
Sudah dua pasien anak yang keluar dari poli tersebut. Nuha dan Rumi masih tertidur pulas di stroller nya. Hingga tak lama seorang suster pun keluar.
"Anak Rumi dan Nuha." panggilnya.
Rahma dan Irsyad pun beranjak. Mereka lantas berjalan masuk kedalam ruangan dokter Miftah.
Di dalam ruangan itu dokter Miftah sudah menyambut mereka dengan senyum terbaiknya. Ia pun mendekati dua bayi yang sudah berada di atas bed.
"Sus buka baju mereka." titah dokter itu pada dua suster di sana untuk membuka baju si kembar.
Dokter Miftah mengecek bagian tubuh si kembar. Mengamati apakah Nuha ataupun Rumi kulitnya berwarna kuning atau tidak. Lalu mengecek bagian lainnya.
"Bagus sih, Kondisinya baik. Kau memang pintar merawat bayi Rahma." Puji Miftah sembari tersenyum. Irsyad pun berdeham.
"Maaf dokter, sepertinya Lebih enak jika dokter memanggilnya dengan sebutan ibu Rahma, seperti saat dokter memanggil ibu pasien lainnya." pinta Irsyad.
"Iya, ibu Rahma maksudnya." ucap Miftah kemudian. Irsyad pun tersenyum. Mulai sebal Miftah sepertinya pada Irsyad. Lebih tepatnya sebal karena Rahma telah bersuami. Terlebih suaminya pria alim.
Padahal sebenarnya ia mengharapkan Rahma masuk keruangan itu sendirian tanpa suaminya. Atau mungkin dengan ibunya semua karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan pada Rahma, di luar tentang kondisi anak-anak Rahma.
Kini ia kembali mengecek kondisi Rumi dan Nuha secara mendetail. Dan kembali berjalan menuju mejanya setelah selesai. Rahma dan Irsyad pun turut duduk di hadapan dokter Miftah sedangkan dua Suster yang di sana kembali membungkus dua bayi itu dengan kain bedong mereka.
"Kondisi mereka baik tidak kuning, matanya nya juga jernih, kulitnya juga tidak kering, jadi tolong di pertahankan ya." tutur Miftah sembari tersenyum. Dalam hati Irsyad terus berucap istighfar, karena pria di hadapannya itu Seolah tak melepas pandangannya pada Rahma. sehingga sedikit membuatnya sebal. Hanya sedikit? Mungkin kah?
Rahma tersenyum. "Terimakasih mas, emmm maksud ku dokter Miftah. ucap Rahma."
"Tidak usah terbebani Rahma. Panggil saja seperti biasa." ucap dokter Miftah.
"Mending dokter dek dari pada Mas. Lebih enak di dengar soalnya" Irsyad menyunggingkan senyum.
Miftah menghela nafas. "Ya sudah. Kontrol hari ini selesai. Mungkin sekitar dua minggu lagi Rahma?"
"Ibu Rahma, dokter." Potong Irsyad.
"Iya Pak saya tahu, maksudnya ibu Rahma." Miftah mulai kesal. "Ibu Rahma bisa kembali ke sini untuk imunisasi mereka ya."
"Di posyandu bisa kan ya?" tanya Irsyad.
"Iya bisa sih tapi." jawab Miftah.
"Alhamdulillah, sepertinya lebih enak di posyandu Pak dokter, dan lebih dekat pula. Bukan begitu istri ku?" ucap Irsyad.
"Ehhehe iya mas," Rahma terkekeh aneh, sebenarnya ia sangat ingin tertawa, kala melihat ekspresi Irsyad yang sepertinya sudah tidak nyaman berhadapan dengan Miftah. Begitu pun sebaliknya.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dokter." ucap Rahma sembari beranjak.
Tanpa di minta Miftah sudah mengulurkan tangannya kepada Rahma, berharap Rahma akan menjabat tangannya juga padanya.
Namun sepertinya senyuman Miftah memudar saat yang menjabat tangannya itu justru Irsyad bukan lah Rahma.
"Karena Rahma bukan mahram anda jadi saya saja yang mewakili. Bukan begitu sayang?" tanya Irsyad sembari menoleh ke arah Rahma.
"Iya mas." jawab Rahma.
'Ya Allah muka mu mas. Tolong, jangan kau paksakan senyum mu itu. Aku jadi ingin menertawakan mu saat ini Pak Ustadz.' Rahma terkekeh dalam hati.
"Maaf, tapi saya hanya menjabat tangan saja memang tidak boleh?" tanya Miftah.
"Jelas tidak dong Pak dokter. Lagi pula cukup saya yang menjabat sebagai perwakilan itu sudah cukup kan?" tutur Irsyad.
Miftah mendesah sinis.
"Emmmm, mas kita pulang yuk. terimakasih banyak dokter sudah memeriksa anak kami. Kami permisi." tutur Rahma. Irsyad tersenyum sembari mengucapkan salam kepada Miftah. Ia pun mendorong stroller itu dan berjalan keluar.
Stelah mengurus administrasi mereka pun kembali pulang ke rumah.
__ADS_1
Di dalam mobil Rahma menoleh ke arah Irsyad. Sesaat Irsyad pun membalas menoleh kearah Rahma.
"Pffffffftt."
"Kenapa dek Rahma tertawa."
"Tidak apa mas. Sudah lanjut fokus saja menyetirnya." tutur Rahma. Mereka pun hening beberapa saat hingga mobil itu terus melaju dan kini sudah sampai di rumah mereka.
Irsyad membantu Rahma merebahkan Nuha di atas ranjangnya. Lalu bergantian dengan Rumi. Sedangkan Rahma hanya menatapnya sembari bertopang dagu.
"Ade ini ngapain sih melihat mas seperti itu?" tanya Irsyad.
"Ihhhh Rahma kok gemas ya sama mas tadi? Tidak menyangka loh Rahma." tuturnya. Irsyad pun hanya diam saja sembari menutup kelambu nya.
Rahma beranjak ia lantas memeluk tubuh suaminya dari samping dengan melingkari kedua tangannya di pinggang Irsyad.
"Kenapa tiba-tiba memeluk mas seperti ini."
"Senang saja memeluk Pak Ustadz."
"Senang sekali sih panggil mas dengan sebutan Pak Ustadz." tutur Irsyad.
"Hahaha memang tidak boleh ya?"
"Boleh tapi kesannya kaya jamaahnya mas saja."
"Terus maunya di panggil apa?"
"Ya—, yang seperti biasanya saja." tuturnya.
Rahma mendengus. "Mas." panggilnya.
"Hemm"
"Kok hemm sih?"
"Mas kesal ya sama Rahma."
"Kesal kenapa? Tidak kok."
"Lah ini Rahma peluk saja tidak di balas."
Irsyad terkekeh. "MasyaAllah. Sayang kan mas sedang membenahi kelambu si kembar."
"Alasan, benar Kan mas marah pada Rahma."
"Marah apa sih?"
Rahma semakin menyusup, kepalanya masuk melalui celah bawah ketiak suaminya.
"Ini apa sih Rahma Ya Allah." Irsyad tergelak mendapati tingkah laku istrinya itu.
"Peluk." Pinta Rahma manja.
"Iya... Iya sini sayang mas peluk, ya Allah. Sepertinya Rahma malah lebih manja setelah melahirkan." Memeluk Rahma dengan penuh kasih sayang. Lalu mengecup keningnya.
"Ya habis mas sepertinya lebih memperhatikan si kembar. Yang mas pandangin si kembar terus Rahma kan juga ingin di pandang mas Irsyad."
"Ya Ampun, jangan bilang dek Rahma cemburu pada anak kita?"
"Sedikit." jawabnya pelan.
"Apa?"
"Bercanda mas." Keduanya terkekeh. Hening sejenak.
__ADS_1
"Haaaaahhh, entah berapa kali tadi mas mengucap istighfar." tutur Irsyad tiba-tiba.
"Kenapa memang?"
"Pakai nanya lagi." Irsyad menarik hidung Rahma, sehingga membuat Rahma kesal sembari memukul lengan Irsyad.
"Mas ini, dibilang Rahma tuh tidak suka di tarik hidungnya seperti ini."
"Halah berlebihan, bilang saja suka. Ketagihan kan pasti." Goda Irsyad.
"Hmmm terserah saja lah. Tapi memang benar ya, mas Irsyad cemburu?"
"Kenapa tanya seperti itu?"
"Ya ingin tahu saja. Habis mas tidak pernah terlihat cemburu pada Rahma." tuturnya.
"Apa?" Irsyad menarik pipi Rahma, sehingga membuat Rahma mengaduh. "Kata siapa mas tidak pernah cemburu pada Rahma coba?"
"Awww Sakit, lepas mas?" Rahma memukul tangan suaminya yang masih menarik pipinya itu.
"Mas itu tadi panas loh, panas ini hatinya. Masih di bilang tidak pernah cemburu." Irsyad masih saja menarik pipi Rahma.
"Aww... Awww ampun mas, sudah lepaskan Rahma ya." Irsyad pun melepaskannya.
"Ya habis, mas tidak pernah menunjukkan sisi cemburu mas sih." tuturnya sembari mengusap pipinya yang di tarik Irsyad tadi.
"Memang harus menunjukkan yang seperti apa?"
"Ya, yang seperti Rahma, cemburu seperti apa sih?"
"Harus ngambek dan marah-marah seperti Rahma?" tanya Irsyad. "Mau mas ditertawakan oleh para cicak di dinding ya? Kamu ini." Irsyad berniat mencubit pipi Rahma lagi namun secepat kilat Rahma menghindarinya.
"Hehehe ya habis, cemburu atau tidaknya mas Irsyad tidak ada bedanya." Rahma sudah duduk di atas ranjang mereka. Irsyad pun menyusul duduk di sebelah Rahma.
"Mas cemburu, pasti lah itu manusiawi. Karena mas mencintai dek Rahma. Namun mas bukan tipe pria yang gemar berkoar. Baru tadi loh karena saking gemasnya dengan dokter itu habis ngeliatin istri mas terus. Memang dek Rahma tidak sadar apa dengan kecemburuan mas tadi."
"Sadar kok."
"Sadar? Terus kenapa masih bilang tidak pernah melihat mas cemburu?"
"Senang saja, ingin mendengar langsung dari bibir mas. Pengakuan tentang Ustadz Irsyad yang tengah cemburu pada istrinya."
"Apa? Kamu ya?"
Cupp. Rahma mengecup bagian bibir suaminya itu. Irsyad terkejut, ia melebarkan bola matanya. "Ade mengecup bibir mas lebih dulu?" tanya Irsyad.
"Emmmm Mas, maaf ya, seperti yang mas bilang, itu candu. Jadi Rahma?"
"Bisa... Bisanya ya, terus-terusan mancing mas di saat masa nifas mu belum berakhir." Tutur Irsyad memegangi kedua pergelangan tangan Rahma.
"I... Itu."
"Sini, kasih lagi tidak? Jangan cuma sekali. Mas kurang soalnya." tuturnya. Sembari mendekati wajah Rahma dan meluncurkan serangan kecupan di wajah Istrinya sembari tertawa Rahma berusaha menahan itu saat suaminya terus-terusan memberi kecupan di wajahnya. Dan berakhir pada tangisan Nuha. Sehingga membuat Irsyad menghentikannya. Rahma menarik pipi Irsyad. "Sabar ya bayi besar ku, ngalah sama yang kecil dulu." Rahma terkekeh.
"MasyaAllah Rahma." Irsyad mengecup bagian bibir istrinya lagi. "Sudah urus dulu Nuha dan Rumi. Mas mau keluar sebentar ya."
"Kemana mas?" tanya Rahma. Yang sudah beranjak sembari melangkahkan kaki menghampiri ranjang anak mereka.
"Ke minimarket sebentar, ada yang mau mas beli." tuturnya sembari melangkahkan kaki menuju pintu kamar mereka. Keluar lalu menutupnya kembali.
Benar Ustadz juga manusia biasa yang tidak mungkin tidak memiliki hawa nafsu bukan? Ia mash bisa cemburu dan terkadang bersikap seperti pria normal pada umumnya. Namun sepertinya porsi cemburu Ustadz Irsyad hanya sebatas itu.
Rahma yang tengah menyusui itu masih sesekali terkekeh. Karena jika di ingat-ingat lucu juga jika suaminya Tengah cemburu.
Bersambung...
__ADS_1
______________________________________
Hai maaf aku kemarin tidak up... Tapi nanti siang aku up lagi insyaallah, tapi ya nggak janji juga sih hahaha, semoga aplikasi tidak rewel lagi ya jadi bisa up dobel hehehehe...