Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
siapa Annisa Nur Istiqomah itu?


__ADS_3

Rahma berjalan lebih dulu di depan Irsyad dengan wajah kesal, berbeda dengan pria di belakangnya yang justru senyum-senyum sendiri menahan tawa karena telah berhasil mengganggu sang istri menonton film. Lebih tepatnya menahan Rahma agar tidak memandangi karakter pria di film itu sih.


Dengan memanjangkan langkahnya Irsyad menyusul Rahma dan kini ia sudah berada di sampingnya meraih tangan Rahma untuk menghentikan laju kakinya. "Khumairah ku, tunggu mas dong. Masa mas di tinggalin sih."


"Tau ah Rahma kesal pada mu mas, mengajak nonton apanya sih? Masa mata Rahma terus-terusan di tutupi, kan kesel."


"Habis dek Rahma memuji-muji tokoh Azam terus."


"Memang dosa ya mengagumi artis? Lucu mas ini ya. Masa iya artis mas cemburui sih?"


"Dek Rahma, kagum pada tokoh dalam drama atau penyanyi itu tidak salah. Yang salah itu jika berlebihan sayang."


"Tapi kan Rahma tidak berlebihan mas."


"Coba mas tanya. Yang ade kagumi tadi karena perannya apa memang sudah ngefans dari awal sama karakter laki-lakinya?" tanya Irsyad.


"Emmm itu?" Rahma terdiam karena ia memang mengagumi sosok Fedi Nuril sejak masih remaja hingga saat ini.


"Mau dengar sesuatu?"


Rahma terdiam sembari menatap sebal 'mulai deh dia ceramahnya.'


"Mau dengar tidak?"


"Iya apa?"


Irsyad tersenyum "Pernah seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW dek, lalu dia bertanya, 'Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?' Rasulullah menjawab, 'Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat?' Orang tersebut menjawab, 'Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.' Rasulullah bersabda lagi, 'Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai.' Anas berkata, 'Kami tidak pernah gembira setelah masuk Islam lebih gembira disebabkan sabda Nabi Muhammad SAW, 'Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka'."


"Jadi intinya tidak ada yang boleh kita idolakan selain Rosulullah Saw, dan mengagumi artis sebenarnya sah-sah saja asal tidak perlu memujanya secara berlebihan apalagi mengagumi artis non muslim seperti ade yang mengagumi sekali aktor Korea hayo, tadi saja di depan mas begitu memuja dan memuji karakter Azam bagaimana di belakang, apa lagi ade suka sekali menonton drama luar pasti lebih parah dari tadi tuh."


Seperti biasa tidak ada kata bantahan untuk menjawab tebakan suaminya, memang benar sih apa yang beliau katakan. dulu saja saking mengagumi artis-artis itu ia sampai rela membohongi orang tuanya dengan dalih ada iuran sekolah demi bisa mendapatkan uang jajan tambahan dan bisa bertemu artis idola saat sedang mengadakan fans sigh.

__ADS_1


"Kenapa diam saja?" tanya Irsyad.


"Tidak apa-apa, sudah lah. Memang Rahma ini masih perlu banyak belajar sepertinya." tuturnya sembari memajukan bibirnya. Irsyad terkekeh.


"Marah ya karena mas menceramahi mu?"


"Tidak kok. Merasa saja Rahma masih sangat jauh dari kesan wanita soleha untuk pria seperti mas."


"Dek, ade sudah jauh lebih baik kok. Dan lagi. mas mengaku deh kalau mas cemburu pada karakter mas Azam. Habis ade muji-muji terus sih sepanjang menonton film. Memang tidak sadar ya kalau mas juga seperti karakter Azam itu?" tanya Irsyad. Alisnya naik turun menggoda Rahma. Rahma pun tersenyum.


"Mas ini, bisa saja ya."


"Hei beneran. Mas tanya ini."


"Iya. Maaf ya Rahma tidak sadar bahwa Rahma juga punya suami seperti mas Azam yaitu mas Irsyad." Rahma terkekeh.


"Mas maafkan, tapi nanti jatah mas dobel ya."


"Bukan apa-apa." Irsyad menggandeng tangan Rahma dan satu tangannya menutup mulutnya sembari terkekeh-kekeh. Sedangkan Rahma belum konek maksud suaminya itu.


Mereka pun melanjutkan acara mereka yaitu makan malam sebelum itu Rahma menelfon ibunya menanyakan tentang si kembar. Dan ibunya menjawab kedua anak mereka sudah tertidur dan bersyukurnya sama sekali tidak rewel. Rahma pun menghela nafas kini ia bisa sedikit tenang dan melanjutkan rencana makan malam itu.


Mereka lantas melangkah menuju area foodcourt. Di depan pintu masuk mereka berpapasan dengan seorang wanita bercadar dengan busana serba hitam menyapa Ustadz Irsyad.


Rahma hanya bersikap normal karena mungkin wanita itu adalah salah satu jamaah ustadz Irsyad juga seperti biasa.


"Maaf benar pak Irsyad rupanya." Wanita itu menyapa Rahma juga. Suaranya sangat lembut dan halus. Bahkan Rahma yang seorang wanita saja sedikit kagum, terlihat dari cara pandang wanita itu sangat terlihat sejuk. Kulitnya juga putih bersih. Sepertinya jika cadar itu di buka wanita itu sangatlah cantik.


"Maaf ukhti, dari suara saya seperti mengenali Anda." tanya Irsyad.


"Saya Annisa Nur istiqomah. Mantan mahasiswi pak Irsyad dulu." tuturnya.

__ADS_1


Irsyad tertegun sedikit tidak percaya. 'Subhanallah Isti?' batin Irsyad. Irsyad pun hanya menelungkup kan kedua tangannya di depan dada.


"Apa kabar? Kau datang sendirian tidak bersama suami?" tanya Irsyad.


"Emmm iya Ustadz, suami saya baru saja wafat dua bulan yang lalu akibat sakit liver yang ia derita." tuturnya.


"Innalillahi wa inalillahi roji'un." Jawab Irsyad dan Rahma hampir bersamaan.


"Lalu kau sendirian di sini?" tanya Irsyad.


"Iya, saya baru saja mengajar privat, dan anak-anak saya minta saya bawakan ayam goreng tepung dari resto ini."


"Sudah berapa anaknya?" tanya Irsyad.


"Tiga Ustadz, yang satu sudah lima tahun, yang satu empat, dan yang satu tiga tahun." jawabnya. "Dan maaf Ustadz saya harus buru-buru pulang, mari bu, assalamu'alaikum." wanita itu menyapa Rahma juga dengan ramah. Irsyad tertunduk sembari bergumam menjawab salamnya.


"Mas?" panggil Rahma.


"Iya dek?"


"Mas kenal dengannya?"


"Kan tadi ade dengar dia mantan mahasiswi mas."


"Iya tapi sepertinya ada yang lain."


Irsyad tersenyum. "Lain bagaimana, sudah yuk makan sudah semakin malam ini kasihan si kembar." ajak Irsyad sembari kembali menggandeng Rahma masuk kedalam restoran ayam goreng tepung tersebut.


Walau otak Rahma masih terus bertanya-tanya tentang wanita bercadar itu. Namun sepertinya untuk kali ini ia tidak ingin ambil pusing. Rahma menepis segala pikiran yang mulai menerobos masuk satu persatu kedalam otaknya dengan berbagai presepsi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2