
Selepas magrib Rahma menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya. Karena Pulang dari departemen store sudah sedikit terlambat Irsyad pun tidak ke masjid dan hanya solat berjamaah di rumah dengan istri dan kedua anaknya
Sementara itu Irsyad yang baru selesai dengan zikir panjangnya berdiri menyandar di dekat dapur.
matanya tertuju pada kaleng sarden yang sudah terbuka seketika membuatnya teringat akan pria yang membantu Rahma meraih kaleng sarden tersebut.
Irsyad berjalan menuju ruang laundry dimana ada beberapa tumpukan pakaian dan hijab Rahma.
Beliau meraih kerudung segi empat Rahma, lalu berjalan kembali menghampiri sang istri.
"Dek...dek... liat sini sebentar." pinta Irsyad. yang langsung membuat Rahma mematikan kompornya. Lalu menghadap Irsyad.
Irsyad lantas menutupi bagian hidung hingga mulut istrinya. Seperti sebuah cadar di wajahnya.
"Mas itu ngapain sih?" tanya Rahma bingung.
Irsyad tersenyum "Ade cantik jika bercadar." Tuturnya.
Mendengar itu Rahma langsung mendengus "Dugaan ku dulu benar kan? mas pasti akan meminta Rahma bercadar."
"Mas baru memikirkan nya hari ini kok."
"Tapi Mas, Rahma belum siap untuk bercadar."
"Kamu terlalu cantik sayang. Mas tidak mau dari kecantikan mu itu timbul Fitnah yang membuat lawan jenis jadi tertarik. Terlebih-lebih kamu sudah menikah."
Rahma terkekeh. "Cantik dari mananya sih suami ku. Rahma sudah tua."
Irsyad menoleh ke arah kedua anaknya yang masih fokus menonton televisi sembari menyantap Snack yang di beli tadi, di ruang tengah.
Merasa aman Irsyad lantas mengecup bibir Rahma dengan cepat.
"Istri mas ini masih cantik, ini yang bikin mas selalu merasa kalau kecantikan Rahma itu harus di tutupi. Agar menghindari pria lain tertarik pada istri mas ini. Yah... Mau ya bercadar."
Rahma mendesah. "Tidak mau mas. Lagi pula siapa yang akan tertarik pada ibu dua anak seperti Rahma. Yang ada-ada saja." Rahma kembali fokus pada pekerjaannya.
'ada lah, Dokter Miftah contohnya.' batin Irsyad.
"Lagi pula memang memiliki suami tampan seperti mas ini bukan ujian juga ya buat Rahma?" Rahma menoleh kearah Irsyad lalu kembali fokus pada masakannya.
"Ujian bagaimana, mas kan sudah tua Rahma."
"Halah, tetap saja mas itu ustadz Tampan, nggak baca apa DM akun stagram mas? Banyak yang minta di halalin" bersungut.
Irsyad terkekeh. Ia kembali menoleh ke arah anak-anak mereka lalu kembali mengecup pipi Rahma. "Mas bisa pakai masker setiap saat. Kalau Rahma mau."
Rahma menoleh. "Idih. Nanti yang ada di kira sakit aneh lagi."
"Kan buat temen Rahma bercadar."
"Nggak mau mas, Rahma belum siap."
"Pelan-pelan sayang."
"Hissss memang ada aturannya apa? Dan di wajibkan juga kah?"
"Ada sebagian yang melarang memakai niqab atau cadar karena salah satu perbuatan yang melebih-lebihkan. Namun sebagian orang alim ulama menganggap itu baik karena adanya larangan memperlihatkan wajah di antara laki-laki. Bukan karena wajah itu sendiri adalah aurat ya tetapi lebih karena untuk mengindari fitnah. Termasuk wanita-wanita cantik yang sudah menikah seperti istri mas ini."
__ADS_1
Rahma terdiam. Irsyad pun mengecup kening Rahma.
"Mau ya istri ku."
"Rahma belum mau dan Rahma belum siap mas." jawabnya lirih.
"Pelan-pelan sayang, seperti contohnya saat pergi ke tempat Ramai seperti tadi. Ya ...mau ya Rahma." Irsyad meraih tangan Rahma dan mengecupnya.
"Rahma akan memikirkannya dulu mas."
"Alhamdulillah." gumamnya.
"Tapi tidak janji loh mas."
"Iya sayang iya..." Irsyad mengecup kening istrinya. Lalu mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Ya sudah Rahma ingin menyelesaikan masakan Rahma."
"Iya sayang, masak yang enak ya istri ku." Irsyad mengecup pipi Rahma lalu berjalan menuju ruangan tengah menghampiri anak-anak mereka.
Sedangkan Rahma sedikit tertegun. "Bercadar ya? Sepertinya akan sulit untuk ku." Gumam Rahma. Ia lantas melanjutkan memasaknya.
Setelah selesai memasak Rahma menghidangkan sarden yang ia beli tadi dengan cah kangkung buatannya.
Rumi dan Nuha sudah duduk manis di kursinya makan dengan lauk Nugget dan sosis favorit mereka.
"Yuk berdoa dulu." titah Abi Irsyad.
Doa makan pun di bacakan oleh Rumi yang sudah hapal. Setelahnya mereka lantas melanjutkan makan malam mereka.
Rahma menoleh, melihat suaminya Yang hanya diam saja. Rahma merasa sepertinya itu ketidak sengajaan Irsyad. Ia pun mendekat kan kembali sendok pada piring berisi sarden tersebut. Lalu di jauhkan lagi oleh Irsyad.
"Mas, Rahma mau makan sardennya."
"Pakai lauk yang lain saja dek ini untuk mas semuanya ya."
"Lahhh...." Rahma tercengang. Tumben sekali bapak dua anak ini pelit. Batin Rahma.
"Tapi Rahma mau makan sardennya mas."
"Buat mas saja dek. Ade makan yang lainnya ya." Irsyad semakin menjauhkannya dari Rahma.
"Tidak mau, Rahma mau sarden."
Irsyad mengangkat piringnya.
"Jangan dek."
"Mas ini kenapa sih?"
"Nggak kenapa-kenapa, mas kan bilang, mas akan makan sarden ini sendiri."
"Heran deh mas itu biasa tidak pelit, baru kali ini mas pelit."
'astagfirullahalazim' batin Irsyad.
"Mas, sini nggak."
__ADS_1
"Nggak."
"Ya Allah mas, itu serakah namanya."
"Astagfirullah al'azim semoga Allah mengampuni." gumam Irsyad.
Rahma pun mendesah sinis.
Ia lantas menopang dagunya dengan satu tangannya. Menatap dalam-dalam pada Irsyad. "Suami ku yang tampan. Minta Sardennya ya."
Irsyad melirik. "Mas belikan lauk apapun asal jangan sarden ini. Ya?"
"Rahma mau sardennya."
"Ayam goreng tepung mau? Mas pesan sekarang."
"Sardennya mas."
"Aaaahhh iya, cumi saos Padang. Atau mau kepiting?"
"Sarden, Rahma mau sarden nya." Keukeuh.
Irsyad menghela nafas. "Rahma tahu ini sarden yang tadi di ambilkan dokter Miftah kan?" ucap Irsyad.
"Iya, terus?" Rahma tersenyum jail.
"Ya sudah jadi mas saja yang makan."
"Lah tapi itu porsinya kebanyakan kalau mas makan semua. Kaya habis saja heran."
"Pokonya buat mas. Rahma tidak boleh memakannya." Pria itu masih menjauhkan sarden itu dari Rahma.
Sedangkan Rahma masih sedikit terkekeh. Lalu dengan jahil mendekat piring tersebut dengan sendoknya. Dan seketika itu pula sendok itu di dorong oleh Irsyad menggunakan sendoknya pula. Rahma pun kembali terkekeh.
"Sudah dek Rahma makan saja ya. Tuh lauk yang lain enak-enak kok."
"Rahma mau sarden." Merengek manja.
"Besok mas beliin ya. Ini buat mas saja."
"Maunya sekarang." Rahma mengedip-kedipkan matanya.
Irsyad pun geleng-geleng kepala. Mendekati Rahma lalu berbisik. "Terus saja bertingkah manja nanti mas habisin loh malam ini."
Rahma menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya sembari terkekeh kala mendengar kata-kata itu dari Irsyad.
Rahma kembali berbisik. "Mau sarden cintanya sini, icip sedikit saja." Ledek Rahma.
Irsyad membulat kan bola matanya. "Macem-macem kamu ya. Bilang sarden cinta segala. Awas saja nanti malam mas hukum kamu."
"Hahaha. Pak ustadz bucin." Gumam Rahma. Melanjutkan makanan malamnya. Sembari sesekali menjahili Irsyad hendak meraih sarden tersebut namun kembali di lirik tajam oleh sang suami sehingga membuat Rahma kembali tertawa.
Bersambung....
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
kali saja ada yang berkenan mampir akun Instagram ku @love_praka. itu khusus akun ku buat NT. soalnya aku bikin dua akun khusus untuk dua platform hehehe... maaf ya promo saya.
__ADS_1