari masalah yang tengah bapak hadapi." tutur Irsyad.
Pria itu pun menerimanya juga mengecup tangan Irsyad berkali-kali.
"Pak jangan seperti ini pak, ini sangat tidak pantas saya dapatkan."
"Saya hanya merasa berterimakasih sekali pada Ustadz. Karena telah memberikan saya pencerahan dan amalan yang baik."
Irsyad tersenyum. Keduanya pun masih larut pada obrolan basa basi hingga tak terasa waktu sudah semakin larut tamu tersebut pun berpamitan untuk pulang, dengan hati yang lebih tenang.
Irsyad masih berdiri di depan pintu mengangkat satu tangannya memberi salam ke arah mobil pak Ruslan yang tengah membunyikan klaksonnya sebelum melanjutkan perjalanannya.
"Mas." Panggil Rahma tiba-tiba, membuat Irsyad terkesiap.
Beliau menoleh kebelakang. "Astaghfirullah, ade tuh ngagetin mas saja. Kirain sudah tidur."
Rahma terkekeh "Belum bisa tidur mas."
"Lah kok gitu. Ade kan lelah seharian mengurus si kembar."
Rahma melingkari tangannya di pinggang Irsyad. "Entahlah mas. Seperti kebiasaan saja. Tidur harus dalam dekapan mas Irsyad. Di kasih senandung sholawat Nariyah dari bibir mas, belum lagi tangan mas yang mengusap-usap punggung Rahma. Rasanya nyaman sekali. Kalau tidak seperti itu, Rahma akan susah tidur."
"Hmmmm bilang saja ingin di sentuh tuh. Minta lagi ini ceritanya? Hampir Setiap hari di kasih loh Rahma. Masih kurang?" Ledek Irsyad.
"Isssshh mas ini bicara apa sih?"
"Hehe, tapi nggak papa sih, mas juga suka ngasihnya, dengan senang hati malah."
Rahma tergelak. "Mas, Ya Allah bicara apaan sih kamu."
__ADS_1
"Bicara cinta...yuk masuk jangan di luar nanti diliat orang." ucap Irsyad berbisik. Keduanya pun tertawa bersama sembari masuk kedalam rumah mereka.
***