
Pukul sebelas malam Ulum baru saja pulang setelah menerima beberapa orderannya.
Dengan tubuh yang terasa lelah Ulum melepas jaket berwarna hijaunya dan keluar menuju tandas untuk bebersih.
Ulum mengontrak di kontrakan sepetak dengan kamar mandi di luar. Hidup di jakarta memang tidak mudah, terlebih dirinya hanya perantauan sudah pasti membuatnya selalu berusaha menghemat bukan.
Apalagi kini bapaknya sudah tidak membiayai hidupnya. Setelah ayahnya memiliki keluarga baru, Ulum hanya sesekali menelfon ayahnya itu, maklum saja ayahnya yang sudah punya keluarga baru membuat Ulum tidak enak jika harus bergantung pada ayahnya, terlebih-lebih Ulum memiliki dua orang adik tiri yang masih kecil-kecil dan masih membutuhkan biaya besar.
Itu pula yang membuat Ulum untuk mandiri di kota orang.
Setelah bebersih Ulum pun merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai yang tidak empuk.
Ulum tidur terlentang dengan satu tangan menjadi bantalan ia memejamkan matanya. Benar harusnya tubuh yang lelah itu akan mudah untuknya memejamkan mata, namun tidak untuk malam ini. Ulum tiba-tiba saja teringat atas permintaan ustadz Irsyad.
Matanya pun kembali terbuka. "Menikahi Aida? Dengan aku yang seperti ini, apa Aida mau dengan ku?" gumam Ulum. Perdebatan batin terus di rasakan nya. ia pun meraih ponselnya lalu membuka menu galeri.
Di sana ia melihat foto sang bunda yang tengah duduk di atas kursi Roda.
"Ibu? Usia ku sudah menginjak 26 tahun, apakah aku sudah boleh menikahi seorang wanita? Tapi Ulum belum ada dana bu." gumamnya. Ia beranjak dan meletakkan kembali ponselnya. Lalu meraih sebuah celengan yang ia taruh di sebuah meja dinding yang terpasang dengan dua siku besi.
Ulum memandangi celengan itu lalu mengocoknya di dekat telinganya.
Perlahan ia pun memecahkan celengan yang terbuat dari tanah liat itu, lalu mengumpulkan uang pecahan sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan, yang ada di sana. Setelahnya Ulum pun menghitungnya.
"Empat ratus tujuh puluh, empat ratus sembilan puluh." hitung Ulum sampai di pecahan terakhir uang lima ribu rupiah yang ada di kantongnya.
"Empat ratus sembilan puluh lima ribu rupiah." ucapnya, Ulum pun menghela nafas.
"Bagaimana bisa aku menikahi Aida dengan uang segini?"
Tok... Tok.. Tok
"Assalamu'alaikum, mas Ulum, sudah di rumah kan?" Seru seorang pria dari luar.
"Walaikumsalam—" Seru Ulum menjawab. Ia pun beranjak dan meletakkan uangnya itu di atas kasurnya.
__ADS_1
Kriiieeeeettt Ulum membuka pintu kontrakannya.
"Eh, mang Ade? Iya mang?"
"Maaf mas Ulum saya ganggu istirahatnya ya?"
"Ahh tidak mang, saya belum tidur kok." ucap Ulum.
"Begini mas, sudah saatnya bayar kontrakan, lagi pula ini sudah lewat sepuluh hari, tadi saya datang tapi mas Ulum belum pulang." tuturnya.
"Oh, iya mang maaf, akhir-akhir ini saya ngojek pulang malam terus, tunggu sebentar ya, uangnya sudah ada kok." Ucap Ulum, ia pun kembali masuk dan menatap kearah uang yang tergeletak di kasur lantainya. Ulum termenung sejenak.
"Gara-gara orderan yang tadi di cancel, uang buat bayar kontrakan jadi habis. Masa iya pakai uang ini?" gumam Ulum, ia pun meraih uang senilai tiga ratus lima puluh ribu rupiah lalu kembali menemui pemilik kontrakan itu.
"Ini mang, maaf receh ya mang." ucap Ulum sembari menyerahkan uang receh itu.
"Receh juga uang mas, ya sudah makasih banyak ya. Saya permisi dulu Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam warohmatuloh." jawab Ulum, ia menutup kembali pintunya.
"Astagfirullahalazim, Ya Allah, apa tadi saya mengeluh ya? Tau-tau tinggal segini uangnya." gumam Ulum. Ia pun membereskan pecahan celengan itu lalu meletakkan sisa uang tadi di dalam sebuah buku note miliknya.
Setelah meletakkan uangnya Ulum pun kembali merebahkan tubuhnya.
"Begini sekali ya? Belum saja menikah, kalau menikah nanti nasib ku masih seperti ini, bagaimana aku bisa menghidupi istri dan anak ku?" gumamnya, selang beberapa menit perlahan matanya pun terpejam, Ulum tertidur.
(Flashback is on)
Ya Fathul Qhulum adalah anak sulung dari pasangan pak Djarot, dan Ibu Nafsiyah. Ia sempat memiliki adik laki-laki yang meninggal akibat kurang penanganan saat mengidap penyakit liver di usia lima tahun.
Hidupnya yang dulu bisa di bilang berkecukupan, dimana ayah dan ibunya bekerja sebagai juragan bawang di kota Brebes Jawa Tengah. Dari kedua orang tua Ulum itu lah para pedagang pasar biasa mengambil bawang untuk di jual lagi di pasar.
Keuntungan yang melimpah membuat kedua orang tua Ulum menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja.
Dengan beberapa pekerja yang bertugas memotong bawang dari daun keringnya, karena bawang merah yang belum di bersihkan itu masih dalam posisi di ikat dan menyatu dengan daunnya. Tidak hanya menjual dengan harga pedagang, ibu Nafsiyah juga menjadi pengecer, di sebuah pasar pagi, dimana pasar itu di buka setiap pukul dua malam dan tutup pukul delapan pagi.
__ADS_1
Ibu Nafsiyah benar-benar pekerja keras ia sama sekali tidak memikirkan tentang kondisi tubuh manusia yang bisa drop kapan saja.
Saat itu usia Ulum masih menginjak lima belas tahun, dimana dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Ya dengan pekerjaan orang tuanya itu Ulum hidup dengan layak dan berkecukupan, keluarganya bahkan bisa di bilang paling kaya di desanya.
Namun hidup Ulum kecil memang di didik untuk tetap mandiri, orang tua Ulum tidak pernah memanjakannya, ia tetap harus hidup dengan aturan yang di buat ibu dan bapaknya untuk tidak boros dan berfoya-foya. Ulum juga pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren, di daerah Kebumen selama empat tahun. Hal itu pula yang membuat Ulum sedikit paham tentang ilmu Agama.
Singkat cerita di tahun keempat itulah Ulum harus kembali, karena ibu Nafsiyah mengidap stroke yang mengakibatkan, ibunya itu mengalami kelumpuhan.
Sedangkan pak Djarot masih menggeluti bisnisnya itu, ia tetap mengepul bawang-bawang dari para petani untuk di jual lagi.
Ulum sedikit heran, karena di rumah itu ada seorang wanita yang bisa di bilang masih muda.
Saat ditanya? Bapaknya bilang wanita itu adalah pengurus ibunya yang sedang sakit. Dan Ulum pun percaya itu.
Hari demi hari, ia melihat kondisi ibunya yang semakin terlihat murung. Terkadang ia menangis entah apa yang terjadi, Ulum berusaha bertanya apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ibunya itu menangis. Namun tidak di jawabnya.
Ibu Nafsiyah hanya tersenyum, dan bilang.
"Ibu tidak apa-apa. Ulum kembalilah ke pondok pesantren mu, kau kan masih harus belajar disana."
"Ulum mau di sini saja merawat ibu." jawab Ulum.
"Tapi, ibu takut kau melihat sesuatu yang tidak pantas kau lihat." Ucapnya. Saat itu Ulum belum paham maksudnya. Sampai suatu ketika.
Ayahnya menikahi wanita yang menjadi perawat ibu Nafsiyah.
Tentu saja apa yang di lakukan pak Djarot sangat lah tidak adil, ia lebih memperhatikan istri mudanya ketimbang ibunya yang tengah lumpuh itu.
Sikap ayahnya yang keras itu memang tidak akan pernah bisa di tegur, sekalinya Ulum membuka suara untuk berbicara baik-baik maka akan timbul lah sebuah cekcok yang akhirnya memicu kata-kata kasar terlontar dari mulut ayahnya.
Dan saat itu juga ibunya hanya meminta Ulum untuk berhenti menegur ayahnya itu.
Ya kini tidak ada lagi yang bisa di lakukan Ulum selain membiarkan ayahnya itu hidup bahagia dengan istrinya yang baru, dan kini tidak ada lagi yang merawat ibunya kecuali Ulum itu sendiri. ia lah yang memandikan ibunya, memotongi kukunya. Dan bahkan sampai membersihkan kotorannya.
Jujur saja ibu Nafsiyah sering menangis saat Ulum tengah membersihkan kotoran ibunya itu. Ia tidak ingin menjadi beban untuk putranya.
__ADS_1