Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
kaki dan hati yang telah mati


__ADS_3

Di depan pintu kontrakan, Aida termenung. Menatap anak-anak kecil yang tengah berlarian sembari menggiring bola ke sana kemari. Sesekali senyumnya tersungging saat melihat salah satu anak itu terjatuh lalu tertawa.


'Senangnya, andai saja kaki ku ini tidak bermasalah, mungkin aku tidak akan semerana ini.' batin Aida yang tengah menitikkan air matanya.


Tak lama seorang kurir makanan yang setiap hari datang sebanyak tiga kali itu pun tiba.


"Permisi mbak, saya kurir ojol food mengirim makanan dari mbak Rahma untuk mbak Aida." tuturnya.


"Terimakasih mas," jawab Aida. Ia pun menerima makanan itu. Dan sang kurir pun pergi. Aida menghela nafas.


"Aku sudah seperti pengemis saja hahaha." Aida terkekeh miris. Ia pun memundurkan kursinya berniat masuk.


"Assalamu'alaikum." Seru seorang wanita paruh baya.


"Walaikumsalam," jawab Aida.


"Maaf mbak saya rada kesiangan datangnya." tutur bu Tuminah yang di minta kan tolong oleh Irsyad untuk menjaga Aida dan merawat Aida sejak dirinya keluar dari rumah sakit.


"Iya tidak apa bu." jawab Aida, terasa sekali, akhir-akhir ini ibu Tuminah sering terlambat datang terkadang ia datang hanya di siang hari, bahkan kemarin ia baru datang pukul dua siang, mungkin karena Aida yang tidak banyak berbicara apa lagi menegurnya, sedangkan Aida bahkan tidak pernah bercerita pada Irsyad dan Rahma tentang pekerjaannya yang tidak maksimal itu.


"Mbak Aida, maaf ya, mungkin hari ini saya terakhir merawat mbak, soalnya saya harus merawat cucu saya, karena semalam anak saya baru saja melahirkan." ucapnya.


"Begitu ya?" ucap Aida yang sedikit sedih, karena jika tidak ada yang membantunya, siapa yang akan mencuci pakaiannya dan membantunya melakukan aktivitas lain karena ia belum terbiasa melakukan tugasnya sendiri.

__ADS_1


"Maaf Sekali ya mbak Aida, bisa tolong katakan ini sama mas Ustadz Nya? Soalnya Tadi saya sudah berusaha menghubungi beliau, tapi nomor mas ustadz nya tidak aktif mbak." ucapnya.


"Bu Tum, ibu tidak usah mengatakannya pada mas Irsyad ataupun mbak Rahma ya, kalau ibu Tum sudah tidak bisa membantu saya lagi, biar saya saja yang mengatakannya ya." ucap Aida halus.


"Benar ini mbak? Maaf sekali ya mbak, sebenarnya saya kasihan sama mbak Aida kalau hanya sendirian seperti ini. Namun mau bagaimana lagi."


Aida tersenyum kecut. "Tidak apa kok bu Tum, saya sudah mulai bisa melakukan aktivitas saya sendiri." tuturnya.


"Kalau begitu saya mau mencuci pakaian mbak Aida dulu ya." ucap Bu Tum, Aida pun mengangguk.


"Emmm Bu tum sudah makan?" tanya Aida.


"Sudah mbak. Tadi saya sudah makan kok, mbak Aida makan sendiri saja ya, mau saya ambilkan piring?" ucap Bu Tum.


Setelah semua pekerjaan bu Tum selesai, ia pun berpamitan pada Aida dan berucap bahwa sore nanti akan datang lagi untuk mengambil pakaian yang sudah kering itu.


Sedangkan Aida hanya mengangguk dan memandangi tubuh bu Tum yang tengah melenggang pergi.


"Bagaimana ini? Kalau bu Tuminah sudah tidak kesini lagi besok? Apa aku bisa mencuci pakaian ku sendiri?" gumam Aida. Tidak mungkin ia meminta pada Irsyad dan Rahma untuk di carikan pengurusnya yang baru, dengan semua ini saja sebenarnya ia sudah sangat merasa tidak enak.


Saat ini Aida merasakan tubuhnya yang terasa lengket. Ia ingin mandi, sedangkan bu Tum sudah pulang, ia pun menutup pintu kontrakannya itu dan menguncinya.


seperti biasa Aida akan turun perlahan dari kursinya, lalu menyeret tubuhnya sendiri ke dalam kamar mandi yang tidak luas itu bahkan bisa di bilang sangat kecil, dan lantai kamar mandinya itu berlapis keramik sehingga Aida tidak terlalu jijik jika harus duduk di atas lantai ubin itu dengan perlahan ia melepaskan pakaiannya di dalam kamar mandi itu dan mulai memutar keran air yang tidak terlalu tinggi, dan wadah penampungan air itu pun hanya ember biasa bukanlah bak mandi, maka Aida masih bisa meraihnya.

__ADS_1


Tubuh Aida mulai basah terkena air, ia menangis di dalam kamar mandi itu sesegukan, meratapi nasibnya yang benar-benar memilukan, ia tidak pernah membayangkan akan hidup seperti ini.


Sungguh hal itu pula yang membuat Aida tidak tahan dengan hidupnya yang sekarang, andai saja ia tidak sebatang kara, paling tidak masih ada orang tuanya mungkin hatinya akan merasa lebih baik tidak sehancur saat ini.


Selesai mandi Aida kembali menyeret tubuhnya keluar, ia meraih handuk yang tergeletak di depan pintu kamar mandi itu agar tidak basah dan memakainya.


Setelah mengeringkan tubuhnya dan memakai pakaian, Aida duduk di atas ranjang yang tidak terlalu tinggi.


Dengan pandangan kosong ia menyisir rambutnya yang panjang dan basah. 'Sudah siang, mas Irsyad belum datang, bahkan mbak Rahma sama sekali tak mengirim pesan padanya.' Aida menghentikan kegiatannya.


"Miris, seharusnya aku tahu, mas Irsyad tidak mungkin serius dengan kata-katanya, dan Mbak Rahma pasti sangat marah pada ku saat ini." Aida tertunduk.


"Aku tidak mau seperti ini, sungguh aku tidak ingin seperti ini hiks... Hiks..." tubuh Aida bergetar ia kembali menangis.


Sesaat ia mendengar suara rintik hujan di luar, Aida pun terperanjat. "Pakaian ku?" Akibat terburu-buru, ia malah justru terjatuh dari atas ranjangnya Aida sempat meringis sekilas karena merasa sakit dan kini bahkan ia kesulitan untuk naik keatas kursi rodanya.


Tidak ada waktu lagi, hujan semakin deras, dan bu Tum belum kembali. Ia pun menyeret tubuhnya keluar dan berusaha keras membuka kunci rumahnya.


"Baju ku akan basah semua." Rengek Aida yang kesulitan. "Kenapa susah sekali sih?" Susah payah tangan itu meraihnya dan dan membukanya cepat, namun sayang kini ia sudah terlambat, bajunya sudah basah semua terguyur air hujan. Walaupun sejatinya baju-bajunya itu memang masih sedikit basah, namun miris saja saat melihat pakainya harus terguyur hujan.


"Aaarrrhhh semua karena kaki ku, sungguh kau tidak berguna sekali sih... Ayo berdiri bodoh! Cepat berdiri!" Aida terisak, ia terus memukul-mukul kakinya yang sudah mati rasa itu, pandangannya pun kembali menatap ke arah baju-bajunya.


"Kenapa harus begini? Mas Irsyad hiks, kemari lah mas tolong Aida, aku tidak ingin seperti ini." Tangis Aida yang merasakan sesak di dadanya sembari menatap ke arah pakaiannya itu.

__ADS_1


Hatinya yang sesak itu benar-benar berharap kalau Irsyad akan datang menolongnya.


__ADS_2