Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
ikrar yang terpatahkan


__ADS_3

Saat itu Irsyad berjalan pelan dan duduk di sebuah kursi usang di depan kontrakan Aida, ia memijat kepalanya yang pening, merasakan penyesalan atas ucapannya nya tadi. Bibirnya terus bergumam mengucap Istighfar, Sungguh ia tidak ada niatan untuk menikahi Aida dan melukai Rahma, semua keluar begitu saja hanya karena iba melihat tangisannya dan semua ucapan yang keluar dari mulut Aida yang terlihat sangat putus asa akibat kondisinya itu.


Dan ia pun menyadari dari ucapannya tadi ia justru harus benar-benar menunaikannya. Setelah beberapa menit Rahma di dalam mencoba membantu Aida untuk kembali naik keatas ranjangnya, bahkan Rahma masih berusaha keras menenangkan hatinya sendiri, dan tetap tersenyum kepada Aida yang justru merasa tidak enak dengan Rahma.


Rahma pun keluar dengan lesu, ia memakai kembali alas kakinya, dan berjalan keluar meninggalkan Irsyad yang masih menatapnya dengan perasaan bersalah, sedangkan Rahma bahkan tidak menoleh sedikitpun kearah Irsyad, langkahnya masih terus saja terayun meninggalkan Irsyad di sana.


Irsyad menghela nafas sejenak, ia kembali masuk walau hanya sebatas di depan pintu kontrakan Aida.


"Mas pulang dulu Aida," ucap Irsyad lirih dengan kepala tertunduk, dan tangannya meraih gagang pintu itu lantas menariknya.


"Mas, maafkan Aida ya." tuturnya yang membuat Irsyad menghentikan gerakan tangannya yang akan menutup pintu kontrakan tersebut.


"Maafkan Aida yang sudah bicara seperti tadi, tolong abaikan saja, Aida tahu mas tidak serius mengatakan kalau mas akan menikahi Aida besok." ucapnya, Irsyad pun menghela nafas menghalau sesak di dadanya.


"Aida, mas? Tetap akan menikahi Aida, namun mas minta waktu untuk memikirkannya lagi, dan berbicara dengan Rahma, hari ini mas pamit dulu, jaga diri mu baik-baik. Besok mas akan berkunjung lagi dan mengatakan keputusan mas." ucap Irsyad yang saat itu tengah tersenyum kecut.


Aida pun tertunduk, "terimakasih mas Irsyad. Tolong pikirkan semua baik-baik, karena Aida pun tidak ingin di nikahi hanya karena rasa iba dan keterpaksaan." ucap Aida.


"Iya dek, mas pulang dulu, Assalamu'alaikum." ucap Irsyad yang saat itu menutup pintu kontrakan tersebut dari luar.


"Walaikumsalam." Gumam Aida dengan suaranya yang sangat lirih itu. Ia pun meraih batal dan memeluknya. Aida sedikit menyesal, bagaimana bisa ia mengatakan itu pada Irsyad sedangkan ada Rahma yang tengah memeluknya tadi.

__ADS_1


"Maafkan Aida mbak Rahma." Gumamnya serak, tubuhnya bergetar ia kembali terisak di dalam kontrakannya sendirian.


Di sisi lain Rahma masih berdiri di dekat mobilnya, air mata yang tertampung di sana tumpah begitu saja, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar, kalau suaminya akan menikahi Aida besok.


"Dek Rahma." panggil Irsyad, yang kala itu membuat Rahma mengusap air matanya, dengan posisinya yang tengah membelakangi Irsyad.


"Dek maafkan?"


"Tolong buka kuncinya mas, Rahma mau masuk." potong nya dengan suara parau.


"Dek sungguh maafkan mas."


"Mas dengar Rahma bilang kan tadi? Tolong buka kuncinya Rahma mau masuk." Rahma masih menahan emosinya, dengan posisinya yang masih sama membelakangi Irsyad.


"Astaghfirullahalazim ya Allah," Mata Irsyad mulai basah. Perlahan ia pun membuka pintu mobilnya, dan melihat Rahma masih memalingkan wajahnya dengan satu tangannya yang menutup mulutnya itu.


Di sepanjang perjalanan mereka berdua sama sekali tidak berbicara. Irsyad hanya bingung dan berusaha menahan semuanya setelah sampai di rumah mereka nanti.


Hal wajar jika Rahma sangat marah padanya, terlebih ia belum berunding apapun dengan Rahma dan mendadak berkata akan menikahi Aida.


Kini mereka telah sampai di rumah mereka. Rahma berjalan cepat meninggalkan Irsyad lebih dulu yang turut menyusul Rahma dengan cepat ia pun meraih tangan Rahma yang saat itu akan masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


"Dek tolong dengarkan mas dek,"


"Mas Rahma mau masuk dulu." Rahma berusaha melepaskan tangan Irsyad.


"Iya mas tahu, tapi tolong dengarkan penjelasan mas sayang,mas mohon."


"Mas tidak perlu menjelaskan apapun, karena Rahma tidak ingin mendengarkannya, jadi tolong lepas tangan Rahma, Rahma ingin sendiri dulu." Irsyad pun menariknya dan mendekap nya, sehingga tangis Rahma pun semakin menjadi.


"Maafkan mas Rahma, tolong maafkan mas, mas tidak bermaksud mengatakan hal itu Rahma. Mas hanya iba padanya sungguh Rahma."


"Iba?" Rahma mendorong paksa dada Irsyad. "Hanya karena iba mas menikahinya?" Rahma menatapnya nanar dengan air mata yang bercucuran.


"apa jika semua wanita yang ada di dunia ini bernasib sama seperti Aida, lalu mas akan menikahi mereka semua dan beralasan kalau mas itu hanya iba!!" Seru Rahma.


"Sayang?"


"Mas masih ingat Ikrar cinta yang mas berikan pada Rahma kan?" Potong Rahma, tangannya mengusap kasar air mata yang menetes di pipinya. "Hanya segitu kah cinta Mas Irsyad pada Rahma? Sungguh mas tega sekali mematahkan Ikrar mas sendiri HANYA KARENA IBA PADANYA!!" braaaaaaaakkkk Rahma bergegas masuk kedalam kamar mereka sembari membanting pintu itu dan menguncinya dari dalam.


Irsyad menitikkan air matanya dan berjalan pelan mendekati pintu kamar mereka, sedikit berat tangan itu terangkat lalu mengetuk lirih pintu kamar mereka.


"Dek, ade berhak marah, ade berhak memaki mas. Bahkan mas tidak apa jika ade ingin memukul mas saat ini. Asal?" Irsyad menghela nafas sejenak. "Asal jangan pernah ada pikiran untuk meninggalkan mas sayang hanya karena hal ini, mas benar-benar mencintaimu, sungguh mas tidak ingin ini terjadi sayangnya." Irsyad masih berusaha mengetuk pintu kamar itu.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, Di balik pintu itu Rahma masih menyandarkan tubuhnya, ia menutup kedua telinganya dan menggeleng cepat.


'Sungguh Aku tidak ingin mendengar apapun dari mu mas Irsyad, aku tidak ingin mendengarnya. Aku berharap ini adalah mimpi buruk ku, dan aku ingin lekas terjaga dari mimpi yang tidak pernah ku harapkan hadir bahkan di dalam mimpi sekali pun.' batin Rahma,


__ADS_2