
Di sebuah meja makan yang tenang, dimana keluarga ustadz Rahmat tengah menyantap hidangan makan malam sederhana yang tersaji dengan beberapa lauk di atas meja, terdengar dencingan suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik, sebagai alas makan mereka, memotong daging ayam yang di bumbui dengan kecap dan lada, juga potongan bawang bombai yang masih terlihat menempel di potongan ayam tersebut.
Dengan di temani hijaunya sayur sawi pokcoy yang ditumis bersamaan dengan tahu putih di sana. Belum lagi dengan satu toples bawang goreng kesukaan Fakih, dan peyek kacang kesukaan Abi Rahmat. Menambah riuh suara mulut yang beradu demi menghancurkan renyahnya peyek tersebut.
"Pffffffffftt." Tiba-tiba saja Faqih terkekeh. Hal wajar jika kita mengingat sesuatu yang lucu bukan? Saya rasa semua orang akan demikian, tiba-tiba tertawa tidak jelas, sehingga menimbulkan tanda tanya bagi mereka yang melihat Itu.
Ustadz Rahmat mengangkat dagunya. "Ada apa A'? Ada yang lucu ya?" Tanya Ustadz Rahmat.
Faqih pun mengepalkan tangan dan menutup mulutnya, berdeham sejenak. "Tidak Bi. Hanya ingat kutu." Gumamnya, kembali terkekeh.
"Kutu?" Tanya Umma Hasna. "Siapa yang kutuan?"
"Hah?" Menoleh, lalu tertawa lagi.
"Faqih, selesaikan dulu makan mu. Nanti. Tersedak." Titah sang ayah. Faqih pun beristighfar dan meminta maaf. lalu meraih air dalam gelas di dekatnya dan meminumnya.
Di keluarga ustadz Rahmat memang seperti itu. Sangat penuh dengan ketengan berbeda dengan keluarga ustadz Irsyad, dimana jam makan malah menjadi sarana perang dua kakak beradik yang duduk bersebelahan.
Seperti saat ini, kita beralih pada keluarga ustadz Irsyad.
Dimana Nuha baru saja menggoreng sosis untuknya dan sang kakak. ia pun duduk di sebelah Rumi, lalu menyerahkan tiga ruas sosis yang ia goreng tadi, terlihat punya Nuha hanya ada dua di atas nasinya.
'tumben baik anak satu ini.' batin Rumi yang merasa tidak beres. Hingga ia pun meraih piring Nuha, yang langsung di tahanannya.
"Mau apa? Kok ambil piring Dede?" Tanya Nuha.
"Tukeran saja, aku baik hati, kau yang sosisnya tiga, aku yang dua." Ucap Rumi.
Sementara itu Irsyad dan Rahma hanya bisa menoleh ke arah mereka. Mengamati dua anak itu, dan menunggu kegaduhan apa yang akan mereka lakukan.
Gadis itu masih menahan piringnya. "Hei, aku tidak butuh kebaikan kakak, sudah makan saja punya mu sana."
__ADS_1
"Dek, aku suka yang dua sosis."
"Tidak bisa. Kan aku cewek." Tersenyum lebar. Semakin curiga lah Rumi jika adiknya itu sudah mengubur sesuatu di dalam nasinya.
"Kau tahu hukum orang yang serakah kan?" Tersenyum sinis.
"Si...siapa yang serakah hah. Kakak ini ya." Mulai panik, karena Rumi sudah mencium sesuatu yang ia sembunyikan.
Rumi pun tersenyum. Ia lantas meraih garpunya, lalu mengarahkannya ke piring Nuha.
"Kakak mau apa?" Seru Nuha, saat sang kakak sudah menusukkan gundukan nasi di piring Nuha. Nuha pun menelan selavinya, saat itu juga di angkatlah dua ruas sosis yang keluar dari dalam nasi Nuha.
"Ketahuan kamu ya? Ckckck" mengangkatnya tinggi-tinggi.
Rahma pun tergelak melihat kelakuan Rumi di hadapannya, terlebih wajah Nuha yang mulai pias.
Sementara Irsyad hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala. "Astagfirullah al'azim." Gumam beliau.
"Ckckck, aku tahu dek, kau itu bukan tipe adik yang baik hati mau berbagi dengan adil, apa lagi menaruh punya ku yang lebih banyak dari punya mu."
Nuha pun tertunduk, karena merasa bersalah.
"Ku sita dua sosis ini ya." Ucap Rumi yang lantas meletakkannya di atas piringnya sendiri.
"Yah...yah..." merasa tidak rela dua sosisnya di berpindah piring.
"Rasakan itu, sebagai hukuman tamak nya dirimu." Terkekeh sinis. Sementara Nuha memajukan bibirnya, menghadap ke Abinya.
"Abi?" Rengek Nuha, Abi Irsyad pun hanya menusuk tempe goreng dengan garpu lalu berpaling, dan menyodorkannya ke arah Rahma, sembari terkekeh.
"Hiks, Umma." Berpaling ke Ummanya, namun Irsyad sudah meraih dagu istrinya untuk menghadap ke arahnya saja dan memakan tempe goreng dari tangannya itu.
__ADS_1
"Sukurin, tidak ada yang akan membela mu." Ucap Rumi, lalu mengigit sosisnya.
"Hiks, jahaaaaaat." Rengeknya. Semua yang di sana pun tertawa.
"Ayo minta maaf dulu ke kak Rumi." Titah Irsyad. Nuha pun menoleh ke arah kakaknya.
"Maaf kak Rumi."
"Emmm." Jawabnya singkat.
"Sini kak."
"Apanya?"
"Sosis ku."
"Nggak!"
"Huaaaaaaaaa."
"Rumi, kasih satu sosisnya." Titah Irsyad. Rumi pun melirik sebal ke arah Nuha yang sudah tersenyum sok imut.
"Nih, ambil tuh." Ucap Rumi sembari menyerahkan sosisnya.
"Terimakasih kakak ku."
"Awas diulangi lagi ya."
"Hehehe iya."
Dan mereka pun kembali menyantap hidangan makan malam mereka dengan penuh kehangatan keluarga, setelah drama sosis tadi.
__ADS_1