
Dalam kegelapan malam yang di temani cahaya lampu, Faqih duduk di atas kursi meja belajarnya menatap keluar dimana hujan rintik-rintik turun dari genting-gentingnya.
Malam ini, Faqih benar-benar merasakan getaran yang tak biasa. Bahkan pikirannya semakin penuh dengan hal yang sebenarnya tidak baik dia resapi, hingga muncul niatan baik yang ingin ia utarakan pada orangtuanya.
Pandangannya seketika beralih pada sebuah buku hadist masa kecilnya.
'kakak baca apa? Dede liat dong.' suara polos itu kembali terngiang. Faqih terkekeh. Hingga sebuah ketukan membuatnya terkesiap dan berucap istighfar berkali-kali, setelah itu menyaut.
"Aa', yuk makan malam dulu." Ajak sang Abi, setelah membuka pintu kamar anaknya.
"Iya Bi." Faqih beranjak, ia pun berjalan keluar.
Sesampainya di ruang makan, ia langsung duduk di meja makan itu menikmati santap makan malam bersama Abi dan Ummanya.
Dalam keheningan, hati Faqih semakin di penuhi dengan kegundahan yang entah apa, seperti sebuah rasa yang tidak bisa lagi ia pendam di lubuk hatinya, hingga debaran jantungnya membuat dia berkali-kali menghela nafas. Ia pun memiliki niatan yang membuatnya merasakan mendadak gugup.
Hingga makanan di piringnya sudah habis beliau santap.
Umma Hasna meraih piring-piring kotor itu lalu membawanya ke wastafel, Karena itu kebiasaan beliau yang langsung mencuci piring kotor setelah semua selesai makan. Sementara Abi Rahmat meraih satu buah jeruk, dan mengupasnya.
Dalam diamnya Faqih, dia masih terus mengetuk-ketuk meja menggunakan jari telunjuknya. Merasa keringat dingin yang tiba-tiba menetes.
Seperti paham apa yang tengah di rasakan putranya, Abi Rahmat pun menoleh. "Aa?"
Terkesiap pria itu lalu menoleh. "Iya?"
"Ada apa?"
"Emmm, tidak Bi."
"Katakan saja."
"Itu, kalau? Faqih mengkhitbah Nuha bagaimana?"
Suara kran air wastafel seketika berhenti saat Umma Hasna tiba-tiba mematikannya. Beliau menoleh lalu menunggu percakapan keduanya.
Abi Rahmat mengerutkan kening. "Nuha? Nuhanya, ustadz Irsyad?" Muncul lah senyum tipis di bibir beliau.
__ADS_1
"Iya," tertunduk malu-malu.
"Kamu mengaguminya? Sejak kapan?"
"Entahlah, intinya. Dari pada mengganggu hati dan fikiran terus menerus, lebih baik Faqih menikah saja." Jawabnya.
Ustadz Rahmat pun terkekeh, lalu berdeham. "Baru kemarin loh, Habib Umar minta tolong sama Abi, buat menyampaikan khitbahnya kepada ustadz Irsyad. Karena beliau juga mengagumi Nuha, eh ini anak Abi juga malah ternyata sama, mengagumi Nuha juga, MashaAllah gadis soleha itu."
"Lalu? Apa Abi sudah menyampaikannya?" Tanya Faqih.
"Belum, niatnya besok."
"Bi, tolong Bi, khitbah kan untuk Faqih saja." Meraih tangan Abinya. Entah mengapa beliau merasa takut tiba-tiba Abinya bilang demikian.
Umma Hasna pun mendekat. "Faqih, kamu serius mau dengan Nuha? Anak pecicilan seperti itu?"
"Umma, kok bilangnya begitu sih?" Ucap Abi Rahmat.
"Bukan apa-apa loh Bi, Umma tuh sebenernya pengen Faqih itu sama Zahra, gadisnya Soleha kalem lagi."
"Tapi kan dia hebat, sementara Nuha apa?"
"Umma istighfar." Titah Abi Rahmat. Umma Hasna pun bergumam beristighfar. Setelah itu Abi Rahmat kembali menoleh ke arah sang anak. "Kamu yakin Faqih?" Tanya beliau.
"insyaAllah Bi. Faqih sudah yakin."
"MashaAllah," beliau mengusap-usap kepala Faqih. Terlihat mata beliau berkaca-kaca. "insyaAllah, Abi setuju. Besok Abi sampaikan pada ustadz Irsyad."
Mata Faqih pun berbinar. "Alhamdulillah." Gumam Faqih terharu.
"Iya, sudah sana masuk dulu. Biar Abi bicarakan ini sama Umma."
"Iya Bi. Terimakasih," beranjak dari sana lalu berjalan menuju kamarnya, sembari tersenyum. "Kutu." Gumamnya lirih.
Setelah Faqih masuk, Umma Hasna pun meraih tangan Suaminya. "Bi, Umma lebih suka Zahra loh Bi."
"Umma, jangan seperti itu. Nuha juga Soleha."
__ADS_1
"Tapi Umma rasa dia tidak bisa masak deh, sama seperti ibunya. Pernah kan kita kerumahnya, dan masakan ibunya itu hambar kurang bumbu."
"Astagfirullah al'azim, Umma. Bisa tidak berfikir yang baik."
"Iya Bi, iya."
"Ya sudah. Abi cuma ingin Umma menerima Nuha, kalau nanti ada jodoh diantara mereka ya."
"Iya," menjawab dengan sedikit malas.
"Yang iklhas Umma."
"Iya Abi, Umma ikhlas." Jawabnya dengan di paksa senyum. Ustadz Rahmat pun tersenyum.
"Tapi Bi, nanti kalau mereka jodoh, pokoknya , Nuha dan Faqih harus tinggal di sini."
"Loh, kok bilangnya begitu sih?"
"Iya lah, mbak Rahma kan sudah ada anak satunya, sementara kita hanya ada Faqih."
"Nggak boleh begitu Umma, mau tinggal dimana itu hak Faqih dan Nuha, kalau Abi sih pengennya Faqih punya tempat tinggal sendiri walaupun hanya ngontrak."
"Enak saja, tidak mau. Kasihan Faqih Bi, lagian rumah kita kan luas. Pokoknya aku mau menantu ku yang tinggal di sini."
"Astagfirullah al'azim, Umma kenapa bicara seperti itu. Tidak baik Umma, banyakin istighfar lah. Lagian mereka juga belum tentu jodoh,"
"Iya Bi, maaf."
"Jangan lagi-lagi berfikir buruk atau berniatan buruk ya Umma,"
"Iyaa." Menjawab sedikit ketus
"Ya sudah Abi masuk dulu." Ucapnya sembari beranjak.
Beliau pun bertopang dagu di meja makan itu. "Haaahh, padahal aku sudah sreg sekali sama Zahra. Gadisnya cantik, sopan, kalem. Kalau Nuha? Iya sih dia anak ustadz yang lumayan terkenal. Tapi tetap saja, kurang suka sama Ummanya. Masa harus jadi besan sih." Menggumam sendirian. Lalu kembali meneruskan membereskan sisa makan malam mereka.
Bersambung...
__ADS_1